25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musang Menulis Rindu  |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
September 20, 2025
in Cerpen
Musang Menulis Rindu  |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

MUSANG itu datang pada malam yang sangat tidak wajar. Hujan turun seperti sedang dipecat dari langit, angin menjerit-jerit seperti istri pejabat yang tahu suaminya kawin lagi, dan listrik padam seketika. Di antara pekat yang menggigilkan bulu tengkuk, seekor musang mondar-mandir di depan rumahku, membawa sesuatu di mulutnya—sebuah pulpen.

Ya. Pulpen. Warna biru. Merek yang biasa dipakai PNS mengisi absen.

Aku tak langsung sadar bahwa malam itu adalah awal dari kegilaan yang sangat panjang. Semula kukira ia hewan liar biasa, lapar, atau tersesat. Tapi ia tak merampok dapur, tak mencuri telur ayam. Ia malah berdiri tegak di depan pintu, menatapku seperti penyair patah hati yang mencari redaktur.

“Pergi sana!” bentakku sambil menggoyang-goyangkan sandal jepit. Musang itu diam. Lalu… menjatuhkan pulpennya ke lantai teras dan mendorongnya ke arahku dengan kaki depannya.

Aku terpana. Ini bukan musang biasa.

Pagi harinya, aku menemukan sesuatu yang lebih gila: selembar kertas terselip di bawah pintu. Kertas HVS 70 gram, bertuliskan tangan yang rapi tapi agak tremor, seolah ditulis oleh… ya, musang.

“Tuan Rumah, izinkan aku tinggal. Aku bukan pencuri ayam. Aku hanya musang yang sedang menulis rindu.”

Tulisannya miring ke kanan, dan di ujungnya tergambar wajah seekor musang kecil dengan ekspresi melankolis. Aku membacanya tiga kali. Lalu duduk.

Sial. Aku hidup di dunia yang aneh.

***

Hari-hari berikutnya, musang itu menetap di rumah. Ia tidur di atas tumpukan koran lama, meminum teh manis dari cangkir kecil bekas lilin aromaterapi, dan menulis. Ya, menulis. Setiap malam ia menyelipkan catatan di bawah pintu kamar. Semua tentang rindu.

“Rindu adalah aroma buah nangka yang busuk di bawah pohon. Busuk, manis, dan tak bisa dihindari.”

“Apakah Tuan pernah merindukan seseorang yang bahkan tak tahu bahwa Tuan ada?”

“Rindu ini kutulis untuk si Tupai Betina yang pergi kawin dengan kelelawar karena katanya lebih suka terbang.”

Aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Di satu sisi, aku kasihan. Di sisi lain, aku mulai curiga pada kewarasanku sendiri. Tapi musang itu tak pernah mengganggu. Ia menulis dan merenung. Kadang menatap jendela seperti sedang memikirkan filsafat pohon bambu.

Tetangga-tetanggaku tentu saja mulai bergunjing. “Rumah itu dihuni penyair dan musang. Aku tak tahu mana yang lebih gila,” kata Bu Parti yang senang mengintip dari balik tirai.

Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya padanya. Ya, aku mulai terbiasa berbicara pada musang.

“Apa sih yang kau rindukan?”

Musang itu diam, lalu mengambil spidol dan menulis di tembok belakang rumah: “Aku merindukan hidup yang jujur.”

Aku terpukul. Itu kalimat yang bahkan tidak sanggup ditulis oleh kebanyakan manusia.

Lalu ia menulis lagi: “Dulu aku binatang liar. Hidup bebas. Tapi suatu hari aku masuk ke kompleks ini dan melihat manusia menulis status di media sosial tentang kehilangan, kesepian, luka. Aku pikir, menulis bisa menyelamatkanku dari insting mencuri. Tapi tak ada yang mau membacaku. Lalu aku bertemu Tuan. Seorang penulis yang belum pernah terbit, tapi masih percaya bahwa kata-kata bisa menyembuhkan.”

Aku… terdiam. Gila ini sudah terlalu sempurna. Bahkan absurditasnya mulai terasa indah.

***

Musang itu mulai menjadi bagian dari rumah. Ia punya jadwal menulis sendiri, punya ritual minum teh, dan bahkan mendengarkan lagu-lagu Koes Plus lewat radio tua yang kuhidupkan saat hujan. Ia sangat menyukai lagu “Kapan-kapan Kita Berjumpa Lagi.”

Suatu pagi, aku menemukan cerpennya di bawah pintu. Judulnya: “Tupai yang Menyesal karena Menikah dengan Kelelawar.” Aku membacanya dan tertawa terbahak-bahak. Tapi di balik humornya yang absurd, ada kedalaman yang menyayat.

Tupai dalam cerita itu ternyata masih mencintai Musang, tapi memilih Kelelawar karena dia bisa membawanya terbang ke pohon-pohon tinggi yang belum pernah ia jangkau.

“Kadang cinta adalah perkara gravitasi,” tulis Musang di akhir cerita. “Aku terlalu membumi untuk dicintai.”

Musang mulai terkenal. Tulisannya kusebar secara anonim di forum-forum sastra daring. Orang-orang menyukainya. Mereka menyebutnya “prosa eksistensial yang ditulis dengan kuku.” Ada yang bilang, ini pasti penulis manusia yang bersembunyi di balik nama hewan. Ada yang mengira aku gila. Tapi tak ada yang benar-benar tahu: penulis itu adalah seekor musang kecil dengan luka di hatinya.

Sampai suatu malam, ia berkata padaku—dengan tulisan, tentu saja:

“Aku ingin ikut lomba cerpen nasional.”

“Serius?” tanyaku. Ia mengangguk.

Aku kirimkan karyanya dengan nama pena: M. Musang. Tak ada yang tahu kepanjangannya. Bisa jadi Muhammad, bisa juga Musang murni.

Sebulan kemudian, surat itu datang.

Juara satu.

***

Media mulai mencari siapa “M. Musang.” Wartawan berdatangan. Aku bingung harus bagaimana. Musang menyuruhku diam. “Biarkan rindu tetap misterius,” tulisnya.

Ia menolak diwawancarai. Tapi ia terus menulis. Dan semakin dalam. Ada satu tulisan yang membuatku nyaris menangis:

“Aku menulis karena aku tak bisa melolong. Aku menulis karena Tuhan menciptakan musang dengan mulut kecil, tapi hati yang besar. Aku menulis karena satu-satunya cara agar aku tak menjadi pencuri lagi adalah dengan mencuri perhatian.”

Aku peluk dia malam itu. Ia kaku, tapi tak menolak.

Tapi hidup, seperti biasa, tak pernah sepenuhnya manis.

Suatu pagi, datang petugas pengendali hama dari dinas kota. “Ada laporan tentang musang yang berkeliaran. Bisa menularkan rabies,” kata mereka.

Aku panik. Aku berusaha menyembunyikannya. Tapi musang itu keluar dari persembunyian dengan tenang, membawa kertas dan menulis di depan para petugas itu:

“Aku bukan hama. Aku hanya makhluk kecil yang sedang menulis rindu. Apa itu salah?”

Petugas itu bingung. Mereka tertawa, mengira ini lelucon. Tapi kepala dinas tidak. Ia seorang pragmatis.

“Musang tetap musang. Dan musang tidak punya KTP.”

Malam itu, aku dan Musang duduk berdua di teras rumah. Kami tahu, waktunya hampir habis.

“Aku akan pergi,” tulisnya. “Kota ini terlalu rapi untuk rindu yang berantakan seperti punyaku.”

Aku ingin mencegahnya. Tapi ia sudah menggulung semua kertasnya, mengemas pulpen-pulpen favoritnya, dan menatapku dengan mata sendu.

“Terima kasih telah mempercayaiku,” tulisnya. “Bahkan ketika dunia memilih mengusirku.”

Ia berjalan perlahan ke arah hutan, diiringi suara jangkrik dan desah angin yang seperti doa setengah jadi. Aku menatap punggung kecilnya, dan entah kenapa, air mata turun begitu saja.

***

Kini, musang itu tak lagi di rumahku. Tapi ia hidup dalam dinding-dinding yang pernah ia tulisi. Dalam tumpukan kertas yang masih kusimpan. Dalam setiap kata-kata yang kutulis ulang dan kuceritakan pada dunia.

Dan tiap malam, ketika angin menerpa jendela dengan lembut, aku merasa ia masih di luar sana—di pohon-pohon, di semak, di antara bebunyian malam—menulis rindu.

Mungkin pada dunia. Mungkin pada tupai itu. Atau mungkin… padaku.[T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Maria Utami | Merintis Jalan Setapak

Next Post

Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co