2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Makna Merdeka Versi  Suku Baduy: Refleksi  80 Tahun Indonesia Merdeka

Asep Kurnia by Asep Kurnia
August 17, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

Delapan puluh tahun, bukan waktu yang pendek, lebih tiga perempat abad lebih loh? Jika waktu yang panjang tersebut pertahunnya diisi oleh satu jenis pembangunan yang berwawasan lingkungan demi membangun kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, maka sudah delapan puluh program pemerintah yang sudah terlaksana dan berjalan bukan? Lalu di kekinian, sudah di tahap atau di level berapakah tingkat kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa ini bertengger?

Dan sudah sejauh mana tentang pencapaian, tantangan, dan kontribusi para pemimpin negeri dalam menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat NKRI selama 80 tahun perjalanan Indonesia merdeka?  Itu hanya refleksi sederhana atau merenungkan kembali tentang apa yang sudah terjadi dan dilakukan oleh para pemuka bangsa ini dalam mengisi kemerdekaan yang usianya sudah cukup menua.

Jika kemerdekaan yang sudah lama di-launching, diisi, lalu dikelola secara amanah oleh para pemimpin NKRI, maka: “Negara maju, negara kuat dan  negara bermartabat dengan berdaulat penuh secara ekonomi sudah pasti diraih, kemudian  tujuan negara menciptakan makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran sudah pasti tercapai sejak lama dan tidak hanya sebatas slogan” (Asep Kurnia, 2025).  Tapi, apakah kenyataan yang kita lihat saat ini? Tercapaikah keadilan kemakmuran tersebut, atau justru makin terbalik? 

Apakah saat ini negeri kita sedang sehat-sehat saja? Apakah rakyat dan bangsa ini sudah merasakan arti, fungsi dan makna “Merdeka” secara menyeluruh dan merata, atau jangan-jangan kata merdeka itu hanya dirasakan dan dinikmati oleh dan untuk kelompok-kelompok tertentu saja? Apakah suku Baduy  sebagai anak bangsa yang konstelasinya tidak terpisahkan dari kerangka NKRI juga sudah merasakan “Merdeka” secara utuh? Itulah beberapa  pemantik yang sengaja  penulis paparkan untuk membawa pembaca menikmati makna, pesan dan ajakan berpikir sehat pada narasi yang dibangun di tulisan ini.

Bagaimana dalam rentang waktu 80 tahun etnis Baduy menikmati, menjalani kehidupan adat dan kontribusinya di setiap peringatan hari kemerdekaan? Apakah etnis Baduy yang konon masih digolongkan sebagai salah satu etnis yang mengasingkan diri dari dunia modern, dan masih dikatagorikan atau dikonotasikan etnis yang kurang aktif dalam partisipasi kenegaraan selalu absen atau ikut memeriahkan kemerdekaan, sementara tugas kesukuan mereka adalah “ Ngasuh Ratu Nyayak Menak, neguhkeun nagara ka sakabeh negara, teu kabagean ngaramekeun nagara.” .. Yuk, ikutilah paparan singkat tulisan ini !

Poin-Poin Penting Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan

Refleksi berarti bergerak mundur untuk merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan. Refleksi 80 tahun kemerdekaan Indonesia pada tahun 2025 adalah momen perenungan mendalam tentang pencapaian bangsa, tantangan yang masih dihadapi, dan pentingnya menjaga persatuan serta mengusung nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk bangkit dari keterpurukan akibat menjamurnya tindakan korupsi, konfigurasi baru tentang politik dan menurunnya kepercayaan masyarakat pada penegakan hukum yang berkeadilan. Refleksi ini juga merupakan panggilan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, membebaskan rakyat dari kebodohan, dan mempertegas arah haluan bangsa demi mencapai keadilan, kesejahteraan  dan kemakmuran bangsa.

Hemat penulis, ada beberapa poin penting Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan di antaranya:

Pertama, pentingnya mempertahankan dan mengaktualisasikan nilai-nilai bangsa: “Perayaan kemerdekaan ke-80 adalah momen untuk merenungkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa, serta menjaga semangat persatuan-kesatuan yang disinyalir makin memudar dalam penerapan kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di kalangan generasi milenial.

Kedua, perenungan dan semangat kebangkitan : “Refleksi ini menekankan bahwa meski telah 80 tahun merdeka, bangsa Indonesia perlu tetap bersatu dan bergotong royong (rereongan), terutama dalam mengentaskan kemiskinan dan memerangi seluruh koruptor sebagai benalu dan penyakit kotor bangsa”.

Ketiga, perlu adanya evaluasi dan arah bangsa: “Refleksi ini mendorong evaluasi terhadap perjalanan bangsa dan memperjelas kembali arah haluan bangsa dalam bentuk GBHN, khususnya pentingnya pendidikan sebagai fondasi peradaban dalam menghadapi tantangan globalisasi sebagai panggilan untuk memerdekakan rakyat dari kungkungan kebodohan dan feodalisme, oligarki serta tidak hanya fokus pada kepentingan primordial semata. 

Keempat, pentingnya memahami sejarah: bahwa semboyan “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan dan melupakan sejarah) tetap relevan dan penting untuk mengingat perjuangan pahlawan dan menjaga kesadaran sejarah bangsa agar tidak melupakan akar perjuangan. Hindari dan blokade setiap upaya dan usaha dari pihak-pihak tertentu yang berhasrat membelokan peristiwa sejarah.

Kelima, Perlu ditingkatkan peran perjuangan lokal: Refleksi juga bisa mendalami dan mengungkap peran serta kontribusi daerah-daerah seperti etnis Baduy di Provinsi Banten dalam perjuangan kemerdekaan, yang perlu terus dikaji dan ditulis dalam sejarah untuk menjadi rujukan ilmu pengetahuan dan pendidikan peradaban kebangsaan. 

Jejak Leluhur Baduy Ikut dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Kisah ringkas di bawah ini adalah hasil rekam jejak spesial penulis terhadap tokoh adat terkemuka bapak Jaro Saidi sebagai Jaro Tanggungan Dua Belas Sepuh yang berkedudukan sebagai tokoh adat dalam kapasitas sebagai pemegang rahasia tentang silsilah dan cerita tentang siapa suku baduy itu.  Beliau adalah salah satu tokoh adat penting dengan  kewenangan  yang sangat kuat dalam menentukan keselamatan, keajegan dan arah perjalanan hukum adat etnis Baduy.

Manurut beliau, sesuai dengan tugas kesukuannya yaitu : “ neguhkeun agama kasakabeh agama,  neguh negara kasakabeh negara “ (Meneguhkan atau menegaskan agama ke semua agama, negara ke seluruh negara) sejak kehidupan di bumi dibuka, maka mengamati, membimbing keberadaan dan perjalanan manusia di bumi ini menjadi tugas kesukuan Baduy. Termasuk membimbing kemerdekaan NKRI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Bung Hatta.

Pak Jaro Saidi mengisahkan bahwa sebelum memproklamasikan, Bapak Ir. Soekarna datang menemui Puun Jandol, puun-nya Cibeo dan Bapak Jaro Saidi untuk meminta petunjuk dan restu tentang dibentuknya satu nama negara yang bisa mengakomodasi keragaman dan mempersatukan dari 17 Kesultanan dan Kerajaan yang ada pada saat itu. Selama 7 hari, Ir. Soekarno terus berdiskusi dan meminta petunjuk tentang nama negara, dasar negara dan konstitusi yang cocok dengan karakteristik bangsa. Pertanyaan dari Jaro Saidi dan Puun Jandol yang sempat tidak bisa dijawab adalah tentang sanggupkah Bapak memimpin negara baru dengan nama NKRI? Naon nu dimaksud NKRI teh?

Dari 3 pilihan jawaban yang dilontarkan, pak Soekarno memilih nama NKRI dengan makna atau arti “Negara Kesatuan Republik Indonesia”, tidak memilih National Kingdom Republic of Indonesia maupun Negara Kekasih Rahmatan Ilahi.  Itulah salah satu keterlibatan Baduy dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti yang diucapkan Ayah Mursid pada saat HUT RI ke 70 tahun 2015 di Istana Merdeka Jakarta.

Makna dan Arti Merdeka Menurut Suku Baduy

Sudut pandang etnis Baduy tentang Kemerdekaan Indonesia sebagai suatu bangsa belum terekspos secara jelas gamblang dan akurat. Para penulis etnis Baduy nyaris tak ada yang berani untuk mendeskripsikan secara lugas pandangan masyarakat Baduy terhadap arti dan makna “Merdeka “.

Padahal etnis Baduy sudah ada dan terakui keberadaannya sejak sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka. Hal ini bukan tanpa alasan, karena baduy masih diasumsikan tertutup dan menjalani budaya lisan tidak bersahabat dengan budaya tulisan, akibatnya berbagai informasi kesukuan mereka sulit digali sehingga kurang di/ terekspos.

Dari beberapa hasil diskusi, wawancara dengan tokoh adat dan warga Baduy, terpercik bahwa bagi etnis Baduy, arti “merdeka” tidaklah sekadar bebas dari belenggu penjajahan, melainkan kebebasan untuk tetap hidup sesuai dengan koridor adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Ini berarti bahwa etnis Baduy diberi kemerdekaan dalam memilih sekaligus menjalankan kehidupan tanpa terpengaruh oleh modernisasi, teknologi, dan budaya luar yang dianggap dapat merusak tatanan kehidupan mereka. Makna lainnya, bahwa merdeka berarti mampu mempertahankan dan melestarikan kearifan lokal sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya intervensi.

Menurut mereka, kebebasan juga berarti tidak terlepas dari tradisi dan aturan yang disebut ketaatan dan kepatuhan pada hukum adat “Ka-pu’un-an,” sebagai sebuah sistem kepercayaan dan kepemimpinan yang dianut oleh masyarakat suku Baduy Dalam, bahwa ada 3 Tangtu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik, tetapi hakikatnya satu yang disebut “Tri Tunggal”.

Kemerdekaan juga diartikan sebagai kebebasan untuk menolak, menyeleksi, dan atau mengadopsi pola-pola hidup modern dan segala bentuk teknologi, serta pengaruh budaya luar yang dianggap dapat mengganggu keharmonisan dan tatanan hidup mereka. Bagi suku Baduy, kemerdekaan juga terkait dengan kemampuan untuk hidup selaras dengan alam dan menjauhi perubahan yang bisa merusak keseimbangan ekosistem di sekitar mereka. Makna lain yang dianggap penting bahwa “merdeka” mereka maknai sebagai kemandirian dalam menjaga hubungan sosial dan mempertahankan nilai-nilai gotong royong / rereongan ( toleransi ) yang kuat di antara sesama anggota masyarakat. 

Merdeka bagi Baduy adalah dihormatinya seluruh identitas kesukuan serta dijaminnya pelaksaaan hukum adat serta Pikukuh Karuhun , diantaranya Pelaksanaan “ Ritual Seba Baduy dan tugas adat Ngasuh Ratu Nyayak Menak, ngabaratapakeun ngabaratanghikeun, Muja Ngalaksa Kapundayan…” Dan yang paling penting, “merdeka” menurut etnis Baduy adalah adanya kekebasan untuk berinteraksi dengan pihak mana pun serta menjalin bisnis tanpa ada pemaksaan dan intervensi sehingga mereka merasa terjamin dan dijamin untuk melakukan upaya dan usaha dalam rangka meningkatkan tarap kesejahteran mereka bebas dari intimidasi dan kekhawatiran.

Makna dan tafsiran versi lain tentang arti kemerdekaan menurut masyarakat Baduy mungkin masih ada, namun mohon maaf penulis belum mampu mendeskripsikan secara lugas dan meyakinkan. Sampai jumpa ditulisan berikutnya. [T]

Dirgahayu Republik Indonesia : “ Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera Indonesia Maju. — Dari Anak Negeri Cinta Indonesia, NKRI Harga Mati

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Strategi Apik Warga Baduy Dalam: Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [1]
Baduy Perlu Menciptakan Budaya Baru Demi Keberlangsungan Masa Depan Kesukuannya
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
Tags: Hari Kemerdekaan RImasyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Lingkungan, Pariwisata dan Bayang-bayang Orientalisme — Catatan Pentas “Rahasia Bapak” karya Dhira Aditya

Next Post

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co