14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musang Menulis Rindu  |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
September 20, 2025
in Cerpen
Musang Menulis Rindu  |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

MUSANG itu datang pada malam yang sangat tidak wajar. Hujan turun seperti sedang dipecat dari langit, angin menjerit-jerit seperti istri pejabat yang tahu suaminya kawin lagi, dan listrik padam seketika. Di antara pekat yang menggigilkan bulu tengkuk, seekor musang mondar-mandir di depan rumahku, membawa sesuatu di mulutnya—sebuah pulpen.

Ya. Pulpen. Warna biru. Merek yang biasa dipakai PNS mengisi absen.

Aku tak langsung sadar bahwa malam itu adalah awal dari kegilaan yang sangat panjang. Semula kukira ia hewan liar biasa, lapar, atau tersesat. Tapi ia tak merampok dapur, tak mencuri telur ayam. Ia malah berdiri tegak di depan pintu, menatapku seperti penyair patah hati yang mencari redaktur.

“Pergi sana!” bentakku sambil menggoyang-goyangkan sandal jepit. Musang itu diam. Lalu… menjatuhkan pulpennya ke lantai teras dan mendorongnya ke arahku dengan kaki depannya.

Aku terpana. Ini bukan musang biasa.

Pagi harinya, aku menemukan sesuatu yang lebih gila: selembar kertas terselip di bawah pintu. Kertas HVS 70 gram, bertuliskan tangan yang rapi tapi agak tremor, seolah ditulis oleh… ya, musang.

“Tuan Rumah, izinkan aku tinggal. Aku bukan pencuri ayam. Aku hanya musang yang sedang menulis rindu.”

Tulisannya miring ke kanan, dan di ujungnya tergambar wajah seekor musang kecil dengan ekspresi melankolis. Aku membacanya tiga kali. Lalu duduk.

Sial. Aku hidup di dunia yang aneh.

***

Hari-hari berikutnya, musang itu menetap di rumah. Ia tidur di atas tumpukan koran lama, meminum teh manis dari cangkir kecil bekas lilin aromaterapi, dan menulis. Ya, menulis. Setiap malam ia menyelipkan catatan di bawah pintu kamar. Semua tentang rindu.

“Rindu adalah aroma buah nangka yang busuk di bawah pohon. Busuk, manis, dan tak bisa dihindari.”

“Apakah Tuan pernah merindukan seseorang yang bahkan tak tahu bahwa Tuan ada?”

“Rindu ini kutulis untuk si Tupai Betina yang pergi kawin dengan kelelawar karena katanya lebih suka terbang.”

Aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Di satu sisi, aku kasihan. Di sisi lain, aku mulai curiga pada kewarasanku sendiri. Tapi musang itu tak pernah mengganggu. Ia menulis dan merenung. Kadang menatap jendela seperti sedang memikirkan filsafat pohon bambu.

Tetangga-tetanggaku tentu saja mulai bergunjing. “Rumah itu dihuni penyair dan musang. Aku tak tahu mana yang lebih gila,” kata Bu Parti yang senang mengintip dari balik tirai.

Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya padanya. Ya, aku mulai terbiasa berbicara pada musang.

“Apa sih yang kau rindukan?”

Musang itu diam, lalu mengambil spidol dan menulis di tembok belakang rumah: “Aku merindukan hidup yang jujur.”

Aku terpukul. Itu kalimat yang bahkan tidak sanggup ditulis oleh kebanyakan manusia.

Lalu ia menulis lagi: “Dulu aku binatang liar. Hidup bebas. Tapi suatu hari aku masuk ke kompleks ini dan melihat manusia menulis status di media sosial tentang kehilangan, kesepian, luka. Aku pikir, menulis bisa menyelamatkanku dari insting mencuri. Tapi tak ada yang mau membacaku. Lalu aku bertemu Tuan. Seorang penulis yang belum pernah terbit, tapi masih percaya bahwa kata-kata bisa menyembuhkan.”

Aku… terdiam. Gila ini sudah terlalu sempurna. Bahkan absurditasnya mulai terasa indah.

***

Musang itu mulai menjadi bagian dari rumah. Ia punya jadwal menulis sendiri, punya ritual minum teh, dan bahkan mendengarkan lagu-lagu Koes Plus lewat radio tua yang kuhidupkan saat hujan. Ia sangat menyukai lagu “Kapan-kapan Kita Berjumpa Lagi.”

Suatu pagi, aku menemukan cerpennya di bawah pintu. Judulnya: “Tupai yang Menyesal karena Menikah dengan Kelelawar.” Aku membacanya dan tertawa terbahak-bahak. Tapi di balik humornya yang absurd, ada kedalaman yang menyayat.

Tupai dalam cerita itu ternyata masih mencintai Musang, tapi memilih Kelelawar karena dia bisa membawanya terbang ke pohon-pohon tinggi yang belum pernah ia jangkau.

“Kadang cinta adalah perkara gravitasi,” tulis Musang di akhir cerita. “Aku terlalu membumi untuk dicintai.”

Musang mulai terkenal. Tulisannya kusebar secara anonim di forum-forum sastra daring. Orang-orang menyukainya. Mereka menyebutnya “prosa eksistensial yang ditulis dengan kuku.” Ada yang bilang, ini pasti penulis manusia yang bersembunyi di balik nama hewan. Ada yang mengira aku gila. Tapi tak ada yang benar-benar tahu: penulis itu adalah seekor musang kecil dengan luka di hatinya.

Sampai suatu malam, ia berkata padaku—dengan tulisan, tentu saja:

“Aku ingin ikut lomba cerpen nasional.”

“Serius?” tanyaku. Ia mengangguk.

Aku kirimkan karyanya dengan nama pena: M. Musang. Tak ada yang tahu kepanjangannya. Bisa jadi Muhammad, bisa juga Musang murni.

Sebulan kemudian, surat itu datang.

Juara satu.

***

Media mulai mencari siapa “M. Musang.” Wartawan berdatangan. Aku bingung harus bagaimana. Musang menyuruhku diam. “Biarkan rindu tetap misterius,” tulisnya.

Ia menolak diwawancarai. Tapi ia terus menulis. Dan semakin dalam. Ada satu tulisan yang membuatku nyaris menangis:

“Aku menulis karena aku tak bisa melolong. Aku menulis karena Tuhan menciptakan musang dengan mulut kecil, tapi hati yang besar. Aku menulis karena satu-satunya cara agar aku tak menjadi pencuri lagi adalah dengan mencuri perhatian.”

Aku peluk dia malam itu. Ia kaku, tapi tak menolak.

Tapi hidup, seperti biasa, tak pernah sepenuhnya manis.

Suatu pagi, datang petugas pengendali hama dari dinas kota. “Ada laporan tentang musang yang berkeliaran. Bisa menularkan rabies,” kata mereka.

Aku panik. Aku berusaha menyembunyikannya. Tapi musang itu keluar dari persembunyian dengan tenang, membawa kertas dan menulis di depan para petugas itu:

“Aku bukan hama. Aku hanya makhluk kecil yang sedang menulis rindu. Apa itu salah?”

Petugas itu bingung. Mereka tertawa, mengira ini lelucon. Tapi kepala dinas tidak. Ia seorang pragmatis.

“Musang tetap musang. Dan musang tidak punya KTP.”

Malam itu, aku dan Musang duduk berdua di teras rumah. Kami tahu, waktunya hampir habis.

“Aku akan pergi,” tulisnya. “Kota ini terlalu rapi untuk rindu yang berantakan seperti punyaku.”

Aku ingin mencegahnya. Tapi ia sudah menggulung semua kertasnya, mengemas pulpen-pulpen favoritnya, dan menatapku dengan mata sendu.

“Terima kasih telah mempercayaiku,” tulisnya. “Bahkan ketika dunia memilih mengusirku.”

Ia berjalan perlahan ke arah hutan, diiringi suara jangkrik dan desah angin yang seperti doa setengah jadi. Aku menatap punggung kecilnya, dan entah kenapa, air mata turun begitu saja.

***

Kini, musang itu tak lagi di rumahku. Tapi ia hidup dalam dinding-dinding yang pernah ia tulisi. Dalam tumpukan kertas yang masih kusimpan. Dalam setiap kata-kata yang kutulis ulang dan kuceritakan pada dunia.

Dan tiap malam, ketika angin menerpa jendela dengan lembut, aku merasa ia masih di luar sana—di pohon-pohon, di semak, di antara bebunyian malam—menulis rindu.

Mungkin pada dunia. Mungkin pada tupai itu. Atau mungkin… padaku.[T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Maria Utami | Merintis Jalan Setapak

Next Post

Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Masihkah (Engkau) Orang Bali? – Renungan Hari Tumpek Landep

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co