8 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singgah Sejenak di Desa Julah: Belajar dari Ketut Resiani dan Komang Artayasa  

Jaswanto by Jaswanto
November 24, 2025
in Tualang
Singgah Sejenak di Desa Julah: Belajar dari Ketut Resiani dan Komang Artayasa  

Ketut Resiani, penenun di Desa Julah yang masih bertahan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“SETAHU saya, sekarang hanya tinggal tiga orang saja yang masih menenun,” kata Ketut Resiani tanpa menoleh. Ia menata benang seolah sedang menata ulang sejarah. Perempuan kelahiran 1991 itu menyeka peluh di dahinya.

Panas siang mulai merayap ketika saya tiba di Desa Tua Julah, Tejakula, Buleleng, Bali. Namun yang pertama menyapa saya bukan suara ayam, bukan pula desir angin pesisir yang biasanya membawa aroma laut, melainkan bunyi gulungan alat tenun tua yang beradu pelan di teras rumah Resiani—suara yang terdengar seperti napas paling dalam dari sebuah desa yang terus menua. Dan dari sinilah perjalanan saya bermula—dari seonggok alat tenun yang diwariskan seorang ibu, dari tangan-tangan yang tak berhenti menarik masa lalu agar tetap bernapas.

Teras yang sempit itu seperti museum sunyi. Hanya ada alat tenun warisan ibu, benang-benang kusut yang menunggu disentuh, dan seorang perempuan yang menghidupi tradisi yang hampir merapuh.

Julah, desa tua yang dipercaya telah ada sejak masa Ratu Sri Ugrasena, kini tinggal menyisakan tiga penenun. Tiga saja. Sementara dulu hampir semua perempuan di sini bisa memintal dan menenun. Tradisi memintal dan menenun di Julah barangkali setua usia desa ini sendiri, jauh sebelum bangsa berkulit pucat datang membawa kapal-kapal dagang ke Bali Utara. Namun kini, irama itu tinggal gema yang samar.

Ketut Resiani, penenun di Desa Julah yang masih bertahan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya mengulang pertanyaan, sekadar memastikan, seolah masih sulit percaya. “Di seluruh desa hanya tinggal tiga?”

“Iya,” jawab Resiani dengan tegas. “Saya sendiri dan kedua saudara saya.” Jari-jemarinya lincah, namun di matanya ada kilauan getir. Ia melanjutkan, “Alat tenun sangat mahal. Padahal, di Julah banyak perempuan muda yang ingin menenun.” Di titik ini, suaranya meninggi—bukan marah, tapi seperti hendak menegaskan bahwa tenun Julah bukan sekadar kain; ia adalah identitas, napas upacara, tubuh kebudayaan yang tak boleh putus.

I Ketut Suarjaya, warga Julah yang mengantar saya, menimpali, “Mertuanya memang penenun.” Resiani mengangguk. Tradisi itu, seolah duduk di pangkuan keluarga, melekat dari generasi ke generasi.

Di tempat lain, Wayan Sarining, warga Julah, menjelaskan panjang-lebar tentang fungsi kain dalam upacara kepada. Menurutnya, hampir semua upacara di Julah selalu menyertakan kain tenun di dalamnya.  “Ada 12 macam kain Julah,” katanya. Ada kain salinan daki, lad sayut, geringsing, salinan telah, kampuh telah, teteh agung, baas gede, kampuh daki, subagi, sekukuk, kamen sayut, dan kasang. Semua melekat pada ritual sejak bayi tiga bulanan hingga pernikahan. Di struktur banten (persembahan), kain ikat Julah ditempatkan di bagian paling atas—yang paling mulia.

Wayan Sarining mengangkat wajahnya dari tumpukan kelobot dan berkata pelan, “Kalau penenun punah, bagaimana kami bisa upacara?” Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dalam sumur tua yang tak pernah benar-benar kering.

Tetapi, persoalan kain Julah bukan hanya tentang berkurangnya jumlah penenun, tapi juga soal sedikitnya petani Julah yang menanam kapas. Menurut Suarjaya, kapas di Julah kalah dengan bibit-bibit jeruk dan tanaman lainnya—yang notabene dipandang lebih menguntungkan daripada menanam tanaman yang tumbuh di hampir semua benua itu. Saat ini, penenun seperti Resiani harus membeli kapas dari luar Desa Julah, sama seperti leluhurnya pada abad ke-12.

Tangan Ketut Resiani sedang menenun | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada abad ke-12 Masehi, penduduk Julah membeli kapas dari Kintamani, wilayah agraris yang teronggok di balik bukit yang rebah di selatan Julah. Prasasti Kintamani E—yang dikeluarkan Sri Maharaja Haji Ekajaya Lancana yang memerintah pada 1200an Masehi—mencatat bahwa pada masa itu penduduk Kintamani sudah berniaga kapas ke desa-desa di pesisir Bali Utara, seperti Les, Paminggir, Hiliran, Buhun Dalem, Julah, Purwasidhi, Indrapura, Bulihan, dan Manasa. (Pohon kapas banyak ditanam di sebelah timur Desa Sukawana, Kintamani, yakni antara Panursuran dengan Balingkang, seperti yang tertulis dalam Prasasti Sukawana D (1122 Saka).)

Menariknya, dalam Prasasti Kintamani E, hanya penduduk Kintamani yang diperbolehkan raja untuk berniaga kapas di desa-desa di pesisir Bali Utara. Sedangkan penduduk di sekitar Danau Batur (Bwahan, Kedisan, Trunyan, Songan, dan Abang) tidak diperkenankan berjualan kapas ke daerah-daerah tersebut. Apabila orang-orang di sekitar Danau Batur melanggar peraturan itu, maka akan dijatuhi denda 3 ma su 2 ma [dosa mā sū 3 mā 2].

Oleh karena itulah, Julah dan beberapa desa di wilayah Tejakula memiliki hubungan dendritik dengan wilayah di pedalaman Kintamani, sebagaimana dituliskan I Wayan Ardika dalam buku Manusia dan Kebudayaan Bali 2000 tahun Silam (2022). Hubungan ini, selain disebut jelas dalam prasasti (Sukawana D dan Kintamani E), juga bisa dilihat melalui keterkaitan antara penduduk di pesisir Tejakula dengan Pura Puncak Penulisan di Desa Sukawana, Kintamani.

Sebutlah orang-orang Sembiran, Pacung, dan Julah, misalnya, yang selalu menghaturkan sesajen (persembahan) tertentu ke Sukawana yang terdiri atas campuran biji-bijian, kapas, kumparan benang, dan kain jubah untuk pendeta di Sukawana: Jero Kubayan dan Jero Bau. Orang-orang dari Julah dan Sembiran memberi tiga helai kain termasuk sarung dengan pola hitam dan putih (kamben kotak geles) dan kain putih untuk pinggang (saput putih).

Semua itu menegaskan bahwa kain Julah bukan sekadar objek budaya—ia adalah jalur perdagangan, jalur ingatan, jalur yang membuat pesisir dan pegunungan saling menghidupi.

***

Dari tenun yang sunyi, saya berpindah ke dapur terbuka tempat api tak pernah benar-benar padam. Di sinilah, di samping rumahnya, I Komang Artayasa menyalakan sabut kelapa, menyalakan masa kecil, menyalakan warisan ibunya: dodol—nyamikan yang disebut juga dalam Serat Centhini.

Mula-mula ia menyalakan sabut kelapa. Setelah api stabil, ia memasukkan kayu bakar, lalu meletakkan kuali besar berisi adonan tepung ketan, gula, santan, dan pewarna merah dari kayu secang. “Baru mulai mengaduk,” katanya sambil tersenyum dengan logat Bali yang pekat.

I Komang Artayasa sedang membuat dodol di dapur terbukanya di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Gerakannya pelan, konsisten. Komang tak mengizinkan dodol dimasak dengan kompor. “Kalau pakai kompor lain rasanya,” ujarnya. Di Bungkulan ia pernah mencobanya, dan sejak itu ia tahu bahwa api tradisional punya rasanya sendiri—aroma yang tak bisa dipalsukan.

“Setiap upacara di Julah selalu ada dodol. Tapi dodol yang pakai tepung ketan hitam—injin namanya,” jelasnya sambil terus mengaduk. “Untuk satu kilo tempung, satu setengah jam baru matang.”

Komang mengaduk tanpa henti, seperti orang yang sedang menepati janji kepada leluhur. Dan di Julah, dodol bukan sekadar manisan; ia adalah persembahan, sesajen, identitas yang melengkapi momen-momen religius seperti Galungan, dll.

Keluarga Komang sudah dikenal sebagai pembuat dodol sejak lama. Ibunya, Wayan Sarining, belajar membuat dodol sejak kecil. Ia mulai berjualan sejak 2005, namun hanya saat upacara. Semua berubah ketika Komang memutuskan berhenti bekerja dan memilih membantu ibunya membuat dodol.

“Padahal dulu saya nggak mau buat dodol. Dulu kakak yang rajin membantu meme. Saya hanya mabuk-mabukan.” Ada kejujuran yang membuat kalimat itu terasa seperti pengakuan di balik asap tungku yang perlahan menipis.

Proses pembuatan dodol oleh I Komang Artayasa | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kini, ia dan ibunya memproduksi satu kilo setiap hari, bisa melonjak menjadi delapan kilo saat hari-hari besar. Dodol mereka—dengan varian rasa nangka, durian, kayu secang—dibungkus kelobot jagung tanpa tali.

“Orang Julah sudah jarang menanam jagung,” kata Sarining. “Karena itu kami membeli kelobot dari Karangasem. Lagi-lagi Komang menimpali, “Kalah sama bibit jeruk.” Sarining membungkus dodol dengan kecepatan yang nyaris mustahil ditiru.

Sambil menunggu adonan dingin, Komang membawa sedikit dodol ke palinggih. “Untuk persembahan,” katanya.

***

Dari Resiani yang menjaga tenun, dari Komang dan Sarining yang menjaga dodol, perlahan saya melihat bahwa Julah sesungguhnya tidak berdiri sebagai desa sunyi yang terpinggir. Ia adalah simpul. Ia adalah persimpangan. Ia adalah puing-puing kejayaan pelabuhan kuno yang pada abad ke-9 menjadi salah satu pusat perdagangan di Bali Utara.

Dalam catatan arkeologi dan epigrafi, Julah pernah menjadi pelabuhan penting—tempat singgah kapal kecil yang membawa hasil bumi, kapas, garam, ikan, atau hewan ternak, dan tempat orang-orang dari pedalaman turun untuk berniaga. Jalur dagang ini menghubungkan pesisir Tejakula dengan Kintamani dan wilayah agraris di sekitarnya. Bahkan hubungan dengan Sukawana—yang kini tercermin lewat ritual persembahan—pada dasarnya lahir dari relasi dagang: kapas, benang, biji-bijian.

Maka tenun dan dodol bukan sekadar produk budaya: ia adalah bagian dari denyut perdagangan, produksi, dan ritual yang saling menubuh di Julah. Desa ini adalah simpul di mana laut, gunung, budaya, dan ekonomi saling meresap.

Bangunan dapur di depan rumah I Komang Artayasa di Desa Julah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Petang pelan turun ke desa. Dapur Komang sudah mulai hening; hanya tersisa aroma asap yang menempel di baju saya. Sementara alat tenun Resiani masih berdiri di sudut teras, seperti seseorang yang menunggu generasi yang belum kembali dari rantau.

Saya memandang kedua dunia itu—dodol dan tenun—dan merasa seperti melihat masa lalu yang masih mencoba hidup meski ditinggalkan oleh zaman yang bergerak terlalu cepat. Ada ketekunan yang mengharukan dalam diri Komang, ada keteguhan yang menyedihkan namun tetap bersinar dalam diri Resiani.

Julah mengajarkan saya bahwa kebudayaan tak selalu hilang karena dilupakan. Kadang ia hilang karena rute hidup berubah, karena pasar bergeser, karena alam tak lagi memberi bahan-bahan yang dulu ia sediakan.

Namun di tengah segala perubahan itu, selalu saja ada satu-dua orang yang tetap menjaga api. Di dapur terbuka, api itu menjilati kuali dodol. Di teras rumah, api itu ada dalam gesekan benang yang terus dirajut, meski dunia telah banyak berlari.

Dan saya meninggalkan Julah dengan satu catatan singkat di kepala: selama masih ada yang terus mengaduk adonan, selama masih ada yang terus menggerakkan gulungan alat tenun, masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti tangan. [T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Tags: bulelengDesa Julahdodolkuliner baliTejakulatenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jejak Spiritual Melintasi Langit dan Padang Pasir: Catatan Umrah [1]

Next Post

‘Changes’: Penghormatan Kepada Pangeran Kegelapan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails
Next Post
‘Changes’: Penghormatan Kepada Pangeran Kegelapan

'Changes': Penghormatan Kepada Pangeran Kegelapan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co