8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singgah Sejenak di Desa Julah: Belajar dari Ketut Resiani dan Komang Artayasa  

Jaswanto by Jaswanto
November 24, 2025
in Tualang
Singgah Sejenak di Desa Julah: Belajar dari Ketut Resiani dan Komang Artayasa  

Ketut Resiani, penenun di Desa Julah yang masih bertahan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“SETAHU saya, sekarang hanya tinggal tiga orang saja yang masih menenun,” kata Ketut Resiani tanpa menoleh. Ia menata benang seolah sedang menata ulang sejarah. Perempuan kelahiran 1991 itu menyeka peluh di dahinya.

Panas siang mulai merayap ketika saya tiba di Desa Tua Julah, Tejakula, Buleleng, Bali. Namun yang pertama menyapa saya bukan suara ayam, bukan pula desir angin pesisir yang biasanya membawa aroma laut, melainkan bunyi gulungan alat tenun tua yang beradu pelan di teras rumah Resiani—suara yang terdengar seperti napas paling dalam dari sebuah desa yang terus menua. Dan dari sinilah perjalanan saya bermula—dari seonggok alat tenun yang diwariskan seorang ibu, dari tangan-tangan yang tak berhenti menarik masa lalu agar tetap bernapas.

Teras yang sempit itu seperti museum sunyi. Hanya ada alat tenun warisan ibu, benang-benang kusut yang menunggu disentuh, dan seorang perempuan yang menghidupi tradisi yang hampir merapuh.

Julah, desa tua yang dipercaya telah ada sejak masa Ratu Sri Ugrasena, kini tinggal menyisakan tiga penenun. Tiga saja. Sementara dulu hampir semua perempuan di sini bisa memintal dan menenun. Tradisi memintal dan menenun di Julah barangkali setua usia desa ini sendiri, jauh sebelum bangsa berkulit pucat datang membawa kapal-kapal dagang ke Bali Utara. Namun kini, irama itu tinggal gema yang samar.

Ketut Resiani, penenun di Desa Julah yang masih bertahan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya mengulang pertanyaan, sekadar memastikan, seolah masih sulit percaya. “Di seluruh desa hanya tinggal tiga?”

“Iya,” jawab Resiani dengan tegas. “Saya sendiri dan kedua saudara saya.” Jari-jemarinya lincah, namun di matanya ada kilauan getir. Ia melanjutkan, “Alat tenun sangat mahal. Padahal, di Julah banyak perempuan muda yang ingin menenun.” Di titik ini, suaranya meninggi—bukan marah, tapi seperti hendak menegaskan bahwa tenun Julah bukan sekadar kain; ia adalah identitas, napas upacara, tubuh kebudayaan yang tak boleh putus.

I Ketut Suarjaya, warga Julah yang mengantar saya, menimpali, “Mertuanya memang penenun.” Resiani mengangguk. Tradisi itu, seolah duduk di pangkuan keluarga, melekat dari generasi ke generasi.

Di tempat lain, Wayan Sarining, warga Julah, menjelaskan panjang-lebar tentang fungsi kain dalam upacara kepada. Menurutnya, hampir semua upacara di Julah selalu menyertakan kain tenun di dalamnya.  “Ada 12 macam kain Julah,” katanya. Ada kain salinan daki, lad sayut, geringsing, salinan telah, kampuh telah, teteh agung, baas gede, kampuh daki, subagi, sekukuk, kamen sayut, dan kasang. Semua melekat pada ritual sejak bayi tiga bulanan hingga pernikahan. Di struktur banten (persembahan), kain ikat Julah ditempatkan di bagian paling atas—yang paling mulia.

Wayan Sarining mengangkat wajahnya dari tumpukan kelobot dan berkata pelan, “Kalau penenun punah, bagaimana kami bisa upacara?” Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dalam sumur tua yang tak pernah benar-benar kering.

Tetapi, persoalan kain Julah bukan hanya tentang berkurangnya jumlah penenun, tapi juga soal sedikitnya petani Julah yang menanam kapas. Menurut Suarjaya, kapas di Julah kalah dengan bibit-bibit jeruk dan tanaman lainnya—yang notabene dipandang lebih menguntungkan daripada menanam tanaman yang tumbuh di hampir semua benua itu. Saat ini, penenun seperti Resiani harus membeli kapas dari luar Desa Julah, sama seperti leluhurnya pada abad ke-12.

Tangan Ketut Resiani sedang menenun | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada abad ke-12 Masehi, penduduk Julah membeli kapas dari Kintamani, wilayah agraris yang teronggok di balik bukit yang rebah di selatan Julah. Prasasti Kintamani E—yang dikeluarkan Sri Maharaja Haji Ekajaya Lancana yang memerintah pada 1200an Masehi—mencatat bahwa pada masa itu penduduk Kintamani sudah berniaga kapas ke desa-desa di pesisir Bali Utara, seperti Les, Paminggir, Hiliran, Buhun Dalem, Julah, Purwasidhi, Indrapura, Bulihan, dan Manasa. (Pohon kapas banyak ditanam di sebelah timur Desa Sukawana, Kintamani, yakni antara Panursuran dengan Balingkang, seperti yang tertulis dalam Prasasti Sukawana D (1122 Saka).)

Menariknya, dalam Prasasti Kintamani E, hanya penduduk Kintamani yang diperbolehkan raja untuk berniaga kapas di desa-desa di pesisir Bali Utara. Sedangkan penduduk di sekitar Danau Batur (Bwahan, Kedisan, Trunyan, Songan, dan Abang) tidak diperkenankan berjualan kapas ke daerah-daerah tersebut. Apabila orang-orang di sekitar Danau Batur melanggar peraturan itu, maka akan dijatuhi denda 3 ma su 2 ma [dosa mā sū 3 mā 2].

Oleh karena itulah, Julah dan beberapa desa di wilayah Tejakula memiliki hubungan dendritik dengan wilayah di pedalaman Kintamani, sebagaimana dituliskan I Wayan Ardika dalam buku Manusia dan Kebudayaan Bali 2000 tahun Silam (2022). Hubungan ini, selain disebut jelas dalam prasasti (Sukawana D dan Kintamani E), juga bisa dilihat melalui keterkaitan antara penduduk di pesisir Tejakula dengan Pura Puncak Penulisan di Desa Sukawana, Kintamani.

Sebutlah orang-orang Sembiran, Pacung, dan Julah, misalnya, yang selalu menghaturkan sesajen (persembahan) tertentu ke Sukawana yang terdiri atas campuran biji-bijian, kapas, kumparan benang, dan kain jubah untuk pendeta di Sukawana: Jero Kubayan dan Jero Bau. Orang-orang dari Julah dan Sembiran memberi tiga helai kain termasuk sarung dengan pola hitam dan putih (kamben kotak geles) dan kain putih untuk pinggang (saput putih).

Semua itu menegaskan bahwa kain Julah bukan sekadar objek budaya—ia adalah jalur perdagangan, jalur ingatan, jalur yang membuat pesisir dan pegunungan saling menghidupi.

***

Dari tenun yang sunyi, saya berpindah ke dapur terbuka tempat api tak pernah benar-benar padam. Di sinilah, di samping rumahnya, I Komang Artayasa menyalakan sabut kelapa, menyalakan masa kecil, menyalakan warisan ibunya: dodol—nyamikan yang disebut juga dalam Serat Centhini.

Mula-mula ia menyalakan sabut kelapa. Setelah api stabil, ia memasukkan kayu bakar, lalu meletakkan kuali besar berisi adonan tepung ketan, gula, santan, dan pewarna merah dari kayu secang. “Baru mulai mengaduk,” katanya sambil tersenyum dengan logat Bali yang pekat.

I Komang Artayasa sedang membuat dodol di dapur terbukanya di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Gerakannya pelan, konsisten. Komang tak mengizinkan dodol dimasak dengan kompor. “Kalau pakai kompor lain rasanya,” ujarnya. Di Bungkulan ia pernah mencobanya, dan sejak itu ia tahu bahwa api tradisional punya rasanya sendiri—aroma yang tak bisa dipalsukan.

“Setiap upacara di Julah selalu ada dodol. Tapi dodol yang pakai tepung ketan hitam—injin namanya,” jelasnya sambil terus mengaduk. “Untuk satu kilo tempung, satu setengah jam baru matang.”

Komang mengaduk tanpa henti, seperti orang yang sedang menepati janji kepada leluhur. Dan di Julah, dodol bukan sekadar manisan; ia adalah persembahan, sesajen, identitas yang melengkapi momen-momen religius seperti Galungan, dll.

Keluarga Komang sudah dikenal sebagai pembuat dodol sejak lama. Ibunya, Wayan Sarining, belajar membuat dodol sejak kecil. Ia mulai berjualan sejak 2005, namun hanya saat upacara. Semua berubah ketika Komang memutuskan berhenti bekerja dan memilih membantu ibunya membuat dodol.

“Padahal dulu saya nggak mau buat dodol. Dulu kakak yang rajin membantu meme. Saya hanya mabuk-mabukan.” Ada kejujuran yang membuat kalimat itu terasa seperti pengakuan di balik asap tungku yang perlahan menipis.

Proses pembuatan dodol oleh I Komang Artayasa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kini, ia dan ibunya memproduksi satu kilo setiap hari, bisa melonjak menjadi delapan kilo saat hari-hari besar. Dodol mereka—dengan varian rasa nangka, durian, kayu secang—dibungkus kelobot jagung tanpa tali.

“Orang Julah sudah jarang menanam jagung,” kata Sarining. “Karena itu kami membeli kelobot dari Karangasem. Lagi-lagi Komang menimpali, “Kalah sama bibit jeruk.” Sarining membungkus dodol dengan kecepatan yang nyaris mustahil ditiru.

Sambil menunggu adonan dingin, Komang membawa sedikit dodol ke palinggih. “Untuk persembahan,” katanya.

***

Dari Resiani yang menjaga tenun, dari Komang dan Sarining yang menjaga dodol, perlahan saya melihat bahwa Julah sesungguhnya tidak berdiri sebagai desa sunyi yang terpinggir. Ia adalah simpul. Ia adalah persimpangan. Ia adalah puing-puing kejayaan pelabuhan kuno yang pada abad ke-9 menjadi salah satu pusat perdagangan di Bali Utara.

Dalam catatan arkeologi dan epigrafi, Julah pernah menjadi pelabuhan penting—tempat singgah kapal kecil yang membawa hasil bumi, kapas, garam, ikan, atau hewan ternak, dan tempat orang-orang dari pedalaman turun untuk berniaga. Jalur dagang ini menghubungkan pesisir Tejakula dengan Kintamani dan wilayah agraris di sekitarnya. Bahkan hubungan dengan Sukawana—yang kini tercermin lewat ritual persembahan—pada dasarnya lahir dari relasi dagang: kapas, benang, biji-bijian.

Maka tenun dan dodol bukan sekadar produk budaya: ia adalah bagian dari denyut perdagangan, produksi, dan ritual yang saling menubuh di Julah. Desa ini adalah simpul di mana laut, gunung, budaya, dan ekonomi saling meresap.

Bangunan dapur di depan rumah I Komang Artayasa di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Petang pelan turun ke desa. Dapur Komang sudah mulai hening; hanya tersisa aroma asap yang menempel di baju saya. Sementara alat tenun Resiani masih berdiri di sudut teras, seperti seseorang yang menunggu generasi yang belum kembali dari rantau.

Saya memandang kedua dunia itu—dodol dan tenun—dan merasa seperti melihat masa lalu yang masih mencoba hidup meski ditinggalkan oleh zaman yang bergerak terlalu cepat. Ada ketekunan yang mengharukan dalam diri Komang, ada keteguhan yang menyedihkan namun tetap bersinar dalam diri Resiani.

Julah mengajarkan saya bahwa kebudayaan tak selalu hilang karena dilupakan. Kadang ia hilang karena rute hidup berubah, karena pasar bergeser, karena alam tak lagi memberi bahan-bahan yang dulu ia sediakan.

Namun di tengah segala perubahan itu, selalu saja ada satu-dua orang yang tetap menjaga api. Di dapur terbuka, api itu menjilati kuali dodol. Di teras rumah, api itu ada dalam gesekan benang yang terus dirajut, meski dunia telah banyak berlari.

Dan saya meninggalkan Julah dengan satu catatan singkat di kepala: selama masih ada yang terus mengaduk adonan, selama masih ada yang terus menggerakkan gulungan alat tenun, masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti tangan. [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Tags: bulelengDesa Julahdodolkuliner baliTejakulatenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jejak Spiritual Melintasi Langit dan Padang Pasir: Catatan Umrah [1]

Next Post

‘Changes’: Penghormatan Kepada Pangeran Kegelapan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
‘Changes’: Penghormatan Kepada Pangeran Kegelapan

'Changes': Penghormatan Kepada Pangeran Kegelapan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co