25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Tante Mimi dalam Satir Keramat

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
August 23, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Tante Mimi dalam Satir Keramat

Vito Prasetyo

Tante Mimi dalam Satir Keramat

: untuk Wayan Jengki Sunarta


setiap kali notifikasi muncul
ada sesak di dada Tante Mimi
tidak ada lagi cerita tentangnya
bagaikan sajak kehilangan makna
sering kali ia berharap, ada sapaan sekadar basa-basi
tapi itu hanya ilusi yang tak pernah berujung

lentik mata Tante Mimi seakan mengudap rindu
dari metafora malam, yang selalu saja terbaca samar
dibiarkannya air matanya mengurai pada musim panas
jika perlu menerka arah angin
dan mengembara ke padang tandus
mungkin di sana ia bisa belajar tentang ikhlas

hari berganti hari,
tetabuhan cinta tidak lagi nyaring terdengar
gema musik seakan menghapus kisah-kisah romantis
sebagian mungkin tersimpan pada museum ingatan
kelak terdengar dalam lirik lagu
yang dimainkan dalam irama zaman
kadang selembut jazzy, atau mungkin dalam tabuhan gamelan
tang membuat penonton melupakan apa itu cinta

El-puerto, kota ini terlalu kecil untuk menyimpan riwayatmu, Mimi
terkadang serupa kotak-kotak kecil beralas tanah
hingga pesan lalu-lalang, bersandar di dinding dermaga
menanti senja, sewarna pukat rindu
untuk merayakan candu asmara
yang tersisip di antara ribuan notifikasi di layar ponselmu
dengan dering senada lagu Vaya Condios

Mimi, engkau mungkin tinggalkan sebongkah cemas menggunung
dalam pengembaraan di grup cinta
yang berkali-kali engkau tawarkan dengan aroma sedap malam
dan kepada sajak, orang-orang menyambutmu
dalam pelukan seolah-olah tampak berperan protagonis
tetapi puisi selalu jujur
tidak pernah berpura-pura menjadi satir
di antara kata-kata yang telah kehilangan nalar keberanian

Ruang Imaji, 2025

Alter Ego

: untuk Arsy


aku tak ingin lagi melangkah dalam keraguan
oleh ucap yang sering kali tidak jujur
aku harus berjalan – bukan untuk menjauh
tapi untuk memerdekakan pilihan hatiku
tanpa mengikat pada hal-hal yang nantinya mengecewakan
dari perasaan yang selalu saja ego
bagaikan genggaman terikat erat
aku harus memulai, dengan sesuatu yang berkali-kali membuatku gagal
tetapi justru ada aroma wangi yang membuatku mengerti, apa itu kebebasan
bukan sekadar kembali tersenyum
sebab sering kali cermin waktu mengingatkan
bahwa cinta tidak harus hadir sempurna

Ruang Imaji, 2025

Gadis Kecil di Bukit Kintamani

aku mulai ragu
dengan mimpi-mimpi yang datang tiba-tiba
seakan malam sengaja diciptakan untuknya
terkadang ia hadir dengan bibir sensual
menawarkan cinta bagai paket komplit
menebar aroma di setiap ruang maya
dan kita eja sebagai teknologi masa kini

aku mencoba menerka
seakan memburu arah angin
dengan sisa keberanian yang ada
mungkin selebar jarak musim
tidak lagi berbatas
sebab terkadang keraguan menusuk tajam ke pangkal ingatanku
yang senantiasa larut dalam pertengkaran batin
seharusnya hanya menyisakan bayangan wajah seseorang
berwajah pekat
sewarna mendung yang tengah berkelana di rimba Afrika

ingin ‘kusampaikan mimpi ini
kepada kawanku yang mungkin tengah berjemur di Pantai Kuta
setelah sekian lama dibiarkannya rindu terpasung
di antara gelora ombak yang mencumbu bibir langit
pikirannya kosong dan mengembara
antara puisi dan gadis kecil berambut panjang di Bukit Kintamani
sama-sama tinggalkan titimangsa sunyi

tidak ada lagi getar notifikasi
di layar ponsel dengan nada desah
yang mengingatkan kisah-kisah romantis
di antara not-not lagu berirama bosas
aku membiarkan malam tanpa kata
menyisipkan rindu dalam sunyi
hingga tercipta nyanyian cinta
entah kepada siapa dinyanyikan

Ruang Imaji, 2025

Di Kamar Gelap

bila kita bertemu di kamar gelap
tidak lagi puisi yang engkau baca
karena kita, satu sama lain bukan lagi kata-kata
engkau dan aku, adalah dendam
dari keterasingan kita menuju cahaya

tidak juga cinta memiliki makna
ketika sepasang musim menjelma dendam
yang membasahi perasaan dalam kemarau panjang
sampai kapan kita bisa bertahan dengan situasi semacam ini
jika acapkali yang terucap hanya metafora tanpa tujuan

ada baiknya, kita mendefinisikan kembali makna cinta
seperti menghitung jarak timur dan barat
tak pernah ingin bersatu, meski musim senantiasa menyapanya
dan sajak berlari ke lorong-lorong pengap
mencari makna dalam keterbatasannya membaca kamar gelap

Malang, 2025

1912

: Kapal Titanic


ini mungkin percintaan kelas tinggi, hanya angin yang mendengarnya
tidak ada suara desah, seperti pikiranmu yang jauh melayang
menusuk ubun-ubun kepala
hingga nyaris retak seperti kaca
engkau bayangkan wajah seorang perempuan
bagai menyatukan kepingan garis yang terukir menjadi huruf
lalu engkau baca dengan lantang
hanya puisi tempat melengkapi imajinasi liar itu

biarkan semesta bernyanyi
di antara hiruk-pikuk zaman
sebab rindu tak lagi bicara tentang cara menyatakan cinta
terkadang hanya sebuah prosais untuk menyimpan musim
seperti badai ombak menerjang
dalam nyanyian pilu: my heart will go on
menusuk sampai ke pangkal ingatan
dan laut itu serupa sekat masa yang tersisa pada tatapanmu
masihkah engkau berteduh pada sajak-sajak
yang kini tidak lagi berbusana, nyaris telanjang
terbaring abadi di dasar lautan, sambil menanti cerita itu dibacakan kembali
dengan desah air laut membilur panjang, sejauh jarak waktu
yang tertulis 1912

Malang, 2025

Sesembahan Api

: kaum majusi


sudahlah, malam tidak lagi bergetar
kecuali Abolqasem Ferdowsi tidak lagi merindukan surga dan menikam rembulan
lihatlah, bulan telah beranjak
dan langkah kita mulai sempoyongan
bukan karena tanah-tanah ini sewarna pekat
adalah sebab puisi kehilangan cinta
hanya berkubang dalam percakapan doa
yang tidak lebih dari sepenggal ketakutan para zoroaster
waktu pun melipat sesembahan api
bukankah matahari lebih garang
menusuk-nusuk lubang rindu
sedalam lautan di Teluk Persia
seringkas jarak ingatan yang tidak pernah tercatat dalam nukil sejarah
dengan cara apa, pikiranmu harus berkelana

engkau lupa, mungkin Ashu Zarathustra sedang lelap bermimpi
di antara kokang senjata yang menjaga tidurnya
dan sajak mulai kehilangan nalar
mengutuk tanah-tanah legam yang melahirkan oroknya
nyatanya hidup selalu terbaca samar
seperti perjalanan untuk menunda kekalahan
dengan segenap peristiwa, kita tidak pernah mampu menuntaskannya
acapkali menghunjam mata kita
selain mengeja hidup dan menyelesaikannya dengan baik

lalu-lalang drama serupa pedati tua, meringkuk zaman
memaksa kita untuk meneteskan getah air mata
mungkin lebih baik diam, duduk merenung diri
pada larut malam yang jengah menanti ayam berkokok
dan perapian di tangan Majusi bertakzim pada suluk kitab

Malang, 2025

Gerbang Panas

: jalan menuju Hades


engkau mengembara dengan kata-kata
pada masa yang meninggalkanmu
dan pada waktu yang mengacuhkanmu

engkau mencoba berkeluh-kesah
pada puisi yang senantiasa diam
tetapi selalu mendengarkanmu
meski angin senantiasa mendera ingatanmu
dan matahari menyengat kulit tubuhmu
sebab hanya dengan puisi, cinta terasa hidup

kepada siang dan malam,
engkau menerka musim
di mana hari-hari terasa panjang untuk dilalui
dengan segenap peristiwa yang mengoyak ketabahan kita
seakan itu adalah gelombang ombak, yang pecahkan keberanian kita

barangkali, sesekali kita harus belajar pada lentera
ia menjadi hidup di antara kegelapan
meski matahari lebih garang darinya
sebagaimana kata-kata menjadi frasa terindah di antara kalimat tertulis
biarkan rindu menjadi titimangsa pada masa-masa yang mengukir arca kata-kata
mungkin, jejak musim hanya tinggalkan daun-daun kertas
pada waktu yang telah menuntaskan usia kita
dan mitologi Yunani mungkin serupa kayu menjadi arang
terbakar dalam peradaban modern
bisa jadi, itu neraka kuno
dari jalan pikiran untuk menguak gerbang panas
dan hanya kepada sajak, ia berteduh

Malang, 2025

Langit di Atas Karet Bivak

kata-kata tumpah ruah di langit kosong
aku menikamnya dengan celoteh sumbang
tetap saja cahaya mematahkannya

di masamu Chairil, langit berisi
kerap kali meneduhkan pusaramu
itu mungkin simfoni dalam kabung, yang
tiada henti penyair bertakziah kata-kata
kelak mereka ingin bertemu denganmu
dengan kata-kata yang ada dalam sajakmu
berputih tulang, sepasang jagal menanti
di batas semesta; wujud dan tidak wujud
awan putih berjalan rendah di Karet Bivak
seakan itu simbol keabadian
pada sunyi yang tidak terbaca
selain angka 28 April menancap di ingatan kita
entah itu perayaan kemenangan
atau mungkin kita hanya menunda kekalahan
dari angan-angan Chairil Anwar yang tidak terwujud

Malang, 2025

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Next Post

Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co