24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 23, 2025
in Cerpen
Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co

HUTAN larangan itu tidak lagi mengeluarkan aura keramatnya. Pohon-pohon tuanya terlihat menangis. Tak ada ucapan terima kasih atas hidupnya. Dulu, tak ada yang berani mengusik ketenangan pohon di hutan itu. Siapapun yang masuk di hutan itu dapat dipastikan akan tersesat dan tidak akan mudah menemukan jalan pulang. Bahkan pernah sampai satu banjar ke hutan larangan membawa gong hanya meminta agar seorang pencari rumput bisa segera ditemukan. Ia bisa ditemukan setelah dua hari pencarian. Tubuhnya lemas dan mengatakan tak bisa melihat jalan kembali ke rumah.

Semakin lama, semakin angker saja kedengaran di hutan itu. Ada cerita yang beredar bahwa ada harimau jadi-jadian tinggal di hutan itu. Di dalam hutan larangan itu, ada sebuah gua yang tembus sampai ke gunung. Konon, hutan itu adalah penyangga gunungnya yang membuatnya lebih berwibawa. Sungai-sungai kecil pun tetap berair bening. Beberapa mata air muncul di sekitarnya yang menambah kesejukan hati setiap yang memandangnya. Air pegunungan yang meluarkan vibrasi kesucian.

Di lorong masuk gua, terdapat dua pohon cemara tua. Pohon cemara yang berumur ratusan tahun seolah-olah pengawal harimau tua. Harimau tua pejaga hutan. Setiap yang melintas di depannya bisa celaka jika tidak minta izin. Karena sudah usia, harimau itu tak bisa bergerak cepat sewaktu masih muda. Tubuhnya semakin ringkih. Taringnya sudah ada yang tanggal. Kumisnya mulai menipis tak segarang dulu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh orang-orang untuk memburunya. Ada segerombolan pencari satwa langka yang sedari dulu mengharapkan dapat kumis harimau itu.

Konon, jika memakai kumis harimau, bisa segarang dan berwibawa seperti harimau. Sekali gertak, langsung tunduk dan tak berkutik lagi. Orang-orang pencari kumis harimau itu sepakat memasang perangkap agar bisa ditangkap hidup-hidup. Dipasanglah jeratan, tapi tak berhasil. Semakin bertambah yakin orang-orang pencari kumis harimau itu bahwa harimau itu benar-benar jadi-jadian. Jika harimau jadi-jadian kumisnya diperoleh, akan semakin beriwbawa begitu ramai dibicarakan antar pencinta kumis harimau.

Mereka tak kehabisan akal. Segala jalan ditempuh. Gagal satu jurus yang lain semakin mulus. Mereka sepakat membawa jaring ke hutan larangan. Memang kuakui nyalinya gede juga, mereka tunggui di depan gua sampai beberapa hari. Tiba-tiba terdengar auman harimau dari dalam dan berlari ke mulut gua. Jaring yang sudah terpasang langsung diterjangnya dan harimau itu tertangkap tanpa ada perlawanan berarti. Matanya seperti minta pertolongan. Ia menyadari nyawanya tak mungkin akan terselamatkan. Sorak kegirangan para pencari kumis harimau terdengar.

 “Akhirnya tertangkap juga harimau ini. Kita akan semakin berwibawa dengan kumisnya. Kumis satwa langka. Jika dijual kumisnya akan semakin tebal dompet kita.” Mereka tersenyum penuh kemenangan.

 Semenjak harimau penjaga hutan larangan tak ada lagi, orang-orang sekitar mulai mengusik ke tenangan hutan larangan. Tidak ada lagi namanya hutan larangan. Pohon-pohon tua yang sudah berumur ratusan tahun ditebangnya. Kayu-kayunya diangkut ke luar desa. Laris manis kayu-kayu dari hutan larangan. Kayu tua dengan ketebalan yang melebihi kayu biasa. Kayu-kayunya menjadi rebutan para penjual kayu. Orang-orang itu berubah hidupnya. Dompet-dompetnya semakin menebal berkat menjualbelikan kayu-kayu yang tak pernah ditanamnya. Keceriaan muncul di wajah-wajah orang-orang di sana.

Hutan larangan semakin hari semakin tak punya pohon tua lagi. Orang-orang dekat hutan mengubahnya menjadi lahan pertanian. Pohon-pohon penghasil buah dan kopi dipikirnya lebih cocok tumbuh di hutan itu. Sepakatlah orang-orang itu mengubahnya. Karena humusnya masih bagus, semua pohon pengganti hutan hidup dengan suburnya. Pesta kegembiraan hampir setiap musim panen diadakan. Orang-orang berlomba-lomba mendatangkan para penyanyi agar dapat hiburan. Orang-orang itu yang dulunya suka keheningan sekarang semakin kemasukan kebisingan. Beragam alat musik tak pernah berhenti bersuara. Sebagai tanda mengikuti perubahan zaman. “Biar di pinggir desa yang penting jiwa kota,” bisiknya.

Semakin tak ada hutan lagi di desa itu. Wajah hutan larangan tak lagi menyimpan keangkeran. Semakin hari semakin ramai yang mau tinggal di sana. Jual-beli lahan sudah terjadi. Bangunan-bangunan baru dengan beragam tipe berjejer memperlihatkan keangkuhannya. Maklar tanah silih berganti mendatanginya. Saling mengaku memiliki lahan juga muncul. Orang-orang desa itu yang dulunya akur tak lagi memperlihatkan keakurannya. Saling sapa pun jarang. Uang menjadi yang utama. Hampir tak ada lagi ditemui ketenangan.

Alam tak mau terima rupanya. Musim hujan tak seperti biasanya. Telah terjadi perubahan musim katanya, semestinya kemarau, tapi hujan terus saja terjadi. Tanah di bekas hutan itu mulai tak kuat menahan beban air. Tanah longsor telah terjadi. Pergerakan tanah terjadi. Likuivaksi mulai menghantui desa itu.

Rasa bersalah datang belakangan. Hutan larangan yang dulunya sebagai resapan air hanya menjadi kisah saja. Upacara permohonan maaf pun digelar. Orang-orang desa itu mendatangi mulut gua untuk meminta ampun. Upacara guru piduka  dihaturkan.

Lamat-lamat dari dalam gua, terdengar auman harimau semakin menjauh seperti merintih kesakitan dan kehausan. Orang-orang itu ingat. Jika aumannya tak lagi terdengar bencana sewaktu-waktu bisa datang. Pamangku yang menghaturkan guru piduka memohon ampun pada penjaga hutan larangan. Beberapa orang yang ikut menghanturkan sajen guru piduka mulai kemasukan ruh harimau, saling terkam antar sesama dan saling cakar. Kuku jemarinya meruncing. Matanya mendelik. Kulihat taring harimau di mulutnya. Ruh harimau tak terima hutan larangan diganggu. “Kembalikan hutan ini! Kembalikan hutan ini!” salah seorang yang kerauhan berteriak-teriak.

Orang-orang itu saling tatap. Tak ada yang berani berjanji.  [T]

Catatan:

  • Banjar: organisasi masyarakat di Bali
  • Guru piduka: sajen permohonan maaf atas kekeliruan yang diperbuat.
  • Kerauhan: kesurupan
  • Pamangku: pemimpin upacara

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Tante Mimi dalam Satir Keramat

Next Post

Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co