PEMANDANGAN hijau, hamparan sawah dan pepohonan rindang yang berjejer adalah lanskap yang dirindukan bagi beberapa orang dalam kepadatan pulau Bali belakangan ini. Udara sejuk menghampiri tubuh saya ketika memasuki wilayah Desa Aan Klungkung. Kebetulan hari itu lumayan cerah, kedatangan saya dalah undangan dari teman saya Dhira Aditya untuk menyaksikan pertunjukan ujian tugas akhirnya bertajuk “Rahasia Bapak”. Dhira melanjutkan studi magister di Pasca Sarjana ISI Surakarta seusai menamatkan studi S1 di ISI Denpasar. Ia melaksanakan ujian di tanah kelahirannya Desa Aan, Klungkung.

Poster pentas “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025
Beberapa meter sebelum sampai di lokasi pertunjukan (rumah Dhira), saya dihadapkan dengan beberapa baris bangunan yang terlihat baru namun agak sedikit kurang terawat. Pasir, koral dan sampah plastik berserakan dimana-mana, begitupun dedaunan dan debu-debu yang melekat di lantai bangunan itu. Di depan pilar bangunan tertancap simbol bertuliskan tourist information, Aan Secret Waterfall, Aan Tourism Village dan beberapa tulisan lembaga-lembaga milik pemerintah.

Menurut penuturan Dhira, sekitar tahun 2018 bapaknya (I Nyoman Kariasa) dan beberapa warga sekitar mempelopori terciptanya destinasi wisata air terjun yang mereka namakan Aan Secret Waterfall. Mereka membabat rimbunnya pepohonan dan membersihkan sampah di yang mengalir di sebelah selatan desa. Kemudian tempat ini di kembangkan menjadi destinasi wisata alam. Hal ini kemudian melatar belakangi ide gagasan karya “Rahasia Bapak”. Dhira terinspirasi dari upaya-upaya bapaknya menjaga lingkungan sampai-sampai mempelopori Aan Secret Waterfall dan menjadi tempat wisata edukasi.

Saya kemudian tiba di Lokasi tepat pukul 14:00 sesuai dengan informasi waktu yang tertera di brosur. Untungnya pertunjukan belum di mulai, saya masih sempat berkeliling di sekitar pekarangan rumah itu. pekarangan rumah Bali yang masih mempertahankan konsep tradisional Bali, sikut satak. Pekarangan itu dipenuhi banyak orang, beberapa laki-laki mengenakan pakaian adat Bali bertelanjang dada, begitu juga beberapa Perempuan mengenakan kebaya dan kamen.
Satu jam menunggu pertunjukan tak kunjung mulai. Kurang lebih pukul 15:15 dosen pembimbing dan penguji tiba di Lokasi. Mas Eko Supriyanto atau yang lebih dikenal dengan Eko Pece Adalah satu dari beberapa dosen itu. Dhira menyambut mereka di depan rumah dengan hangat, ia mengenakan pakaian yang sama dengan laki-laki lainnya. Setibanya di pekarangan rumah, Dhira nampak berlagak seperti seorang guide turis-turis di tempat-tempat wisata di Bali. ia mulai menceritakan beberapa kegiatan yang dilakukan oleh penampil. Terlihat beberapa bule-bule ditemani guidenya membaur di dalam kumpulan penonton saat itu.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Luciana Ferrero
Pertama-tama ia menjelaskan kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak perempuan di Bale Dauh (bangunan di sebelah barat pekarangan). Mereka terlihat sedang membuat bancangan (daun aren yang dihias dengan banyak bunga di ujungnya). Saya jadi bernostalgia ketika masih duduk di bangku SD. Dua hari sebelum merayakan upacara besar di sekolah, saya dan teman-teman biasanya diminta untuk membawa bancangan sebagai hiasan pilar-pilar bangunan kelas oleh bapak guru.
Setelahnya, ia beranjak ke Bale Daja (bangunan di sebelah utara pekarangan). Terdengar riuh bunyi gamelan gender wayang yang ditabuh anak laki-laki, mereka ditemani satu orang dewasa yang berperan menjadi guru. Seusai menjelaskan kegiatan di Bale daja, penonton lalu diarahkan untuk menyaksikan beberapa laki-laki dewasa yang sibuk mempersiapkan masakan. Ada yang membuat base rajang (bumbu khas Bali), menggoreng daging, mengangkat galon berisi air dan ada juga yang sedang melilit sate. Suasannya mirip seperti suasana ngayah atau nguopan pada persiapan upacara di Bali. Bedanya bunyi-bunyi yang hadir terdengar seperti bunyi yang terkomposisi dengan baik dan teratur. Dapur ramai, Dhira sibuk bercerita dan menjelaskan apa yang ada dihadapan penonton. Saya tak dapat mendengar pasti apa yang iya katakan saat itu. adegannya benar-benar seperti pasar, riuh dalam satu tempat saling berdesakan.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Digital Visual Art
Tepat di sebelah dapur, penonton disuguhkan adegan anak-anak belajar menari halnya di sanggar tari Bali, dua orang berperan sebagai guru, sesekali mereka membenahi pose agem anak-anak itu. Adegan belajar-mengajar masih tetap berlanjut, Dhira mengajak penonton keluar rumahnya melalui jalur belakang yang tembus dengan jalan kecil desanya. Sayangnya saya melewatkan satu adegan selanjutnya yang menampilkan proses belajar dan mengenal aksara Bali. Kondisi rauang dan kepadatan penonton menghalangi pandangan saya menyaksikan adegan ini.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025 | Foto : Digital Visual Art
Beberapa anak-anak telah menunggu di jalanan, mereka bernyanyi, menembangkan nyanyian yang biasa dilantunkan ketika bermain permainan tradisional. Penonton berebut tempat untuk sekedar menonton dan mendengar apa yang anak-anak itu lantunkan.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Digital Visual Art
Satu dua bait melantunkan nyanyian, mereka menggiring penonton untuk berjalan dan menyusuri jalan pedesaan itu. Jalanan yang sepi, jauh dari hingar-bingar kendaraan jalanan kota Denpasar atau Canggu. Langkah saya terhenti ketika tiba di sebuah bangunan di tengah hamparan perswahan hijau.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Digital Visual Art
Di atas atap terdapat beberapa orang berteriak “halooooo” “meriki ngeranjing “(ayo kesini masuk)” “Sampunan lek-lek (jangan malu-malu)”. Mereka mengundang penonton untuk datang dan masuk ke area bangunan yang ternyata Adalah warung yang di bangun oleh bapak Dhira. Mengingat adegan ini saya jadi membayangkan orang Bali yang membuka gerbang lebar-lebar untuk turis-turis agar datang ke Bali. Orang Bali dengan segala keramahannya menawarkan banyak hal yang mereka miliki untuk di jual, tanah warisan leluhur mungkin salah satunya.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Digital Visual Art
Penonton mulai memadati tempat itu, beberapa orang sangat sibuk di dalam warung. Beberapa penampil menawarkan penonton jajan laklak dan kopi. Dalam kesibukan itu, mereka melantunkan tembang, saling balas lagu antara penampil laki-laki dan Perempuan. Benar dugaan saya, semua adegan ini mirip sekali seperti ketika orang Bali menyambut turis-turis mancanegara. Menawarkan banyak hal, seperti penampil yang pada saat itu menawarkan jajan dan kopi secara cuma-cuma untuk dicicipi dan dinikmati.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Digital Visual Art
Di sebelah warung beberapa anak-anak telah menunggu, ketika penonton mulai berpindah mereka memulai sebuah permainan. Mereka bermain dan saling kejar satu dengan yang lain. Sesekali mereka melantunkan lagu-lagu anak-anak yang sepertinya tidak asing di telinga saya. Salah satu dari anak-anak itu bercerita tentang pentingnya menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. Ia juga mengingatkan kalau membuang sampah sembarangan bikin sungai kotor dan merusak ekosistem yang ada di dalamnya.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Digital Visual Art
Dulu ketika masih SD sekitar tahun 2015an, saban hari pulang dari sekolah saya selalu berkumpul di sawah sebelah desa bersama teman-teman. Saat itu saya bahkan bisa melihat laut dari sawah tempat saya bermain karena sawah terhampar begitu luas. Saya ingat sekali, hal ini sangat mirip dengan yang dilakukan oleh anak-anak itu. sepertinya sekarang sudah jarang saya temui anak-anak bermain di sawah, selain karena pengaruh screen time/gawai, sawah-sawah di Bali mulai habis dan lahan bermain berganti jadi beton-beton kokoh.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Luciana Ferrero
Anak-anak ini lantas berlari menuruni pematang sawah. Saya dan beberapa penonton mulai mengikuti Langkah mereka sampai akhirnya tiba di bibir tangga yang menurun. Saya diarahkan untuk mengikuti alur jalan menurun ini. ujungnya Adalah Sungai kecil yang kemudia mengarah ke air terjun aan. Saya mengikuti aliran sungai yang penuh rintangan, bersama banyak orang lain yang berjalan perlahan. Sungai ini diapit oleh dua tebing tinggi. Sepanjang perjalanan, saya penasaran dengan ujungnya dan terus bertanya-tanya apa yang ada di depan, Di ujung perjalanan, di sebuah air terjun, beberapa anak sudah bersiap dan menyanyikan lagu. Pertunjukan berakhir ketika anak-anak di air terjun itu selesai bernyanyi, dan saya diarahkan untuk memutar balik.
Nostalgia Masa Kecil, Sesuatu Yang Telah Hilang
Beberapa adegan yang hadir dalam karya ini menarik nostalgia masa lalu saya ketika masih kecil. Suasana pedesaan yang hening, burung-burung berkicau, capung dan kupu-kupu berterbangan. Tentu saya mengalami semua hal yang di tampilkan Dhira pada adegan rumah. Bancangan, belajar bermain gender dan adegan belajar menari mengorek-orek kenangan masa lalu saya saat masih anak-anak.
Yang paling terkesan di pikiran saya adalah ketika anak-anak ini bermain di atas lahan lapang di tengah-tengah jejeran padi. Dulu kakek setiap hari pergi ke sawah, saya selalu ikut untuk sekedar menemaninya memeriksa irigasi agar padi-padinya tetap mendapatkan asupan air yang cukup. Pun ketika musim panen, Sebagian besar keluarga pasti datang ke sawah, saya dan teman-teman bermain di atas tanah sawah yang padinya selesai dipanen.
Belakangan ini, kegiatan seperti apa yang saya alami sewaktu kecil sangat susah untuk ditemui. Di desa saya para petani dan beberapa generasi tua telah beralih profesi ke bidang pariwisata. Ada yang menjadi tukang kebun di villa-villa dan hotel sekitar. Ada yang menjadi pengelola dan juragan villa yang dibangun di atas bekas lahan sawah milik leluhurnya. Bahkan ada yang menjual sawannya untuk orang-orang asing. Anak-anak lebih memilih untuk bermain gawai. Selain karena pesatnya perkembangan teknologi dan godaan kemajuan zaman, lahan bermain sudah sangat sulit untuk ditemukan.
Pikiran saya berkecamuk dan terjadi ketegangan ketika menyaksikan tiap adegan yang ditawarkan Dhira kepada penonton selama pertunjukan berlangsung. Ketegangan yang kemudian membuka beberapa hal dan mengubah perspektif saya selama menonton.
Tur Museum Hidup yang Otentik
Dari beberapa pernyataan yang saya peroleh melalui Dhira, karya ini memang terlahir atas refleksiknya terhadap sosok Bapak dan segala upaya-upayanya merawat lingkungan sekitar. Namun jauh dari pada gagasan yang ditawarkan oleh Dhira, saya malah menangkap hal lain selama menyaksikan karya ini dan mengamati adegan demi adegan.
Dalam pikiran saya justru terbayang museum-museum yang memamerkan benda-benda hasil kebudayaan lokal. Barangkali museum yang di kelola pemerintah negeri atau museum-museum di negara barat yang acap kali memamerkan benda-benda hasil curian negara bekas jajahannya. Tampilan visual, pemilihan kostum, gelagat, pilihan artistic, dan yang paling penting intensinya menurut saya sangat dekat dengan tour museum. Lebih-lebih gestur yang dihadirkan Dhira seolah-olah menjadi guide/pemandu dari para penonton.

Miniatur rumah tradisional Bali | sumber : Dok. ANTARA/Ni Putu Lusyadewi/wsj
Bicara tentang museum saya jadi teringat Exposition Universelle 1889 dan Paris Colonial Exposition 1931. Pameran itu sama-sama diselenggarakan di Paris, Prancis dan tentunya sama-sama memamerkan kekayaan kebudayaan Indonesia sebagai kontingen Hindia Belanda yang mewakili koloni wilayah Belanda di Asia Tenggara.
Bukan hanya miniatur wilayah jajahan, pemerintah kolonial juga memamerkan hasil kebudayaan beserta sumber daya manusianya. Pada gelaran Exposition Universelle 1889, tercatat 4 penari asal Wonogiri mempersembahkan tariannya pada anjungan Hindia Belanda saat itu. keempat penari ini Adalah Sarkiem, Wakiem, Tamina dan Sukiya.

Sarkiem, Wakiem, Tamina dan Sukiya penari Jawa asal Wonogiri pada Exposition Universelle 1889 | sumber : https://images-cdn.bridgemanimages.com/
Kemudian pada Paris Colonial Exposition tahun 1931, pemerintah kolonial memamerkan kelompok Gong Kebyar asal Peliatan yang menampilkan beberapa pertunjukan saat itu. Anjungan Bali dan kelompok pertunjukan ini banyak dilirik dan dicatat oleh orang-orang barat. Antonine Artaud Adalah salah satu seniman besar teater yang mencatat tentang pertunjukan yang ditampilkan oleh grup Gong Kebyar peliatan.
Pasca perang puputan Badung 1906, Belanda berusaha menghapus dosa-dosanya dan menghilangkan reputasi buruknya di kancah internasional melalui kebijakan-kebijakan konservasi yang seolah-olah sedang menjaga keaslian Bali dari pengaruh luar. Hal ini sudah barang tentu juga ditunggai oleh kepentingan politis pemerintah kolonial. Dengan memasarkan produk pariwisata budaya Bali, salah satunya melalui Paris Colonial Exposition 1931. Kebudayaan Bali menjadi salah satu produk dalam etalase gelaran Paris Colonial Exposition.

Penari Bali di depan anjungan Bali/Hindia Belanda pada Paris Colonial Exposition 1931| sumber : https://gatholotjo.com/
Hal ini kemudian membuka gerbang besar bagi pariwisata masuk ke Bali. Turis-turis berlibur ke Bali menikmati segala hal yang begitu murah, slogan-slogan “Bali the last paradise” juga lahir dari sini. Semenjak saat itu perspektif orientalisme mulai tumbuh dan mengakar di Bali. Bali selalu ditatap sebagai objek eksotis dan seksis. Sangat-sangat konservatif, bahkan gagasan konservasi dan tatapan orientalisme ini menubuh pada masyarakat, seniman dan institusi seni di Bali hari ini.
Tampilan visual Dhira dan beberapa penampil membuat saya teringat dengan hal-hal yang telah saya tulis diatas. Keotentikan, asli, Bali yang original, yang eksotis dan seksi menurut turis-turis barat. Lantas apa benar yang ditampilkan Dhira Adalah realita Bali hari ini? Bali yang seperti apa sebetulnya yang ingin dirujuk?
Pariwisata dan Ekor-ekornya
Merupakan suatu ketegangan jika dewasa ini kita membicarakan kehadiran pariwisata di Bali. Persoalan ini begitu kompleks dan bahkan akan menjadi pembahasan yang panjang jika melihat ke belakang dan ke depan. Saya meyakini jika segala hal yang terjadi pada pertunjukan “Rahasia Bapak” sangat dekat dengan konteks pariwisata.
I Nyoman Kariasa (Bapak dhira) mempelopori terbentuknya Desa Wisata Aan melalui keberadaan Aan Secret waterfall hasil karyanya dan beberapa warga sekitar. Tentu ini bukan sesuatu yang instan. Saya sangat mengapresiasi segala perjuangan bapak Dhira dalam mengupayakan hal ini. terlebih perjuangan ini berangkat dari kesadaran atas pentingnya menjaga lingkungan.
Namun, seperti yang kita ketahui, pariwisata akan selalu menuntut akomodasi dan hospitality. Yang saya maksud adalah bagaimana kemudian konsekuensi atas segala persoalan ini? kita dapat dengan mudah menemui kasus pergeseran fungsi lahan produktif di Bali yang sangat marak belakangan ini. Saya menjadi khawatir apakah hal ini juga akan terjadi di wilayah ini? sampai kapan pemandngan hijau dan udara segar ini akan bertahan dari tuntutan komoditi pariwisata?

Candi Bali anjungan Hindia Belanda pada Paris Colonial Exposition 1931| sumber : https://gatholotjo.com/
Orang Bali selalu menyambut turis bagaikan malaikat penyelamat. Sering kali kita merasa bahwa pariwisata menyelamatkan kehidupan dan perekonomian orang Bali. apakah benar? Apakah itu murni timbul dari hati orang Bali paling dalam? Pernahkan kita memikirkan dan mempertimbangkan dampaknya di masa depan? Pikiran saya selalu berkecamuk mempertanyakan segala pergolakan ini.
Percakapan New Dramaturgy, Expanded Choreography dan Istilah Eko-ekoan
Seusai karya “Rahasia Bapak”, Dhira kemudian melangsungkan sidang sebagaimana ujian-ujian magister pada umumnya. Saat itu Adalah saat-saat Dimana Dhira mempertanggung jawabkan studi magisternya selama 2 tahun di ISI Solo. Pertanyaan demi pertanyaan, masukan, impresi dilemparkan oleh dosen penguji dan juga beberapa penonton kepada Dhira. Salah satu dosen mempertanyakan persoalan konteks koreografi yang digunakan Dhira dalam karya ini.
Yang membekas dalam pikiran saya saat itu adalah percakapan tentang pengetahuan new dramaturgy dan perluasan koreografi. Salah seorang dosen bertanya kepada Dhira tentang bagaimana ia bekerja dan menanggapi koreografi dalam proses penciptaan karya “Rahasia Bapak”. Dhira mencoba menjawab jika koreografi dalam karya ini bukan terfokus pada teknik kepenarian dan pola-pola gerak yang di pakai penampil, tetapi lebih kepada bagaimana pertunjukan ini terkontruksi. Saya mengerti betul apa yang dhira maksud adalah yang disebut perluasan koreografi/expanded choreography. Namun, saat itu ia belum sempat membahasakan hal ini.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Luciana Ferrero
Lantas salah satu penonton yang juga merupakan seorang dosen di kampus ISI Solo mencoba menambahkan apa yang disebut new dramaturgy dan bagaimana pengetahuan ini bergerak dalam karya Dhira yang tak terkontruksi secara pemahaman koreografi konvesional halnya pertunjukan-pertunjukan tari di atas panggung. Ia juga menambahkan terkait bagaimana tradisi mengkontruksi sendiri dramaturgi karya ini, bukan lagi sedang merekonstruksi sebuah tradisi menjadi bentuk yang baru atau kreasi.
Merujuk pada beberapa literasi tentang istilah new dramaturgy dalam sebuah pertunjukan, new dramaturgy adalah pengetahuan baru yang diperbaharui dari konteks dramaturgi klasik yang berhubungan dengan naskah dan stukutur pertunjukan dalam teater. New dramaturgy bukan lagi hanya berbicara tentang naskah dalam teater tapi ia juga memasuki ruang-ruang di luar teater salah satunya adalah tari. Dalam tari, pengetahuan new dramaturgy tidak hanya menuntut akhir dari proses kreatif, tetapi ia juga merujuk pada pengalaman dan hal-hal yang mengkonstruksi tubuh seperti ruang, isu-isu persoalan sosial, ekonomi dan politik bahkan trauma tubuh Rohani/jasmani.
Kemudian, konteks koreografi yang diperluas ini juga hadir di dalam pengetahun new dramaturgy. Merujuk pada sebuah artikel oleh Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta mengenai Expanded Choreography adalah sebagai berikut.
Perluasan praktik koreografi atau juga disebut dengan expanded choreography sendiri secara serentak juga bentuk kontemporesasi di dalam seni pertunjukan tari memiliki ragam arah. Selain praktik koreografi yang tidak lagi bergantung pada hubungan linier antara peristiwa pertunjukan dan penonton, namun juga bagaimana perluasan koreografi bekerja dengan lintas medium, dan penggunaan objek-objek lainnya semacam arsip dan visual.
Pengertian perluasan dalam konteks expanded choreography melalui medium, ruang, dan objek ini dimaknai sebagai perluasan kesadaran dari praktik koreografi itu sendiri, untuk menjangkau kemungkinan-kemungkinan isu koreografi yang lebih luas. Perluasan dari koreografi ini juga tidak lepas dari seiring dengan keragaman masyarakat kita hari ini yang semakin performatif karena telah dipengaruhi oleh media, khususnya media digital, dalam mengkontruksi dan melihat realitas keseharian mereka.
Kompleksitas masyarakat tersebut tentu saja mempengaruhi seni, khususnya seni pertunjukan tari yang koreografinya tidak lagi bisa dibatasi oleh pengertian-pengertian tari secara konvensional. Koreografi kontemporer (expanded choreography) pada akhirnya tumbuh menjadi perspektif dalam melihat fenomena sosial masyarakat beserta sosial medianya yang semakin performatif, untuk melihat pengertian gerak tubuh yang semakin luas (Dewan Kesenian Jakarta, 2022)
Selain tentang new dramaturgy dan expanded choreography, terminologi dan istilah-istilah yang menyangkut kata eko-ekoan berkelindan dan menjadi diskursus yang selalu dibahas ketika itu. ekologi, ekologi budaya, ekologi seni, eko feminisme dan banyak lagi eko-eko yang lain. Dhira dan beberapa dosen itu sangat sibuk menyoalkan eko-eko yang hadir di dalam gagasan karya “Rahasia Bapak”. Saya sendiri masih awam dengan istilah-istilah ini, namun saya mencoba melakukan pencarian terkait hal ini.

Dosen penguji karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Luciana Ferrero
Dhira menyatakan jika eko feminisme menjadi salah satu istilah eko yang sangat penting dan menjadi titik awal penciptaan karya ini. Dari pencarian mandiri yang saya lakukan, ekofeminisme ini merujuk pada perilaku-perilaku menjaga dan merawat lingkungan di dalam ideologi feminis. Isu-isu menyakut feminisme di dalam gagasan penciptaan pertunjukan menjadi sangat gencar sekali dewasa ini. Memang, dalam ideologi feminisme kata-kata yang menyangkut feminis bukan lagi terpenjara dalam konteks gender dan seks semata, tetapi lebih kepada laku yang dijalankan.
Karya “Aan Secret Waterfall” oleh I Nyoman Kariasa

I Nyoman Kariasa (bapak Dhira mengenakan pakaian adat Bali) 2025|Foto : Luciana Ferrero
Alih-alih menghubungkannya dengan keseluruhan pertunjukan “Rahasia Bapak” saya malah menatap praktik bapak Dhira selama kurang lebih 7 tahun Adalah bagian dari expanded choreography itu sendiri. Bagi saya menarik jika Dhira mencoba membaca peluang ini di dalam pemahamannya mengenai apa itu koreografi dalam pengetahuan expanded choreography.
Bukan lagi tentang apa yang hadir di rumahnya dan warung buatan bapaknya, tetapi tentang usaha dan upaya bapak Dhira dalam menjaga dan merawat lingkungan sekitarnya. Barangkali jika saya ada di posisi Dhira, saya akan memilih sungai dan air terjun Aan sebagai site utama dan satu-satunya panggung dari pertunjukan “Rahasia Bapak”. Saya merasa jika klimaks karya ini adalah perjalanan bapak Dhira dan beberapa warga dalam membersihkan sungai dari sampah.

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Luciana Ferrero
Jika merujuk pada pengetahuan expanded choreography. Bagi saya sosok bapak I Nyoman Kariasa adalah koreografer dalam karyanya “Aan Secret waterfall”. Dalam praktiknya ia mempelopori segala hal, menggerakan beberapa warga, mengkontruksi ruang ini sebagaimana mestinya, kemudian menjaga dan memelihara ekosistem. Saya sejujurnya sangat ingin merasakan apa yang ditunaikan oleh bapak Dhira pada air terjun Aan. Menarik jika kemudian penonton dilibatkan dalam pertunjukan sebagai partisipan.
Di luar segala konsekuensi yang kemudian timbul atas semangatnya membangun desa wisata, saya sangat kagum dengan praktik yang ia amini dalam menjaga lingkungan sekitarnya. Tidak banyak orang Bali yang memiliki kesadaran atas lingkungan di tengah-tengah pesatnya perubahan zaman. Saya sangat tercengang, ketika satu waktu bapak Dhira memberikan pernyataan terkait apa yang ia lakukan. Tentang Tri Hita Karana, ia adalah orang yang berhasil menerapkan konsep Tri Hita Karana di dalam kehidupannya. Bukan seperti pemerintah Bali yang hanya meminjam konsep ini untuk slogan-slogan kebijakannya yang omon-omon. [T]

Karya “Rahasia Bapak” oleh Dhira Aditya 2025|Foto : Luciana Ferrero
Penulis: Mang Tri Ray
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























