2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ijazah Sebagai Senjata Politik, Bukan Penentu Kapabilitas

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
September 15, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

POLEMIK ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kembali ramai belakangan ini memperlihatkan wajah aneh demokrasi Indonesia, yaitu sebuah bangsa yang lebih menekankan pada aspek administratif ketimbang substansi. Persoalan dokumen pendidikan yang sejatinya bersifat administratif justru menelan begitu banyak energi politik, hukum, bahkan sosial, seolah-olah legitimasi kepemimpinan ditentukan semata oleh kertas bertanda cap dan tanda tangan.

Gugatan hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menuntut ganti rugi ratusan triliun rupiah kepada Gibran hanya karena sengketa ijazah menunjukkan absurditas politik hukum kita. Audiensi Roy Suryo bersama kelompoknya ke DPR, lengkap dengan klaim bukti baru, juga mengindikasikan bahwa isu ini bukan sekadar sengketa dokumen, melainkan sudah ditarik ke ranah politik. Jokowi sendiri menanggapinya dengan santai, bahkan berkelakar bahwa jangan-jangan kelak ijazah cucunya, Jan Ethes, pun akan dipermasalahkan. Namun pernyataan tentang adanya “sosok besar” di balik isu ini justru mempertebal aroma politisasi.

Fenomena ini sejalan dengan teori bureaucratic pathology yang dikemukakan Robert K. Merton (1940).[1] Merton menegaskan bahwa birokrasi sering kali terjebak dalam prosedur formal yang kaku sehingga melupakan tujuan substansial organisasi. Kasus ijazah Jokowi dan Gibran adalah cerminan nyata bagaimana syarat administratif dijadikan senjata politik, sementara substansi seperti integritas kepemimpinan, kualitas kebijakan, dan keberpihakan pada rakyat justru tersisih.

Kasus Serupa dan Formalisme di Atas Substansi

Dalam perjalanan politik Indonesia, pola perdebatan administratif yang mendominasi tampak berulang di berbagai momentum penting. Pada Pemilu 2009 dan 2014 sejumlah calon legislatif harus gugur hanya karena sengketa ijazah. Padahal, sebagian dari mereka memiliki rekam jejak sosial dan kepemimpinan yang kuat di masyarakat. Dokumen formal yang seharusnya menjadi syarat administratif justru berubah menjadi “palang pintu” yang menyingkirkan potensi kepemimpinan, sehingga substansi visi dan gagasan yang mereka bawa tidak pernah mendapat ruang untuk diuji publik.

Kecenderungan serupa juga terlihat dalam kasus dualisme partai politik pascareformasi, seperti yang menimpa PPP atau Golkar. Alih-alih memperdebatkan arah ideologi, program, atau strategi memperjuangkan kepentingan rakyat, energi elite partai justru terkuras untuk memperebutkan legalitas administrasi kepengurusan. Konflik yang berlarut-larut ini tidak hanya melemahkan posisi partai sebagai pilar demokrasi, tetapi juga merugikan rakyat yang seharusnya mendapatkan tawaran program politik yang substantif.

Fenomena yang lebih baru terlihat pada perdebatan mengenai syarat usia capres–cawapres pada 2023. Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang batas usia tersebut menimbulkan kegaduhan besar di ruang publik. Perhatian masyarakat tersedot pada teknis administratif yang penuh kontroversi, sementara pembicaraan tentang kriteria kepemimpinan ideal, yaitu visi pembangunan, kapasitas manajerial, hingga keberanian menghadapi tantangan global hampir tak terdengar.

Dalam semua kasus ini, terlihat dengan jelas bahwa perdebatan administratif mendominasi narasi politik nasional, sementara diskursus tentang substansi pembangunan, strategi menghadapi krisis global, atau arah demokrasi justru menguap begitu saja. Energi bangsa yang seharusnya diarahkan untuk memperkuat demokrasi substantif, sayangnya habis pada persoalan teknis yang dangkal.

Profesional Non-Degree adalah Korban Administrasi

Yang lebih menyedihkan, fenomena ini juga mengorbankan profesional non-degree di Indonesia. Banyak anak bangsa yang berintegritas tinggi, kreatif, bahkan sukses di level internasional, namun tidak mendapat ruang di negeri sendiri karena terhalang syarat administratif.

Kita mengenal banyak tokoh global yang sukses tanpa gelar formal tinggi. Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg adalah contoh klasik. Di Indonesia sendiri ada pengusaha, seniman, penemu, atau aktivis sosial yang kiprahnya diakui dunia, tetapi sering kali dipandang sebelah mata hanya karena tidak mengantongi ijazah tertentu.

Sebaliknya, tidak sedikit fenomena orang bergelar panjang namun miskin substansi. Mereka mengandalkan “status administratif” untuk menempati posisi, bahkan kerap menunjukkan arogansi akademis. Gelar dijadikan tameng, sementara karya nyata nihil. Fenomena “bergelar tapi kosong” ini tidak hanya menurunkan kualitas kepemimpinan, tetapi juga memperlebar jurang ketidakadilan sosial.

Di sinilah absurditas kita, bahwa orang yang benar-benar kompeten justru tersingkir, sementara mereka yang hanya punya simbol administratif mendapat panggung. Padahal, dunia modern telah lama mengembangkan Recognition of Prior Learning (RPL) dan Competency-Based Assessment, di mana pengalaman, keterampilan, dan kontribusi nyata dihargai setara, bahkan lebih tinggi, daripada sekadar selembar ijazah.

Simbol dan Legitimasi

Secara sosiologis, fenomena ini bisa dijelaskan dengan teori presentation of self dari Erving Goffman.[2] Ijazah dan gelar akademik berfungsi sebagai “atribut simbolik” untuk menampilkan citra legitimasi, meski substansinya sering kali hampa.

Lipsky, M. (2010) dalam teori street-level bureaucracy menekankan bahwa implementasi kebijakan publik sering kali lebih sibuk mengurus formalitas administratif ketimbang tujuan kebijakan itu sendiri.[3] Hal ini menjelaskan mengapa politik Indonesia masih berkutat pada soal ijazah, bukan pada kualitas tata kelola negara.

Dampak bagi Demokrasi

Jika dibiarkan, demokrasi kita akan terus terjebak dalam formalisme tanpa esensi. Kritik publik yang seharusnya diarahkan pada kebijakan, akuntabilitas anggaran, atau keberpihakan kepada rakyat malah dialihkan ke isu-isu administratif.

Budaya ini berpotensi melahirkan diskriminasi struktural, yaitu hanya mereka yang punya “kertas” yang diakui, sementara yang berkompetensi nyata tapi tanpa gelar tersisih. Akibatnya, meritokrasi gagal tumbuh, digantikan oleh feodalisme akademik yang menilai orang dari titel, bukan dari karya.

Rekomendasi dan Solusi

Untuk keluar dari jebakan formalisme yang menggerogoti demokrasi kita, diperlukan langkah-langkah serius yang bersifat struktural maupun kultural. Pertama-tama, literasi politik publik harus diperkuat. Masyarakat perlu dibekali kesadaran bahwa substansi kepemimpinan jauh lebih penting daripada sekadar simbol administratif. Media dan kalangan akademisi memegang peran penting dalam menggeser fokus perdebatan bahwa bukan lagi pada ijazah atau atribut, melainkan pada kinerja, integritas, dan arah kebijakan.

Di sisi lain, reformasi administrasi politik juga mutlak dilakukan. Semua proses verifikasi administratif seharusnya dituntaskan sejak awal pencalonan, agar dokumen tidak terus-menerus menjadi senjata politik di kemudian hari. Mekanisme yang jelas dan tegas akan memutus ruang bagi politisasi administrasi yang merugikan kualitas demokrasi.

Adapun Indonesia perlu membuka ruang bagi pengakuan profesional non-degree. Banyak anak bangsa yang memiliki kapasitas luar biasa, bahkan diakui secara global, meski tidak memiliki ijazah formal tertentu. Pemerintah bisa membangun sistem sertifikasi kompetensi nasional yang kredibel, sehingga keahlian nyata tetap bisa diakui dan dimanfaatkan. Dengan cara ini, bangsa tidak lagi terjebak dalam bias gelar, melainkan benar-benar menghargai kompetensi.

Prinsip meritokrasi harus menjadi arus utama dalam rekrutmen pejabat publik maupun jabatan profesional. Integritas, pengalaman, dan rekam jejak nyata harus lebih diutamakan ketimbang sekadar gelar akademik. Sistem seleksi yang berbasis pada merit akan melahirkan pemimpin dan profesional yang lebih mumpuni.

Tentu saja, semua itu tidak akan berjalan tanpa komitmen etika politik dan hukum. Elite politik harus berhenti menggunakan isu administratif sebagai alat serangan, karena langkah tersebut hanya mengerdilkan rasionalitas publik. Di sisi lain, pengadilan juga harus berani menolak gugatan-gugatan absurd yang jelas hanya berfungsi sebagai senjata politik, bukan sebagai upaya mencari keadilan.

Adapun kita memerlukan budaya substansial dalam demokrasi. Partai politik, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil harus menumbuhkan tradisi debat gagasan. Demokrasi hanya akan sehat bila perdebatan diarahkan pada ide, visi pembangunan, dan arah kebijakan publik, bukan pada simbol atau atribut semu.

Sehingga demokrasi Indonesia bisa bergerak dari sekadar sibuk pada formalitas menuju esensi yang sejati, yaitu memperjuangkan kepentingan rakyat melalui kepemimpinan yang berintegritas, kompeten, dan benar-benar berorientasi pada masa depan bangsa.

Penutup

Polemik ijazah Jokowi dan Gibran hanyalah salah satu wajah dari penyakit lama bangsa ini, yaitu sibuk pada kertas, lupa pada kerja. Formalisme administratif dijadikan panggung politik, sementara substansi kepemimpinan terabaikan.

Jika kita terus terjebak pada simbol, Indonesia akan kesulitan maju. Demokrasi matang tidak menilai orang dari gelar, tetapi dari karya, integritas, dan kontribusi nyata. Saatnya bangsa ini keluar dari jebakan ijazah dan gelar semu, lalu memberi ruang bagi meritokrasi sejati, termasuk bagi para profesional non-degree yang terbukti mampu membawa perubahan.

Referensi

Lipsky, Michael. Street-level bureaucracy: Dilemmas of the individual in public service. Russell sage foundation, 2010.

Stern, Larry. The Anthem Companion to Robert K. Merton. Anthem Press, 2022.

Ytreberg, Espen. “Erving Goffman (1959) The Presentation of Self in Everyday Life.” Dalam Classics in Media Theory. Routledge, 2024.


[1] Stern, The Anthem Companion to Robert K. Merton.

[2] Ytreberg, “Erving Goffman (1959) The Presentation of Self in Everyday Life.”

[3] Lipsky, Street-level bureaucracy: Dilemmas of the individual in public service.

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Next Post

Saat Pintar Menjadi Topeng, Bodoh Jadi Keberanian

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Saat Pintar Menjadi Topeng, Bodoh Jadi Keberanian

Saat Pintar Menjadi Topeng, Bodoh Jadi Keberanian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co