26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 23, 2025
in Cerpen
Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co

HUTAN larangan itu tidak lagi mengeluarkan aura keramatnya. Pohon-pohon tuanya terlihat menangis. Tak ada ucapan terima kasih atas hidupnya. Dulu, tak ada yang berani mengusik ketenangan pohon di hutan itu. Siapapun yang masuk di hutan itu dapat dipastikan akan tersesat dan tidak akan mudah menemukan jalan pulang. Bahkan pernah sampai satu banjar ke hutan larangan membawa gong hanya meminta agar seorang pencari rumput bisa segera ditemukan. Ia bisa ditemukan setelah dua hari pencarian. Tubuhnya lemas dan mengatakan tak bisa melihat jalan kembali ke rumah.

Semakin lama, semakin angker saja kedengaran di hutan itu. Ada cerita yang beredar bahwa ada harimau jadi-jadian tinggal di hutan itu. Di dalam hutan larangan itu, ada sebuah gua yang tembus sampai ke gunung. Konon, hutan itu adalah penyangga gunungnya yang membuatnya lebih berwibawa. Sungai-sungai kecil pun tetap berair bening. Beberapa mata air muncul di sekitarnya yang menambah kesejukan hati setiap yang memandangnya. Air pegunungan yang meluarkan vibrasi kesucian.

Di lorong masuk gua, terdapat dua pohon cemara tua. Pohon cemara yang berumur ratusan tahun seolah-olah pengawal harimau tua. Harimau tua pejaga hutan. Setiap yang melintas di depannya bisa celaka jika tidak minta izin. Karena sudah usia, harimau itu tak bisa bergerak cepat sewaktu masih muda. Tubuhnya semakin ringkih. Taringnya sudah ada yang tanggal. Kumisnya mulai menipis tak segarang dulu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh orang-orang untuk memburunya. Ada segerombolan pencari satwa langka yang sedari dulu mengharapkan dapat kumis harimau itu.

Konon, jika memakai kumis harimau, bisa segarang dan berwibawa seperti harimau. Sekali gertak, langsung tunduk dan tak berkutik lagi. Orang-orang pencari kumis harimau itu sepakat memasang perangkap agar bisa ditangkap hidup-hidup. Dipasanglah jeratan, tapi tak berhasil. Semakin bertambah yakin orang-orang pencari kumis harimau itu bahwa harimau itu benar-benar jadi-jadian. Jika harimau jadi-jadian kumisnya diperoleh, akan semakin beriwbawa begitu ramai dibicarakan antar pencinta kumis harimau.

Mereka tak kehabisan akal. Segala jalan ditempuh. Gagal satu jurus yang lain semakin mulus. Mereka sepakat membawa jaring ke hutan larangan. Memang kuakui nyalinya gede juga, mereka tunggui di depan gua sampai beberapa hari. Tiba-tiba terdengar auman harimau dari dalam dan berlari ke mulut gua. Jaring yang sudah terpasang langsung diterjangnya dan harimau itu tertangkap tanpa ada perlawanan berarti. Matanya seperti minta pertolongan. Ia menyadari nyawanya tak mungkin akan terselamatkan. Sorak kegirangan para pencari kumis harimau terdengar.

 “Akhirnya tertangkap juga harimau ini. Kita akan semakin berwibawa dengan kumisnya. Kumis satwa langka. Jika dijual kumisnya akan semakin tebal dompet kita.” Mereka tersenyum penuh kemenangan.

 Semenjak harimau penjaga hutan larangan tak ada lagi, orang-orang sekitar mulai mengusik ke tenangan hutan larangan. Tidak ada lagi namanya hutan larangan. Pohon-pohon tua yang sudah berumur ratusan tahun ditebangnya. Kayu-kayunya diangkut ke luar desa. Laris manis kayu-kayu dari hutan larangan. Kayu tua dengan ketebalan yang melebihi kayu biasa. Kayu-kayunya menjadi rebutan para penjual kayu. Orang-orang itu berubah hidupnya. Dompet-dompetnya semakin menebal berkat menjualbelikan kayu-kayu yang tak pernah ditanamnya. Keceriaan muncul di wajah-wajah orang-orang di sana.

Hutan larangan semakin hari semakin tak punya pohon tua lagi. Orang-orang dekat hutan mengubahnya menjadi lahan pertanian. Pohon-pohon penghasil buah dan kopi dipikirnya lebih cocok tumbuh di hutan itu. Sepakatlah orang-orang itu mengubahnya. Karena humusnya masih bagus, semua pohon pengganti hutan hidup dengan suburnya. Pesta kegembiraan hampir setiap musim panen diadakan. Orang-orang berlomba-lomba mendatangkan para penyanyi agar dapat hiburan. Orang-orang itu yang dulunya suka keheningan sekarang semakin kemasukan kebisingan. Beragam alat musik tak pernah berhenti bersuara. Sebagai tanda mengikuti perubahan zaman. “Biar di pinggir desa yang penting jiwa kota,” bisiknya.

Semakin tak ada hutan lagi di desa itu. Wajah hutan larangan tak lagi menyimpan keangkeran. Semakin hari semakin ramai yang mau tinggal di sana. Jual-beli lahan sudah terjadi. Bangunan-bangunan baru dengan beragam tipe berjejer memperlihatkan keangkuhannya. Maklar tanah silih berganti mendatanginya. Saling mengaku memiliki lahan juga muncul. Orang-orang desa itu yang dulunya akur tak lagi memperlihatkan keakurannya. Saling sapa pun jarang. Uang menjadi yang utama. Hampir tak ada lagi ditemui ketenangan.

Alam tak mau terima rupanya. Musim hujan tak seperti biasanya. Telah terjadi perubahan musim katanya, semestinya kemarau, tapi hujan terus saja terjadi. Tanah di bekas hutan itu mulai tak kuat menahan beban air. Tanah longsor telah terjadi. Pergerakan tanah terjadi. Likuivaksi mulai menghantui desa itu.

Rasa bersalah datang belakangan. Hutan larangan yang dulunya sebagai resapan air hanya menjadi kisah saja. Upacara permohonan maaf pun digelar. Orang-orang desa itu mendatangi mulut gua untuk meminta ampun. Upacara guru piduka  dihaturkan.

Lamat-lamat dari dalam gua, terdengar auman harimau semakin menjauh seperti merintih kesakitan dan kehausan. Orang-orang itu ingat. Jika aumannya tak lagi terdengar bencana sewaktu-waktu bisa datang. Pamangku yang menghaturkan guru piduka memohon ampun pada penjaga hutan larangan. Beberapa orang yang ikut menghanturkan sajen guru piduka mulai kemasukan ruh harimau, saling terkam antar sesama dan saling cakar. Kuku jemarinya meruncing. Matanya mendelik. Kulihat taring harimau di mulutnya. Ruh harimau tak terima hutan larangan diganggu. “Kembalikan hutan ini! Kembalikan hutan ini!” salah seorang yang kerauhan berteriak-teriak.

Orang-orang itu saling tatap. Tak ada yang berani berjanji.  [T]

Catatan:

  • Banjar: organisasi masyarakat di Bali
  • Guru piduka: sajen permohonan maaf atas kekeliruan yang diperbuat.
  • Kerauhan: kesurupan
  • Pamangku: pemimpin upacara

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Tante Mimi dalam Satir Keramat

Next Post

Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co