13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Elite Diburu Massa: Psikologi Penjarahan Simbolik di Tengah Krisis Kepercayaan

Isran Kamal by Isran Kamal
September 6, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KASUS penjarahan rumah beberapa pejabat publik, mulai dari anggota DPR hingga menteri, belakangan menyedot perhatian publik. Di tengah gelombang protes sosial yang kian intens, peristiwa ini menandai sebuah eskalasi baru, yakni kemarahan massa tidak lagi berhenti di jalanan, melainkan menembus batas privat para penguasa. Simbolisme yang lahir darinya tidak kecil. Rumah yang biasanya dipandang sebagai ruang aman dan intim, berubah menjadi sasaran pelampiasan kolektif.

Fenomena ini tentu tidak bisa dibaca hanya sebagai tindak kriminal atau ledakan spontan semata. Di baliknya terdapat dinamika psikologis yang kompleks, mulai dari psikologi massa yang menjelaskan mengapa individu kehilangan kontrol dalam kerumunan, hingga psikologi politik yang menyoroti pudarnya legitimasi institusi. Pada saat yang sama, psikologi kolektif memberi kita lensa untuk memahami bagaimana trauma, rasa ketidakadilan, dan identitas bersama membentuk perilaku yang begitu radikal.

Karena itu, alih-alih melihatnya sebatas kriminalitas, artikel ini mencoba menelisik lapisan psikologis yang mendorong lahirnya tindakan ekstrem tersebut. Dengan mengurai teori psikologi massa, psikologi politik, dan psikologi kolektif, kita bisa memahami mengapa rumah-rumah pejabat akhirnya menjadi simbol sekaligus medan perlawanan. Dari sana, kita bisa melihat bukan hanya soal tindakannya, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat yang melatarbelakanginya.

Amarah Kolektif: Dari Ledakan Emosi hingga Legitimasi Kekerasan

Amarah rakyat jarang muncul tiba-tiba. Amarah itu tumbuh perlahan seperti bibit yang ditanam dan dipupuk oleh rasa kecewa dari janji-janji yang tak kunjung ditepati, dari luka kecil yang lama-lama membesar jadi borok. Lalu datanglah satu peristiwa pemicu, sebuah kebijakan yang dirasa melukai, sebuah simbol kemewahan yang dipertontonkan di tengah penderitaan.

Dalam sekejap, emosi yang tadinya berserakan pun menemukan wadahnya. Rumah seorang pejabat yang dijarah bukan sekadar bangunan fisik, rumah tersebut berubah menjadi layar tempat rakyat memproyeksikan seluruh frustrasi mereka.

Inilah momen ketika psikologi massa dapat menjelaskan fenomena ini. Seorang individu yang sendirian mungkin tak berani melempar batu, tapi dalam kerumunan, keberanian itu berlipat ganda. Emile Durkheim pernah menyebut “effervescence collective,” sebuah ekstasi emosional yang lahir dari kebersamaan. Satu teriakan bisa menular ke yang lain, satu tindakan destruktif bisa memicu keberanian seribu orang.

Anonimitas dalam kerumunan membuat batas moral pribadi menjadi kabur.  Rasa malu, rasa takut, bahkan rasa bersalah larut dalam suara ribuan. Apa yang biasanya dianggap tabu, kini terasa wajar, bahkan benar.

Namun kemarahan kolektif ini tidak berdiri di ruang hampa. Kemarahan ini segera bersentuhan dengan ranah politik. Di sinilah psikologi politik berbicara. Rumah pejabat bukan sekadar target acak, melainkan simbol otoritas yang gagal. Ted Robert Gurr (1970) menyebutnya sebagai relative deprivation, jurang antara harapan dan kenyataan yang makin melebar. James C. Davies (1962) bahkan menggambarkannya dengan kurva-J, ketika rakyat sudah merasakan sedikit peningkatan hidup lalu harapan itu tiba-tiba dipatahkan, maka kemarahan yang lahir jauh lebih meledak-ledak.

Contoh nyatanya bisa kita lihat di berbagai belahan dunia. Krisis ekonomi yang tiba-tiba menghantam negara berkembang sering kali melahirkan protes keras, bukan hanya karena kesulitan hidup, melainkan karena rakyat merasa “dikhianati” setelah dijanjikan kesejahteraan. Dalam logika itu, rumah pejabat yang megah dipandang bukan lagi sekadar tempat tinggal pribadi, tapi simbol kesenjangan antara janji politik dan kenyataan rakyat. Hannah Arendt (1970) mengingatkan bahwa kekerasan politik kerap diarahkan pada simbol kekuasaan, bukan individu per se. Maka ketika pintu rumah didobrak, yang benar-benar diruntuhkan bukanlah kayu jati atau beton, melainkan kredibilitas sebuah otoritas.

Emosi politik mempercepat proses ini. Penelitian Marcus, Neuman, dan MacKuen (2000) lewat Affective Intelligence Theory menunjukkan bahwa kemarahan mampu mendorong individu mengambil risiko besar. Inilah mengapa aksi protes yang awalnya damai bisa berbalik arah. Sekali kemarahan kolektif tersulut, hal itu menjadi bahan bakar ledakan. Teriakan “cukup sudah!” bergema, dan kerumunan berubah jadi badai.

Tetapi yang membuat badai itu semakin berbahaya adalah mekanisme sosial-kolektif yang memberi legitimasi. Ketika orang bergabung dalam kerumunan, identitas pribadi larut ke dalam identitas kelompok. Henri Tajfel dan John Turner (1979) menjelaskan bahwa individu mulai mendefinisikan diri sebagai bagian dari “kami,” bukan lagi “saya.” Elite politik otomatis diposisikan sebagai “mereka”, musuh bersama yang layak dilawan. Dalam bingkai ini, penjarahan bukan lagi tindakan kriminal, melainkan aksi moral atas nama rakyat.

Philip Zimbardo (1969) menyebutnya sebagai deindividuation. Anonimitas membuat rasa tanggung jawab personal melemah, sehingga orang berani melakukan hal-hal yang biasanya tak terbayangkan. Bandura (1999) menambahkan dimensi moral disengagement, rasionalisasi yang membuat tindakan keras dianggap wajar. “Mereka mencuri lebih dulu dari kami,” begitu kira-kira logikanya. Dengan justifikasi seperti ini, bukan hanya rasa bersalah yang hilang, melainkan muncul kepuasan emosional bahwa seakan-akan setiap lembar kaca yang pecah adalah potongan keadilan yang dipulihkan.

Penelitian lebih baru oleh van Zomeren, Postmes, dan Spears (2008) mengkonfirmasi bahwa protes kolektif dipicu oleh kombinasi tiga hal, kemarahan, identitas kelompok, dan keyakinan akan efektivitas aksi. Jika ketiganya hadir, maka legitimasi kolektif atas kekerasan menguat. Inilah mengapa fenomena penjarahan jarang berhenti pada satu rumah saja, begitu satu simbol jatuh, keyakinan massa bertambah, dan mereka siap menumbangkan simbol berikutnya.

Dari sini kita melihat bahwa penjarahan rumah pejabat bukan sekadar peristiwa kriminal, melainkan ritual politik yang merepresentasikan pergeseran moral. Apa yang di luar kerumunan disebut kejahatan, di dalam kerumunan dimaknai sebagai keadilan. Bahayanya, begitu moral kolektif ini terbentuk, hal ini dapat terulang, menular, bahkan diwariskan dalam narasi perlawanan.

Pertanyaannya adalah, “sampai kapan siklus ini dibiarkan?” Bila frustrasi rakyat terus menumpuk tanpa ada ruang dialog, bila simbol-simbol kekuasaan terus dipertontonkan tanpa empati, maka rumah yang dijarah hanyalah permulaan. Kekerasan kolektif selalu mencari simbol baru untuk diruntuhkan. Satu-satunya jalan untuk memutus siklus ini adalah dengan menghadirkan reformasi nyata dan membuka kanal komunikasi yang jujur. Tanpa itu, kemarahan akan terus beranak-pinak, dan legitimasi kekerasan akan kembali menemukan jalannya.

Mengembalikan Empati, Merawat Demokrasi

Aksi penjarahan rumah pejabat memang tak bisa dibenarkan secara hukum, tetapi hal tersebut muncul sebagai wujud dari cermin yang retak antara relasi rakyat dan penguasa. Ketika jurang kepercayaan melebar, masyarakat mencari saluran emosi dengan cara-cara yang destruktif. Dari perspektif psikologi massa dan sosial-kolektif, peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kriminalitas kadang hanyalah permukaan, namun di kedalaman, tindakan tersebut adalah ekspresi trauma kolektif yang terlalu lama diabaikan.

Solusi tidak cukup berhenti pada represi. Pemulihan kepercayaan publik menuntut keberanian pejabat untuk hadir dengan transparansi, kesediaan mendengar, dan keberpihakan nyata dalam kebijakan. Psikologi politik memberi pelajaran bahwa kekuasaan tanpa empati hanya melahirkan kemarahan.

Demokrasi tidak akan bertahan lewat janji, melainkan melalui kepercayaan yang dirawat setiap hari. Jika empati dikembalikan ke pusat politik, maka kekerasan berhenti menjadi pilihan, dan rakyat kembali melihat demokrasi sebagai ruang harapan, bukan sekadar arena kekecewaan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari Pajak Rakyat ke Roda Rantis: Psikologi Publik dalam Bayang Kekerasan Negara
Ketika Kursi Empuk Membuat Hati Beku
Tags: demokrasiempatimassaPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Next Post

Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun — Ulas Buku Puisi “Merayakan Pohon di Kebun Puisi” Karya I Nyoman Wirata

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun — Ulas Buku Puisi “Merayakan Pohon di Kebun Puisi” Karya I Nyoman Wirata

Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun -- Ulas Buku Puisi "Merayakan Pohon di Kebun Puisi" Karya I Nyoman Wirata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co