2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Rahasia Bapak”,  Pertunjukan Tari Penuh Kekacauan — Catatan Menonton Karya Ujian Mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta di Desa Aan

Lanang Taji by Lanang Taji
August 14, 2025
in Ulas Pentas
“Rahasia Bapak”,  Pertunjukan Tari Penuh Kekacauan — Catatan Menonton Karya Ujian Mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta di Desa Aan

Pertunjukan Rahasia Bapak di Desa Aan | Foto-foto: Luciana Ferrero

HARI itu adalah hari terakhir yang disediakan oleh Juli, tepatnya Rabu, 30 Juli 2025. Sebidang langit mendung. Beberapa bilangan jalan basah diguyur hujan lebat, sementara yang lain hanya gerimis dengan jeda berupa reda.

Sebuah poster dari group whatsapp dengan caption memuat sebuah lokasi, membawa perjalanan berujung di sebuah desa bernama Desa Aan, Kecamatan Bajarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali. Sebuah poster pementasan seni pertunjukan, karya dari Dhira Aditya dengan tajuk “Rahasia Bapak”.

Poster tidak memberikan banyak informasi, selain judul, pembuat karya dan penguji, karena karya ini merupakan sebuah materi ujian. Tepatnya, ujian tugas akhir program magister, Pascasarjana ISI Surakarta. Tak banyak ada caption, selain hari, jam dan tempat yang kembali dipertegas, serta lokasi yang bisa menghadirkan titik yang harus dituju, ada kalimat:

“Pertujukan ini mengajak penonton turut merasakan dan menyusuri jejak keintiman, kepedulian, dan transformasi melalui tubuh, ruang, dan narasi emosional yang terjadi di antara air, tebing, pengalaman, dan kenangan”.

Sebuah kalimat yang cukup membuat penasaran seperti apa tubuh, ruang, dan narasi emosional tersebut akan dihadirkan dalam ruang pertunjukan. Rasa penasaran yang pada akhirnya membuat saya berujung pada sebuah pekarangan rumah dengan kerumunan asing, seasing nama pembuat karya, seasing Desa Aan.

Beberapa wajah yang lekat dalam ingatan akhirnya hadir, membuka peristiwa sapa-menyapa, cukup menghangatkan kedinginan pasca melalui guyuran hujan dalam perjalanan menuju Desa Aan, dan tentu saja perasaan asing di tengah kerumunan di pekarangan yang tidak kalah asing.

Pertunjukan “Rahasia Bapak” di halaman rumah yang luas di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Pekarangan yang menjadi lokasi pertunjukan adalah pekarangan khas yang biasa ditemui pada pekarangan warga Bali di pedesaan. Ada beberapa bangunan terpisah yang mengisi ruang pekarangan, dan pekarangan tempat saya berdiri kali ini, bangunan yang mengisi pekarangan cukup lengkap. Ada bale dauh (bangunan di sisi barat), bale daja (bangunan di sisi utara), sanggah (Pura keluarga), bale dangin (bangunan di sisi timur), pawon (dapur), bale delod (bangunan di sisi selatan).

Seorang lelaki tua berdiri dan menatap dari balik tembok sanggah, menatap ke area pekarangan yang kian ramai oleh penonton yang hendak menyaksikan tiap produksi dan tentu saja para penampil yang telah bersiap menunggu hari pementasan.

Di antara keriuahan, para penampil telah menempati masing-masing bangunan yang akan menjadi ruang pementasan. Bale dauh, diisi anak-anak perempuan dengan kemben (kain) dan kebaya putih serta properti berupa bancangan (sarana yang biasanya ditemukan pada prosesi bayi satu bulan tujuh hari, yang terbuat dari pucuk daun enau yang dirias dengan bunga).

Bale daja, bangunan hulu yang cukup tinggi diisi 4 orang anak laki-laki menghadap instrument gender yang telah tersaji di hadapan masing-masing anak. Demikian juga di pelataran dapur, beberapa pria dewasa dengan berang (golok yang biasa digunakan untuk memasak) dan talenan (landasan untuk memotong atau mencincang), merajang bumbu yang akan menjadi bagian dari adonan yang disajikan.

Di halaman rumput berlumpur, segerombolan anak laki-laki bertelanjang dada, hanya mengenakan kamben (kain) dan destar, berdiri. Berkerumun.

Sementara penonton menjadi kerumunan yang lain, yang hadir di halaman, di antara bangunan,  sesekali merapatkan diri ke bangunan yang memberikan keamanan dari gerimis.

Tim produksi yang sepertinya kerabat dan handai taulan empunya karya berkelaiaran di antara penonton, bangunan, dan penampil.

“Pertunjukan akan dimulai 15 menit lagi!” Suara seorang lelaki mengabarkan ketika jam menunjukkan angka 14.15.

Belajar menari adalah bagian dari Pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Beberapa saat kemudian beberapa orang menggiring dan menginformasikan jika pertunjukan akan segera dimulai dan penonton diharapkan keluar area pekarangan rumah. Informasi yang menjelaskan bahwa pertunjukan akan dimulai dari jalan raya di depan rumah.

Melangkah keluar pekarangan, penonton berdiri di tepian jalan, di antara kendaraan yang terpakir. Gerimis memberi reda dengan jeda, beberapa penonton muda berdatangan ingin terlibat menyaksikan pertunjukan.  

Area pekarangan dan ruang pertunjukan kini sepenuhnya menjadi milik penampil. Sementara penonton satu persatu berdatangan, menunggu.

Beberapa orang melangkah dari ujung jalan (dari arah utara ke selatan) menuju rumah yang area pekarangannya akan menjadi ruang pertunjukan. Beberapa orang yang tentu saja bukan penonton sembarangan. Mereka adalah beberapa sosok yang ditunggu, alasan pertunjukan ini lahir: para penguji.

Disambut oleh beberapa anak perempuan dengan kemben dan kebaya putih dan seorang lelaki bertelanjang dada, dengan kemben dan destar. Lalu diarahkan masuk menuju gerbang rumah, prosesi kecil pemberian bunga jepun (kamboja), simbolis penyambutan. Sederhana, kecil, intim namun tegas merupakan penanda jarak. Siapa kalian-siapa kami.

Tenang, tidak ada kalung bunga mewah, tarian penyambutan yang menampilkan perempuan dengan make-up tebal, rambut tertata rapi dan kostum yang mencolok serta gerakan molek. Sebuah prosesi khas yang mudah ditemui ketika para penjilat menyambut junjungannya. Pada prosesi penyambutan birokrasi dengan pejabat pusat sebagai tamu hal ini mudah dijumpai.

Keramaian Pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Setelah tim penguji masuk, panitia juga mempersilahkan para penonton untuk masuk. Kekacauan dan kebingunan lengsung menyusul setelah menaiki anak tangga menuju gerbang dan menapakkan langkah kaki di pekarangan ruang pertunjukan.

Kekacauan karena setelah penonton masuk, pekarangan menjadi sesak. Kebingungan karena harus berdiri di mana untuk bisa menyaksikan tiap adegan pertunjukan secara nyaman. Kekacauan dan kebingungan yang hadir adalah kejutan yang kemudian menstimulasi ingatan menikmati prosesi budaya dan atau kesenian rakyat.

Anak-anak bermain adalah bagian dari Pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Dalam prosesi tradisi budaya dan atau kesenian rakyat sulit berharap ada ruang nyaman ala standar pertunjukan di mana penonton dikonstruksi dalam sajian nyaman ruang menonton untuk menikmati para penampil di atas panggung yang berjarak. Dalam ruang kerakyatan, penonton dan penampil hadir dalam level yang sama. Dekat, intim, berjarak dalam kedekatan dan keintiman.

Di tengah kekacauan, seorang lelaki berceloteh menjelaskan, mengambil kendali. Ia memandu dari satu bangunan ke bangunan lain, dari satu babak ke babak lain. Mejelaskan.

Menceritakan pertunjukan, menjelaskan perjalanan

Dari bale dauh, di mana anak-anak perempuan merias pucuk daun enau/aren, melangkah menuju Bale Daja, dimana para bocah lelaki telah menampilkan tetabuhan gender dengan seorang lelaki muda dengan menggebu secara gerak tubuh dan suara mengajarkan adik-adiknya tentang patern dan pola yang harus diikuti.

Dari Bale Daja penonton bingung, bergerak, kemudian menuju dapur menyaksikan bagaimana dapur penuh laki-laki kekar yang memasak. Laki-laki dengan kamben dan destar, bertelanjang dada memamerkan otot dada dan lengan dan keterampilan mengunakan berang, semacam golok untuk memotong cabe, mengiris kulit, dan umbi rempah lain. Dalam posisi yang ditata sedemikain rupa, dengan talenan dan duduk saling berhadapan serta tentu saja obrolan mereka.

Dari dapur, sang pemandu mengajak menyaksikan bagaimana prosesi belajar menari yang dilakukan oleh sekerumunan bocah laki-laki di halaman berumput dan berlumpur oleh hujan.

Kegembiraan anak-anak pada Pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Tanpa informsi akan alur pertunjukan, tiba-tiba dari halaman rumput basah berlumpur tempat para lelaki menghadirkan babak bagaimana  proses belajar menari, bergeser ke sebuah pendopo di luar pekarangan rumah. Sebuah pendopo yang sepertinya menjadi ruang penyimpanan perabotan. Dalam bahasa modern disebut gudang yang ternyata dibagi sedemikian rupa untuk menjadi ruang belajar aksara Bali. Di pendopo itu babak pertunjukan berlanjut, menghadirkan bagaimana anak-anak belajar aksara Bali.

Sekali lagi pendekatan pertunjukannya adalah seni kerakyatan, tidak ada ruang nyaman untuk menyaksikan di tengah jubelan penonton.

Dari pendopo, kini anak-anak laki dan perempuan tiba-tiba mengisi jalur setapak dengan berlantaikan paving/conblock, bersenandung, bermain, merayakan kegembiraan. Melakukan permainan anak-anak. Permainan anak-anak berbasis pertemuan dan interaksi nyata, bukan perayaan virtual. Permaianan nyata, yang menghadirkan interaksi fisik, bukan online.

Menari di atas atap pada Pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Anak-anak yang begitu menikmati permainan yang mereka mainkan. Mereka perankan. Jangan lupa, ini masih dalam konstruksi pertunjukan. Keriangan anak-anak bermain, membawa perjalanan menonton keluar pekarangan, masuk menyusuri aspal tipis, alakadarnya dengan jejak bopeng dimana-mana digerus air.

Menyusuri jalan menjumpai Pura megah dengan bangunan wantilan, lalu balai subak, selokan khas dengan sampahnya, kandang ayam dengan musik koplo, kemudian tembuku sebelum kemudian memasuki area jalan produksi pertanian, jalan subak (yang memudahkan distribusi dan konsumsi petani akan pupuk kimia, solar dan traktor) menuju ruang pertunjukan selanjutnya.

Muda-mudi di atas atap menari, memanggil, mengajak untuk mendekat, dengan sapaan-sapaan yang dijelasakan oleh lelaki yang menjadi pemandu. Dengan kecanggungan satu-persatu penonton masuk.

Satu per satu mulai masuk. Itu menjadi peristiwa berikutnya setelah seseorang lebih dulu masuk, entah karena paham bahwa ini adalah pertunjukan interaktif, atau mungkin bagian dari panitia yang sengaja masuk lebih dulu untuk menstimulasi yang lain agar mengikuti ajakan penari di atas atap, yang sejak tadi berteriak-teriak mengajak masuk.

Kegembiraan anak-anak pada Pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Sebuah babak yang menyimulasikan situasi sosial untuk menggambarkan briung siu, bergerak karena kerumunan. Jika tidak ada yang masuk terlebih dahulu, maka tidak akan ada yang diikuti. Tapi ketika satu orang masuk, disusul oleh yang lain, lalu berikutnya lagi, maka pergerakan terus berlangsung hingga akhirnya semua masuk ke dalam ruang pertunjukan selanjutnya, area Aan Secret Waterfall

Dapur dalam bentuk yang lain hadir, asap mengepul serakaian memasak kudapan. Lalu satu-persatu laklak (kudapan Bali) hadir ke tengah-tengah penonton dengan tawaran dan kopi yang menyusul.

Laklak dan kopi di sore hari, sajian yang bisa merubah senja menjadi pagi. Harapan.

Sebuah adegan yang menyajikan bagaimana kesibukan dari sebuah dapur yang tiba-tiba didatangi segerombolan orang yang harus disuguhi dengan sajian kopi dan laklak, kudapan khas Bali.  

Babak di dapur Aan Secreet Waterfall ditutup dengan adengan pertarungan dua kelompok muda mudi, menggunakan pendekatan gegenjekan, bentuk acapela tradisional yang biasanya dilakukan para lelaki dalam situasi menikmati tuak. Sebuah peristiwa sebelum invasi speaker dan youtube yang membuat setiap rumah dan pertemuan menjadi ruang karaoke sumbang.

Pasca dapur Aan Secret Waterfall, penonton ditarik dengan sebuah babak drama permainan anak-anak di depan pendopo berasitektur joglo. Babak cerita, burung bangau, ikan dan sampah, dengan instumen kulkul. Sebuah bangunan konstruksi pertarungan ekologis, burung bangau pemangsa ikan dan sampah yang akan menghancurkan banguanan konstruksi ekologis.

Perjalanan menuju air terjun pada Pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Babak yang kemudian mengantarkan pada perjalanan ke ruang pertunjukan selanjutnya, Aan Secret Waterfall, air terjun rahasia Aan. Air terjun rahasia Aan, tidak rahasia karena hendak disembunyikan, namun tersembunyi karena tumpukan sampah.

Air terjun rahasia Aan, adalah sebuah air terjun yang keberadaannya terungkap setelah I Nyoman Kariasa atau yang akrab disapa dengan Pan Dhira di tahun 2018, yang kemudian berisinisatif untuk mengajak warga bergotong-royong mebersihkan sampah yang selama ini menyembunyikan air terjun Aan.

Menyusuri sungai pada pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Kemudain perjalanan berlanjut ke babak pamungkas, menyusuri setapak rabat beton dan serangkain anak tangga. Akar melintang yang dibiarkan begitu saja memaksa yang melintas untuk menunduk. Tangga cukup aman, namun naluri kesadaran akan ruang juga hadir, kesadaran yang mengendalikan ambisi yang menggebu atau menahan diri.

Pertimbangan yang membuat saya tidak menyaksikan pertunjukan “Rahasia Bapak” secara tuntas. Karena setiap ruang memiliki kapasitasnya, dan ketika yang lain sudah menggebu menginginkan, saatnya menarik diri dan membiarkan mereka duluan melampiaskan keinginannya.

Ya, saya tidak menikmati secara utuh, namun saya selalu memiliki sebuah keistimewaan yang melekat, subjektifitas sebagai penonton.

Di era netizen, bukankah penonton punya hak seenaknya?

Di kawasan air terjun Aan Secreet Waterfall | Foto: Luciana Ferrero

Sebagai penonton yang juga netizen, saya ingin menggunakan hak untuk menceritakan pengalaman dan kejutan-kejutan yang akhirnya membuat saya harus menuliskan ini.

Seperti halnya netizen, saya hendak menggunakan kuasa subjektifitas saya sebagai penonton untuk memilah dan memilih. Jika pertunjukannya biasa saja, ya sudah dinikmati. Jika jelek, cukup diamkan saja. Jika mengganggu, perlu diceritakan.

Ledakan Kejutan Rahasia Bapak

Suara gender Bali Daja tentu mejadi dominan bunyi yang mengisi pekarangan rumah yang sekaligus menjadi panggung pertunjukan. Bentuk nyaring dan eksotisme konstruktif, yang bisa dan biasa di replikasi.

Namun Pertunjukan “Rahasia Bapak” menghadirkan detail bunyi lian dari proses komunal. Bebunyian tersebut tidak hadir dalam ruang instrument gamelan, namun dalam laku. Bunyi yang dihasilkan golok ketika menimpa talenan dalam prosesi mencacah bumbu dan daging, yang merupakan rangkaian yang tidak bisa terpisahkan ketika proses memasak secara komunal dihadirkan.

Pertunjukan Rahasia Bapak, yang dikomposisi oleh Dhira Aditya merupakan sebuah pertunjukan yang menghadirkan laku Sang Ayah, I Nyoman Kariasa, yang memiliki ketertarikan dan ketekunan merawat lingkungan dan juga tradisi-budaya, sebuah laku yang melibatkan ruang hidup, rumah, sawah dan sungai. Ruang bertumbuh sekaligus mengisi relung-relung pengalaman masa kecil yang kemudian tanpa disadari menjadi kesadaran.

Bagian-bagian pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Pertunjukan menghadirkan proses komunal yang selama ini berlangsung dalam potongan-potongan kecil proses kegiatan, kini dihadrikan menjadi sebuah prosesi utuh. Menjadikan rumah sebagai ruang belajar lintas generasi, tradisi-budaya, dalam bentuk pelibatan anak-anak membuat bayangan, dalam bentuk latihan gender. Ruang belajar dalam bentuk tari dan aksara, serta oleh rasa dan aroma melalui proses di dapur. Yang tidak kalah, adalah menjadikan prkarangan sebagai ruang bermain permainan tradisional. 

Dari proses komunal tidak hanya menghadirkan kerografi gerak tubuh namun juga komposisi bunyi. Hal tersebut hadir dalam laku menuang air ke dalam jamban, sebuah adegan yang tidak hanya memperlihatkan bagaimana tubuh bergerak untuk melakukan proses menuang air namun juga bunyi dari air yang dituang ke dalam jamban.

Bunyi minyak panas menyambut bumbu yang telah dicincang dilempar ke pelukannya, peristiwa yang tidak hanya menghadirkan suara khas namun juga menghadirkan aroma wangi khas yang ditangkap indra penciuman. Aroma yang dekat dan lekat dengan ingatan yang biasa hadir dalam keseharian rumah.   

Di antara suara detail yang dihadirkan sebagai bagian dalam pertunjukan, ada suara yang hadir dari penonton. Menggemaskan. Jika tidak mau disebut kampungan. Suara yang hadir dari muda-mudi yang yang terikat dalam sebuah pertemanan dan sepanjang pertunjukan sibuk mengomentari setiap adegan dan “cekakak-cekikik” yang menyertai, yang menjadi elemen bunyi yang tegas dan hadir dengan nyata di tengah pertunjukan.

Namun suara-suara hadir dan tanpa disadari menjadi elemen kejutan dari pertunjukan yang berlangsung. Suara obrolan dengan cekakak-cekikik yang lahir sebagai reaksi pemuda-pemudi harapan bangsa yang hadir untuk menonton, yang tak bisa menahan diri untuk sadar bahwasanya ini sedang dalam ruang pertunjukan, bukan yang perlu dikomentari.

Bagian pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

Bebunyian penonton yang menjadi bagian pertunjukan dan mengingatkan bagaimana sebuah pertunjukan dihadirkan dalam ruang kerakyatan di mana penonton dan pregina (penari, pelakon) tidak dipisahkan dalam jarak panggung dan kursi penonton. Sebuah ruang utuh, di mana penampil dan penonton berada pada ruang setara dan bebunyian yang sadar sebagai reaksi dari tiap babak yang ditampilkan kemudian juga merupakan bagian yang menjadi keutuhan pertunjukan.

Sebuah pengalaman yang hadir begitu saja, ada detail-detail bebunyian yang hadir dan tidak perlu dijelaskan. Dihadirkan dalam konstruksi keterbukaan dan kebebasan untuk menikmati.

Termasuk kemudian untuk perjalanan menyusuri setapak di antara area persawahan, menuju air terjun. Lalu masuk menapaki anak tangga, lalu menunduk karena akar pohon, hingga sampai di persimpangan untuk memilih, turun atau balik kembali ke atas.

Ini adalah sebuah pertunjukan dimana membuka ruang kebebasan dari para penonton untuk memilih pengalaman menikmati perunjukannya. Membuka ruang untuk mengingatkan akan batas kesadaran.

Kejutan lain adalah ketubuhan koreografi, kehadiran lelaki yang memasak di dapur dan lelaki lain yang menuangkan air adalah bentuk ketubuhan yang lahir oleh ruang. Saya tidak tahu bahasanya apakah Eco-choreography atau apa, namun pada kenyataanya sebuah unit dengan kesadaran komunal dan upaya menjaga ingatan ruang dan menjaga ingatan ketubuhan. Menjaga ingatan yang sangat tidak koreografi dalam konstrusksi pertujukan panggung modern yang pada kenyataannya menyederhanakan gerak tubuh ergonomis adat menjadi simbolisme gerak yang menyederhanakan bagaimana gerak tubuh itu lahir, menjadi gerak pertunjukan.

Gerak yang bisa dinikmati namun jauh dari ruang hidup yang membentuk gerak tubuh tersebut.

Pengalaman yang tidak mungkin dilupakan adalah bagaimana sebuah pertunjukan menjadikan suara-suara penonton menjadi bagian dari pertunjukan.

Bagian pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

“Rahasia Bapak” bukan pertunjukan teater. Kenapa? Karena jika pementasan teater mereka akan bilang bahwa itu adalah pertunjukan teater. Seni pertunjukkan yang ditampilkan Dhira Aditya melalui “Rahasia Bapak” adalah pertunjukan tari.

Pertunjukan tari yang liar, yang menghadirkan tarian dalam bentuk perjalanan akan ingatan akan sang bapak.

Rahasia Bapak adalah upaya seorang anak bernama Dhira Aditya menceritaka gagasan dan ketekunan menjaga gagasasan dari sang ayah. Gagasan yang tidak diceritakan, tapi dilakukan, gagasan yang menumbuh.

Sebuah pengalaman menyaksikan seorang anak menghadirkan gagasan seorang ayah dalam bentuk pertunjukan. Menghadirkan setiap upaya dari gagasan dalam bentuk laku proses yang yang dihadirkan dalam ruang bernama rumah dengan aktifitas interaksi belajar komunal hingga perjalanan pada kesadaran lingkungan dan menemukan yang tersembunyi oleh tumpukan sampah.

Rahasia Bapak sebuah sajian yang membongkar rahasia seorang bapak akan imajinasi, gagasan, dan laku yang tidak dibicarakan namun dilakukan. Sialnya dibongkar oleh sang anak.

Dibongkar dengan sederhana nan intim dengan detail suara dan aroma, golog beradu dengan talenan, tuangan air, suara genit penonton muda, derap langkah, gemericik air selokan, seng beradu dengan bambu untuk menakuti burung. Dibongkar untuk menghadirkan dan mengingatkan laku harian adalah lakon, dan rumah-ruang bermain adalah panggung pertunjukan itu sendiri.

Bagian pertunjukan “Rahasia Bapak” di Desa AAn | Foto: Luciana Ferrero

“Rahasia Bapak” hanya upaya kecil sorang anak laki-laki menceritakan diam, laku, dan gagasan dari bapak yang ternyata komunikatif, terbuka, bersahaja, dan membuka ruang belajar bersama.

Yang perlu ditunggu adalah, bagaimana Rahasia Bapak ini membongkar kerak laku maskulin dan figure bapak, selain itu yang layak ditunggu bagaimana Dhira Aditya membongkar “Rahasia Bapak” untuk menghadirkan bagaimana Ibu dan Bapak lain di ruang hidup yang berbeda. [T]

13 Agustus 2025

Penulis: Lanang Taji
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
Tags: desa aanISI SurakartaKlungkungseni pertunjukanseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan – Indonesia

Next Post

Vibrasi Alami

Lanang Taji

Lanang Taji

Part time citizen, full time netizen. tukang tulis di I NI timpalkopi

Related Posts

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails
Next Post
Vibrasi Alami

Vibrasi Alami

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co