27 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 20, 2025
in Esai
Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

PADA beberapa percakapan dengan banyak sahabat sesama orang Bali, ada kalimat yang begitu membekas di hati dan ingatan saya; “Nak rage Bali, percaye teken Karma Phala”. Terjemahan bebasnya: “(Karena/bahwa) kita orang Bali (yang) percaya dan yakin akan adanya hukum karma”. Kalimat itu bukanlah sebuah glorifikasi kesukuan, apalagi chauvinisme budaya—melainkan sebagai pengingat bahwa orang Bali, yang sejak lahir hingga meninggal tak lepas dari upacara, mempunyai nilai-nila yang terus terbawa dan dibawa, kemana pun atau dimana pun mereka berada. 

Idealnya begitu. Namun, kini, tidak semua orang Bali beragama Hindu. Meski mungkin nama mereka tetap mempertahankan nama khas Bali seperti Putu/Wayan, Made/Kadek, Komang/Nyoman, dan Ketut, agama mereka Islam, Kristen, Buddha, atau juga Khonghucu. Terlebih bagi Perempuan Bali (Hindu), yang menikah dengan laki-laki non-Hindu dan non-Bali, dengan alasan “semua agama itu sama”, atau “demi keutuhan rumah tangga”, juga “demi kebahagiaan keluarga besar” dengan mudah memutuskan pindah agama, keluar dari agama asal.

Konversi agama, meskipun tidak semuanya bermakna negatif, pada akhirnya menjadi tantangan bagi orang Bali, terutama oleh keluarga yang memegang teguh agama dan juga tradisi Bali dan juga Hindu. Dengan adanya perubahan pola pergaulan masyarakat, penduduk yang majemuk terutama di kota, berpengaruh juga pada budaya Bali yang mengalami distraksi. Pacaran beda agama, bagi generasi muda Bali, tidak lagi dipandang sebagai hal yang tabu. Kendala akan muncul biasanya, ketika mereka akan menikah.

Di Indonesia, sejak adanya Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 yang merupakan revisi dari undang-undang perkawinan pada masa Orde Lama, sebuah pernikahan dikatakan sah apabila kedua mempelai agamanya sama. Artinya, jika dahulu pada zaman kakek dan orang tua kita, negara tidak terlalu campur tangan pada “agama”. Pada masa setelah Orde Lama runtuh, bahkan untuk menikah saja persoalan agama (dan iman) yang merupakan hal privat atau personal warga negara, kemudian ikut diurusi oleh negara. Sejak itu pula, pasangan beda agama tentu tak bisa menikah secara resmi di Indonesia. Solusinya, salah satu pasangan (istri atau suami) berpindah agama mengikuti agama pasangannya. Atau, bagi kaum berpunya, menikah di luar negeri seperti di Singapura atau Australia demi mendapatkan surat-surat resmi pernikahan.

Pola seperti ini bukan saja menunjukkan bahwa agama merupakan “sesuatu” yang dianggap penting di Indonesia, tapi juga—jangan lupa—agama juga menjadi alat politik oleh kalangan tertentu. Agama statistik, mungkin pembaca pernah membaca atau mendengarnya. Siapa yang berpindah agama, siapa yang meninggalkan agama asal, juga berhubungan dengan angka, statistik. Meski tidak secara eksplisit, fakta ini bisa menjadi “api dalam sekam” jika kita semua tidak membicarakannya secara terbuka dengan kepala dingin dan dialog yang sehat.

Di Bali, ini yang luar biasa, jika ada saudara atau kerabat yang dengan alasan-alasan tertentu memilih pindah agama, mereka tetap diterima dengan tangan terbuka. Keluarga, akan tetap menanggap saudara yang telah menjadi penganut agama “lain”, sebagai orang Bali. Tak mudah, tentunya, jika dibandingkan dengan tempat lain di Indonesia, menerima dengan tangan terbuka anggota keluarga atau kerabat yang telah “murtad” tetap sebagai bagian dari komunitas kita. Di situlah menunjukkan, bahwa Pulau Dewata telah melalui proses panjang akan “keterbukaan”. Mereka yang berpindah agama, biasanya, dianggap hanya “agama” saja yang kini berbeda. Lebih dari itu, mereka tetaplah kakak, adik, keponakan atau bahkan anak dan cucu kita—orang Bali.

Kalimat “Nak rage Bali” kemudian menjadi alat ukur, sejauh mana perubahan yang dialami orang Bali setelah misalnya, mengalami “pembauran” dengan budaya-budaya dan agama berbeda. Masihkah disebut “orang Bali”, jika kemudian seseorang tidak lagi bersikap dan berbuat sesuai nilai-nilai dan ajaran luhur di Bali? Ini tentu bukan hanya ditujukan oleh mereka yang telah berpindah keyakinan, tapi juga bagi orang Bali yang masih beragama Hindu. Sebab, pada banyak kasus, meskipun perempuan atau lelaki Bali telah berpindah keyakinan—mereka tetap dengan setia menunjunjung tinggi “value” atau nilai-nilai sebagai orang Bali. Misalnya, takut berpikir, berkata, dan berbuat jahat, menyakiti orang lain; mencuri, berbohong, dan juga melakukan korupsi.

Di sisi lain, ada juga yang melupakan nilai-nilai luhur sebagai orang Bali setelah mereka pindah agama, entah karena menikah, faktor ekonomi, asmara, dan juga karena alasan politik. Setelah pindah agama, seperti yang pernah ditulis oleh Anand Krishna dalam beberapa buku beliau—hal yang paling rawan adalah membanding-bandingkan agama “baru” dengan agama asal. Kemudian terlibat dalam debat kusir, yang hanya membuang-buang energi dan menunjukkan sikap tak baik  

“Nak Rage Bali”, akan menjadi benteng kokoh bagi segala hal yang merubah Bali. Orang Bali (Hindu) yang percaya pada Brahman (Tuhan), Atman (jiwa), Karma Phala (hukum sebab-akibat), Punarbhawa (reinkarnasi), dan Moksha (pembebasan rohani). Panca Sradha, inilah yang menjadi identitas orang Hindu-Bali. Kita bisa bilang bahwa Sradha ini merupakan pencapaian luar biasa yang lahir dari ketajaman pikiran pada resi-resi dan leluhur orang Bali pada zaman dahulu.

Hari raya di Bali, penentuan waktunya, dan filsafat serta makna yang menyertainya, bukan hanya kebetulan semata. Lebih dari itu, hari raya di Bali menjadi semacam pengingat—ketika kita pulang kampung setelah lama bekerja di kota lain satu pulau, luar pulau, bahkan juga luar negeri: “Masihkah (Engkau) Orang Bali?” —setinggi apa pun pendidikanmu, sebanyak apa pun hartamu, setenar dan sebesar apa pun namamu, pertanyaan itu terus bergema; melalui suara genta pemangku Pura, diskusi hangat dengan keluarga, atau pun juga melalui hadirnya kenangan pada foto yang tergantung di tembok rumah, atau album-album foto lama di lemari kamar tua. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hindu Baliorang balitumpek landep
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musang Menulis Rindu  |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Dari Ide ke Aksi, Dari Aksi Jadi Pasti: Merayakan Ujian dengan Ekshibisi Scrapbook

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Dari Ide ke Aksi, Dari Aksi Jadi Pasti: Merayakan Ujian dengan Ekshibisi Scrapbook

Dari Ide ke Aksi, Dari Aksi Jadi Pasti: Merayakan Ujian dengan Ekshibisi Scrapbook

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co