24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ijazah Sebagai Senjata Politik, Bukan Penentu Kapabilitas

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
September 15, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

POLEMIK ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kembali ramai belakangan ini memperlihatkan wajah aneh demokrasi Indonesia, yaitu sebuah bangsa yang lebih menekankan pada aspek administratif ketimbang substansi. Persoalan dokumen pendidikan yang sejatinya bersifat administratif justru menelan begitu banyak energi politik, hukum, bahkan sosial, seolah-olah legitimasi kepemimpinan ditentukan semata oleh kertas bertanda cap dan tanda tangan.

Gugatan hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menuntut ganti rugi ratusan triliun rupiah kepada Gibran hanya karena sengketa ijazah menunjukkan absurditas politik hukum kita. Audiensi Roy Suryo bersama kelompoknya ke DPR, lengkap dengan klaim bukti baru, juga mengindikasikan bahwa isu ini bukan sekadar sengketa dokumen, melainkan sudah ditarik ke ranah politik. Jokowi sendiri menanggapinya dengan santai, bahkan berkelakar bahwa jangan-jangan kelak ijazah cucunya, Jan Ethes, pun akan dipermasalahkan. Namun pernyataan tentang adanya “sosok besar” di balik isu ini justru mempertebal aroma politisasi.

Fenomena ini sejalan dengan teori bureaucratic pathology yang dikemukakan Robert K. Merton (1940).[1] Merton menegaskan bahwa birokrasi sering kali terjebak dalam prosedur formal yang kaku sehingga melupakan tujuan substansial organisasi. Kasus ijazah Jokowi dan Gibran adalah cerminan nyata bagaimana syarat administratif dijadikan senjata politik, sementara substansi seperti integritas kepemimpinan, kualitas kebijakan, dan keberpihakan pada rakyat justru tersisih.

Kasus Serupa dan Formalisme di Atas Substansi

Dalam perjalanan politik Indonesia, pola perdebatan administratif yang mendominasi tampak berulang di berbagai momentum penting. Pada Pemilu 2009 dan 2014 sejumlah calon legislatif harus gugur hanya karena sengketa ijazah. Padahal, sebagian dari mereka memiliki rekam jejak sosial dan kepemimpinan yang kuat di masyarakat. Dokumen formal yang seharusnya menjadi syarat administratif justru berubah menjadi “palang pintu” yang menyingkirkan potensi kepemimpinan, sehingga substansi visi dan gagasan yang mereka bawa tidak pernah mendapat ruang untuk diuji publik.

Kecenderungan serupa juga terlihat dalam kasus dualisme partai politik pascareformasi, seperti yang menimpa PPP atau Golkar. Alih-alih memperdebatkan arah ideologi, program, atau strategi memperjuangkan kepentingan rakyat, energi elite partai justru terkuras untuk memperebutkan legalitas administrasi kepengurusan. Konflik yang berlarut-larut ini tidak hanya melemahkan posisi partai sebagai pilar demokrasi, tetapi juga merugikan rakyat yang seharusnya mendapatkan tawaran program politik yang substantif.

Fenomena yang lebih baru terlihat pada perdebatan mengenai syarat usia capres–cawapres pada 2023. Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang batas usia tersebut menimbulkan kegaduhan besar di ruang publik. Perhatian masyarakat tersedot pada teknis administratif yang penuh kontroversi, sementara pembicaraan tentang kriteria kepemimpinan ideal, yaitu visi pembangunan, kapasitas manajerial, hingga keberanian menghadapi tantangan global hampir tak terdengar.

Dalam semua kasus ini, terlihat dengan jelas bahwa perdebatan administratif mendominasi narasi politik nasional, sementara diskursus tentang substansi pembangunan, strategi menghadapi krisis global, atau arah demokrasi justru menguap begitu saja. Energi bangsa yang seharusnya diarahkan untuk memperkuat demokrasi substantif, sayangnya habis pada persoalan teknis yang dangkal.

Profesional Non-Degree adalah Korban Administrasi

Yang lebih menyedihkan, fenomena ini juga mengorbankan profesional non-degree di Indonesia. Banyak anak bangsa yang berintegritas tinggi, kreatif, bahkan sukses di level internasional, namun tidak mendapat ruang di negeri sendiri karena terhalang syarat administratif.

Kita mengenal banyak tokoh global yang sukses tanpa gelar formal tinggi. Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg adalah contoh klasik. Di Indonesia sendiri ada pengusaha, seniman, penemu, atau aktivis sosial yang kiprahnya diakui dunia, tetapi sering kali dipandang sebelah mata hanya karena tidak mengantongi ijazah tertentu.

Sebaliknya, tidak sedikit fenomena orang bergelar panjang namun miskin substansi. Mereka mengandalkan “status administratif” untuk menempati posisi, bahkan kerap menunjukkan arogansi akademis. Gelar dijadikan tameng, sementara karya nyata nihil. Fenomena “bergelar tapi kosong” ini tidak hanya menurunkan kualitas kepemimpinan, tetapi juga memperlebar jurang ketidakadilan sosial.

Di sinilah absurditas kita, bahwa orang yang benar-benar kompeten justru tersingkir, sementara mereka yang hanya punya simbol administratif mendapat panggung. Padahal, dunia modern telah lama mengembangkan Recognition of Prior Learning (RPL) dan Competency-Based Assessment, di mana pengalaman, keterampilan, dan kontribusi nyata dihargai setara, bahkan lebih tinggi, daripada sekadar selembar ijazah.

Simbol dan Legitimasi

Secara sosiologis, fenomena ini bisa dijelaskan dengan teori presentation of self dari Erving Goffman.[2] Ijazah dan gelar akademik berfungsi sebagai “atribut simbolik” untuk menampilkan citra legitimasi, meski substansinya sering kali hampa.

Lipsky, M. (2010) dalam teori street-level bureaucracy menekankan bahwa implementasi kebijakan publik sering kali lebih sibuk mengurus formalitas administratif ketimbang tujuan kebijakan itu sendiri.[3] Hal ini menjelaskan mengapa politik Indonesia masih berkutat pada soal ijazah, bukan pada kualitas tata kelola negara.

Dampak bagi Demokrasi

Jika dibiarkan, demokrasi kita akan terus terjebak dalam formalisme tanpa esensi. Kritik publik yang seharusnya diarahkan pada kebijakan, akuntabilitas anggaran, atau keberpihakan kepada rakyat malah dialihkan ke isu-isu administratif.

Budaya ini berpotensi melahirkan diskriminasi struktural, yaitu hanya mereka yang punya “kertas” yang diakui, sementara yang berkompetensi nyata tapi tanpa gelar tersisih. Akibatnya, meritokrasi gagal tumbuh, digantikan oleh feodalisme akademik yang menilai orang dari titel, bukan dari karya.

Rekomendasi dan Solusi

Untuk keluar dari jebakan formalisme yang menggerogoti demokrasi kita, diperlukan langkah-langkah serius yang bersifat struktural maupun kultural. Pertama-tama, literasi politik publik harus diperkuat. Masyarakat perlu dibekali kesadaran bahwa substansi kepemimpinan jauh lebih penting daripada sekadar simbol administratif. Media dan kalangan akademisi memegang peran penting dalam menggeser fokus perdebatan bahwa bukan lagi pada ijazah atau atribut, melainkan pada kinerja, integritas, dan arah kebijakan.

Di sisi lain, reformasi administrasi politik juga mutlak dilakukan. Semua proses verifikasi administratif seharusnya dituntaskan sejak awal pencalonan, agar dokumen tidak terus-menerus menjadi senjata politik di kemudian hari. Mekanisme yang jelas dan tegas akan memutus ruang bagi politisasi administrasi yang merugikan kualitas demokrasi.

Adapun Indonesia perlu membuka ruang bagi pengakuan profesional non-degree. Banyak anak bangsa yang memiliki kapasitas luar biasa, bahkan diakui secara global, meski tidak memiliki ijazah formal tertentu. Pemerintah bisa membangun sistem sertifikasi kompetensi nasional yang kredibel, sehingga keahlian nyata tetap bisa diakui dan dimanfaatkan. Dengan cara ini, bangsa tidak lagi terjebak dalam bias gelar, melainkan benar-benar menghargai kompetensi.

Prinsip meritokrasi harus menjadi arus utama dalam rekrutmen pejabat publik maupun jabatan profesional. Integritas, pengalaman, dan rekam jejak nyata harus lebih diutamakan ketimbang sekadar gelar akademik. Sistem seleksi yang berbasis pada merit akan melahirkan pemimpin dan profesional yang lebih mumpuni.

Tentu saja, semua itu tidak akan berjalan tanpa komitmen etika politik dan hukum. Elite politik harus berhenti menggunakan isu administratif sebagai alat serangan, karena langkah tersebut hanya mengerdilkan rasionalitas publik. Di sisi lain, pengadilan juga harus berani menolak gugatan-gugatan absurd yang jelas hanya berfungsi sebagai senjata politik, bukan sebagai upaya mencari keadilan.

Adapun kita memerlukan budaya substansial dalam demokrasi. Partai politik, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil harus menumbuhkan tradisi debat gagasan. Demokrasi hanya akan sehat bila perdebatan diarahkan pada ide, visi pembangunan, dan arah kebijakan publik, bukan pada simbol atau atribut semu.

Sehingga demokrasi Indonesia bisa bergerak dari sekadar sibuk pada formalitas menuju esensi yang sejati, yaitu memperjuangkan kepentingan rakyat melalui kepemimpinan yang berintegritas, kompeten, dan benar-benar berorientasi pada masa depan bangsa.

Penutup

Polemik ijazah Jokowi dan Gibran hanyalah salah satu wajah dari penyakit lama bangsa ini, yaitu sibuk pada kertas, lupa pada kerja. Formalisme administratif dijadikan panggung politik, sementara substansi kepemimpinan terabaikan.

Jika kita terus terjebak pada simbol, Indonesia akan kesulitan maju. Demokrasi matang tidak menilai orang dari gelar, tetapi dari karya, integritas, dan kontribusi nyata. Saatnya bangsa ini keluar dari jebakan ijazah dan gelar semu, lalu memberi ruang bagi meritokrasi sejati, termasuk bagi para profesional non-degree yang terbukti mampu membawa perubahan.

Referensi

Lipsky, Michael. Street-level bureaucracy: Dilemmas of the individual in public service. Russell sage foundation, 2010.

Stern, Larry. The Anthem Companion to Robert K. Merton. Anthem Press, 2022.

Ytreberg, Espen. “Erving Goffman (1959) The Presentation of Self in Everyday Life.” Dalam Classics in Media Theory. Routledge, 2024.


[1] Stern, The Anthem Companion to Robert K. Merton.

[2] Ytreberg, “Erving Goffman (1959) The Presentation of Self in Everyday Life.”

[3] Lipsky, Street-level bureaucracy: Dilemmas of the individual in public service.

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Next Post

Saat Pintar Menjadi Topeng, Bodoh Jadi Keberanian

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post
Saat Pintar Menjadi Topeng, Bodoh Jadi Keberanian

Saat Pintar Menjadi Topeng, Bodoh Jadi Keberanian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co