2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Adakah Śakuni di Antara Kita?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 25, 2025
in Esai
Adakah Śakuni di Antara Kita?

DALAM epos Mahābhārata, satu tokoh yang kadang luput dari sorotan publik tetapi justru memegang peran kunci dalam kehancuran generasi Kurawa adalah Śakuni—pangeran dari Gandhāra, kakak dari Gandārī, dan pamannya para Kurawa. Sosok ini bukan sekadar karakter licik; ia adalah simbol dari kecerdikan yang kehilangan kompas moral, kecanggihan strategi yang berubah menjadi manipulasi, serta kekuasaan yang memakai kecerdasan untuk menjerumuskan, bukan mencerahkan. Dalam konteks Indonesia hari ini—terutama Bali yang sedang menghadapi tantangan sosial, politik, dan budaya—kisah Śakuni adalah cermin yang tak bisa dihindari.

Sakuni yang “Terlanjur Tinggal”

Secara tradisi, Śakuni seharusnya hanya mengantar adiknya, Gandārī, menikah dengan Raja Dhṛtarāṣṭra di Hastināpura. Setelah itu, ia diharapkan kembali ke Gandhāra untuk menjalankan kewajiban sebagai pangeran dan penerus negeri. Tetapi ia memilih tinggal. Keputusan kecil yang tampaknya pribadi itulah yang membuka jalan bagi kejatuhan besar. Dari situ muncul intrik, hasutan, permainan dadu, dan akhirnya perang Bharatayuddha yang memusnahkan seluruh dinasti Kuru.

Keputusan Śakuni untuk menetap—meski sebenarnya tidak pada tempatnya—adalah simbol dari seseorang yang tidak berada di habitat moralnya, tetapi tetap bertahan demi ambisi. Di sinilah pelajaran itu menjadi relevan: ketika seseorang berkuasa atau memiliki akses ke pusat kekuatan, tetapi bukan untuk melayani, melainkan untuk mengendalikan; bukan untuk membangun, tetapi untuk memecah belah; bukan untuk kembali pada tugas asalnya, tetapi menancap di tengah kekuasaan demi keuntungan pribadi.

Sakuni di Zaman Now

Di Indonesia—dan Bali tidak terkecuali—kita menyaksikan fenomena “Śakuni zaman now”:

  • Penasihat yang sebenarnya tidak layak menjadi penasihat, tetapi justru menjerumuskan penguasa.
  • Tokoh yang menempati posisi bukan karena kapasitas, tetapi kedekatan, dan kemudian memanfaatkan kedekatan itu untuk kepentingan pribadi.
  • Mereka yang bukan bagian dari sistem tetapi memengaruhi sistem, ibarat “orang dalam” yang bukan pejabat tetapi menentukan arah kebijakan.
  • Kelompok yang merusak harmoni, padahal Bali khususnya bertumpu pada prinsip tatwam asi, tri hita karana, dan keseimbangan sosial-budaya.

Seperti Śakuni yang bukan warga Hastināpura namun mengendalikan istana, kita melihat figur-figur yang memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan untuk menggerakkan agenda politik, bisnis, atau kepentingan kelompok tertentu. Ada juga yang memainkan narasi, melempar isu, menciptakan konflik horizontal, atau memanipulasi informasi demi memengaruhi keputusan publik.

Pelajaran untuk Pemimpin: Jangan Biarkan Śakuni Menentukan Arah

Raja Dhṛtarāṣṭra sebenarnya tidak jahat; ia lemah. Kebutaannya bukan hanya fisik, tetapi batin: ia tidak mampu menolak godaan, tidak mampu mengambil sikap tegas terhadap anak-anaknya, dan tidak mampu menghentikan pengaruh buruk Śakuni. Di konteks Indonesia, kita belajar bahwa pemimpin yang baik tidak cukup hanya “baik”—ia harus tegas, mampu membedakan mana nasihat jujur dan mana manipulasi.

Untuk Bali, yang sedang bergerak di tengah arus modernisasi, pariwisata, dan penetrasi kapital besar, pemimpin harus menghindari jebakan “penasihat-penasihat pribadi” atau kelompok berkepentingan yang mengambil alih kendali di balik layar. Bali yang kukuh dalam spirit dharma harus mampu membedakan mana yang melayani keseimbangan, mana yang merusaknya.

Śakuni dan Politik Narasi

Salah satu senjata Śakuni adalah narasi: ia piawai memutarbalikkan keadaan, membuat para Kurawa percaya bahwa merekalah yang diperlakukan tidak adil oleh para Pandawa. Ia menciptakan persepsi yang menjustifikasi kedengkian. Bukankah ini juga fenomena zaman sekarang?

Narasi adalah kekuatan besar dalam media sosial, politik elektoral, hingga perdebatan keseharian. Dengan satu framing, seseorang bisa menjadi pahlawan; dengan framing lain, ia bisa menjadi penjahat. Dalam masyarakat yang rentan pada polarisasi, figur-figur “Śakuni modern” memakai narasi untuk menebar kebencian, memecah suku, agama, wilayah, bahkan keluarga politik.

Pelajaran penting bagi Bali dan Indonesia: waspadalah pada narasi yang menggiring kita menjauh dari welas asih, kebijaksanaan, dan kesalingan.

Mengapa Śakuni Berbahaya? Karena Ia Cerdas Tanpa Moral

Śakuni sangat cerdas. Ia ahli strategi, jago membaca karakter orang lain, piawai merancang skenario politik. Tetapi keahliannya tidak dibarengi moralitas. Itulah kombinasi paling berbahaya dalam sejarah manusia: kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Di mana pun—dalam lembaga, keluarga, parpol, bisnis, hingga desa adat—figur yang sangat cerdik tetapi miskin integritas bisa menghancurkan tatanan yang telah berdiri ratusan tahun.

Untuk Bali, yang menjaga tatanan adat, pura, subak, dan awig-awig, sosok seperti ini bisa merusak tatanan hanya dalam waktu singkat.

Rakyat Juga Bisa Menjadi Korban dan Sekaligus Pelaku

Dalam Mahābhārata, rakyat Hastināpura ikut hancur bukan karena kejahatan Śakuni saja, tetapi karena diamnya mereka melihat ketidakadilan terjadi. Dalam konteks Indonesia, rakyat bisa menjadi korban manipulasi tetapi juga dapat menjadi bagian dari reproduksi manipulasi—misalnya ikut menyebarkan hoaks, ikut memperkuat narasi manipulatif, atau menikmati politik balas budi.

Pelajaran penting: setiap warga adalah penjaga dharma, bukan sekadar penonton.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

  1. Pemimpin harus memiliki keberanian moral
    Seorang pemimpin yang tidak bisa berkata “tidak” pada figur negatif akan menjadi Dhṛtarāṣṭra kedua.
  2. Rakyat perlu literasi moral, bukan hanya literasi digital
    Masyarakat harus mampu membedakan kritik konstruktif dan hasutan merusak.
  3. Bangun ekosistem transparansi
    Ruang gelap adalah tempat subur bagi Śakuni; ruang terang membuat intrik sulit tumbuh.
  4. Pertahankan budaya dialog
    Bali punya tradisi simakrama, paruman, sangkep, dan musyawarah—itu benteng terhadap manipulasi satu orang.

Setiap Zaman Punya Śakuni, Tetapi Juga Punya Peluang untuk Dharma

Mahābhārata bukan sekadar kisah perang; ia adalah kisah bagaimana satu karakter mampu mengubah arah sejarah. Śakuni menunjukkan bahwa satu tokoh yang salah tempat—dan memilih untuk tetap berada di tempat itu—bisa menghancurkan peradaban.

Di Bali dan Indonesia, Śakuni hadir dalam sosok-sosok yang memakai kecerdasan untuk memecah, bukan menyatukan. Tetapi kita juga memiliki Yudhiṣṭhira, Arjuna, Bhīma, Krishna—simbol kejujuran, keberanian, dan kebijaksanaan.

Pertanyaan untuk kita hari ini bukan “siapa Śakuni di antara kita?”, tetapi:

Apakah kita menjadi bagian dari kekuatan yang melawan pengaruh Śakuni, atau justru membiarkan intriknya menentukan arah masa depan kita? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kisah mahabharataMahabharataSekuniSengkuni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Umanis Galungan, Jalan-jalan ke Butiyang di Puncaknya Desa Les

Next Post

Tak Mudah Menjadi Guru

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tak Mudah Menjadi Guru

Tak Mudah Menjadi Guru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co