3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Tante Mimi dalam Satir Keramat

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
August 23, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Tante Mimi dalam Satir Keramat

Vito Prasetyo

Tante Mimi dalam Satir Keramat

: untuk Wayan Jengki Sunarta


setiap kali notifikasi muncul
ada sesak di dada Tante Mimi
tidak ada lagi cerita tentangnya
bagaikan sajak kehilangan makna
sering kali ia berharap, ada sapaan sekadar basa-basi
tapi itu hanya ilusi yang tak pernah berujung

lentik mata Tante Mimi seakan mengudap rindu
dari metafora malam, yang selalu saja terbaca samar
dibiarkannya air matanya mengurai pada musim panas
jika perlu menerka arah angin
dan mengembara ke padang tandus
mungkin di sana ia bisa belajar tentang ikhlas

hari berganti hari,
tetabuhan cinta tidak lagi nyaring terdengar
gema musik seakan menghapus kisah-kisah romantis
sebagian mungkin tersimpan pada museum ingatan
kelak terdengar dalam lirik lagu
yang dimainkan dalam irama zaman
kadang selembut jazzy, atau mungkin dalam tabuhan gamelan
tang membuat penonton melupakan apa itu cinta

El-puerto, kota ini terlalu kecil untuk menyimpan riwayatmu, Mimi
terkadang serupa kotak-kotak kecil beralas tanah
hingga pesan lalu-lalang, bersandar di dinding dermaga
menanti senja, sewarna pukat rindu
untuk merayakan candu asmara
yang tersisip di antara ribuan notifikasi di layar ponselmu
dengan dering senada lagu Vaya Condios

Mimi, engkau mungkin tinggalkan sebongkah cemas menggunung
dalam pengembaraan di grup cinta
yang berkali-kali engkau tawarkan dengan aroma sedap malam
dan kepada sajak, orang-orang menyambutmu
dalam pelukan seolah-olah tampak berperan protagonis
tetapi puisi selalu jujur
tidak pernah berpura-pura menjadi satir
di antara kata-kata yang telah kehilangan nalar keberanian

Ruang Imaji, 2025

Alter Ego

: untuk Arsy


aku tak ingin lagi melangkah dalam keraguan
oleh ucap yang sering kali tidak jujur
aku harus berjalan – bukan untuk menjauh
tapi untuk memerdekakan pilihan hatiku
tanpa mengikat pada hal-hal yang nantinya mengecewakan
dari perasaan yang selalu saja ego
bagaikan genggaman terikat erat
aku harus memulai, dengan sesuatu yang berkali-kali membuatku gagal
tetapi justru ada aroma wangi yang membuatku mengerti, apa itu kebebasan
bukan sekadar kembali tersenyum
sebab sering kali cermin waktu mengingatkan
bahwa cinta tidak harus hadir sempurna

Ruang Imaji, 2025

Gadis Kecil di Bukit Kintamani

aku mulai ragu
dengan mimpi-mimpi yang datang tiba-tiba
seakan malam sengaja diciptakan untuknya
terkadang ia hadir dengan bibir sensual
menawarkan cinta bagai paket komplit
menebar aroma di setiap ruang maya
dan kita eja sebagai teknologi masa kini

aku mencoba menerka
seakan memburu arah angin
dengan sisa keberanian yang ada
mungkin selebar jarak musim
tidak lagi berbatas
sebab terkadang keraguan menusuk tajam ke pangkal ingatanku
yang senantiasa larut dalam pertengkaran batin
seharusnya hanya menyisakan bayangan wajah seseorang
berwajah pekat
sewarna mendung yang tengah berkelana di rimba Afrika

ingin ‘kusampaikan mimpi ini
kepada kawanku yang mungkin tengah berjemur di Pantai Kuta
setelah sekian lama dibiarkannya rindu terpasung
di antara gelora ombak yang mencumbu bibir langit
pikirannya kosong dan mengembara
antara puisi dan gadis kecil berambut panjang di Bukit Kintamani
sama-sama tinggalkan titimangsa sunyi

tidak ada lagi getar notifikasi
di layar ponsel dengan nada desah
yang mengingatkan kisah-kisah romantis
di antara not-not lagu berirama bosas
aku membiarkan malam tanpa kata
menyisipkan rindu dalam sunyi
hingga tercipta nyanyian cinta
entah kepada siapa dinyanyikan

Ruang Imaji, 2025

Di Kamar Gelap

bila kita bertemu di kamar gelap
tidak lagi puisi yang engkau baca
karena kita, satu sama lain bukan lagi kata-kata
engkau dan aku, adalah dendam
dari keterasingan kita menuju cahaya

tidak juga cinta memiliki makna
ketika sepasang musim menjelma dendam
yang membasahi perasaan dalam kemarau panjang
sampai kapan kita bisa bertahan dengan situasi semacam ini
jika acapkali yang terucap hanya metafora tanpa tujuan

ada baiknya, kita mendefinisikan kembali makna cinta
seperti menghitung jarak timur dan barat
tak pernah ingin bersatu, meski musim senantiasa menyapanya
dan sajak berlari ke lorong-lorong pengap
mencari makna dalam keterbatasannya membaca kamar gelap

Malang, 2025

1912

: Kapal Titanic


ini mungkin percintaan kelas tinggi, hanya angin yang mendengarnya
tidak ada suara desah, seperti pikiranmu yang jauh melayang
menusuk ubun-ubun kepala
hingga nyaris retak seperti kaca
engkau bayangkan wajah seorang perempuan
bagai menyatukan kepingan garis yang terukir menjadi huruf
lalu engkau baca dengan lantang
hanya puisi tempat melengkapi imajinasi liar itu

biarkan semesta bernyanyi
di antara hiruk-pikuk zaman
sebab rindu tak lagi bicara tentang cara menyatakan cinta
terkadang hanya sebuah prosais untuk menyimpan musim
seperti badai ombak menerjang
dalam nyanyian pilu: my heart will go on
menusuk sampai ke pangkal ingatan
dan laut itu serupa sekat masa yang tersisa pada tatapanmu
masihkah engkau berteduh pada sajak-sajak
yang kini tidak lagi berbusana, nyaris telanjang
terbaring abadi di dasar lautan, sambil menanti cerita itu dibacakan kembali
dengan desah air laut membilur panjang, sejauh jarak waktu
yang tertulis 1912

Malang, 2025

Sesembahan Api

: kaum majusi


sudahlah, malam tidak lagi bergetar
kecuali Abolqasem Ferdowsi tidak lagi merindukan surga dan menikam rembulan
lihatlah, bulan telah beranjak
dan langkah kita mulai sempoyongan
bukan karena tanah-tanah ini sewarna pekat
adalah sebab puisi kehilangan cinta
hanya berkubang dalam percakapan doa
yang tidak lebih dari sepenggal ketakutan para zoroaster
waktu pun melipat sesembahan api
bukankah matahari lebih garang
menusuk-nusuk lubang rindu
sedalam lautan di Teluk Persia
seringkas jarak ingatan yang tidak pernah tercatat dalam nukil sejarah
dengan cara apa, pikiranmu harus berkelana

engkau lupa, mungkin Ashu Zarathustra sedang lelap bermimpi
di antara kokang senjata yang menjaga tidurnya
dan sajak mulai kehilangan nalar
mengutuk tanah-tanah legam yang melahirkan oroknya
nyatanya hidup selalu terbaca samar
seperti perjalanan untuk menunda kekalahan
dengan segenap peristiwa, kita tidak pernah mampu menuntaskannya
acapkali menghunjam mata kita
selain mengeja hidup dan menyelesaikannya dengan baik

lalu-lalang drama serupa pedati tua, meringkuk zaman
memaksa kita untuk meneteskan getah air mata
mungkin lebih baik diam, duduk merenung diri
pada larut malam yang jengah menanti ayam berkokok
dan perapian di tangan Majusi bertakzim pada suluk kitab

Malang, 2025

Gerbang Panas

: jalan menuju Hades


engkau mengembara dengan kata-kata
pada masa yang meninggalkanmu
dan pada waktu yang mengacuhkanmu

engkau mencoba berkeluh-kesah
pada puisi yang senantiasa diam
tetapi selalu mendengarkanmu
meski angin senantiasa mendera ingatanmu
dan matahari menyengat kulit tubuhmu
sebab hanya dengan puisi, cinta terasa hidup

kepada siang dan malam,
engkau menerka musim
di mana hari-hari terasa panjang untuk dilalui
dengan segenap peristiwa yang mengoyak ketabahan kita
seakan itu adalah gelombang ombak, yang pecahkan keberanian kita

barangkali, sesekali kita harus belajar pada lentera
ia menjadi hidup di antara kegelapan
meski matahari lebih garang darinya
sebagaimana kata-kata menjadi frasa terindah di antara kalimat tertulis
biarkan rindu menjadi titimangsa pada masa-masa yang mengukir arca kata-kata
mungkin, jejak musim hanya tinggalkan daun-daun kertas
pada waktu yang telah menuntaskan usia kita
dan mitologi Yunani mungkin serupa kayu menjadi arang
terbakar dalam peradaban modern
bisa jadi, itu neraka kuno
dari jalan pikiran untuk menguak gerbang panas
dan hanya kepada sajak, ia berteduh

Malang, 2025

Langit di Atas Karet Bivak

kata-kata tumpah ruah di langit kosong
aku menikamnya dengan celoteh sumbang
tetap saja cahaya mematahkannya

di masamu Chairil, langit berisi
kerap kali meneduhkan pusaramu
itu mungkin simfoni dalam kabung, yang
tiada henti penyair bertakziah kata-kata
kelak mereka ingin bertemu denganmu
dengan kata-kata yang ada dalam sajakmu
berputih tulang, sepasang jagal menanti
di batas semesta; wujud dan tidak wujud
awan putih berjalan rendah di Karet Bivak
seakan itu simbol keabadian
pada sunyi yang tidak terbaca
selain angka 28 April menancap di ingatan kita
entah itu perayaan kemenangan
atau mungkin kita hanya menunda kekalahan
dari angan-angan Chairil Anwar yang tidak terwujud

Malang, 2025

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Next Post

Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

by Chusmeru
May 22, 2026
0
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails
Next Post
Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co