2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Makna Merdeka Versi  Suku Baduy: Refleksi  80 Tahun Indonesia Merdeka

Asep Kurnia by Asep Kurnia
August 17, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

Delapan puluh tahun, bukan waktu yang pendek, lebih tiga perempat abad lebih loh? Jika waktu yang panjang tersebut pertahunnya diisi oleh satu jenis pembangunan yang berwawasan lingkungan demi membangun kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, maka sudah delapan puluh program pemerintah yang sudah terlaksana dan berjalan bukan? Lalu di kekinian, sudah di tahap atau di level berapakah tingkat kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa ini bertengger?

Dan sudah sejauh mana tentang pencapaian, tantangan, dan kontribusi para pemimpin negeri dalam menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat NKRI selama 80 tahun perjalanan Indonesia merdeka?  Itu hanya refleksi sederhana atau merenungkan kembali tentang apa yang sudah terjadi dan dilakukan oleh para pemuka bangsa ini dalam mengisi kemerdekaan yang usianya sudah cukup menua.

Jika kemerdekaan yang sudah lama di-launching, diisi, lalu dikelola secara amanah oleh para pemimpin NKRI, maka: “Negara maju, negara kuat dan  negara bermartabat dengan berdaulat penuh secara ekonomi sudah pasti diraih, kemudian  tujuan negara menciptakan makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran sudah pasti tercapai sejak lama dan tidak hanya sebatas slogan” (Asep Kurnia, 2025).  Tapi, apakah kenyataan yang kita lihat saat ini? Tercapaikah keadilan kemakmuran tersebut, atau justru makin terbalik? 

Apakah saat ini negeri kita sedang sehat-sehat saja? Apakah rakyat dan bangsa ini sudah merasakan arti, fungsi dan makna “Merdeka” secara menyeluruh dan merata, atau jangan-jangan kata merdeka itu hanya dirasakan dan dinikmati oleh dan untuk kelompok-kelompok tertentu saja? Apakah suku Baduy  sebagai anak bangsa yang konstelasinya tidak terpisahkan dari kerangka NKRI juga sudah merasakan “Merdeka” secara utuh? Itulah beberapa  pemantik yang sengaja  penulis paparkan untuk membawa pembaca menikmati makna, pesan dan ajakan berpikir sehat pada narasi yang dibangun di tulisan ini.

Bagaimana dalam rentang waktu 80 tahun etnis Baduy menikmati, menjalani kehidupan adat dan kontribusinya di setiap peringatan hari kemerdekaan? Apakah etnis Baduy yang konon masih digolongkan sebagai salah satu etnis yang mengasingkan diri dari dunia modern, dan masih dikatagorikan atau dikonotasikan etnis yang kurang aktif dalam partisipasi kenegaraan selalu absen atau ikut memeriahkan kemerdekaan, sementara tugas kesukuan mereka adalah “ Ngasuh Ratu Nyayak Menak, neguhkeun nagara ka sakabeh negara, teu kabagean ngaramekeun nagara.” .. Yuk, ikutilah paparan singkat tulisan ini !

Poin-Poin Penting Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan

Refleksi berarti bergerak mundur untuk merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan. Refleksi 80 tahun kemerdekaan Indonesia pada tahun 2025 adalah momen perenungan mendalam tentang pencapaian bangsa, tantangan yang masih dihadapi, dan pentingnya menjaga persatuan serta mengusung nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk bangkit dari keterpurukan akibat menjamurnya tindakan korupsi, konfigurasi baru tentang politik dan menurunnya kepercayaan masyarakat pada penegakan hukum yang berkeadilan. Refleksi ini juga merupakan panggilan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, membebaskan rakyat dari kebodohan, dan mempertegas arah haluan bangsa demi mencapai keadilan, kesejahteraan  dan kemakmuran bangsa.

Hemat penulis, ada beberapa poin penting Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan di antaranya:

Pertama, pentingnya mempertahankan dan mengaktualisasikan nilai-nilai bangsa: “Perayaan kemerdekaan ke-80 adalah momen untuk merenungkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa, serta menjaga semangat persatuan-kesatuan yang disinyalir makin memudar dalam penerapan kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di kalangan generasi milenial.

Kedua, perenungan dan semangat kebangkitan : “Refleksi ini menekankan bahwa meski telah 80 tahun merdeka, bangsa Indonesia perlu tetap bersatu dan bergotong royong (rereongan), terutama dalam mengentaskan kemiskinan dan memerangi seluruh koruptor sebagai benalu dan penyakit kotor bangsa”.

Ketiga, perlu adanya evaluasi dan arah bangsa: “Refleksi ini mendorong evaluasi terhadap perjalanan bangsa dan memperjelas kembali arah haluan bangsa dalam bentuk GBHN, khususnya pentingnya pendidikan sebagai fondasi peradaban dalam menghadapi tantangan globalisasi sebagai panggilan untuk memerdekakan rakyat dari kungkungan kebodohan dan feodalisme, oligarki serta tidak hanya fokus pada kepentingan primordial semata. 

Keempat, pentingnya memahami sejarah: bahwa semboyan “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan dan melupakan sejarah) tetap relevan dan penting untuk mengingat perjuangan pahlawan dan menjaga kesadaran sejarah bangsa agar tidak melupakan akar perjuangan. Hindari dan blokade setiap upaya dan usaha dari pihak-pihak tertentu yang berhasrat membelokan peristiwa sejarah.

Kelima, Perlu ditingkatkan peran perjuangan lokal: Refleksi juga bisa mendalami dan mengungkap peran serta kontribusi daerah-daerah seperti etnis Baduy di Provinsi Banten dalam perjuangan kemerdekaan, yang perlu terus dikaji dan ditulis dalam sejarah untuk menjadi rujukan ilmu pengetahuan dan pendidikan peradaban kebangsaan. 

Jejak Leluhur Baduy Ikut dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Kisah ringkas di bawah ini adalah hasil rekam jejak spesial penulis terhadap tokoh adat terkemuka bapak Jaro Saidi sebagai Jaro Tanggungan Dua Belas Sepuh yang berkedudukan sebagai tokoh adat dalam kapasitas sebagai pemegang rahasia tentang silsilah dan cerita tentang siapa suku baduy itu.  Beliau adalah salah satu tokoh adat penting dengan  kewenangan  yang sangat kuat dalam menentukan keselamatan, keajegan dan arah perjalanan hukum adat etnis Baduy.

Manurut beliau, sesuai dengan tugas kesukuannya yaitu : “ neguhkeun agama kasakabeh agama,  neguh negara kasakabeh negara “ (Meneguhkan atau menegaskan agama ke semua agama, negara ke seluruh negara) sejak kehidupan di bumi dibuka, maka mengamati, membimbing keberadaan dan perjalanan manusia di bumi ini menjadi tugas kesukuan Baduy. Termasuk membimbing kemerdekaan NKRI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Bung Hatta.

Pak Jaro Saidi mengisahkan bahwa sebelum memproklamasikan, Bapak Ir. Soekarna datang menemui Puun Jandol, puun-nya Cibeo dan Bapak Jaro Saidi untuk meminta petunjuk dan restu tentang dibentuknya satu nama negara yang bisa mengakomodasi keragaman dan mempersatukan dari 17 Kesultanan dan Kerajaan yang ada pada saat itu. Selama 7 hari, Ir. Soekarno terus berdiskusi dan meminta petunjuk tentang nama negara, dasar negara dan konstitusi yang cocok dengan karakteristik bangsa. Pertanyaan dari Jaro Saidi dan Puun Jandol yang sempat tidak bisa dijawab adalah tentang sanggupkah Bapak memimpin negara baru dengan nama NKRI? Naon nu dimaksud NKRI teh?

Dari 3 pilihan jawaban yang dilontarkan, pak Soekarno memilih nama NKRI dengan makna atau arti “Negara Kesatuan Republik Indonesia”, tidak memilih National Kingdom Republic of Indonesia maupun Negara Kekasih Rahmatan Ilahi.  Itulah salah satu keterlibatan Baduy dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti yang diucapkan Ayah Mursid pada saat HUT RI ke 70 tahun 2015 di Istana Merdeka Jakarta.

Makna dan Arti Merdeka Menurut Suku Baduy

Sudut pandang etnis Baduy tentang Kemerdekaan Indonesia sebagai suatu bangsa belum terekspos secara jelas gamblang dan akurat. Para penulis etnis Baduy nyaris tak ada yang berani untuk mendeskripsikan secara lugas pandangan masyarakat Baduy terhadap arti dan makna “Merdeka “.

Padahal etnis Baduy sudah ada dan terakui keberadaannya sejak sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka. Hal ini bukan tanpa alasan, karena baduy masih diasumsikan tertutup dan menjalani budaya lisan tidak bersahabat dengan budaya tulisan, akibatnya berbagai informasi kesukuan mereka sulit digali sehingga kurang di/ terekspos.

Dari beberapa hasil diskusi, wawancara dengan tokoh adat dan warga Baduy, terpercik bahwa bagi etnis Baduy, arti “merdeka” tidaklah sekadar bebas dari belenggu penjajahan, melainkan kebebasan untuk tetap hidup sesuai dengan koridor adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Ini berarti bahwa etnis Baduy diberi kemerdekaan dalam memilih sekaligus menjalankan kehidupan tanpa terpengaruh oleh modernisasi, teknologi, dan budaya luar yang dianggap dapat merusak tatanan kehidupan mereka. Makna lainnya, bahwa merdeka berarti mampu mempertahankan dan melestarikan kearifan lokal sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya intervensi.

Menurut mereka, kebebasan juga berarti tidak terlepas dari tradisi dan aturan yang disebut ketaatan dan kepatuhan pada hukum adat “Ka-pu’un-an,” sebagai sebuah sistem kepercayaan dan kepemimpinan yang dianut oleh masyarakat suku Baduy Dalam, bahwa ada 3 Tangtu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik, tetapi hakikatnya satu yang disebut “Tri Tunggal”.

Kemerdekaan juga diartikan sebagai kebebasan untuk menolak, menyeleksi, dan atau mengadopsi pola-pola hidup modern dan segala bentuk teknologi, serta pengaruh budaya luar yang dianggap dapat mengganggu keharmonisan dan tatanan hidup mereka. Bagi suku Baduy, kemerdekaan juga terkait dengan kemampuan untuk hidup selaras dengan alam dan menjauhi perubahan yang bisa merusak keseimbangan ekosistem di sekitar mereka. Makna lain yang dianggap penting bahwa “merdeka” mereka maknai sebagai kemandirian dalam menjaga hubungan sosial dan mempertahankan nilai-nilai gotong royong / rereongan ( toleransi ) yang kuat di antara sesama anggota masyarakat. 

Merdeka bagi Baduy adalah dihormatinya seluruh identitas kesukuan serta dijaminnya pelaksaaan hukum adat serta Pikukuh Karuhun , diantaranya Pelaksanaan “ Ritual Seba Baduy dan tugas adat Ngasuh Ratu Nyayak Menak, ngabaratapakeun ngabaratanghikeun, Muja Ngalaksa Kapundayan…” Dan yang paling penting, “merdeka” menurut etnis Baduy adalah adanya kekebasan untuk berinteraksi dengan pihak mana pun serta menjalin bisnis tanpa ada pemaksaan dan intervensi sehingga mereka merasa terjamin dan dijamin untuk melakukan upaya dan usaha dalam rangka meningkatkan tarap kesejahteran mereka bebas dari intimidasi dan kekhawatiran.

Makna dan tafsiran versi lain tentang arti kemerdekaan menurut masyarakat Baduy mungkin masih ada, namun mohon maaf penulis belum mampu mendeskripsikan secara lugas dan meyakinkan. Sampai jumpa ditulisan berikutnya. [T]

Dirgahayu Republik Indonesia : “ Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera Indonesia Maju. — Dari Anak Negeri Cinta Indonesia, NKRI Harga Mati

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Strategi Apik Warga Baduy Dalam: Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [1]
Baduy Perlu Menciptakan Budaya Baru Demi Keberlangsungan Masa Depan Kesukuannya
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
Tags: Hari Kemerdekaan RImasyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Lingkungan, Pariwisata dan Bayang-bayang Orientalisme — Catatan Pentas “Rahasia Bapak” karya Dhira Aditya

Next Post

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co