22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Son Lomri by Son Lomri
September 7, 2025
in Panggung
“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Salah satu adegab mencekam dalam teater Ngalempana

MALAM di kampus  Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Minggu, 31 Agustus 2025, terasa mencekam. Beberapa orang menjerit keras di belakang panggung terbuka di kampus itu. Sejumlah mahasiswa kerauhan, dan teman-temannya sibuk meredakan situasi.

Suasana mencekam itu sesungguhnya sudah berlangsung jauh sebelumnya, ketika anak-anak Teater Sepit Tiying mementaskan garapan berjudul “Ngalempana” di atas panggung terbuka. Sejumlah mahasiswa yang kerauhan di belakang panggung itu adalah mahasiswa yang sebelumnya main teater di atas panggung.

Meski sama-sama mencekam, suasana di atas panggung itu tentu berbeda dengan suasana di belakang panggung usai pementasan. Adegan kerauhan mahasiswa di belakang panggung bisa saja disebut sebagai teater magis tanpa naskah yang juga menarik perhatian untuk ditonton. Sementara di atas panggung terbuka, teater digarap dengan sengaja, dengan naskah yang dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian penonton.

Teater “Ngalempana” itu dipentaskan serangkaian acara Dharma Duta Week #4. Dan kisah “Ngalempana” ini juga tak jauh-jauh dari kesan magis. Panggung, tata lampu, kostum pemain, juga alur ceritanya, sejak awal menunjukkan kesan bahwa cerita itu adalah cerita dengan aliran realisme magis, meski istilah itu masih bisa diperdebatkan.

Tokoh Jro Sangging dan Sundih sedang berbincang di sebuah gubuk kecil | Foto Panitia

Di atas panggung, ada sebuah gubuk ditata secara artistik dengan beberapa topeng tercantel di sisi bilik. Kisahnya dibuka dengan dua tokoh sedang berdialog. Mereka Jro Sangging, pembuat topeng, yang diperankan Jro I Made Andra Wiryaputra, dan tokoh Sundih diperankan Jro Mangku I Made Alit Suputra.

Mereka berbincang tentang sejarah topeng, termasuk berbincang tentang topeng lawas-keramat yang dimiliki oleh Jro Sangging.

Di tengah percakapan, Sundih memotong. Ia tiba terpincut untuk meminta topeng lama milik Jro Sangging. Namun Jro Sangging menolak, dan singkat cerita, topeng itu dicuri oleh Sundih.

Topeng itu berpindah ke tangan Sundih. Alih-alih merawat baik, di tangan Sundih, topeng itu justru ditaruh sembarangan. Topeng sakral itu disimpan di area cucian baju kotor, cangcut dan beha.

Topeng itu kemudian tak sengaja diambil oleh anak Sundih (diperankan oleh Putu Dian Sastari) di cucian kotor itu, dan dibawanya bermain. Lalu hilang, lupa menaruh entah di mana.

Tokoh Jro Sangging dan Sundih sedang berbincang di sebuah gubuk kecil | Foto Panitia

Di sanalah konflik mulai terasa. Suara musik menderu lebih kencang. Tarian-tarian datang seperti daun-daun jatuh di musim gugur. Panggung jadi gelap terang, menandakan wabah penyakit mulai berdatangan. Warga gagal panen. Anak Sundih hilang.

Pertunjukan teater dengan tajuk “Ngalempana” yang disutradarai MK Alit Yehbuah, AA Agung Suryadi Putra dan Gede Bayu Sukradia, agaknya memang sengaja dibuat untuk memberi aura magis pada pertunjukan.

Pertunjukan itu melibat banyak pemain. Ada Putu Silviani, Ketut Seriasih, Putu Diah Galing Paramita, Kadek Sugiarta, Luh Maitri Nurita, Ni Luh Putu Sagita Dian Septiani, dan Wayan Andi Miranda yang berperan sebagai rakyat.

Sementara Putu Devita Widyantari, Kadek Shila Kurniawati, Putu Natania Dhiasta Adhyputri, Putu Wulan Wardhiyanti, Ni Putu Wira Darmayanti, Ni Putu Dea Hardiyana berperan sebagai makhluk halus.

Sedang untuk peran tukang tegen peti dimainkan Kadek Yogi Satria Wardana, I Gede Dedy Suryantika, Gede Edi Kartika Pujawan, Gede Bayu Sukradia Adi Putra, dan Anak Agung Suryadi Putra memainkan musik pengiring jalan cerita.

Dengan begitu banyak pemain, pertunjukan itu sejak awal seakan dirancang sebagai pertunjukan yang bisa meneror penonton. Konflik dibedah sebagai sebuah cerita hitam-putih tentang si buruk dan si baik dengan bumbu karmapala dan kutukan.

Adegan dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia

Rakyat yang diperankan oleh delapan orang itu, saling menebar rasa kecurigaan satu sama lain. Terlebih Jro Sanggih dituduh warga telah merawat topeng lawas-sakral itu dengan buruk, sehingga datanglah musim paceklik.

Tapi satu waktu, kecurigaan itu pun menjalar pada Sundih, setelah warga tahu jika Sundih yang terakhir membicarakan topeng bekas itu. Dan Sundih mengaku bahwa ia yang telah mencuri topeng itu, setelah dirinya babak belur dihabisi warga untuk mengaku.

Sundih minta maaf. Sundih ingin anaknya ditemukan dan selamat. Topeng itu pun ditemukan setelah ada pengakuan dosa dari Sundih.

Dari kejauhan, sesosok makhluk halus datang mengantarkan seorang anak memegang topeng di sela Sundih yang digebuki. Saat itulah Sundih juga berjanji, bahwa, dia bakal memperbaiki adabnya tentang topeng itu, diupacarai, termasuk menanggung biaya upacara.

Akhir cerita, panggung itu ditutup dengan tarian sanghyang, pertanda topeng warisan leluhur telah dirawat dengan baik. Warga pun bahagia.

“Pertunjukan ini bercerita tentang pentingnya merawat warisan leluhur yang sakral dan berharga bagi masyarakat. Kami datang untuk berpesan bahwa menjaga warisan leluhur adalah bentuk tanggungjawab dan penghormatan kepada leluhur, atas apa yang sudah diwariskan. Salah satunya adalah topeng,” kata Gede Bayu Sukradia, sutradara sekaligus konseptor.

Fenomena Sosial ke Panggung Pertunjukan

Cerita Ngalempana itu digarap tiga minggu. Diangkat dari kisah nyata, dari sebuah desa di Jembrana. Tentang sebuah topeng lama, sakral, dipaksa diperbaharui—yang seharusnya dimusnahkan.

Adegan magis dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia

Hindu Bali memang mengenal konsep Tri Kona. Yaitu tentang sesuatu yang lama tidak boleh diperbaharui, selain disimpan baik-baik. Dirawat, atau dibakar jika tidak mau merawat dengan baik.

Di cerita Ngalempana, topeng lama-sakral itu justru diperbaharui, dimainkan secara sembarang. Sehingga, Ida Sesuhunan marah. Marah-marah masuk ke tubuh warga, memberi wejangan untuk berbuat sesuatu agar warga selamat dunia akhirat.

“Tri Kona adalah tiga konsep kemahakuasaan Tuhan. Bahwa sesuatu yang lama, seharusnya dileburkan agar tidak menggangu sesuatu yang baru,” kata Gede Bayu Sukradia.

Ketika dialihwahanakan ke dalam bentuk pementasan, kesakralan oleh UKM Teater Sepit Tiying tetap dijaga. Jenis pementasan ini tergolong sebagai teater tradisi dengan unsur surealis yang pekat.

Bahkan, sebelum pementasan, pun para pemain Ngalempana telah lebih dulu melakukan upacara mepiuning. Yaitu sebuah upacara meminta berkat di Pura Agung Mpu Kuturan untuk keselamatan, pula untuk meminta ijin tempat dan waktu.

Upacara itu menggunakan sarana upakara peras pejati. Kemudian upacara di Pelinggih Ulun Pangkung dengan sarana canang sari.

“Untuk minta maaf pada krama, pada dewata, kami ngalempana,” kata Gede Bayu Sukradia.

Adegan mencekam dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia

Mepiuning memang sudah menjadi tradisi UKM Teater Sepit Tiying di IMK, sebelum pementasan digelar. Upacara itu juga sekaligus memohon tirta (air) panyengker untuk digunakan sebelum atau setelah pementasan, agar terhindar dari dedemit, agar lancar pementasan.

“Sebelum pentas juga, kami telah melakukan ritual nedunang atau menurunkan Sang Hyang Taksu, yang bertujuan agar diberikan anugrah kerahayuan, dan kelancaran saat pementasan,” kata Bayu.

Kemudian, setelah selesai pementasan, teater itu melakukan upacara ngewaliang atau mengembalikan Sang Hyang Taksu dengan menggunakan upakara segehan agung dan segehan manca warna sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Taksu. Karena sudah memberikan anugrah energi dalam pementasan yang sudah berjalan dengan lancar.

Jeritan itu pun hilang. Panggung kembali terang. Para penonton pun terhibur, membawa pulang pesan moral masing-masing. Yaitu, bahwa yang lama mesti dirawat. Atau dimusnahkan untuk membuat yang baru jika tidak mau merawat yang lama.

Ini tentang benda. Bukan perasaanmu. Cie. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: IMK BaliInstitut Agama Hindu Mpu Kuturanseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Jari dan Telinga Kiri  |  Cerpen Yuditeha

Next Post

Ketika Elite Diburu Massa: Psikologi Penjarahan Simbolik di Tengah Krisis Kepercayaan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Ketika Elite Diburu Massa: Psikologi Penjarahan Simbolik di Tengah Krisis Kepercayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co