24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Psikologi Memandang Korupsi [Bagian 1]

Isran Kamal by Isran Kamal
August 19, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KORUPSI merupakan salah satu fenomena sosial paling merusak di banyak negara, termasuk Indonesia. Korupsi tidak hanya menghancurkan sistem birokrasi dan kepercayaan publik, tetapi juga menimbulkan kerugian moral dan psikologis yang luas. Meski sering dipahami semata-mata sebagai masalah hukum atau politik, korupsi sesungguhnya juga dapat ditinjau dari berbagai perspektif psikologis.

Mengapa seseorang yang berpendidikan tinggi, religius, bahkan dipercaya masyarakat, tetap melakukan korupsi? Pertanyaan ini membawa kita pada ranah psikologi, di mana perilaku koruptif dapat dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara budaya, kognisi, dinamika sosial, kepribadian, dan moralitas.

Tulisan ini mencoba menelaah fenomena korupsi dari berbagai perspektif psikologis, mulai dari psikologi budaya yang menyoroti norma kolektif, psikologi kognitif yang mengungkap bias berpikir, psikologi sosial yang menyoroti pengaruh kelompok, hingga psikologi kepribadian dan moral yang menjelaskan dimensi individu. Pada akhirnya, meskipun setiap perspektif memberi penjelasan yang berharga, ada satu benang merah yang tidak bisa diabaikan: korupsi adalah tindakan destruktif yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Budaya

Dari perspektif psikologi budaya, perilaku koruptif dapat dipahami dalam kerangka nilai, norma, dan praktik sosial yang membentuk perilaku individu. Geert Hofstede (1980, 2001) melalui teori dimensi budaya menjelaskan bahwa masyarakat dengan tingkat power distance (jarak kekuasaan) yang tinggi cenderung lebih permisif terhadap penyalahgunaan wewenang, karena adanya penerimaan sosial terhadap hierarki yang timpang. Dalam konteks ini, praktik korupsi sering kali dianggap sebagai sesuatu yang “wajar” atau bagian dari sistem.

Selain itu, Harry Triandis (1995) dalam teori individualisme-kolektivisme menunjukkan bahwa dalam masyarakat kolektivis, loyalitas terhadap kelompok atau jaringan sosial bisa lebih diutamakan daripada kepentingan umum. Hal ini menjelaskan mengapa praktik nepotisme, kolusi, atau “bagi-bagi proyek” dalam lingkaran kerabat lebih mudah muncul, karena ikatan sosial dianggap lebih penting daripada prinsip keadilan universal.

Sementara itu, Shalom Schwartz (1992, 2006) melalui Theory of Basic Human Values menekankan adanya perbedaan orientasi nilai seperti konservatisme vs. otonomi dan hierarki vs. egalitarianisme. Pada masyarakat dengan nilai hierarkis yang dominan, perilaku koruptif bisa memperoleh justifikasi karena dipandang selaras dengan praktik patronase dan ketundukan pada otoritas.

Dengan demikian, dari perspektif psikologi budaya, korupsi bukan hanya masalah individu yang “nakal”, melainkan juga cerminan dari nilai budaya dan struktur sosial yang memungkinkan praktik tersebut tumbuh dan bertahan. Lebih jauh, fenomena ini menunjukkan bagaimana individu belajar dan beradaptasi dengan norma sosial yang berlaku.

Jika seseorang melihat bahwa orang-orang di sekitarnya menganggap korupsi sebagai hal wajar atau bahkan sebagai strategi bertahan hidup, maka individu tersebut akan lebih rentan menirunya. Proses ini sejalan dengan konsep cultural learning yang dijelaskan oleh Bandura melalui teori pembelajaran sosial bahwa perilaku tidak hanya lahir dari dorongan internal, tetapi juga dipelajari melalui observasi, imitasi, dan penguatan sosial. Dalam konteks korupsi, penguatan ini bisa berupa penerimaan sosial, status, atau keuntungan finansial yang dianggap sah menurut standar lingkungan tertentu.

Namun, meski budaya memberikan kerangka nilai dan legitimasi, keputusan individu untuk melakukan korupsi tetap dipengaruhi oleh proses kognitif internal. Setiap pelaku korupsi pada akhirnya melakukan rasionalisasi, justifikasi, atau bahkan distorsi berpikir untuk meredakan konflik moral yang mungkin muncul. Di sinilah psikologi kognitif mengambil peran penting untuk menjelaskan bagaimana bias, heuristik, dan proses pembenaran diri memungkinkan seseorang untuk merasa “benar” meskipun melakukan tindakan salah. Pembahasan berikutnya mengenai psikologi kognitif akan memperlihatkan mekanisme mental yang menopang dan memperkuat praktik korupsi dalam kehidupan sehari-hari.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Kognitif

Dari perspektif psikologi kognitif, korupsi dapat dipahami melalui cara individu memproses informasi, membuat keputusan, dan membentuk justifikasi moral terhadap tindakannya. Korupsi sering kali melibatkan mekanisme kognitif yang kompleks, termasuk distorsi kognitif, rasionalisasi, serta bias dalam penilaian moral.

Individu yang terlibat korupsi cenderung melakukan moral disengagement, yakni memutuskan kaitan antara tindakan yang salah dengan tanggung jawab pribadi, misalnya dengan berpikir “semua orang juga melakukannya” atau “uang negara toh tidak jelas ke mana perginya”. Proses ini memungkinkan seseorang mengurangi disonansi kognitif yang muncul ketika ada perbedaan antara nilai moral internal dengan tindakan menyimpang yang dilakukannya.

Sejumlah teori dalam psikologi kognitif membantu menjelaskan fenomena ini. Teori Cognitive Dissonance dari Leon Festinger (1957) menekankan bahwa ketika terdapat ketidaksesuaian antara sikap dan perilaku, individu terdorong untuk mencari justifikasi yang dapat meredakan ketegangan psikologis. Dalam konteks korupsi, seorang pejabat yang awalnya menolak praktik suap dapat kemudian membenarkan tindakannya dengan alasan kebutuhan keluarga atau tuntutan pekerjaan.

Selain itu, konsep bounded rationality yang diperkenalkan Herbert Simon (1955) juga relevan: individu tidak selalu membuat keputusan yang sepenuhnya rasional, melainkan berdasarkan keterbatasan informasi, tekanan situasional, dan kapasitas kognitif. Dalam situasi di mana peluang korupsi terbuka lebar dan risiko hukum dianggap rendah, keputusan untuk melakukan korupsi bisa dipersepsi sebagai pilihan “rasional” dalam kerangka terbatas tersebut.

Dengan demikian, psikologi kognitif menyoroti bahwa korupsi bukan semata masalah moralitas atau budaya, melainkan juga produk dari proses berpikir yang terdistorsi. Distorsi ini membuat individu mampu menyamarkan perilaku menyimpang sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan perlu. Pemahaman ini menjadi jembatan untuk melihat lebih jauh pada psikologi sosial, di mana interaksi dengan lingkungan, norma kelompok, dan tekanan sosial memperkuat pola kognitif tersebut hingga akhirnya mengakar dalam perilaku kolektif.

Korupsi dari Perspektif Psikologi Sosial

Dari sudut pandang psikologi sosial, perilaku koruptif dapat dijelaskan melalui dinamika kelompok, pengaruh sosial, dan norma yang berlaku. Salah satu konsep penting adalah conformity (konformitas), yaitu kecenderungan individu menyesuaikan sikap atau perilakunya dengan kelompok. Dalam konteks organisasi yang sudah terlanjur memiliki budaya permisif terhadap korupsi, individu baru yang masuk cenderung menyesuaikan diri dengan praktik tersebut agar diterima. Seperti yang ditunjukkan oleh eksperimen klasik Solomon Asch (1951), tekanan sosial kelompok dapat membuat seseorang menyetujui sesuatu yang jelas-jelas salah, hanya karena ingin dianggap “bagian dari kelompok”. Dalam organisasi birokrasi atau politik, fenomena serupa bisa mendorong orang yang awalnya idealis untuk ikut terjerumus dalam praktik korupsi.

Selain itu, konsep obedience to authority dari Stanley Milgram (1963) juga relevan. Milgram menunjukkan bahwa individu cenderung mengikuti perintah otoritas meskipun perintah itu bertentangan dengan nilai moral pribadinya. Dalam kasus korupsi, pegawai bawahan sering merasa terikat untuk menuruti instruksi atasan, misalnya memalsukan laporan keuangan atau menyalurkan dana secara ilegal. Mereka melakukannya bukan semata karena setuju, tetapi karena tekanan hierarki dan rasa takut terhadap konsekuensi bila menolak. Dengan demikian, otoritas dalam sistem sosial dapat memperkuat praktik korupsi melalui mekanisme kepatuhan.

Lebih jauh, teori social learning dari Albert Bandura (1977) juga menjelaskan bagaimana perilaku korupsi bisa menular. Individu belajar dari model atau figur yang dihormati. Jika mereka melihat senior atau tokoh publik berhasil memperoleh keuntungan besar dari korupsi tanpa konsekuensi serius, perilaku itu berpotensi ditiru. Hal ini diperkuat oleh mekanisme vicarious reinforcement ketika seseorang melihat orang lain mendapat “reward” dari tindakan menyimpang, dia juga terdorong untuk meniru hal itu meskipun sadar tindakan tersebut salah. Karena itu, pola korupsi sering berulang lintas generasi di lembaga yang sama, seakan menjadi tradisi tak tertulis.

Dengan perspektif psikologi sosial, korupsi tidak hanya dipahami sebagai hasil dorongan individu, tetapi juga sebagai produk tekanan kelompok, otoritas, dan proses pembelajaran sosial. Artinya, upaya pemberantasan korupsi perlu mempertimbangkan strategi yang mengubah norma kelompok, mengurangi kekuasaan otoritas yang sewenang-wenang, serta menghentikan siklus pembelajaran korupsi melalui teladan negatif.

Dengan demikian, tiga perspektif awal pada artikel ini yakni, psikologi budaya, kognitif, dan sosial, memberi gambaran bahwa korupsi lahir dari interaksi antara norma kolektif, cara berpikir yang terdistorsi, serta tekanan kelompok dan otoritas. Namun, kerangka ini baru menjelaskan setengah dari persoalan. Realitasnya, tidak semua individu yang hidup dalam budaya permisif, terpapar bias kognitif, atau berada dalam kelompok koruptif akhirnya terjerumus. Ada orang-orang yang tetap bertahan menjaga integritasnya.

Perbedaan ini menuntun kita untuk melihat lebih dalam pada faktor internal yang lebih personal, yakni bagaimana kepribadian, regulasi diri, serta perkembangan moral berperan dalam membentuk kerentanan atau ketahanan seseorang terhadap praktik korupsi. Aspek inilah yang akan dibahas lebih rinci dalam Bagian Kedua tulisan ini, yang mengulas korupsi dari perspektif psikologi kepribadian dan psikologi moral. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Ketika Jolly Roger “One Piece” Berkibar di Hari Kemerdekaan
“Digital Detox” sebagai Revolusi Eksistensial: Upaya Kembali ke Diri Sendiri di Tengah Era “Overconnectivity”
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
Tags: Anti KorupsiPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jia CURATED 2025: Bali sebagai Episentrum Kreativitas Global

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [8]–Bertemu Orang Baik, Memetakan Ulang Jalur Bentang Sumbawa

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [8]–Bertemu Orang Baik, Memetakan Ulang Jalur Bentang Sumbawa

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [8]–Bertemu Orang Baik, Memetakan Ulang Jalur Bentang Sumbawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co