KEBERANGKATAN kami dimulai dini hari tanggal 9 November 2025, ketika suasana masih gelap dan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta seperti memiliki denyut yang berbeda dari biasanya. Suasana haru dan antusias para jamaah terlihat sejak masuk ruang keberangkatan.
Kami berangkat dalam satu rombongan melalui sebuah travel resmi penyelenggara ibadah haji dan umrah, lengkap dengan pendamping dan mutawwif berpengalaman. Doa dipanjatkan, keluarga di rumah terbayang, dan hati kami penuh harap: semoga Allah memudahkan setiap langkah, niat kami memenuhi panggilan istimewa ini.
Pesawat lepas landas menuju Kota Haikou, Provinsi Hainan, Tiongkok. Transit pagi hari, sampai dengan sepuluh jam kedepan. Sebagian jamaah memilih beristirahat di hotel, sebagian lain berjalan di area Pusat perbelanjaan yang berdekatan dengan hotel, sebenarnya hotel kami tempat istirahat adalah Hotel Airport berada dalam satu lokasi dengan bandara Hainan. Menikmati suasana kota tropis yang terlihat dari balik kaca hotel. Waktu terasa tenang, bagai jeda sebelum memasuki dimensi perjalanan yang lebih sakral.
Malam harinya pesawat kembali mengudara menuju Jeddah, Arab Saudi. Perasaan haru mulai merayapi dada. Setelah penerbangan panjang, kami mendarat di Bandara King Abdulaziz sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Udara gurun terasa berbeda—kering, panas, dan penuh aroma sejarah perjalanan manusia ribuan tahun.
Menuju Kota Nabi
Rombongan kemudian bergerak menuju Madinah menggunakan bus. Perjalanan lima jam menuju kota suci itu memberi kesempatan bagi kami untuk menatap hamparan bukit dan gunung batu, padang pasir yang kasar namun memikat, dan bentang alam khas Jazirah Arab yang sejak dulu menjadi lintasan para musafir, pedagang, dan para Nabi.

Di tengah perjalanan, bus berhenti di sebuah rest area. Kami melaksanakan salat Zuhur sekaligus Ashar (menjamak), makan siang, minum teh atau kopi, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Senyum jamaah terlihat semakin cerah karena Madinah semakin dekat.
Menjelang waktu Magrib, kami tiba di Madinah al-Munawwarah. Mata terasa berkaca-kaca. Ini adalah kota Nabi, tempat dakwah Rasulullah berkembang, tempat para sahabat dimakamkan, dan tempat jutaan umat Islam datang untuk menimba ketenangan rohani.
Hari-hari di Kota Penuh Cahaya
Selama di Madinah, rutinitas kami sederhana namun penuh makna: melaksanakan salat fardhu di Masjid Nabawi secara berjamaah, dan beberapa salat sunah seperti salat malam, dhuha, hajat dan salat taubat, sunah lainnya, karena setiap jemaah memiliki niat dan keinginan masing-masing. Setiap langkah menuju masjid terasa seperti ziarah batin. Suara azan menggema, meresap hingga ke dasar hati.

Pada hari kedua, rombongan mendapat izin berkunjung ke Raudhah, menurut Al Quran, Raudhah berada diantara rumah dan mimbar Rasul, dan menurut berbagai sumber, sering disebut taman surga di dunia. Setelah doa-doa kami panjatkan di Raudhah, kemudian kami berziarah ke makam Rasulullah SAW, Abu Bakar As-Shiddiq, dan Umar bin Khattab.
Suasana khusyuk, antrian tertib, dan langkah terasa ringan meski hati dipenuhi rasa haru dan kerinduan. Kami rindu padamu ya Rasul SAW.
Hari-hari berikutnya kami mengunjungi masjid bersejarah lain, seperti Masjid Abu Bakar dan Masjid Ali bin Abi Thalib untuk melaksanakan salat sunah.

Kami juga mengikuti tur kota: mengunjungi Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun oleh Rasul di Madinah. Kami salat sunah di sana sambil menunggu waktu Ashar, kemudian melanjutkan perjalanan ke kebun kurma dan Bukit Thur, sembari menyerap udara dan suasana kota Madinah yang adem namun penuh nuansa spiritual. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
![Jejak Spiritual Melintasi Langit dan Padang Pasir: Catatan Umrah [1]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/11/sihabudin.-umroh2-750x375.png)


























