13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Adakah Śakuni di Antara Kita?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 25, 2025
in Esai
Adakah Śakuni di Antara Kita?

DALAM epos Mahābhārata, satu tokoh yang kadang luput dari sorotan publik tetapi justru memegang peran kunci dalam kehancuran generasi Kurawa adalah Śakuni—pangeran dari Gandhāra, kakak dari Gandārī, dan pamannya para Kurawa. Sosok ini bukan sekadar karakter licik; ia adalah simbol dari kecerdikan yang kehilangan kompas moral, kecanggihan strategi yang berubah menjadi manipulasi, serta kekuasaan yang memakai kecerdasan untuk menjerumuskan, bukan mencerahkan. Dalam konteks Indonesia hari ini—terutama Bali yang sedang menghadapi tantangan sosial, politik, dan budaya—kisah Śakuni adalah cermin yang tak bisa dihindari.

Sakuni yang “Terlanjur Tinggal”

Secara tradisi, Śakuni seharusnya hanya mengantar adiknya, Gandārī, menikah dengan Raja Dhṛtarāṣṭra di Hastināpura. Setelah itu, ia diharapkan kembali ke Gandhāra untuk menjalankan kewajiban sebagai pangeran dan penerus negeri. Tetapi ia memilih tinggal. Keputusan kecil yang tampaknya pribadi itulah yang membuka jalan bagi kejatuhan besar. Dari situ muncul intrik, hasutan, permainan dadu, dan akhirnya perang Bharatayuddha yang memusnahkan seluruh dinasti Kuru.

Keputusan Śakuni untuk menetap—meski sebenarnya tidak pada tempatnya—adalah simbol dari seseorang yang tidak berada di habitat moralnya, tetapi tetap bertahan demi ambisi. Di sinilah pelajaran itu menjadi relevan: ketika seseorang berkuasa atau memiliki akses ke pusat kekuatan, tetapi bukan untuk melayani, melainkan untuk mengendalikan; bukan untuk membangun, tetapi untuk memecah belah; bukan untuk kembali pada tugas asalnya, tetapi menancap di tengah kekuasaan demi keuntungan pribadi.

Sakuni di Zaman Now

Di Indonesia—dan Bali tidak terkecuali—kita menyaksikan fenomena “Śakuni zaman now”:

  • Penasihat yang sebenarnya tidak layak menjadi penasihat, tetapi justru menjerumuskan penguasa.
  • Tokoh yang menempati posisi bukan karena kapasitas, tetapi kedekatan, dan kemudian memanfaatkan kedekatan itu untuk kepentingan pribadi.
  • Mereka yang bukan bagian dari sistem tetapi memengaruhi sistem, ibarat “orang dalam” yang bukan pejabat tetapi menentukan arah kebijakan.
  • Kelompok yang merusak harmoni, padahal Bali khususnya bertumpu pada prinsip tatwam asi, tri hita karana, dan keseimbangan sosial-budaya.

Seperti Śakuni yang bukan warga Hastināpura namun mengendalikan istana, kita melihat figur-figur yang memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan untuk menggerakkan agenda politik, bisnis, atau kepentingan kelompok tertentu. Ada juga yang memainkan narasi, melempar isu, menciptakan konflik horizontal, atau memanipulasi informasi demi memengaruhi keputusan publik.

Pelajaran untuk Pemimpin: Jangan Biarkan Śakuni Menentukan Arah

Raja Dhṛtarāṣṭra sebenarnya tidak jahat; ia lemah. Kebutaannya bukan hanya fisik, tetapi batin: ia tidak mampu menolak godaan, tidak mampu mengambil sikap tegas terhadap anak-anaknya, dan tidak mampu menghentikan pengaruh buruk Śakuni. Di konteks Indonesia, kita belajar bahwa pemimpin yang baik tidak cukup hanya “baik”—ia harus tegas, mampu membedakan mana nasihat jujur dan mana manipulasi.

Untuk Bali, yang sedang bergerak di tengah arus modernisasi, pariwisata, dan penetrasi kapital besar, pemimpin harus menghindari jebakan “penasihat-penasihat pribadi” atau kelompok berkepentingan yang mengambil alih kendali di balik layar. Bali yang kukuh dalam spirit dharma harus mampu membedakan mana yang melayani keseimbangan, mana yang merusaknya.

Śakuni dan Politik Narasi

Salah satu senjata Śakuni adalah narasi: ia piawai memutarbalikkan keadaan, membuat para Kurawa percaya bahwa merekalah yang diperlakukan tidak adil oleh para Pandawa. Ia menciptakan persepsi yang menjustifikasi kedengkian. Bukankah ini juga fenomena zaman sekarang?

Narasi adalah kekuatan besar dalam media sosial, politik elektoral, hingga perdebatan keseharian. Dengan satu framing, seseorang bisa menjadi pahlawan; dengan framing lain, ia bisa menjadi penjahat. Dalam masyarakat yang rentan pada polarisasi, figur-figur “Śakuni modern” memakai narasi untuk menebar kebencian, memecah suku, agama, wilayah, bahkan keluarga politik.

Pelajaran penting bagi Bali dan Indonesia: waspadalah pada narasi yang menggiring kita menjauh dari welas asih, kebijaksanaan, dan kesalingan.

Mengapa Śakuni Berbahaya? Karena Ia Cerdas Tanpa Moral

Śakuni sangat cerdas. Ia ahli strategi, jago membaca karakter orang lain, piawai merancang skenario politik. Tetapi keahliannya tidak dibarengi moralitas. Itulah kombinasi paling berbahaya dalam sejarah manusia: kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Di mana pun—dalam lembaga, keluarga, parpol, bisnis, hingga desa adat—figur yang sangat cerdik tetapi miskin integritas bisa menghancurkan tatanan yang telah berdiri ratusan tahun.

Untuk Bali, yang menjaga tatanan adat, pura, subak, dan awig-awig, sosok seperti ini bisa merusak tatanan hanya dalam waktu singkat.

Rakyat Juga Bisa Menjadi Korban dan Sekaligus Pelaku

Dalam Mahābhārata, rakyat Hastināpura ikut hancur bukan karena kejahatan Śakuni saja, tetapi karena diamnya mereka melihat ketidakadilan terjadi. Dalam konteks Indonesia, rakyat bisa menjadi korban manipulasi tetapi juga dapat menjadi bagian dari reproduksi manipulasi—misalnya ikut menyebarkan hoaks, ikut memperkuat narasi manipulatif, atau menikmati politik balas budi.

Pelajaran penting: setiap warga adalah penjaga dharma, bukan sekadar penonton.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

  1. Pemimpin harus memiliki keberanian moral
    Seorang pemimpin yang tidak bisa berkata “tidak” pada figur negatif akan menjadi Dhṛtarāṣṭra kedua.
  2. Rakyat perlu literasi moral, bukan hanya literasi digital
    Masyarakat harus mampu membedakan kritik konstruktif dan hasutan merusak.
  3. Bangun ekosistem transparansi
    Ruang gelap adalah tempat subur bagi Śakuni; ruang terang membuat intrik sulit tumbuh.
  4. Pertahankan budaya dialog
    Bali punya tradisi simakrama, paruman, sangkep, dan musyawarah—itu benteng terhadap manipulasi satu orang.

Setiap Zaman Punya Śakuni, Tetapi Juga Punya Peluang untuk Dharma

Mahābhārata bukan sekadar kisah perang; ia adalah kisah bagaimana satu karakter mampu mengubah arah sejarah. Śakuni menunjukkan bahwa satu tokoh yang salah tempat—dan memilih untuk tetap berada di tempat itu—bisa menghancurkan peradaban.

Di Bali dan Indonesia, Śakuni hadir dalam sosok-sosok yang memakai kecerdasan untuk memecah, bukan menyatukan. Tetapi kita juga memiliki Yudhiṣṭhira, Arjuna, Bhīma, Krishna—simbol kejujuran, keberanian, dan kebijaksanaan.

Pertanyaan untuk kita hari ini bukan “siapa Śakuni di antara kita?”, tetapi:

Apakah kita menjadi bagian dari kekuatan yang melawan pengaruh Śakuni, atau justru membiarkan intriknya menentukan arah masa depan kita? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kisah mahabharataMahabharataSekuniSengkuni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Umanis Galungan, Jalan-jalan ke Butiyang di Puncaknya Desa Les

Next Post

Tak Mudah Menjadi Guru

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Tak Mudah Menjadi Guru

Tak Mudah Menjadi Guru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co