22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ijazah Sebagai Senjata Politik, Bukan Penentu Kapabilitas

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
September 15, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

POLEMIK ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kembali ramai belakangan ini memperlihatkan wajah aneh demokrasi Indonesia, yaitu sebuah bangsa yang lebih menekankan pada aspek administratif ketimbang substansi. Persoalan dokumen pendidikan yang sejatinya bersifat administratif justru menelan begitu banyak energi politik, hukum, bahkan sosial, seolah-olah legitimasi kepemimpinan ditentukan semata oleh kertas bertanda cap dan tanda tangan.

Gugatan hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menuntut ganti rugi ratusan triliun rupiah kepada Gibran hanya karena sengketa ijazah menunjukkan absurditas politik hukum kita. Audiensi Roy Suryo bersama kelompoknya ke DPR, lengkap dengan klaim bukti baru, juga mengindikasikan bahwa isu ini bukan sekadar sengketa dokumen, melainkan sudah ditarik ke ranah politik. Jokowi sendiri menanggapinya dengan santai, bahkan berkelakar bahwa jangan-jangan kelak ijazah cucunya, Jan Ethes, pun akan dipermasalahkan. Namun pernyataan tentang adanya “sosok besar” di balik isu ini justru mempertebal aroma politisasi.

Fenomena ini sejalan dengan teori bureaucratic pathology yang dikemukakan Robert K. Merton (1940).[1] Merton menegaskan bahwa birokrasi sering kali terjebak dalam prosedur formal yang kaku sehingga melupakan tujuan substansial organisasi. Kasus ijazah Jokowi dan Gibran adalah cerminan nyata bagaimana syarat administratif dijadikan senjata politik, sementara substansi seperti integritas kepemimpinan, kualitas kebijakan, dan keberpihakan pada rakyat justru tersisih.

Kasus Serupa dan Formalisme di Atas Substansi

Dalam perjalanan politik Indonesia, pola perdebatan administratif yang mendominasi tampak berulang di berbagai momentum penting. Pada Pemilu 2009 dan 2014 sejumlah calon legislatif harus gugur hanya karena sengketa ijazah. Padahal, sebagian dari mereka memiliki rekam jejak sosial dan kepemimpinan yang kuat di masyarakat. Dokumen formal yang seharusnya menjadi syarat administratif justru berubah menjadi “palang pintu” yang menyingkirkan potensi kepemimpinan, sehingga substansi visi dan gagasan yang mereka bawa tidak pernah mendapat ruang untuk diuji publik.

Kecenderungan serupa juga terlihat dalam kasus dualisme partai politik pascareformasi, seperti yang menimpa PPP atau Golkar. Alih-alih memperdebatkan arah ideologi, program, atau strategi memperjuangkan kepentingan rakyat, energi elite partai justru terkuras untuk memperebutkan legalitas administrasi kepengurusan. Konflik yang berlarut-larut ini tidak hanya melemahkan posisi partai sebagai pilar demokrasi, tetapi juga merugikan rakyat yang seharusnya mendapatkan tawaran program politik yang substantif.

Fenomena yang lebih baru terlihat pada perdebatan mengenai syarat usia capres–cawapres pada 2023. Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang batas usia tersebut menimbulkan kegaduhan besar di ruang publik. Perhatian masyarakat tersedot pada teknis administratif yang penuh kontroversi, sementara pembicaraan tentang kriteria kepemimpinan ideal, yaitu visi pembangunan, kapasitas manajerial, hingga keberanian menghadapi tantangan global hampir tak terdengar.

Dalam semua kasus ini, terlihat dengan jelas bahwa perdebatan administratif mendominasi narasi politik nasional, sementara diskursus tentang substansi pembangunan, strategi menghadapi krisis global, atau arah demokrasi justru menguap begitu saja. Energi bangsa yang seharusnya diarahkan untuk memperkuat demokrasi substantif, sayangnya habis pada persoalan teknis yang dangkal.

Profesional Non-Degree adalah Korban Administrasi

Yang lebih menyedihkan, fenomena ini juga mengorbankan profesional non-degree di Indonesia. Banyak anak bangsa yang berintegritas tinggi, kreatif, bahkan sukses di level internasional, namun tidak mendapat ruang di negeri sendiri karena terhalang syarat administratif.

Kita mengenal banyak tokoh global yang sukses tanpa gelar formal tinggi. Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg adalah contoh klasik. Di Indonesia sendiri ada pengusaha, seniman, penemu, atau aktivis sosial yang kiprahnya diakui dunia, tetapi sering kali dipandang sebelah mata hanya karena tidak mengantongi ijazah tertentu.

Sebaliknya, tidak sedikit fenomena orang bergelar panjang namun miskin substansi. Mereka mengandalkan “status administratif” untuk menempati posisi, bahkan kerap menunjukkan arogansi akademis. Gelar dijadikan tameng, sementara karya nyata nihil. Fenomena “bergelar tapi kosong” ini tidak hanya menurunkan kualitas kepemimpinan, tetapi juga memperlebar jurang ketidakadilan sosial.

Di sinilah absurditas kita, bahwa orang yang benar-benar kompeten justru tersingkir, sementara mereka yang hanya punya simbol administratif mendapat panggung. Padahal, dunia modern telah lama mengembangkan Recognition of Prior Learning (RPL) dan Competency-Based Assessment, di mana pengalaman, keterampilan, dan kontribusi nyata dihargai setara, bahkan lebih tinggi, daripada sekadar selembar ijazah.

Simbol dan Legitimasi

Secara sosiologis, fenomena ini bisa dijelaskan dengan teori presentation of self dari Erving Goffman.[2] Ijazah dan gelar akademik berfungsi sebagai “atribut simbolik” untuk menampilkan citra legitimasi, meski substansinya sering kali hampa.

Lipsky, M. (2010) dalam teori street-level bureaucracy menekankan bahwa implementasi kebijakan publik sering kali lebih sibuk mengurus formalitas administratif ketimbang tujuan kebijakan itu sendiri.[3] Hal ini menjelaskan mengapa politik Indonesia masih berkutat pada soal ijazah, bukan pada kualitas tata kelola negara.

Dampak bagi Demokrasi

Jika dibiarkan, demokrasi kita akan terus terjebak dalam formalisme tanpa esensi. Kritik publik yang seharusnya diarahkan pada kebijakan, akuntabilitas anggaran, atau keberpihakan kepada rakyat malah dialihkan ke isu-isu administratif.

Budaya ini berpotensi melahirkan diskriminasi struktural, yaitu hanya mereka yang punya “kertas” yang diakui, sementara yang berkompetensi nyata tapi tanpa gelar tersisih. Akibatnya, meritokrasi gagal tumbuh, digantikan oleh feodalisme akademik yang menilai orang dari titel, bukan dari karya.

Rekomendasi dan Solusi

Untuk keluar dari jebakan formalisme yang menggerogoti demokrasi kita, diperlukan langkah-langkah serius yang bersifat struktural maupun kultural. Pertama-tama, literasi politik publik harus diperkuat. Masyarakat perlu dibekali kesadaran bahwa substansi kepemimpinan jauh lebih penting daripada sekadar simbol administratif. Media dan kalangan akademisi memegang peran penting dalam menggeser fokus perdebatan bahwa bukan lagi pada ijazah atau atribut, melainkan pada kinerja, integritas, dan arah kebijakan.

Di sisi lain, reformasi administrasi politik juga mutlak dilakukan. Semua proses verifikasi administratif seharusnya dituntaskan sejak awal pencalonan, agar dokumen tidak terus-menerus menjadi senjata politik di kemudian hari. Mekanisme yang jelas dan tegas akan memutus ruang bagi politisasi administrasi yang merugikan kualitas demokrasi.

Adapun Indonesia perlu membuka ruang bagi pengakuan profesional non-degree. Banyak anak bangsa yang memiliki kapasitas luar biasa, bahkan diakui secara global, meski tidak memiliki ijazah formal tertentu. Pemerintah bisa membangun sistem sertifikasi kompetensi nasional yang kredibel, sehingga keahlian nyata tetap bisa diakui dan dimanfaatkan. Dengan cara ini, bangsa tidak lagi terjebak dalam bias gelar, melainkan benar-benar menghargai kompetensi.

Prinsip meritokrasi harus menjadi arus utama dalam rekrutmen pejabat publik maupun jabatan profesional. Integritas, pengalaman, dan rekam jejak nyata harus lebih diutamakan ketimbang sekadar gelar akademik. Sistem seleksi yang berbasis pada merit akan melahirkan pemimpin dan profesional yang lebih mumpuni.

Tentu saja, semua itu tidak akan berjalan tanpa komitmen etika politik dan hukum. Elite politik harus berhenti menggunakan isu administratif sebagai alat serangan, karena langkah tersebut hanya mengerdilkan rasionalitas publik. Di sisi lain, pengadilan juga harus berani menolak gugatan-gugatan absurd yang jelas hanya berfungsi sebagai senjata politik, bukan sebagai upaya mencari keadilan.

Adapun kita memerlukan budaya substansial dalam demokrasi. Partai politik, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil harus menumbuhkan tradisi debat gagasan. Demokrasi hanya akan sehat bila perdebatan diarahkan pada ide, visi pembangunan, dan arah kebijakan publik, bukan pada simbol atau atribut semu.

Sehingga demokrasi Indonesia bisa bergerak dari sekadar sibuk pada formalitas menuju esensi yang sejati, yaitu memperjuangkan kepentingan rakyat melalui kepemimpinan yang berintegritas, kompeten, dan benar-benar berorientasi pada masa depan bangsa.

Penutup

Polemik ijazah Jokowi dan Gibran hanyalah salah satu wajah dari penyakit lama bangsa ini, yaitu sibuk pada kertas, lupa pada kerja. Formalisme administratif dijadikan panggung politik, sementara substansi kepemimpinan terabaikan.

Jika kita terus terjebak pada simbol, Indonesia akan kesulitan maju. Demokrasi matang tidak menilai orang dari gelar, tetapi dari karya, integritas, dan kontribusi nyata. Saatnya bangsa ini keluar dari jebakan ijazah dan gelar semu, lalu memberi ruang bagi meritokrasi sejati, termasuk bagi para profesional non-degree yang terbukti mampu membawa perubahan.

Referensi

Lipsky, Michael. Street-level bureaucracy: Dilemmas of the individual in public service. Russell sage foundation, 2010.

Stern, Larry. The Anthem Companion to Robert K. Merton. Anthem Press, 2022.

Ytreberg, Espen. “Erving Goffman (1959) The Presentation of Self in Everyday Life.” Dalam Classics in Media Theory. Routledge, 2024.


[1] Stern, The Anthem Companion to Robert K. Merton.

[2] Ytreberg, “Erving Goffman (1959) The Presentation of Self in Everyday Life.”

[3] Lipsky, Street-level bureaucracy: Dilemmas of the individual in public service.

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Next Post

Saat Pintar Menjadi Topeng, Bodoh Jadi Keberanian

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Saat Pintar Menjadi Topeng, Bodoh Jadi Keberanian

Saat Pintar Menjadi Topeng, Bodoh Jadi Keberanian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co