23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Son Lomri by Son Lomri
September 7, 2025
in Panggung
“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Salah satu adegab mencekam dalam teater Ngalempana

MALAM di kampus  Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Minggu, 31 Agustus 2025, terasa mencekam. Beberapa orang menjerit keras di belakang panggung terbuka di kampus itu. Sejumlah mahasiswa kerauhan, dan teman-temannya sibuk meredakan situasi.

Suasana mencekam itu sesungguhnya sudah berlangsung jauh sebelumnya, ketika anak-anak Teater Sepit Tiying mementaskan garapan berjudul “Ngalempana” di atas panggung terbuka. Sejumlah mahasiswa yang kerauhan di belakang panggung itu adalah mahasiswa yang sebelumnya main teater di atas panggung.

Meski sama-sama mencekam, suasana di atas panggung itu tentu berbeda dengan suasana di belakang panggung usai pementasan. Adegan kerauhan mahasiswa di belakang panggung bisa saja disebut sebagai teater magis tanpa naskah yang juga menarik perhatian untuk ditonton. Sementara di atas panggung terbuka, teater digarap dengan sengaja, dengan naskah yang dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian penonton.

Teater “Ngalempana” itu dipentaskan serangkaian acara Dharma Duta Week #4. Dan kisah “Ngalempana” ini juga tak jauh-jauh dari kesan magis. Panggung, tata lampu, kostum pemain, juga alur ceritanya, sejak awal menunjukkan kesan bahwa cerita itu adalah cerita dengan aliran realisme magis, meski istilah itu masih bisa diperdebatkan.

Tokoh Jro Sangging dan Sundih sedang berbincang di sebuah gubuk kecil | Foto Panitia

Di atas panggung, ada sebuah gubuk ditata secara artistik dengan beberapa topeng tercantel di sisi bilik. Kisahnya dibuka dengan dua tokoh sedang berdialog. Mereka Jro Sangging, pembuat topeng, yang diperankan Jro I Made Andra Wiryaputra, dan tokoh Sundih diperankan Jro Mangku I Made Alit Suputra.

Mereka berbincang tentang sejarah topeng, termasuk berbincang tentang topeng lawas-keramat yang dimiliki oleh Jro Sangging.

Di tengah percakapan, Sundih memotong. Ia tiba terpincut untuk meminta topeng lama milik Jro Sangging. Namun Jro Sangging menolak, dan singkat cerita, topeng itu dicuri oleh Sundih.

Topeng itu berpindah ke tangan Sundih. Alih-alih merawat baik, di tangan Sundih, topeng itu justru ditaruh sembarangan. Topeng sakral itu disimpan di area cucian baju kotor, cangcut dan beha.

Topeng itu kemudian tak sengaja diambil oleh anak Sundih (diperankan oleh Putu Dian Sastari) di cucian kotor itu, dan dibawanya bermain. Lalu hilang, lupa menaruh entah di mana.

Tokoh Jro Sangging dan Sundih sedang berbincang di sebuah gubuk kecil | Foto Panitia

Di sanalah konflik mulai terasa. Suara musik menderu lebih kencang. Tarian-tarian datang seperti daun-daun jatuh di musim gugur. Panggung jadi gelap terang, menandakan wabah penyakit mulai berdatangan. Warga gagal panen. Anak Sundih hilang.

Pertunjukan teater dengan tajuk “Ngalempana” yang disutradarai MK Alit Yehbuah, AA Agung Suryadi Putra dan Gede Bayu Sukradia, agaknya memang sengaja dibuat untuk memberi aura magis pada pertunjukan.

Pertunjukan itu melibat banyak pemain. Ada Putu Silviani, Ketut Seriasih, Putu Diah Galing Paramita, Kadek Sugiarta, Luh Maitri Nurita, Ni Luh Putu Sagita Dian Septiani, dan Wayan Andi Miranda yang berperan sebagai rakyat.

Sementara Putu Devita Widyantari, Kadek Shila Kurniawati, Putu Natania Dhiasta Adhyputri, Putu Wulan Wardhiyanti, Ni Putu Wira Darmayanti, Ni Putu Dea Hardiyana berperan sebagai makhluk halus.

Sedang untuk peran tukang tegen peti dimainkan Kadek Yogi Satria Wardana, I Gede Dedy Suryantika, Gede Edi Kartika Pujawan, Gede Bayu Sukradia Adi Putra, dan Anak Agung Suryadi Putra memainkan musik pengiring jalan cerita.

Dengan begitu banyak pemain, pertunjukan itu sejak awal seakan dirancang sebagai pertunjukan yang bisa meneror penonton. Konflik dibedah sebagai sebuah cerita hitam-putih tentang si buruk dan si baik dengan bumbu karmapala dan kutukan.

Adegan dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia

Rakyat yang diperankan oleh delapan orang itu, saling menebar rasa kecurigaan satu sama lain. Terlebih Jro Sanggih dituduh warga telah merawat topeng lawas-sakral itu dengan buruk, sehingga datanglah musim paceklik.

Tapi satu waktu, kecurigaan itu pun menjalar pada Sundih, setelah warga tahu jika Sundih yang terakhir membicarakan topeng bekas itu. Dan Sundih mengaku bahwa ia yang telah mencuri topeng itu, setelah dirinya babak belur dihabisi warga untuk mengaku.

Sundih minta maaf. Sundih ingin anaknya ditemukan dan selamat. Topeng itu pun ditemukan setelah ada pengakuan dosa dari Sundih.

Dari kejauhan, sesosok makhluk halus datang mengantarkan seorang anak memegang topeng di sela Sundih yang digebuki. Saat itulah Sundih juga berjanji, bahwa, dia bakal memperbaiki adabnya tentang topeng itu, diupacarai, termasuk menanggung biaya upacara.

Akhir cerita, panggung itu ditutup dengan tarian sanghyang, pertanda topeng warisan leluhur telah dirawat dengan baik. Warga pun bahagia.

“Pertunjukan ini bercerita tentang pentingnya merawat warisan leluhur yang sakral dan berharga bagi masyarakat. Kami datang untuk berpesan bahwa menjaga warisan leluhur adalah bentuk tanggungjawab dan penghormatan kepada leluhur, atas apa yang sudah diwariskan. Salah satunya adalah topeng,” kata Gede Bayu Sukradia, sutradara sekaligus konseptor.

Fenomena Sosial ke Panggung Pertunjukan

Cerita Ngalempana itu digarap tiga minggu. Diangkat dari kisah nyata, dari sebuah desa di Jembrana. Tentang sebuah topeng lama, sakral, dipaksa diperbaharui—yang seharusnya dimusnahkan.

Adegan magis dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia

Hindu Bali memang mengenal konsep Tri Kona. Yaitu tentang sesuatu yang lama tidak boleh diperbaharui, selain disimpan baik-baik. Dirawat, atau dibakar jika tidak mau merawat dengan baik.

Di cerita Ngalempana, topeng lama-sakral itu justru diperbaharui, dimainkan secara sembarang. Sehingga, Ida Sesuhunan marah. Marah-marah masuk ke tubuh warga, memberi wejangan untuk berbuat sesuatu agar warga selamat dunia akhirat.

“Tri Kona adalah tiga konsep kemahakuasaan Tuhan. Bahwa sesuatu yang lama, seharusnya dileburkan agar tidak menggangu sesuatu yang baru,” kata Gede Bayu Sukradia.

Ketika dialihwahanakan ke dalam bentuk pementasan, kesakralan oleh UKM Teater Sepit Tiying tetap dijaga. Jenis pementasan ini tergolong sebagai teater tradisi dengan unsur surealis yang pekat.

Bahkan, sebelum pementasan, pun para pemain Ngalempana telah lebih dulu melakukan upacara mepiuning. Yaitu sebuah upacara meminta berkat di Pura Agung Mpu Kuturan untuk keselamatan, pula untuk meminta ijin tempat dan waktu.

Upacara itu menggunakan sarana upakara peras pejati. Kemudian upacara di Pelinggih Ulun Pangkung dengan sarana canang sari.

“Untuk minta maaf pada krama, pada dewata, kami ngalempana,” kata Gede Bayu Sukradia.

Adegan mencekam dalam teater Ngalempana | Foto: Panitia

Mepiuning memang sudah menjadi tradisi UKM Teater Sepit Tiying di IMK, sebelum pementasan digelar. Upacara itu juga sekaligus memohon tirta (air) panyengker untuk digunakan sebelum atau setelah pementasan, agar terhindar dari dedemit, agar lancar pementasan.

“Sebelum pentas juga, kami telah melakukan ritual nedunang atau menurunkan Sang Hyang Taksu, yang bertujuan agar diberikan anugrah kerahayuan, dan kelancaran saat pementasan,” kata Bayu.

Kemudian, setelah selesai pementasan, teater itu melakukan upacara ngewaliang atau mengembalikan Sang Hyang Taksu dengan menggunakan upakara segehan agung dan segehan manca warna sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Taksu. Karena sudah memberikan anugrah energi dalam pementasan yang sudah berjalan dengan lancar.

Jeritan itu pun hilang. Panggung kembali terang. Para penonton pun terhibur, membawa pulang pesan moral masing-masing. Yaitu, bahwa yang lama mesti dirawat. Atau dimusnahkan untuk membuat yang baru jika tidak mau merawat yang lama.

Ini tentang benda. Bukan perasaanmu. Cie. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: IMK BaliInstitut Agama Hindu Mpu Kuturanseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Jari dan Telinga Kiri  |  Cerpen Yuditeha

Next Post

Ketika Elite Diburu Massa: Psikologi Penjarahan Simbolik di Tengah Krisis Kepercayaan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

Read moreDetails

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

Read moreDetails

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

Read moreDetails

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
0
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

Read moreDetails

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
0
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

Read moreDetails

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

Read moreDetails

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

by Ingga Adelia
June 15, 2026
0
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

Read moreDetails

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Ketika Elite Diburu Massa: Psikologi Penjarahan Simbolik di Tengah Krisis Kepercayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co