14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Makna Merdeka Versi  Suku Baduy: Refleksi  80 Tahun Indonesia Merdeka

Asep Kurnia by Asep Kurnia
August 17, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

Delapan puluh tahun, bukan waktu yang pendek, lebih tiga perempat abad lebih loh? Jika waktu yang panjang tersebut pertahunnya diisi oleh satu jenis pembangunan yang berwawasan lingkungan demi membangun kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, maka sudah delapan puluh program pemerintah yang sudah terlaksana dan berjalan bukan? Lalu di kekinian, sudah di tahap atau di level berapakah tingkat kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa ini bertengger?

Dan sudah sejauh mana tentang pencapaian, tantangan, dan kontribusi para pemimpin negeri dalam menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat NKRI selama 80 tahun perjalanan Indonesia merdeka?  Itu hanya refleksi sederhana atau merenungkan kembali tentang apa yang sudah terjadi dan dilakukan oleh para pemuka bangsa ini dalam mengisi kemerdekaan yang usianya sudah cukup menua.

Jika kemerdekaan yang sudah lama di-launching, diisi, lalu dikelola secara amanah oleh para pemimpin NKRI, maka: “Negara maju, negara kuat dan  negara bermartabat dengan berdaulat penuh secara ekonomi sudah pasti diraih, kemudian  tujuan negara menciptakan makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran sudah pasti tercapai sejak lama dan tidak hanya sebatas slogan” (Asep Kurnia, 2025).  Tapi, apakah kenyataan yang kita lihat saat ini? Tercapaikah keadilan kemakmuran tersebut, atau justru makin terbalik? 

Apakah saat ini negeri kita sedang sehat-sehat saja? Apakah rakyat dan bangsa ini sudah merasakan arti, fungsi dan makna “Merdeka” secara menyeluruh dan merata, atau jangan-jangan kata merdeka itu hanya dirasakan dan dinikmati oleh dan untuk kelompok-kelompok tertentu saja? Apakah suku Baduy  sebagai anak bangsa yang konstelasinya tidak terpisahkan dari kerangka NKRI juga sudah merasakan “Merdeka” secara utuh? Itulah beberapa  pemantik yang sengaja  penulis paparkan untuk membawa pembaca menikmati makna, pesan dan ajakan berpikir sehat pada narasi yang dibangun di tulisan ini.

Bagaimana dalam rentang waktu 80 tahun etnis Baduy menikmati, menjalani kehidupan adat dan kontribusinya di setiap peringatan hari kemerdekaan? Apakah etnis Baduy yang konon masih digolongkan sebagai salah satu etnis yang mengasingkan diri dari dunia modern, dan masih dikatagorikan atau dikonotasikan etnis yang kurang aktif dalam partisipasi kenegaraan selalu absen atau ikut memeriahkan kemerdekaan, sementara tugas kesukuan mereka adalah “ Ngasuh Ratu Nyayak Menak, neguhkeun nagara ka sakabeh negara, teu kabagean ngaramekeun nagara.” .. Yuk, ikutilah paparan singkat tulisan ini !

Poin-Poin Penting Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan

Refleksi berarti bergerak mundur untuk merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan. Refleksi 80 tahun kemerdekaan Indonesia pada tahun 2025 adalah momen perenungan mendalam tentang pencapaian bangsa, tantangan yang masih dihadapi, dan pentingnya menjaga persatuan serta mengusung nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk bangkit dari keterpurukan akibat menjamurnya tindakan korupsi, konfigurasi baru tentang politik dan menurunnya kepercayaan masyarakat pada penegakan hukum yang berkeadilan. Refleksi ini juga merupakan panggilan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, membebaskan rakyat dari kebodohan, dan mempertegas arah haluan bangsa demi mencapai keadilan, kesejahteraan  dan kemakmuran bangsa.

Hemat penulis, ada beberapa poin penting Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan di antaranya:

Pertama, pentingnya mempertahankan dan mengaktualisasikan nilai-nilai bangsa: “Perayaan kemerdekaan ke-80 adalah momen untuk merenungkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa, serta menjaga semangat persatuan-kesatuan yang disinyalir makin memudar dalam penerapan kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di kalangan generasi milenial.

Kedua, perenungan dan semangat kebangkitan : “Refleksi ini menekankan bahwa meski telah 80 tahun merdeka, bangsa Indonesia perlu tetap bersatu dan bergotong royong (rereongan), terutama dalam mengentaskan kemiskinan dan memerangi seluruh koruptor sebagai benalu dan penyakit kotor bangsa”.

Ketiga, perlu adanya evaluasi dan arah bangsa: “Refleksi ini mendorong evaluasi terhadap perjalanan bangsa dan memperjelas kembali arah haluan bangsa dalam bentuk GBHN, khususnya pentingnya pendidikan sebagai fondasi peradaban dalam menghadapi tantangan globalisasi sebagai panggilan untuk memerdekakan rakyat dari kungkungan kebodohan dan feodalisme, oligarki serta tidak hanya fokus pada kepentingan primordial semata. 

Keempat, pentingnya memahami sejarah: bahwa semboyan “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan dan melupakan sejarah) tetap relevan dan penting untuk mengingat perjuangan pahlawan dan menjaga kesadaran sejarah bangsa agar tidak melupakan akar perjuangan. Hindari dan blokade setiap upaya dan usaha dari pihak-pihak tertentu yang berhasrat membelokan peristiwa sejarah.

Kelima, Perlu ditingkatkan peran perjuangan lokal: Refleksi juga bisa mendalami dan mengungkap peran serta kontribusi daerah-daerah seperti etnis Baduy di Provinsi Banten dalam perjuangan kemerdekaan, yang perlu terus dikaji dan ditulis dalam sejarah untuk menjadi rujukan ilmu pengetahuan dan pendidikan peradaban kebangsaan. 

Jejak Leluhur Baduy Ikut dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Kisah ringkas di bawah ini adalah hasil rekam jejak spesial penulis terhadap tokoh adat terkemuka bapak Jaro Saidi sebagai Jaro Tanggungan Dua Belas Sepuh yang berkedudukan sebagai tokoh adat dalam kapasitas sebagai pemegang rahasia tentang silsilah dan cerita tentang siapa suku baduy itu.  Beliau adalah salah satu tokoh adat penting dengan  kewenangan  yang sangat kuat dalam menentukan keselamatan, keajegan dan arah perjalanan hukum adat etnis Baduy.

Manurut beliau, sesuai dengan tugas kesukuannya yaitu : “ neguhkeun agama kasakabeh agama,  neguh negara kasakabeh negara “ (Meneguhkan atau menegaskan agama ke semua agama, negara ke seluruh negara) sejak kehidupan di bumi dibuka, maka mengamati, membimbing keberadaan dan perjalanan manusia di bumi ini menjadi tugas kesukuan Baduy. Termasuk membimbing kemerdekaan NKRI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Bung Hatta.

Pak Jaro Saidi mengisahkan bahwa sebelum memproklamasikan, Bapak Ir. Soekarna datang menemui Puun Jandol, puun-nya Cibeo dan Bapak Jaro Saidi untuk meminta petunjuk dan restu tentang dibentuknya satu nama negara yang bisa mengakomodasi keragaman dan mempersatukan dari 17 Kesultanan dan Kerajaan yang ada pada saat itu. Selama 7 hari, Ir. Soekarno terus berdiskusi dan meminta petunjuk tentang nama negara, dasar negara dan konstitusi yang cocok dengan karakteristik bangsa. Pertanyaan dari Jaro Saidi dan Puun Jandol yang sempat tidak bisa dijawab adalah tentang sanggupkah Bapak memimpin negara baru dengan nama NKRI? Naon nu dimaksud NKRI teh?

Dari 3 pilihan jawaban yang dilontarkan, pak Soekarno memilih nama NKRI dengan makna atau arti “Negara Kesatuan Republik Indonesia”, tidak memilih National Kingdom Republic of Indonesia maupun Negara Kekasih Rahmatan Ilahi.  Itulah salah satu keterlibatan Baduy dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti yang diucapkan Ayah Mursid pada saat HUT RI ke 70 tahun 2015 di Istana Merdeka Jakarta.

Makna dan Arti Merdeka Menurut Suku Baduy

Sudut pandang etnis Baduy tentang Kemerdekaan Indonesia sebagai suatu bangsa belum terekspos secara jelas gamblang dan akurat. Para penulis etnis Baduy nyaris tak ada yang berani untuk mendeskripsikan secara lugas pandangan masyarakat Baduy terhadap arti dan makna “Merdeka “.

Padahal etnis Baduy sudah ada dan terakui keberadaannya sejak sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka. Hal ini bukan tanpa alasan, karena baduy masih diasumsikan tertutup dan menjalani budaya lisan tidak bersahabat dengan budaya tulisan, akibatnya berbagai informasi kesukuan mereka sulit digali sehingga kurang di/ terekspos.

Dari beberapa hasil diskusi, wawancara dengan tokoh adat dan warga Baduy, terpercik bahwa bagi etnis Baduy, arti “merdeka” tidaklah sekadar bebas dari belenggu penjajahan, melainkan kebebasan untuk tetap hidup sesuai dengan koridor adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Ini berarti bahwa etnis Baduy diberi kemerdekaan dalam memilih sekaligus menjalankan kehidupan tanpa terpengaruh oleh modernisasi, teknologi, dan budaya luar yang dianggap dapat merusak tatanan kehidupan mereka. Makna lainnya, bahwa merdeka berarti mampu mempertahankan dan melestarikan kearifan lokal sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya intervensi.

Menurut mereka, kebebasan juga berarti tidak terlepas dari tradisi dan aturan yang disebut ketaatan dan kepatuhan pada hukum adat “Ka-pu’un-an,” sebagai sebuah sistem kepercayaan dan kepemimpinan yang dianut oleh masyarakat suku Baduy Dalam, bahwa ada 3 Tangtu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik, tetapi hakikatnya satu yang disebut “Tri Tunggal”.

Kemerdekaan juga diartikan sebagai kebebasan untuk menolak, menyeleksi, dan atau mengadopsi pola-pola hidup modern dan segala bentuk teknologi, serta pengaruh budaya luar yang dianggap dapat mengganggu keharmonisan dan tatanan hidup mereka. Bagi suku Baduy, kemerdekaan juga terkait dengan kemampuan untuk hidup selaras dengan alam dan menjauhi perubahan yang bisa merusak keseimbangan ekosistem di sekitar mereka. Makna lain yang dianggap penting bahwa “merdeka” mereka maknai sebagai kemandirian dalam menjaga hubungan sosial dan mempertahankan nilai-nilai gotong royong / rereongan ( toleransi ) yang kuat di antara sesama anggota masyarakat. 

Merdeka bagi Baduy adalah dihormatinya seluruh identitas kesukuan serta dijaminnya pelaksaaan hukum adat serta Pikukuh Karuhun , diantaranya Pelaksanaan “ Ritual Seba Baduy dan tugas adat Ngasuh Ratu Nyayak Menak, ngabaratapakeun ngabaratanghikeun, Muja Ngalaksa Kapundayan…” Dan yang paling penting, “merdeka” menurut etnis Baduy adalah adanya kekebasan untuk berinteraksi dengan pihak mana pun serta menjalin bisnis tanpa ada pemaksaan dan intervensi sehingga mereka merasa terjamin dan dijamin untuk melakukan upaya dan usaha dalam rangka meningkatkan tarap kesejahteran mereka bebas dari intimidasi dan kekhawatiran.

Makna dan tafsiran versi lain tentang arti kemerdekaan menurut masyarakat Baduy mungkin masih ada, namun mohon maaf penulis belum mampu mendeskripsikan secara lugas dan meyakinkan. Sampai jumpa ditulisan berikutnya. [T]

Dirgahayu Republik Indonesia : “ Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera Indonesia Maju. — Dari Anak Negeri Cinta Indonesia, NKRI Harga Mati

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Strategi Apik Warga Baduy Dalam: Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [1]
Baduy Perlu Menciptakan Budaya Baru Demi Keberlangsungan Masa Depan Kesukuannya
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
Tags: Hari Kemerdekaan RImasyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Lingkungan, Pariwisata dan Bayang-bayang Orientalisme — Catatan Pentas “Rahasia Bapak” karya Dhira Aditya

Next Post

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co