23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Makna Merdeka Versi  Suku Baduy: Refleksi  80 Tahun Indonesia Merdeka

Asep Kurnia by Asep Kurnia
August 17, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

Delapan puluh tahun, bukan waktu yang pendek, lebih tiga perempat abad lebih loh? Jika waktu yang panjang tersebut pertahunnya diisi oleh satu jenis pembangunan yang berwawasan lingkungan demi membangun kesejahteraan dan kemakmuran bangsa, maka sudah delapan puluh program pemerintah yang sudah terlaksana dan berjalan bukan? Lalu di kekinian, sudah di tahap atau di level berapakah tingkat kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa ini bertengger?

Dan sudah sejauh mana tentang pencapaian, tantangan, dan kontribusi para pemimpin negeri dalam menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat NKRI selama 80 tahun perjalanan Indonesia merdeka?  Itu hanya refleksi sederhana atau merenungkan kembali tentang apa yang sudah terjadi dan dilakukan oleh para pemuka bangsa ini dalam mengisi kemerdekaan yang usianya sudah cukup menua.

Jika kemerdekaan yang sudah lama di-launching, diisi, lalu dikelola secara amanah oleh para pemimpin NKRI, maka: “Negara maju, negara kuat dan  negara bermartabat dengan berdaulat penuh secara ekonomi sudah pasti diraih, kemudian  tujuan negara menciptakan makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran sudah pasti tercapai sejak lama dan tidak hanya sebatas slogan” (Asep Kurnia, 2025).  Tapi, apakah kenyataan yang kita lihat saat ini? Tercapaikah keadilan kemakmuran tersebut, atau justru makin terbalik? 

Apakah saat ini negeri kita sedang sehat-sehat saja? Apakah rakyat dan bangsa ini sudah merasakan arti, fungsi dan makna “Merdeka” secara menyeluruh dan merata, atau jangan-jangan kata merdeka itu hanya dirasakan dan dinikmati oleh dan untuk kelompok-kelompok tertentu saja? Apakah suku Baduy  sebagai anak bangsa yang konstelasinya tidak terpisahkan dari kerangka NKRI juga sudah merasakan “Merdeka” secara utuh? Itulah beberapa  pemantik yang sengaja  penulis paparkan untuk membawa pembaca menikmati makna, pesan dan ajakan berpikir sehat pada narasi yang dibangun di tulisan ini.

Bagaimana dalam rentang waktu 80 tahun etnis Baduy menikmati, menjalani kehidupan adat dan kontribusinya di setiap peringatan hari kemerdekaan? Apakah etnis Baduy yang konon masih digolongkan sebagai salah satu etnis yang mengasingkan diri dari dunia modern, dan masih dikatagorikan atau dikonotasikan etnis yang kurang aktif dalam partisipasi kenegaraan selalu absen atau ikut memeriahkan kemerdekaan, sementara tugas kesukuan mereka adalah “ Ngasuh Ratu Nyayak Menak, neguhkeun nagara ka sakabeh negara, teu kabagean ngaramekeun nagara.” .. Yuk, ikutilah paparan singkat tulisan ini !

Poin-Poin Penting Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan

Refleksi berarti bergerak mundur untuk merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan. Refleksi 80 tahun kemerdekaan Indonesia pada tahun 2025 adalah momen perenungan mendalam tentang pencapaian bangsa, tantangan yang masih dihadapi, dan pentingnya menjaga persatuan serta mengusung nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk bangkit dari keterpurukan akibat menjamurnya tindakan korupsi, konfigurasi baru tentang politik dan menurunnya kepercayaan masyarakat pada penegakan hukum yang berkeadilan. Refleksi ini juga merupakan panggilan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, membebaskan rakyat dari kebodohan, dan mempertegas arah haluan bangsa demi mencapai keadilan, kesejahteraan  dan kemakmuran bangsa.

Hemat penulis, ada beberapa poin penting Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan di antaranya:

Pertama, pentingnya mempertahankan dan mengaktualisasikan nilai-nilai bangsa: “Perayaan kemerdekaan ke-80 adalah momen untuk merenungkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa, serta menjaga semangat persatuan-kesatuan yang disinyalir makin memudar dalam penerapan kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di kalangan generasi milenial.

Kedua, perenungan dan semangat kebangkitan : “Refleksi ini menekankan bahwa meski telah 80 tahun merdeka, bangsa Indonesia perlu tetap bersatu dan bergotong royong (rereongan), terutama dalam mengentaskan kemiskinan dan memerangi seluruh koruptor sebagai benalu dan penyakit kotor bangsa”.

Ketiga, perlu adanya evaluasi dan arah bangsa: “Refleksi ini mendorong evaluasi terhadap perjalanan bangsa dan memperjelas kembali arah haluan bangsa dalam bentuk GBHN, khususnya pentingnya pendidikan sebagai fondasi peradaban dalam menghadapi tantangan globalisasi sebagai panggilan untuk memerdekakan rakyat dari kungkungan kebodohan dan feodalisme, oligarki serta tidak hanya fokus pada kepentingan primordial semata. 

Keempat, pentingnya memahami sejarah: bahwa semboyan “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan dan melupakan sejarah) tetap relevan dan penting untuk mengingat perjuangan pahlawan dan menjaga kesadaran sejarah bangsa agar tidak melupakan akar perjuangan. Hindari dan blokade setiap upaya dan usaha dari pihak-pihak tertentu yang berhasrat membelokan peristiwa sejarah.

Kelima, Perlu ditingkatkan peran perjuangan lokal: Refleksi juga bisa mendalami dan mengungkap peran serta kontribusi daerah-daerah seperti etnis Baduy di Provinsi Banten dalam perjuangan kemerdekaan, yang perlu terus dikaji dan ditulis dalam sejarah untuk menjadi rujukan ilmu pengetahuan dan pendidikan peradaban kebangsaan. 

Jejak Leluhur Baduy Ikut dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Kisah ringkas di bawah ini adalah hasil rekam jejak spesial penulis terhadap tokoh adat terkemuka bapak Jaro Saidi sebagai Jaro Tanggungan Dua Belas Sepuh yang berkedudukan sebagai tokoh adat dalam kapasitas sebagai pemegang rahasia tentang silsilah dan cerita tentang siapa suku baduy itu.  Beliau adalah salah satu tokoh adat penting dengan  kewenangan  yang sangat kuat dalam menentukan keselamatan, keajegan dan arah perjalanan hukum adat etnis Baduy.

Manurut beliau, sesuai dengan tugas kesukuannya yaitu : “ neguhkeun agama kasakabeh agama,  neguh negara kasakabeh negara “ (Meneguhkan atau menegaskan agama ke semua agama, negara ke seluruh negara) sejak kehidupan di bumi dibuka, maka mengamati, membimbing keberadaan dan perjalanan manusia di bumi ini menjadi tugas kesukuan Baduy. Termasuk membimbing kemerdekaan NKRI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Bung Hatta.

Pak Jaro Saidi mengisahkan bahwa sebelum memproklamasikan, Bapak Ir. Soekarna datang menemui Puun Jandol, puun-nya Cibeo dan Bapak Jaro Saidi untuk meminta petunjuk dan restu tentang dibentuknya satu nama negara yang bisa mengakomodasi keragaman dan mempersatukan dari 17 Kesultanan dan Kerajaan yang ada pada saat itu. Selama 7 hari, Ir. Soekarno terus berdiskusi dan meminta petunjuk tentang nama negara, dasar negara dan konstitusi yang cocok dengan karakteristik bangsa. Pertanyaan dari Jaro Saidi dan Puun Jandol yang sempat tidak bisa dijawab adalah tentang sanggupkah Bapak memimpin negara baru dengan nama NKRI? Naon nu dimaksud NKRI teh?

Dari 3 pilihan jawaban yang dilontarkan, pak Soekarno memilih nama NKRI dengan makna atau arti “Negara Kesatuan Republik Indonesia”, tidak memilih National Kingdom Republic of Indonesia maupun Negara Kekasih Rahmatan Ilahi.  Itulah salah satu keterlibatan Baduy dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti yang diucapkan Ayah Mursid pada saat HUT RI ke 70 tahun 2015 di Istana Merdeka Jakarta.

Makna dan Arti Merdeka Menurut Suku Baduy

Sudut pandang etnis Baduy tentang Kemerdekaan Indonesia sebagai suatu bangsa belum terekspos secara jelas gamblang dan akurat. Para penulis etnis Baduy nyaris tak ada yang berani untuk mendeskripsikan secara lugas pandangan masyarakat Baduy terhadap arti dan makna “Merdeka “.

Padahal etnis Baduy sudah ada dan terakui keberadaannya sejak sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka. Hal ini bukan tanpa alasan, karena baduy masih diasumsikan tertutup dan menjalani budaya lisan tidak bersahabat dengan budaya tulisan, akibatnya berbagai informasi kesukuan mereka sulit digali sehingga kurang di/ terekspos.

Dari beberapa hasil diskusi, wawancara dengan tokoh adat dan warga Baduy, terpercik bahwa bagi etnis Baduy, arti “merdeka” tidaklah sekadar bebas dari belenggu penjajahan, melainkan kebebasan untuk tetap hidup sesuai dengan koridor adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Ini berarti bahwa etnis Baduy diberi kemerdekaan dalam memilih sekaligus menjalankan kehidupan tanpa terpengaruh oleh modernisasi, teknologi, dan budaya luar yang dianggap dapat merusak tatanan kehidupan mereka. Makna lainnya, bahwa merdeka berarti mampu mempertahankan dan melestarikan kearifan lokal sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya intervensi.

Menurut mereka, kebebasan juga berarti tidak terlepas dari tradisi dan aturan yang disebut ketaatan dan kepatuhan pada hukum adat “Ka-pu’un-an,” sebagai sebuah sistem kepercayaan dan kepemimpinan yang dianut oleh masyarakat suku Baduy Dalam, bahwa ada 3 Tangtu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik, tetapi hakikatnya satu yang disebut “Tri Tunggal”.

Kemerdekaan juga diartikan sebagai kebebasan untuk menolak, menyeleksi, dan atau mengadopsi pola-pola hidup modern dan segala bentuk teknologi, serta pengaruh budaya luar yang dianggap dapat mengganggu keharmonisan dan tatanan hidup mereka. Bagi suku Baduy, kemerdekaan juga terkait dengan kemampuan untuk hidup selaras dengan alam dan menjauhi perubahan yang bisa merusak keseimbangan ekosistem di sekitar mereka. Makna lain yang dianggap penting bahwa “merdeka” mereka maknai sebagai kemandirian dalam menjaga hubungan sosial dan mempertahankan nilai-nilai gotong royong / rereongan ( toleransi ) yang kuat di antara sesama anggota masyarakat. 

Merdeka bagi Baduy adalah dihormatinya seluruh identitas kesukuan serta dijaminnya pelaksaaan hukum adat serta Pikukuh Karuhun , diantaranya Pelaksanaan “ Ritual Seba Baduy dan tugas adat Ngasuh Ratu Nyayak Menak, ngabaratapakeun ngabaratanghikeun, Muja Ngalaksa Kapundayan…” Dan yang paling penting, “merdeka” menurut etnis Baduy adalah adanya kekebasan untuk berinteraksi dengan pihak mana pun serta menjalin bisnis tanpa ada pemaksaan dan intervensi sehingga mereka merasa terjamin dan dijamin untuk melakukan upaya dan usaha dalam rangka meningkatkan tarap kesejahteran mereka bebas dari intimidasi dan kekhawatiran.

Makna dan tafsiran versi lain tentang arti kemerdekaan menurut masyarakat Baduy mungkin masih ada, namun mohon maaf penulis belum mampu mendeskripsikan secara lugas dan meyakinkan. Sampai jumpa ditulisan berikutnya. [T]

Dirgahayu Republik Indonesia : “ Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera Indonesia Maju. — Dari Anak Negeri Cinta Indonesia, NKRI Harga Mati

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Strategi Apik Warga Baduy Dalam: Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [1]
Baduy Perlu Menciptakan Budaya Baru Demi Keberlangsungan Masa Depan Kesukuannya
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
Tags: Hari Kemerdekaan RImasyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Lingkungan, Pariwisata dan Bayang-bayang Orientalisme — Catatan Pentas “Rahasia Bapak” karya Dhira Aditya

Next Post

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

HUT ke-80 RI, Merah Putih Berkibar di Bukit Belong, Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co