23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Tante Mimi dalam Satir Keramat

Vito Prasetyo by Vito Prasetyo
August 23, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Tante Mimi dalam Satir Keramat

Vito Prasetyo

Tante Mimi dalam Satir Keramat

: untuk Wayan Jengki Sunarta


setiap kali notifikasi muncul
ada sesak di dada Tante Mimi
tidak ada lagi cerita tentangnya
bagaikan sajak kehilangan makna
sering kali ia berharap, ada sapaan sekadar basa-basi
tapi itu hanya ilusi yang tak pernah berujung

lentik mata Tante Mimi seakan mengudap rindu
dari metafora malam, yang selalu saja terbaca samar
dibiarkannya air matanya mengurai pada musim panas
jika perlu menerka arah angin
dan mengembara ke padang tandus
mungkin di sana ia bisa belajar tentang ikhlas

hari berganti hari,
tetabuhan cinta tidak lagi nyaring terdengar
gema musik seakan menghapus kisah-kisah romantis
sebagian mungkin tersimpan pada museum ingatan
kelak terdengar dalam lirik lagu
yang dimainkan dalam irama zaman
kadang selembut jazzy, atau mungkin dalam tabuhan gamelan
tang membuat penonton melupakan apa itu cinta

El-puerto, kota ini terlalu kecil untuk menyimpan riwayatmu, Mimi
terkadang serupa kotak-kotak kecil beralas tanah
hingga pesan lalu-lalang, bersandar di dinding dermaga
menanti senja, sewarna pukat rindu
untuk merayakan candu asmara
yang tersisip di antara ribuan notifikasi di layar ponselmu
dengan dering senada lagu Vaya Condios

Mimi, engkau mungkin tinggalkan sebongkah cemas menggunung
dalam pengembaraan di grup cinta
yang berkali-kali engkau tawarkan dengan aroma sedap malam
dan kepada sajak, orang-orang menyambutmu
dalam pelukan seolah-olah tampak berperan protagonis
tetapi puisi selalu jujur
tidak pernah berpura-pura menjadi satir
di antara kata-kata yang telah kehilangan nalar keberanian

Ruang Imaji, 2025

Alter Ego

: untuk Arsy


aku tak ingin lagi melangkah dalam keraguan
oleh ucap yang sering kali tidak jujur
aku harus berjalan – bukan untuk menjauh
tapi untuk memerdekakan pilihan hatiku
tanpa mengikat pada hal-hal yang nantinya mengecewakan
dari perasaan yang selalu saja ego
bagaikan genggaman terikat erat
aku harus memulai, dengan sesuatu yang berkali-kali membuatku gagal
tetapi justru ada aroma wangi yang membuatku mengerti, apa itu kebebasan
bukan sekadar kembali tersenyum
sebab sering kali cermin waktu mengingatkan
bahwa cinta tidak harus hadir sempurna

Ruang Imaji, 2025

Gadis Kecil di Bukit Kintamani

aku mulai ragu
dengan mimpi-mimpi yang datang tiba-tiba
seakan malam sengaja diciptakan untuknya
terkadang ia hadir dengan bibir sensual
menawarkan cinta bagai paket komplit
menebar aroma di setiap ruang maya
dan kita eja sebagai teknologi masa kini

aku mencoba menerka
seakan memburu arah angin
dengan sisa keberanian yang ada
mungkin selebar jarak musim
tidak lagi berbatas
sebab terkadang keraguan menusuk tajam ke pangkal ingatanku
yang senantiasa larut dalam pertengkaran batin
seharusnya hanya menyisakan bayangan wajah seseorang
berwajah pekat
sewarna mendung yang tengah berkelana di rimba Afrika

ingin ‘kusampaikan mimpi ini
kepada kawanku yang mungkin tengah berjemur di Pantai Kuta
setelah sekian lama dibiarkannya rindu terpasung
di antara gelora ombak yang mencumbu bibir langit
pikirannya kosong dan mengembara
antara puisi dan gadis kecil berambut panjang di Bukit Kintamani
sama-sama tinggalkan titimangsa sunyi

tidak ada lagi getar notifikasi
di layar ponsel dengan nada desah
yang mengingatkan kisah-kisah romantis
di antara not-not lagu berirama bosas
aku membiarkan malam tanpa kata
menyisipkan rindu dalam sunyi
hingga tercipta nyanyian cinta
entah kepada siapa dinyanyikan

Ruang Imaji, 2025

Di Kamar Gelap

bila kita bertemu di kamar gelap
tidak lagi puisi yang engkau baca
karena kita, satu sama lain bukan lagi kata-kata
engkau dan aku, adalah dendam
dari keterasingan kita menuju cahaya

tidak juga cinta memiliki makna
ketika sepasang musim menjelma dendam
yang membasahi perasaan dalam kemarau panjang
sampai kapan kita bisa bertahan dengan situasi semacam ini
jika acapkali yang terucap hanya metafora tanpa tujuan

ada baiknya, kita mendefinisikan kembali makna cinta
seperti menghitung jarak timur dan barat
tak pernah ingin bersatu, meski musim senantiasa menyapanya
dan sajak berlari ke lorong-lorong pengap
mencari makna dalam keterbatasannya membaca kamar gelap

Malang, 2025

1912

: Kapal Titanic


ini mungkin percintaan kelas tinggi, hanya angin yang mendengarnya
tidak ada suara desah, seperti pikiranmu yang jauh melayang
menusuk ubun-ubun kepala
hingga nyaris retak seperti kaca
engkau bayangkan wajah seorang perempuan
bagai menyatukan kepingan garis yang terukir menjadi huruf
lalu engkau baca dengan lantang
hanya puisi tempat melengkapi imajinasi liar itu

biarkan semesta bernyanyi
di antara hiruk-pikuk zaman
sebab rindu tak lagi bicara tentang cara menyatakan cinta
terkadang hanya sebuah prosais untuk menyimpan musim
seperti badai ombak menerjang
dalam nyanyian pilu: my heart will go on
menusuk sampai ke pangkal ingatan
dan laut itu serupa sekat masa yang tersisa pada tatapanmu
masihkah engkau berteduh pada sajak-sajak
yang kini tidak lagi berbusana, nyaris telanjang
terbaring abadi di dasar lautan, sambil menanti cerita itu dibacakan kembali
dengan desah air laut membilur panjang, sejauh jarak waktu
yang tertulis 1912

Malang, 2025

Sesembahan Api

: kaum majusi


sudahlah, malam tidak lagi bergetar
kecuali Abolqasem Ferdowsi tidak lagi merindukan surga dan menikam rembulan
lihatlah, bulan telah beranjak
dan langkah kita mulai sempoyongan
bukan karena tanah-tanah ini sewarna pekat
adalah sebab puisi kehilangan cinta
hanya berkubang dalam percakapan doa
yang tidak lebih dari sepenggal ketakutan para zoroaster
waktu pun melipat sesembahan api
bukankah matahari lebih garang
menusuk-nusuk lubang rindu
sedalam lautan di Teluk Persia
seringkas jarak ingatan yang tidak pernah tercatat dalam nukil sejarah
dengan cara apa, pikiranmu harus berkelana

engkau lupa, mungkin Ashu Zarathustra sedang lelap bermimpi
di antara kokang senjata yang menjaga tidurnya
dan sajak mulai kehilangan nalar
mengutuk tanah-tanah legam yang melahirkan oroknya
nyatanya hidup selalu terbaca samar
seperti perjalanan untuk menunda kekalahan
dengan segenap peristiwa, kita tidak pernah mampu menuntaskannya
acapkali menghunjam mata kita
selain mengeja hidup dan menyelesaikannya dengan baik

lalu-lalang drama serupa pedati tua, meringkuk zaman
memaksa kita untuk meneteskan getah air mata
mungkin lebih baik diam, duduk merenung diri
pada larut malam yang jengah menanti ayam berkokok
dan perapian di tangan Majusi bertakzim pada suluk kitab

Malang, 2025

Gerbang Panas

: jalan menuju Hades


engkau mengembara dengan kata-kata
pada masa yang meninggalkanmu
dan pada waktu yang mengacuhkanmu

engkau mencoba berkeluh-kesah
pada puisi yang senantiasa diam
tetapi selalu mendengarkanmu
meski angin senantiasa mendera ingatanmu
dan matahari menyengat kulit tubuhmu
sebab hanya dengan puisi, cinta terasa hidup

kepada siang dan malam,
engkau menerka musim
di mana hari-hari terasa panjang untuk dilalui
dengan segenap peristiwa yang mengoyak ketabahan kita
seakan itu adalah gelombang ombak, yang pecahkan keberanian kita

barangkali, sesekali kita harus belajar pada lentera
ia menjadi hidup di antara kegelapan
meski matahari lebih garang darinya
sebagaimana kata-kata menjadi frasa terindah di antara kalimat tertulis
biarkan rindu menjadi titimangsa pada masa-masa yang mengukir arca kata-kata
mungkin, jejak musim hanya tinggalkan daun-daun kertas
pada waktu yang telah menuntaskan usia kita
dan mitologi Yunani mungkin serupa kayu menjadi arang
terbakar dalam peradaban modern
bisa jadi, itu neraka kuno
dari jalan pikiran untuk menguak gerbang panas
dan hanya kepada sajak, ia berteduh

Malang, 2025

Langit di Atas Karet Bivak

kata-kata tumpah ruah di langit kosong
aku menikamnya dengan celoteh sumbang
tetap saja cahaya mematahkannya

di masamu Chairil, langit berisi
kerap kali meneduhkan pusaramu
itu mungkin simfoni dalam kabung, yang
tiada henti penyair bertakziah kata-kata
kelak mereka ingin bertemu denganmu
dengan kata-kata yang ada dalam sajakmu
berputih tulang, sepasang jagal menanti
di batas semesta; wujud dan tidak wujud
awan putih berjalan rendah di Karet Bivak
seakan itu simbol keabadian
pada sunyi yang tidak terbaca
selain angka 28 April menancap di ingatan kita
entah itu perayaan kemenangan
atau mungkin kita hanya menunda kekalahan
dari angan-angan Chairil Anwar yang tidak terwujud

Malang, 2025

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Frida Dwi Wahyuni Tentang FuramaXclusive Resort & Villas Ubud

Next Post

Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Lahir di Makassar, Februari 1964. Kini tinggal di Kabupaten Malang. Pernah kuliah di IKIP Makassar.

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Harimau Tua  | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co