TAK ada yang benar-benar mengerti kenapa gunung itu diberi nama Jari. Bentuknya biasa saja. Tak melengkung seperti jari, tak pula menunjuk ke mana-mana. Tapi semua orang di lembah menamainya begitu dan menyepakati diam-diam. Lebih baik tak banyak tanya soal sejarah nama. Konon, di lereng timurnya ada sepasang telinga batu, tertancap di tanah, setengah tertutup lumut. Salah satunya, yang kiri, katanya bisa mendengar suara masa lalu, asal kau berani tidur di dekatnya tanpa alas, tanpa selimut, dan tanpa harapan.
Gunung Jari bukan tempat wisata. Tak ada tenda berwarna neon, tak ada influencer menyapa kamera. Yang datang ke sini biasanya orang-orang yang ingin mengubur diam-diam, mungkin dosa, dendam, atau sekadar nama palsu. Di sisi barat ada batu-batu berlumut menyerupai kursi taman yang ditinggalkan, dan di timur, telinga batu itu berdiri bagai juru dengar tua yang malas menanggapi. Ada mitos, jika kau tidur di situ dalam keadaan marah, yang datang bukan suara masa lalu, melainkan sesuatu yang tak bisa kembali ke masa kini. Dan orang-orang yang mendengarnya, akan berjalan pulang sambil bicara sendiri. Kadang tertawa, kadang menangis, kadang tak pernah sampai ke rumah.
Ranu tinggal di sisi barat gunung itu. Sudah lima tahun, semenjak keluar dari Akademi Bela Negara dengan nilai pas-pasan dan luka di betis. Ia tidak pernah cerita soal luka itu. Orang-orang desa hanya tahu, ia dulunya tentara, dan sekarang mengurus warung kecil di dekat jalan setapak, menjual kopi, rokok linting, dan kabar-kabar murahan. Kadang ia membuka lapak doa, tapi hanya saat bulan gelap atau ketika wangsit bertiup dari utara.
Warungnya bernama Kalah. Nama yang ia pasang sendiri, katanya, “supaya orang-orang tak berharap terlalu banyak.” Tapi anehnya, warung itu selalu ramai. Para pendaki mampir, para pencari wangsit nongkrong, dan kadang petugas dari ibukota yang menyaru sebagai peneliti lingkungan mampir minta air hangat.
Sore itu, hujan rintik turun di sela-sela kabut. Ranu sedang menggiling kopi saat seorang perempuan muda masuk. Rambutnya basah, celananya robek di lutut, dan wajahnya bagai orang yang baru saja menelan kekalahan besar.
“Ada kamar kosong?” tanyanya.
“Ini warung, bukan losmen,” sahut Ranu. Tapi ia tahu, tak ada tempat lain sejauh tiga kilometer ke arah barat, dan gadis ini terlalu letih untuk berdebat.
“Boleh numpang tidur dekat telinga kiri?” tanya gadis itu, tiba-tiba.
Ranu berhenti menggiling. Suaranya terdengar seperti suara yang pernah ia dengar sepuluh tahun lalu, saat rekan satu pasukannya ditinggal mati karena sandi yang ia sampaikan salah tafsir.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Liris,” jawab gadis itu. Ia tersenyum samar, seolah sadar betapa asing namanya di tempat seasing itu.
Malam datang tanpa aba-aba. Ranu menyiapkan kopi untuk dirinya sendiri, dan teh manis hangat untuk si gadis. Mereka duduk di depan warung, menatap kabut yang menggantung.
“Aku ke sini untuk bertapa,” ucap Liris.
Ranu mengamati tangan gadis itu, kuku-kuku terkelupas, jemari gemetar tipis, dan ada bekas luka kecil yang belum mengering di punggung tangan kirinya. Ia mengenal luka itu, bekas ikatan borgol yang terlalu lama. Ia tak bertanya. Tak perlu. Karena di tempat itu, pertanyaan adalah bentuk agresi yang terlalu modern. Yang datang ke Gunung Jari tak butuh interogasi. Mereka cuma ingin berada di tempat di mana waktu tidak mencatat, dan kehadiran bukan untuk dikenali. Ranu menyeduh teh, memecah keheningan dengan suara sendok mengaduk pelan. Di luar, kabut turun makin rendah. Liris diam, tapi bahunya sedikit melandai, seakan rasa takutnya meleleh bersama uap teh.
“Kamu pikir ini tempat para resi?” tanya Ranu.
“Tidak. Kupikir ini tempat di mana suara masa lalu lebih jujur daripada suara pemerintah.”
Ranu tertawa pendek. Ia menyukai gadis itu, atau lebih tepatnya, ia menyukai keberanian orang yang tahu dirinya kalah tapi tetap datang ke gelanggang.
“Aku pernah jadi tukang fitnah,” ucap Liris.
Ranu mengangkat alis.
“Ayahku dituduh makar. Aku diam. Bahkan saat surat tuduhan dibacakan, aku ikut mengangguk. Karena aku takut kehilangan pekerjaan. Tapi sekarang aku kehilangan ayah, kehilangan pekerjaan, dan kehilangan alasan untuk tetap diam.”
Ranu menyesap kopinya perlahan. Ia tak bertanya lebih jauh. Ia tahu, orang yang datang ke telinga kiri bukan untuk didengarkan, tapi untuk membiarkan dirinya tenggelam.
Malam itu, Liris tidur di dekat batu telinga kiri. Ia tidak pakai tikar, tidak membawa jaket, dan menolak diberi lampu senter. Ia bilang, kalau gunung itu mau bicara, maka ia akan mendengarkan dengan mata tertutup dan perut kosong.
Pagi harinya, Liris kembali ke warung. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala. “Aku mendengar seseorang menyebut namaku,” ucapnya. “Tapi itu bukan suara ayahku. Itu suara seseorang yang mati muda karena aku.”
Ranu tak menanggapi. Ia tahu suara itu. Ia juga pernah tidur di situ, lima tahun lalu. Dan yang ia dengar adalah suara anak-anak kecil yang mati karena tembakan peringatan yang ia lepaskan terlalu rendah.
Hari ketiga, kabar mulai menyebar, seorang pengacara dari kota datang ke desa. Ia mencari seorang perempuan bernama Liris Madyaningrum, dicurigai menyimpan dokumen rahasia negara.
Warga desa pura-pura tak tahu. Di Warung Kalah, Ranu duduk sendiri. Liris sedang naik ke puncak gunung, katanya untuk menulis surat terakhir. Ia bilang, surat itu akan ia bakar, lalu abunya ia biarkan terbawa angin ke arah tenggara, tempat ibukota berdiri, tempat para jaksa makan siang sambil menonton drama pengadilan.
Pengacara itu akhirnya menemukan Warung Kalah. Ia bertubuh besar, membawa koper, dan mengenakan sepatu kulit yang menginjak batu-batu licin tanpa sedikit pun rasa kasihan. “Pernah lihat perempuan ini?” tanyanya, sambil menunjukkan sebuah foto.
Ranu melihat sebentar. “Kalau pun iya, dia bukan penjahat. Dia hanya penyesal.”
“Penyesal adalah ancaman bagi negara. Karena mereka bisa berubah menjadi pembongkar.”
Ranu tertawa. “Mungkin kau benar. Tapi di sini, orang-orang lebih takut pada gunung longsor daripada rahasia negara.”
Liris tak pernah kembali dari puncak. Tiga hari berlalu, dan hanya secarik kain yang ditemukan tertancap di dahan cemara, berisi satu kalimat aneh: Telinga kiri hanya mendengar yang belum pernah dikatakan.
Ada yang bilang, Liris berubah wujud jadi embun yang membungkus rumput puncak tiap pagi. Ada juga yang bilang ia kembali ke kota dengan wajah baru dan identitas segar, menyusup ke jantung birokrasi dan membuat mesin negara batuk-batuk tanpa tahu penyebab. Tapi yang paling sering didengar Ranu adalah versi yang lebih absurd, bahwa Liris masih di puncak, tapi waktu di sana berhenti. Ia hidup di detik yang sama berulang-ulang, memegang secarik surat dan menyaksikan awan tak pernah bergerak. Versi itu terdengar konyol, tapi siapa yang berani menyangkalnya? Di Gunung Jari, realitas bukan soal logika, tapi soal apa yang berani kau percayai tanpa bukti.
Warga desa menganggapnya mati. Pemerintah menyebutnya buron. Ranu tetap membuka warungnya. Ia menamai kopi buatannya Kopi Liris, rasanya pahit dan membuat jantung berdetak cepat.
Sepuluh tahun kemudian, Warung Kalah jadi tempat ziarah. Orang-orang dari kota datang, berharap bisa mendengar masa lalu mereka di telinga kiri. Beberapa pulang dengan tangis. Beberapa pulang dengan tawa. Beberapa tak pernah pulang.
Suatu malam, datang seorang lelaki tua. Ia mengenakan jubah putih, mata sayu, dan mulutnya selalu menggigit sepotong roti basi. Ia bilang, dulu ia seorang raja hukum, kini pengembara mencari damai. Ia tidur di telinga kiri. Dan pagi harinya, ia menghilang. Yang tersisa hanyalah roti basi itu, utuh di dekat telinga batu, dan jejak telapak kaki yang mengarah ke timur, ke arah jurang.
Di Warung Kalah, kini ada plakat kecil: Selamat datang di tempat kalah. Di sini, semua pemenang hanya sedang menunda kekalahan.
Dan di dinding belakang, ada foto lama, seorang gadis bermata menyala, dan seorang lelaki dengan luka di betis. Tak ada keterangan. Tak ada tanggal. Orang-orang suka berdebat, siapa mereka sebenarnya? Tapi Ranu, yang sekarang lebih banyak diam, hanya menjawab pendek setiap kali ditanya: “Yang satu pembisik, yang satu pendengar.”
Kadang, pendaki muda datang dan duduk berlama-lama di warung. Mereka bertanya tentang sejarah perlawanan, tentang sabotase, tentang perempuan muda yang menghilang. Ranu tak pernah menjawab dengan pasti. Ia hanya menggeser asbak, mengisi ulang termos air, dan membiarkan mereka menyusun kesimpulan masing-masing.
Suatu kali, ada yang menyodorkan kertas berisi laporan rahasia yang bocor dari kementerian. Di sana, nama Liris tertulis sebagai target operasi yang dibatalkan karena hilang secara spiritual. Ranu membacanya pelan, lalu membakar kertas itu di atas kompor. “Di tempat ini,” katanya, “yang terbakar lebih gampang dimengerti daripada yang masih utuh.”
Dan ketika ada yang bertanya siapa yang mati di puncak, Ranu biasanya menjawab: “Tidak ada yang mati. Tapi semua orang kehilangan sesuatu.” [T]
Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole



























