2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Elite Diburu Massa: Psikologi Penjarahan Simbolik di Tengah Krisis Kepercayaan

Isran Kamal by Isran Kamal
September 6, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KASUS penjarahan rumah beberapa pejabat publik, mulai dari anggota DPR hingga menteri, belakangan menyedot perhatian publik. Di tengah gelombang protes sosial yang kian intens, peristiwa ini menandai sebuah eskalasi baru, yakni kemarahan massa tidak lagi berhenti di jalanan, melainkan menembus batas privat para penguasa. Simbolisme yang lahir darinya tidak kecil. Rumah yang biasanya dipandang sebagai ruang aman dan intim, berubah menjadi sasaran pelampiasan kolektif.

Fenomena ini tentu tidak bisa dibaca hanya sebagai tindak kriminal atau ledakan spontan semata. Di baliknya terdapat dinamika psikologis yang kompleks, mulai dari psikologi massa yang menjelaskan mengapa individu kehilangan kontrol dalam kerumunan, hingga psikologi politik yang menyoroti pudarnya legitimasi institusi. Pada saat yang sama, psikologi kolektif memberi kita lensa untuk memahami bagaimana trauma, rasa ketidakadilan, dan identitas bersama membentuk perilaku yang begitu radikal.

Karena itu, alih-alih melihatnya sebatas kriminalitas, artikel ini mencoba menelisik lapisan psikologis yang mendorong lahirnya tindakan ekstrem tersebut. Dengan mengurai teori psikologi massa, psikologi politik, dan psikologi kolektif, kita bisa memahami mengapa rumah-rumah pejabat akhirnya menjadi simbol sekaligus medan perlawanan. Dari sana, kita bisa melihat bukan hanya soal tindakannya, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat yang melatarbelakanginya.

Amarah Kolektif: Dari Ledakan Emosi hingga Legitimasi Kekerasan

Amarah rakyat jarang muncul tiba-tiba. Amarah itu tumbuh perlahan seperti bibit yang ditanam dan dipupuk oleh rasa kecewa dari janji-janji yang tak kunjung ditepati, dari luka kecil yang lama-lama membesar jadi borok. Lalu datanglah satu peristiwa pemicu, sebuah kebijakan yang dirasa melukai, sebuah simbol kemewahan yang dipertontonkan di tengah penderitaan.

Dalam sekejap, emosi yang tadinya berserakan pun menemukan wadahnya. Rumah seorang pejabat yang dijarah bukan sekadar bangunan fisik, rumah tersebut berubah menjadi layar tempat rakyat memproyeksikan seluruh frustrasi mereka.

Inilah momen ketika psikologi massa dapat menjelaskan fenomena ini. Seorang individu yang sendirian mungkin tak berani melempar batu, tapi dalam kerumunan, keberanian itu berlipat ganda. Emile Durkheim pernah menyebut “effervescence collective,” sebuah ekstasi emosional yang lahir dari kebersamaan. Satu teriakan bisa menular ke yang lain, satu tindakan destruktif bisa memicu keberanian seribu orang.

Anonimitas dalam kerumunan membuat batas moral pribadi menjadi kabur.  Rasa malu, rasa takut, bahkan rasa bersalah larut dalam suara ribuan. Apa yang biasanya dianggap tabu, kini terasa wajar, bahkan benar.

Namun kemarahan kolektif ini tidak berdiri di ruang hampa. Kemarahan ini segera bersentuhan dengan ranah politik. Di sinilah psikologi politik berbicara. Rumah pejabat bukan sekadar target acak, melainkan simbol otoritas yang gagal. Ted Robert Gurr (1970) menyebutnya sebagai relative deprivation, jurang antara harapan dan kenyataan yang makin melebar. James C. Davies (1962) bahkan menggambarkannya dengan kurva-J, ketika rakyat sudah merasakan sedikit peningkatan hidup lalu harapan itu tiba-tiba dipatahkan, maka kemarahan yang lahir jauh lebih meledak-ledak.

Contoh nyatanya bisa kita lihat di berbagai belahan dunia. Krisis ekonomi yang tiba-tiba menghantam negara berkembang sering kali melahirkan protes keras, bukan hanya karena kesulitan hidup, melainkan karena rakyat merasa “dikhianati” setelah dijanjikan kesejahteraan. Dalam logika itu, rumah pejabat yang megah dipandang bukan lagi sekadar tempat tinggal pribadi, tapi simbol kesenjangan antara janji politik dan kenyataan rakyat. Hannah Arendt (1970) mengingatkan bahwa kekerasan politik kerap diarahkan pada simbol kekuasaan, bukan individu per se. Maka ketika pintu rumah didobrak, yang benar-benar diruntuhkan bukanlah kayu jati atau beton, melainkan kredibilitas sebuah otoritas.

Emosi politik mempercepat proses ini. Penelitian Marcus, Neuman, dan MacKuen (2000) lewat Affective Intelligence Theory menunjukkan bahwa kemarahan mampu mendorong individu mengambil risiko besar. Inilah mengapa aksi protes yang awalnya damai bisa berbalik arah. Sekali kemarahan kolektif tersulut, hal itu menjadi bahan bakar ledakan. Teriakan “cukup sudah!” bergema, dan kerumunan berubah jadi badai.

Tetapi yang membuat badai itu semakin berbahaya adalah mekanisme sosial-kolektif yang memberi legitimasi. Ketika orang bergabung dalam kerumunan, identitas pribadi larut ke dalam identitas kelompok. Henri Tajfel dan John Turner (1979) menjelaskan bahwa individu mulai mendefinisikan diri sebagai bagian dari “kami,” bukan lagi “saya.” Elite politik otomatis diposisikan sebagai “mereka”, musuh bersama yang layak dilawan. Dalam bingkai ini, penjarahan bukan lagi tindakan kriminal, melainkan aksi moral atas nama rakyat.

Philip Zimbardo (1969) menyebutnya sebagai deindividuation. Anonimitas membuat rasa tanggung jawab personal melemah, sehingga orang berani melakukan hal-hal yang biasanya tak terbayangkan. Bandura (1999) menambahkan dimensi moral disengagement, rasionalisasi yang membuat tindakan keras dianggap wajar. “Mereka mencuri lebih dulu dari kami,” begitu kira-kira logikanya. Dengan justifikasi seperti ini, bukan hanya rasa bersalah yang hilang, melainkan muncul kepuasan emosional bahwa seakan-akan setiap lembar kaca yang pecah adalah potongan keadilan yang dipulihkan.

Penelitian lebih baru oleh van Zomeren, Postmes, dan Spears (2008) mengkonfirmasi bahwa protes kolektif dipicu oleh kombinasi tiga hal, kemarahan, identitas kelompok, dan keyakinan akan efektivitas aksi. Jika ketiganya hadir, maka legitimasi kolektif atas kekerasan menguat. Inilah mengapa fenomena penjarahan jarang berhenti pada satu rumah saja, begitu satu simbol jatuh, keyakinan massa bertambah, dan mereka siap menumbangkan simbol berikutnya.

Dari sini kita melihat bahwa penjarahan rumah pejabat bukan sekadar peristiwa kriminal, melainkan ritual politik yang merepresentasikan pergeseran moral. Apa yang di luar kerumunan disebut kejahatan, di dalam kerumunan dimaknai sebagai keadilan. Bahayanya, begitu moral kolektif ini terbentuk, hal ini dapat terulang, menular, bahkan diwariskan dalam narasi perlawanan.

Pertanyaannya adalah, “sampai kapan siklus ini dibiarkan?” Bila frustrasi rakyat terus menumpuk tanpa ada ruang dialog, bila simbol-simbol kekuasaan terus dipertontonkan tanpa empati, maka rumah yang dijarah hanyalah permulaan. Kekerasan kolektif selalu mencari simbol baru untuk diruntuhkan. Satu-satunya jalan untuk memutus siklus ini adalah dengan menghadirkan reformasi nyata dan membuka kanal komunikasi yang jujur. Tanpa itu, kemarahan akan terus beranak-pinak, dan legitimasi kekerasan akan kembali menemukan jalannya.

Mengembalikan Empati, Merawat Demokrasi

Aksi penjarahan rumah pejabat memang tak bisa dibenarkan secara hukum, tetapi hal tersebut muncul sebagai wujud dari cermin yang retak antara relasi rakyat dan penguasa. Ketika jurang kepercayaan melebar, masyarakat mencari saluran emosi dengan cara-cara yang destruktif. Dari perspektif psikologi massa dan sosial-kolektif, peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kriminalitas kadang hanyalah permukaan, namun di kedalaman, tindakan tersebut adalah ekspresi trauma kolektif yang terlalu lama diabaikan.

Solusi tidak cukup berhenti pada represi. Pemulihan kepercayaan publik menuntut keberanian pejabat untuk hadir dengan transparansi, kesediaan mendengar, dan keberpihakan nyata dalam kebijakan. Psikologi politik memberi pelajaran bahwa kekuasaan tanpa empati hanya melahirkan kemarahan.

Demokrasi tidak akan bertahan lewat janji, melainkan melalui kepercayaan yang dirawat setiap hari. Jika empati dikembalikan ke pusat politik, maka kekerasan berhenti menjadi pilihan, dan rakyat kembali melihat demokrasi sebagai ruang harapan, bukan sekadar arena kekecewaan. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari Pajak Rakyat ke Roda Rantis: Psikologi Publik dalam Bayang Kekerasan Negara
Ketika Kursi Empuk Membuat Hati Beku
Tags: demokrasiempatimassaPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ngalempana”, Pertunjukan di Atas Panggung dan di Belakang Panggung Teater Sepit Tiying Institut Mpu Kuturan

Next Post

Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun — Ulas Buku Puisi “Merayakan Pohon di Kebun Puisi” Karya I Nyoman Wirata

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun — Ulas Buku Puisi “Merayakan Pohon di Kebun Puisi” Karya I Nyoman Wirata

Berkelana di Puisi Si Tukang Kebun -- Ulas Buku Puisi "Merayakan Pohon di Kebun Puisi" Karya I Nyoman Wirata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co