26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musang Menulis Rindu  |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
September 20, 2025
in Cerpen
Musang Menulis Rindu  |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

MUSANG itu datang pada malam yang sangat tidak wajar. Hujan turun seperti sedang dipecat dari langit, angin menjerit-jerit seperti istri pejabat yang tahu suaminya kawin lagi, dan listrik padam seketika. Di antara pekat yang menggigilkan bulu tengkuk, seekor musang mondar-mandir di depan rumahku, membawa sesuatu di mulutnya—sebuah pulpen.

Ya. Pulpen. Warna biru. Merek yang biasa dipakai PNS mengisi absen.

Aku tak langsung sadar bahwa malam itu adalah awal dari kegilaan yang sangat panjang. Semula kukira ia hewan liar biasa, lapar, atau tersesat. Tapi ia tak merampok dapur, tak mencuri telur ayam. Ia malah berdiri tegak di depan pintu, menatapku seperti penyair patah hati yang mencari redaktur.

“Pergi sana!” bentakku sambil menggoyang-goyangkan sandal jepit. Musang itu diam. Lalu… menjatuhkan pulpennya ke lantai teras dan mendorongnya ke arahku dengan kaki depannya.

Aku terpana. Ini bukan musang biasa.

Pagi harinya, aku menemukan sesuatu yang lebih gila: selembar kertas terselip di bawah pintu. Kertas HVS 70 gram, bertuliskan tangan yang rapi tapi agak tremor, seolah ditulis oleh… ya, musang.

“Tuan Rumah, izinkan aku tinggal. Aku bukan pencuri ayam. Aku hanya musang yang sedang menulis rindu.”

Tulisannya miring ke kanan, dan di ujungnya tergambar wajah seekor musang kecil dengan ekspresi melankolis. Aku membacanya tiga kali. Lalu duduk.

Sial. Aku hidup di dunia yang aneh.

***

Hari-hari berikutnya, musang itu menetap di rumah. Ia tidur di atas tumpukan koran lama, meminum teh manis dari cangkir kecil bekas lilin aromaterapi, dan menulis. Ya, menulis. Setiap malam ia menyelipkan catatan di bawah pintu kamar. Semua tentang rindu.

“Rindu adalah aroma buah nangka yang busuk di bawah pohon. Busuk, manis, dan tak bisa dihindari.”

“Apakah Tuan pernah merindukan seseorang yang bahkan tak tahu bahwa Tuan ada?”

“Rindu ini kutulis untuk si Tupai Betina yang pergi kawin dengan kelelawar karena katanya lebih suka terbang.”

Aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Di satu sisi, aku kasihan. Di sisi lain, aku mulai curiga pada kewarasanku sendiri. Tapi musang itu tak pernah mengganggu. Ia menulis dan merenung. Kadang menatap jendela seperti sedang memikirkan filsafat pohon bambu.

Tetangga-tetanggaku tentu saja mulai bergunjing. “Rumah itu dihuni penyair dan musang. Aku tak tahu mana yang lebih gila,” kata Bu Parti yang senang mengintip dari balik tirai.

Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya padanya. Ya, aku mulai terbiasa berbicara pada musang.

“Apa sih yang kau rindukan?”

Musang itu diam, lalu mengambil spidol dan menulis di tembok belakang rumah: “Aku merindukan hidup yang jujur.”

Aku terpukul. Itu kalimat yang bahkan tidak sanggup ditulis oleh kebanyakan manusia.

Lalu ia menulis lagi: “Dulu aku binatang liar. Hidup bebas. Tapi suatu hari aku masuk ke kompleks ini dan melihat manusia menulis status di media sosial tentang kehilangan, kesepian, luka. Aku pikir, menulis bisa menyelamatkanku dari insting mencuri. Tapi tak ada yang mau membacaku. Lalu aku bertemu Tuan. Seorang penulis yang belum pernah terbit, tapi masih percaya bahwa kata-kata bisa menyembuhkan.”

Aku… terdiam. Gila ini sudah terlalu sempurna. Bahkan absurditasnya mulai terasa indah.

***

Musang itu mulai menjadi bagian dari rumah. Ia punya jadwal menulis sendiri, punya ritual minum teh, dan bahkan mendengarkan lagu-lagu Koes Plus lewat radio tua yang kuhidupkan saat hujan. Ia sangat menyukai lagu “Kapan-kapan Kita Berjumpa Lagi.”

Suatu pagi, aku menemukan cerpennya di bawah pintu. Judulnya: “Tupai yang Menyesal karena Menikah dengan Kelelawar.” Aku membacanya dan tertawa terbahak-bahak. Tapi di balik humornya yang absurd, ada kedalaman yang menyayat.

Tupai dalam cerita itu ternyata masih mencintai Musang, tapi memilih Kelelawar karena dia bisa membawanya terbang ke pohon-pohon tinggi yang belum pernah ia jangkau.

“Kadang cinta adalah perkara gravitasi,” tulis Musang di akhir cerita. “Aku terlalu membumi untuk dicintai.”

Musang mulai terkenal. Tulisannya kusebar secara anonim di forum-forum sastra daring. Orang-orang menyukainya. Mereka menyebutnya “prosa eksistensial yang ditulis dengan kuku.” Ada yang bilang, ini pasti penulis manusia yang bersembunyi di balik nama hewan. Ada yang mengira aku gila. Tapi tak ada yang benar-benar tahu: penulis itu adalah seekor musang kecil dengan luka di hatinya.

Sampai suatu malam, ia berkata padaku—dengan tulisan, tentu saja:

“Aku ingin ikut lomba cerpen nasional.”

“Serius?” tanyaku. Ia mengangguk.

Aku kirimkan karyanya dengan nama pena: M. Musang. Tak ada yang tahu kepanjangannya. Bisa jadi Muhammad, bisa juga Musang murni.

Sebulan kemudian, surat itu datang.

Juara satu.

***

Media mulai mencari siapa “M. Musang.” Wartawan berdatangan. Aku bingung harus bagaimana. Musang menyuruhku diam. “Biarkan rindu tetap misterius,” tulisnya.

Ia menolak diwawancarai. Tapi ia terus menulis. Dan semakin dalam. Ada satu tulisan yang membuatku nyaris menangis:

“Aku menulis karena aku tak bisa melolong. Aku menulis karena Tuhan menciptakan musang dengan mulut kecil, tapi hati yang besar. Aku menulis karena satu-satunya cara agar aku tak menjadi pencuri lagi adalah dengan mencuri perhatian.”

Aku peluk dia malam itu. Ia kaku, tapi tak menolak.

Tapi hidup, seperti biasa, tak pernah sepenuhnya manis.

Suatu pagi, datang petugas pengendali hama dari dinas kota. “Ada laporan tentang musang yang berkeliaran. Bisa menularkan rabies,” kata mereka.

Aku panik. Aku berusaha menyembunyikannya. Tapi musang itu keluar dari persembunyian dengan tenang, membawa kertas dan menulis di depan para petugas itu:

“Aku bukan hama. Aku hanya makhluk kecil yang sedang menulis rindu. Apa itu salah?”

Petugas itu bingung. Mereka tertawa, mengira ini lelucon. Tapi kepala dinas tidak. Ia seorang pragmatis.

“Musang tetap musang. Dan musang tidak punya KTP.”

Malam itu, aku dan Musang duduk berdua di teras rumah. Kami tahu, waktunya hampir habis.

“Aku akan pergi,” tulisnya. “Kota ini terlalu rapi untuk rindu yang berantakan seperti punyaku.”

Aku ingin mencegahnya. Tapi ia sudah menggulung semua kertasnya, mengemas pulpen-pulpen favoritnya, dan menatapku dengan mata sendu.

“Terima kasih telah mempercayaiku,” tulisnya. “Bahkan ketika dunia memilih mengusirku.”

Ia berjalan perlahan ke arah hutan, diiringi suara jangkrik dan desah angin yang seperti doa setengah jadi. Aku menatap punggung kecilnya, dan entah kenapa, air mata turun begitu saja.

***

Kini, musang itu tak lagi di rumahku. Tapi ia hidup dalam dinding-dinding yang pernah ia tulisi. Dalam tumpukan kertas yang masih kusimpan. Dalam setiap kata-kata yang kutulis ulang dan kuceritakan pada dunia.

Dan tiap malam, ketika angin menerpa jendela dengan lembut, aku merasa ia masih di luar sana—di pohon-pohon, di semak, di antara bebunyian malam—menulis rindu.

Mungkin pada dunia. Mungkin pada tupai itu. Atau mungkin… padaku.[T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Maria Utami | Merintis Jalan Setapak

Next Post

Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co