5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musang Menulis Rindu  |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
September 20, 2025
in Cerpen
Musang Menulis Rindu  |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

MUSANG itu datang pada malam yang sangat tidak wajar. Hujan turun seperti sedang dipecat dari langit, angin menjerit-jerit seperti istri pejabat yang tahu suaminya kawin lagi, dan listrik padam seketika. Di antara pekat yang menggigilkan bulu tengkuk, seekor musang mondar-mandir di depan rumahku, membawa sesuatu di mulutnya—sebuah pulpen.

Ya. Pulpen. Warna biru. Merek yang biasa dipakai PNS mengisi absen.

Aku tak langsung sadar bahwa malam itu adalah awal dari kegilaan yang sangat panjang. Semula kukira ia hewan liar biasa, lapar, atau tersesat. Tapi ia tak merampok dapur, tak mencuri telur ayam. Ia malah berdiri tegak di depan pintu, menatapku seperti penyair patah hati yang mencari redaktur.

“Pergi sana!” bentakku sambil menggoyang-goyangkan sandal jepit. Musang itu diam. Lalu… menjatuhkan pulpennya ke lantai teras dan mendorongnya ke arahku dengan kaki depannya.

Aku terpana. Ini bukan musang biasa.

Pagi harinya, aku menemukan sesuatu yang lebih gila: selembar kertas terselip di bawah pintu. Kertas HVS 70 gram, bertuliskan tangan yang rapi tapi agak tremor, seolah ditulis oleh… ya, musang.

“Tuan Rumah, izinkan aku tinggal. Aku bukan pencuri ayam. Aku hanya musang yang sedang menulis rindu.”

Tulisannya miring ke kanan, dan di ujungnya tergambar wajah seekor musang kecil dengan ekspresi melankolis. Aku membacanya tiga kali. Lalu duduk.

Sial. Aku hidup di dunia yang aneh.

***

Hari-hari berikutnya, musang itu menetap di rumah. Ia tidur di atas tumpukan koran lama, meminum teh manis dari cangkir kecil bekas lilin aromaterapi, dan menulis. Ya, menulis. Setiap malam ia menyelipkan catatan di bawah pintu kamar. Semua tentang rindu.

“Rindu adalah aroma buah nangka yang busuk di bawah pohon. Busuk, manis, dan tak bisa dihindari.”

“Apakah Tuan pernah merindukan seseorang yang bahkan tak tahu bahwa Tuan ada?”

“Rindu ini kutulis untuk si Tupai Betina yang pergi kawin dengan kelelawar karena katanya lebih suka terbang.”

Aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Di satu sisi, aku kasihan. Di sisi lain, aku mulai curiga pada kewarasanku sendiri. Tapi musang itu tak pernah mengganggu. Ia menulis dan merenung. Kadang menatap jendela seperti sedang memikirkan filsafat pohon bambu.

Tetangga-tetanggaku tentu saja mulai bergunjing. “Rumah itu dihuni penyair dan musang. Aku tak tahu mana yang lebih gila,” kata Bu Parti yang senang mengintip dari balik tirai.

Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya padanya. Ya, aku mulai terbiasa berbicara pada musang.

“Apa sih yang kau rindukan?”

Musang itu diam, lalu mengambil spidol dan menulis di tembok belakang rumah: “Aku merindukan hidup yang jujur.”

Aku terpukul. Itu kalimat yang bahkan tidak sanggup ditulis oleh kebanyakan manusia.

Lalu ia menulis lagi: “Dulu aku binatang liar. Hidup bebas. Tapi suatu hari aku masuk ke kompleks ini dan melihat manusia menulis status di media sosial tentang kehilangan, kesepian, luka. Aku pikir, menulis bisa menyelamatkanku dari insting mencuri. Tapi tak ada yang mau membacaku. Lalu aku bertemu Tuan. Seorang penulis yang belum pernah terbit, tapi masih percaya bahwa kata-kata bisa menyembuhkan.”

Aku… terdiam. Gila ini sudah terlalu sempurna. Bahkan absurditasnya mulai terasa indah.

***

Musang itu mulai menjadi bagian dari rumah. Ia punya jadwal menulis sendiri, punya ritual minum teh, dan bahkan mendengarkan lagu-lagu Koes Plus lewat radio tua yang kuhidupkan saat hujan. Ia sangat menyukai lagu “Kapan-kapan Kita Berjumpa Lagi.”

Suatu pagi, aku menemukan cerpennya di bawah pintu. Judulnya: “Tupai yang Menyesal karena Menikah dengan Kelelawar.” Aku membacanya dan tertawa terbahak-bahak. Tapi di balik humornya yang absurd, ada kedalaman yang menyayat.

Tupai dalam cerita itu ternyata masih mencintai Musang, tapi memilih Kelelawar karena dia bisa membawanya terbang ke pohon-pohon tinggi yang belum pernah ia jangkau.

“Kadang cinta adalah perkara gravitasi,” tulis Musang di akhir cerita. “Aku terlalu membumi untuk dicintai.”

Musang mulai terkenal. Tulisannya kusebar secara anonim di forum-forum sastra daring. Orang-orang menyukainya. Mereka menyebutnya “prosa eksistensial yang ditulis dengan kuku.” Ada yang bilang, ini pasti penulis manusia yang bersembunyi di balik nama hewan. Ada yang mengira aku gila. Tapi tak ada yang benar-benar tahu: penulis itu adalah seekor musang kecil dengan luka di hatinya.

Sampai suatu malam, ia berkata padaku—dengan tulisan, tentu saja:

“Aku ingin ikut lomba cerpen nasional.”

“Serius?” tanyaku. Ia mengangguk.

Aku kirimkan karyanya dengan nama pena: M. Musang. Tak ada yang tahu kepanjangannya. Bisa jadi Muhammad, bisa juga Musang murni.

Sebulan kemudian, surat itu datang.

Juara satu.

***

Media mulai mencari siapa “M. Musang.” Wartawan berdatangan. Aku bingung harus bagaimana. Musang menyuruhku diam. “Biarkan rindu tetap misterius,” tulisnya.

Ia menolak diwawancarai. Tapi ia terus menulis. Dan semakin dalam. Ada satu tulisan yang membuatku nyaris menangis:

“Aku menulis karena aku tak bisa melolong. Aku menulis karena Tuhan menciptakan musang dengan mulut kecil, tapi hati yang besar. Aku menulis karena satu-satunya cara agar aku tak menjadi pencuri lagi adalah dengan mencuri perhatian.”

Aku peluk dia malam itu. Ia kaku, tapi tak menolak.

Tapi hidup, seperti biasa, tak pernah sepenuhnya manis.

Suatu pagi, datang petugas pengendali hama dari dinas kota. “Ada laporan tentang musang yang berkeliaran. Bisa menularkan rabies,” kata mereka.

Aku panik. Aku berusaha menyembunyikannya. Tapi musang itu keluar dari persembunyian dengan tenang, membawa kertas dan menulis di depan para petugas itu:

“Aku bukan hama. Aku hanya makhluk kecil yang sedang menulis rindu. Apa itu salah?”

Petugas itu bingung. Mereka tertawa, mengira ini lelucon. Tapi kepala dinas tidak. Ia seorang pragmatis.

“Musang tetap musang. Dan musang tidak punya KTP.”

Malam itu, aku dan Musang duduk berdua di teras rumah. Kami tahu, waktunya hampir habis.

“Aku akan pergi,” tulisnya. “Kota ini terlalu rapi untuk rindu yang berantakan seperti punyaku.”

Aku ingin mencegahnya. Tapi ia sudah menggulung semua kertasnya, mengemas pulpen-pulpen favoritnya, dan menatapku dengan mata sendu.

“Terima kasih telah mempercayaiku,” tulisnya. “Bahkan ketika dunia memilih mengusirku.”

Ia berjalan perlahan ke arah hutan, diiringi suara jangkrik dan desah angin yang seperti doa setengah jadi. Aku menatap punggung kecilnya, dan entah kenapa, air mata turun begitu saja.

***

Kini, musang itu tak lagi di rumahku. Tapi ia hidup dalam dinding-dinding yang pernah ia tulisi. Dalam tumpukan kertas yang masih kusimpan. Dalam setiap kata-kata yang kutulis ulang dan kuceritakan pada dunia.

Dan tiap malam, ketika angin menerpa jendela dengan lembut, aku merasa ia masih di luar sana—di pohon-pohon, di semak, di antara bebunyian malam—menulis rindu.

Mungkin pada dunia. Mungkin pada tupai itu. Atau mungkin… padaku.[T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Maria Utami | Merintis Jalan Setapak

Next Post

Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co