2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Son Lomri by Son Lomri
September 7, 2025
in Panggung
“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Salah satu adegab mencekam dalam teater Ngalempana

MALAM di kampus  Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Minggu, 31 Agustus 2025, terasa mencekam. Beberapa orang menjerit keras di belakang panggung terbuka di kampus itu. Sejumlah mahasiswa kerauhan, dan teman-temannya sibuk meredakan situasi.

Suasana mencekam itu sesungguhnya sudah berlangsung jauh sebelumnya, ketika anak-anak Teater Sepit Tiying mementaskan garapan berjudul “Ngalempana” di atas panggung terbuka. Sejumlah mahasiswa yang kerauhan di belakang panggung itu adalah mahasiswa yang sebelumnya main teater di atas panggung.

Meski sama-sama mencekam, suasana di atas panggung itu tentu berbeda dengan suasana di belakang panggung usai pementasan. Adegan kerauhan mahasiswa di belakang panggung bisa saja disebut sebagai teater magis tanpa naskah yang juga menarik perhatian untuk ditonton. Sementara di atas panggung terbuka, teater digarap dengan sengaja, dengan naskah yang dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian penonton.

Teater “Ngalempana” itu dipentaskan serangkaian acara Dharma Duta Week #4. Dan kisah “Ngalempana” ini juga tak jauh-jauh dari kesan magis. Panggung, tata lampu, kostum pemain, juga alur ceritanya, sejak awal menunjukkan kesan bahwa cerita itu adalah cerita dengan aliran realisme magis, meski istilah itu masih bisa diperdebatkan.

Tokoh Jro Sangging dan Sundih sedang berbincang di sebuah gubuk kecil | Foto Panitia

Di atas panggung, ada sebuah gubuk ditata secara artistik dengan beberapa topeng tercantel di sisi bilik. Kisahnya dibuka dengan dua tokoh sedang berdialog. Mereka Jro Sangging, pembuat topeng, yang diperankan Jro I Made Andra Wiryaputra, dan tokoh Sundih diperankan Jro Mangku I Made Alit Suputra.

Mereka berbincang tentang sejarah topeng, termasuk berbincang tentang topeng lawas-keramat yang dimiliki oleh Jro Sangging.

Di tengah percakapan, Sundih memotong. Ia tiba terpincut untuk meminta topeng lama milik Jro Sangging. Namun Jro Sangging menolak, dan singkat cerita, topeng itu dicuri oleh Sundih.

Topeng itu berpindah ke tangan Sundih. Alih-alih merawat baik, di tangan Sundih, topeng itu justru ditaruh sembarangan. Topeng sakral itu disimpan di area cucian baju kotor, cangcut dan beha.

Topeng itu kemudian tak sengaja diambil oleh anak Sundih (diperankan oleh Putu Dian Sastari) di cucian kotor itu, dan dibawanya bermain. Lalu hilang, lupa menaruh entah di mana.

Tokoh Jro Sangging dan Sundih sedang berbincang di sebuah gubuk kecil | Foto Panitia

Di sanalah konflik mulai terasa. Suara musik menderu lebih kencang. Tarian-tarian datang seperti daun-daun jatuh di musim gugur. Panggung jadi gelap terang, menandakan wabah penyakit mulai berdatangan. Warga gagal panen. Anak Sundih hilang.

Pertunjukan teater dengan tajuk “Ngalempana” yang disutradarai MK Alit Yehbuah, AA Agung Suryadi Putra dan Gede Bayu Sukradia, agaknya memang sengaja dibuat untuk memberi aura magis pada pertunjukan.

Pertunjukan itu melibat banyak pemain. Ada Putu Silviani, Ketut Seriasih, Putu Diah Galing Paramita, Kadek Sugiarta, Luh Maitri Nurita, Ni Luh Putu Sagita Dian Septiani, dan Wayan Andi Miranda yang berperan sebagai rakyat.

Sementara Putu Devita Widyantari, Kadek Shila Kurniawati, Putu Natania Dhiasta Adhyputri, Putu Wulan Wardhiyanti, Ni Putu Wira Darmayanti, Ni Putu Dea Hardiyana berperan sebagai makhluk halus.

Sedang untuk peran tukang tegen peti dimainkan Kadek Yogi Satria Wardana, I Gede Dedy Suryantika, Gede Edi Kartika Pujawan, Gede Bayu Sukradia Adi Putra, dan Anak Agung Suryadi Putra memainkan musik pengiring jalan cerita.

Dengan begitu banyak pemain, pertunjukan itu sejak awal seakan dirancang sebagai pertunjukan yang bisa meneror penonton. Konflik dibedah sebagai sebuah cerita hitam-putih tentang si buruk dan si baik dengan bumbu karmapala dan kutukan.

Adegan dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia

Rakyat yang diperankan oleh delapan orang itu, saling menebar rasa kecurigaan satu sama lain. Terlebih Jro Sanggih dituduh warga telah merawat topeng lawas-sakral itu dengan buruk, sehingga datanglah musim paceklik.

Tapi satu waktu, kecurigaan itu pun menjalar pada Sundih, setelah warga tahu jika Sundih yang terakhir membicarakan topeng bekas itu. Dan Sundih mengaku bahwa ia yang telah mencuri topeng itu, setelah dirinya babak belur dihabisi warga untuk mengaku.

Sundih minta maaf. Sundih ingin anaknya ditemukan dan selamat. Topeng itu pun ditemukan setelah ada pengakuan dosa dari Sundih.

Dari kejauhan, sesosok makhluk halus datang mengantarkan seorang anak memegang topeng di sela Sundih yang digebuki. Saat itulah Sundih juga berjanji, bahwa, dia bakal memperbaiki adabnya tentang topeng itu, diupacarai, termasuk menanggung biaya upacara.

Akhir cerita, panggung itu ditutup dengan tarian sanghyang, pertanda topeng warisan leluhur telah dirawat dengan baik. Warga pun bahagia.

“Pertunjukan ini bercerita tentang pentingnya merawat warisan leluhur yang sakral dan berharga bagi masyarakat. Kami datang untuk berpesan bahwa menjaga warisan leluhur adalah bentuk tanggungjawab dan penghormatan kepada leluhur, atas apa yang sudah diwariskan. Salah satunya adalah topeng,” kata Gede Bayu Sukradia, sutradara sekaligus konseptor.

Fenomena Sosial ke Panggung Pertunjukan

Cerita Ngalempana itu digarap tiga minggu. Diangkat dari kisah nyata, dari sebuah desa di Jembrana. Tentang sebuah topeng lama, sakral, dipaksa diperbaharui—yang seharusnya dimusnahkan.

Adegan magis dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia

Hindu Bali memang mengenal konsep Tri Kona. Yaitu tentang sesuatu yang lama tidak boleh diperbaharui, selain disimpan baik-baik. Dirawat, atau dibakar jika tidak mau merawat dengan baik.

Di cerita Ngalempana, topeng lama-sakral itu justru diperbaharui, dimainkan secara sembarang. Sehingga, Ida Sesuhunan marah. Marah-marah masuk ke tubuh warga, memberi wejangan untuk berbuat sesuatu agar warga selamat dunia akhirat.

“Tri Kona adalah tiga konsep kemahakuasaan Tuhan. Bahwa sesuatu yang lama, seharusnya dileburkan agar tidak menggangu sesuatu yang baru,” kata Gede Bayu Sukradia.

Ketika dialihwahanakan ke dalam bentuk pementasan, kesakralan oleh UKM Teater Sepit Tiying tetap dijaga. Jenis pementasan ini tergolong sebagai teater tradisi dengan unsur surealis yang pekat.

Bahkan, sebelum pementasan, pun para pemain Ngalempana telah lebih dulu melakukan upacara mepiuning. Yaitu sebuah upacara meminta berkat di Pura Agung Mpu Kuturan untuk keselamatan, pula untuk meminta ijin tempat dan waktu.

Upacara itu menggunakan sarana upakara peras pejati. Kemudian upacara di Pelinggih Ulun Pangkung dengan sarana canang sari.

“Untuk minta maaf pada krama, pada dewata, kami ngalempana,” kata Gede Bayu Sukradia.

Adegan mencekam dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia

Mepiuning memang sudah menjadi tradisi UKM Teater Sepit Tiying di IMK, sebelum pementasan digelar. Upacara itu juga sekaligus memohon tirta (air) panyengker untuk digunakan sebelum atau setelah pementasan, agar terhindar dari dedemit, agar lancar pementasan.

“Sebelum pentas juga, kami telah melakukan ritual nedunang atau menurunkan Sang Hyang Taksu, yang bertujuan agar diberikan anugrah kerahayuan, dan kelancaran saat pementasan,” kata Bayu.

Kemudian, setelah selesai pementasan, teater itu melakukan upacara ngewaliang atau mengembalikan Sang Hyang Taksu dengan menggunakan upakara segehan agung dan segehan manca warna sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Taksu. Karena sudah memberikan anugrah energi dalam pementasan yang sudah berjalan dengan lancar.

Jeritan itu pun hilang. Panggung kembali terang. Para penonton pun terhibur, membawa pulang pesan moral masing-masing. Yaitu, bahwa yang lama mesti dirawat. Atau dimusnahkan untuk membuat yang baru jika tidak mau merawat yang lama.

Ini tentang benda. Bukan perasaanmu. Cie. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: IMK BaliInstitut Agama Hindu Mpu Kuturanseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Jari dan Telinga Kiri  |  Cerpen Yuditeha

Next Post

Ketika Elite Diburu Massa: Psikologi Penjarahan Simbolik di Tengah Krisis Kepercayaan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Ketika Elite Diburu Massa: Psikologi Penjarahan Simbolik di Tengah Krisis Kepercayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co