12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
August 23, 2025
in Cerpen
Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co

HUTAN larangan itu tidak lagi mengeluarkan aura keramatnya. Pohon-pohon tuanya terlihat menangis. Tak ada ucapan terima kasih atas hidupnya. Dulu, tak ada yang berani mengusik ketenangan pohon di hutan itu. Siapapun yang masuk di hutan itu dapat dipastikan akan tersesat dan tidak akan mudah menemukan jalan pulang. Bahkan pernah sampai satu banjar ke hutan larangan membawa gong hanya meminta agar seorang pencari rumput bisa segera ditemukan. Ia bisa ditemukan setelah dua hari pencarian. Tubuhnya lemas dan mengatakan tak bisa melihat jalan kembali ke rumah.

Semakin lama, semakin angker saja kedengaran di hutan itu. Ada cerita yang beredar bahwa ada harimau jadi-jadian tinggal di hutan itu. Di dalam hutan larangan itu, ada sebuah gua yang tembus sampai ke gunung. Konon, hutan itu adalah penyangga gunungnya yang membuatnya lebih berwibawa. Sungai-sungai kecil pun tetap berair bening. Beberapa mata air muncul di sekitarnya yang menambah kesejukan hati setiap yang memandangnya. Air pegunungan yang meluarkan vibrasi kesucian.

Di lorong masuk gua, terdapat dua pohon cemara tua. Pohon cemara yang berumur ratusan tahun seolah-olah pengawal harimau tua. Harimau tua pejaga hutan. Setiap yang melintas di depannya bisa celaka jika tidak minta izin. Karena sudah usia, harimau itu tak bisa bergerak cepat sewaktu masih muda. Tubuhnya semakin ringkih. Taringnya sudah ada yang tanggal. Kumisnya mulai menipis tak segarang dulu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh orang-orang untuk memburunya. Ada segerombolan pencari satwa langka yang sedari dulu mengharapkan dapat kumis harimau itu.

Konon, jika memakai kumis harimau, bisa segarang dan berwibawa seperti harimau. Sekali gertak, langsung tunduk dan tak berkutik lagi. Orang-orang pencari kumis harimau itu sepakat memasang perangkap agar bisa ditangkap hidup-hidup. Dipasanglah jeratan, tapi tak berhasil. Semakin bertambah yakin orang-orang pencari kumis harimau itu bahwa harimau itu benar-benar jadi-jadian. Jika harimau jadi-jadian kumisnya diperoleh, akan semakin beriwbawa begitu ramai dibicarakan antar pencinta kumis harimau.

Mereka tak kehabisan akal. Segala jalan ditempuh. Gagal satu jurus yang lain semakin mulus. Mereka sepakat membawa jaring ke hutan larangan. Memang kuakui nyalinya gede juga, mereka tunggui di depan gua sampai beberapa hari. Tiba-tiba terdengar auman harimau dari dalam dan berlari ke mulut gua. Jaring yang sudah terpasang langsung diterjangnya dan harimau itu tertangkap tanpa ada perlawanan berarti. Matanya seperti minta pertolongan. Ia menyadari nyawanya tak mungkin akan terselamatkan. Sorak kegirangan para pencari kumis harimau terdengar.

 “Akhirnya tertangkap juga harimau ini. Kita akan semakin berwibawa dengan kumisnya. Kumis satwa langka. Jika dijual kumisnya akan semakin tebal dompet kita.” Mereka tersenyum penuh kemenangan.

 Semenjak harimau penjaga hutan larangan tak ada lagi, orang-orang sekitar mulai mengusik ke tenangan hutan larangan. Tidak ada lagi namanya hutan larangan. Pohon-pohon tua yang sudah berumur ratusan tahun ditebangnya. Kayu-kayunya diangkut ke luar desa. Laris manis kayu-kayu dari hutan larangan. Kayu tua dengan ketebalan yang melebihi kayu biasa. Kayu-kayunya menjadi rebutan para penjual kayu. Orang-orang itu berubah hidupnya. Dompet-dompetnya semakin menebal berkat menjualbelikan kayu-kayu yang tak pernah ditanamnya. Keceriaan muncul di wajah-wajah orang-orang di sana.

Hutan larangan semakin hari semakin tak punya pohon tua lagi. Orang-orang dekat hutan mengubahnya menjadi lahan pertanian. Pohon-pohon penghasil buah dan kopi dipikirnya lebih cocok tumbuh di hutan itu. Sepakatlah orang-orang itu mengubahnya. Karena humusnya masih bagus, semua pohon pengganti hutan hidup dengan suburnya. Pesta kegembiraan hampir setiap musim panen diadakan. Orang-orang berlomba-lomba mendatangkan para penyanyi agar dapat hiburan. Orang-orang itu yang dulunya suka keheningan sekarang semakin kemasukan kebisingan. Beragam alat musik tak pernah berhenti bersuara. Sebagai tanda mengikuti perubahan zaman. “Biar di pinggir desa yang penting jiwa kota,” bisiknya.

Semakin tak ada hutan lagi di desa itu. Wajah hutan larangan tak lagi menyimpan keangkeran. Semakin hari semakin ramai yang mau tinggal di sana. Jual-beli lahan sudah terjadi. Bangunan-bangunan baru dengan beragam tipe berjejer memperlihatkan keangkuhannya. Maklar tanah silih berganti mendatanginya. Saling mengaku memiliki lahan juga muncul. Orang-orang desa itu yang dulunya akur tak lagi memperlihatkan keakurannya. Saling sapa pun jarang. Uang menjadi yang utama. Hampir tak ada lagi ditemui ketenangan.

Alam tak mau terima rupanya. Musim hujan tak seperti biasanya. Telah terjadi perubahan musim katanya, semestinya kemarau, tapi hujan terus saja terjadi. Tanah di bekas hutan itu mulai tak kuat menahan beban air. Tanah longsor telah terjadi. Pergerakan tanah terjadi. Likuivaksi mulai menghantui desa itu.

Rasa bersalah datang belakangan. Hutan larangan yang dulunya sebagai resapan air hanya menjadi kisah saja. Upacara permohonan maaf pun digelar. Orang-orang desa itu mendatangi mulut gua untuk meminta ampun. Upacara guru piduka  dihaturkan.

Lamat-lamat dari dalam gua, terdengar auman harimau semakin menjauh seperti merintih kesakitan dan kehausan. Orang-orang itu ingat. Jika aumannya tak lagi terdengar bencana sewaktu-waktu bisa datang. Pamangku yang menghaturkan guru piduka memohon ampun pada penjaga hutan larangan. Beberapa orang yang ikut menghanturkan sajen guru piduka mulai kemasukan ruh harimau, saling terkam antar sesama dan saling cakar. Kuku jemarinya meruncing. Matanya mendelik. Kulihat taring harimau di mulutnya. Ruh harimau tak terima hutan larangan diganggu. “Kembalikan hutan ini! Kembalikan hutan ini!” salah seorang yang kerauhan berteriak-teriak.

Orang-orang itu saling tatap. Tak ada yang berani berjanji.  [T]

Catatan:

  • Banjar: organisasi masyarakat di Bali
  • Guru piduka: sajen permohonan maaf atas kekeliruan yang diperbuat.
  • Kerauhan: kesurupan
  • Pamangku: pemimpin upacara

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Tante Mimi dalam Satir Keramat

Next Post

Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Penyalahgunaan AI, Privasi, dan Perspektif Psikologis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co