DALAM dunia nyata maupun dalam karya sastra, sering kali kita melihat bahwa kepintaran tidak selalu identik dengan kebenaran. Tere Liye dalam novelnya Teruslah Bodoh Jangan Pintar benar-benar ingin mengungkapkan hal tersebut, selain itu ia juga membuat para pembaca berhenti sejenak untuk merenungi kejadian-kejadian yang terjadi di novel tersebut.
Novel ini jelas tidak sekadar bercerita, tapi juga menyinggung realitas sosial yang akrab di sekitar kita. Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar berkisah tentang konflik antara aktivis lingkungan dan perusahaan tambang besar bernama PT Semesta Minerals dan Mining yang kemudian dibentuklah sebuah komite khusus persidangan untuk mendengar gugatan serta pendapat terhadap perusahaan tambang tersebut.
Perusahaan PT Semesta Minerals dan Mining dianggap melakukan berbagai pelanggaran, seperti perusakan lingkungan, pelanggaran keselamatan kerja, serta dampak buruk bagi masyarakat sekitar, seperti kehilangan tempat tinggal, masalah kesehatan karena terkontaminasi dan masih banyak lagi.
Perjuangan aktivis lingkungan tersebut juga didukung oleh seorang wartawan, penulis, sutradara, dan seorang pemilik warung kopi. Di sisi lain, Perusahaan tambang PT Semesta Minerals dan Mining mempunyai dukungan yang jauh lebih besar dari pihak-pihak yang memiliki jabatan serta seorang pengacara kondang yang dikenal ahli dalam menangani kasus-kasus besar.
Novel ini memiliki alur cerita campuran atau maju-mundur, dimana ketika para saksi yang akan menceritakan kisahnya atau memberikan kesaksian, maka kita akan dilempar kembali ke masa lalu saksi. Format tersebut selalu berulang di setiap saksi dari pihak penggugat, hal itulah yang membuat emosi para pembaca terkuras lantaran ikut masuk ke dalam gambaran mengenai kasus atau masalah yang mereka hadapi. Novel ini tidak hanya sekedar kisah tentang tokoh-tokohnya, tetapi juga sebuah cerminan dari situasi sosial yang sering kali kita temui.
Di dalamnya, Tere Liye menyinggung berbagai isu penting, mulai dari korupsi, perusakan lingkungan, hingga ketidakadilan hukum. Isu-isu tersebut dibungkus dengan gaya bahasa yang lugas dan penuh sindiran halus, membuat para pembaca semakin berdebar ketika membacanya.
Novel ini juga berhasil menampilkan tokoh-tokoh yang kontras, sehingga perbedaan antara “pintar” yang penuh dengan topeng dimana sebagian dari mereka justru terperangkap dalam ambisi serta keserakahan yang berakhir dengan kekacauan sedangkan “bodoh” disini bukan berarti tidak memiliki keterampilan dalam berpikir, hanya saja mereka tidak memiliki agenda tersembunyi atau kepentingan pribadi yang mengarah pada kerakusan, sehingga dari merekalah kita menemukan secercah kebenaran yang sederhana namun murni.
Melalui novel ini para pembaca juga dapat menambah wawasan mengenai isu lingkungan dan bagaimana dampak kerusakan lingkungan akibat pertambangan yang tidak memerhatikan AMDAL atau dilakukan secara ilegal.
Walau sarat akan makna, novel ini juga tidak lepas dari kelemahannya yang berada pada bagian penyelesaian konflik di bagian akhir, memang terlihat begitu mengejutkan dan tidak disangka-sangka, namun hal itulah yang menjadikan bagian akhir terkesan kurang realistis dan terkesan buru-buru dalam menyelesaikannya. Seakan hanya menjadi kejutan dramatis tanpa solusi yang relevan dengan permasalahan yang sudah dibangun sejak awal. Akan tetapi, kelemahan tersebut tidak sampai mengurangi daya tarik cerita dari awal hingga akhir.
Secara keseluruhan Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye ini layak dibaca siapa saja yang ingin memulai mempelajari terkait isu-isu sosial namun ingin tidak terlalu berat dalam memahaminya dan juga untuk siapa saja yang ingin melihat wajah lain dari “kepintaran” itu sendiri.
Novel ini bukan hanya sebuah hiburan, tapi juga pengingat tentang bahaya ketika uang dan ambisi menguasai manusia. Singkatnya, novel ini benar-benar menuangkan kisah yang menggugah tentang kepintaran yang bisa menjadi topeng dan tentang kebodohan yang justru menyimpan ketulusan. [T]
- Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Jaswanto



























