24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baduy Perlu Menciptakan Budaya Baru Demi Keberlangsungan Masa Depan Kesukuannya

Asep Kurnia by Asep Kurnia
August 6, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

“Ngindung ka waktu ngais ka zaman” adalah peribahasa popular yang melekat di kesukuan Sunda yang memiliki makna sangat luas terkait dengan periodesasi perubahan alam (Segir Zaman). Adanya masa kini tentunya karena adanya masa lalu. Kekinian atau kebaruan pola kehidupan suatu komunitas adalah hasil proses evolusi budaya yang lama melalui tahapan-tahapan perubahan sesuai dengan kebutuhan dan atau tuntutan zaman, ini adalah teori kebertahanan (survival theory) suatu komunitas. (Asep Kurnia, 2025).

Zaman terus berubah, maka dalam catatan sejarah pola kehidupan manusia dan peradaban pun dipastikan ikut berubah dari waktu ke waktu, dan itu adalah salah satu sunatullah. Implikasinya jelas sekali, bahwa manusia tidak bisa melawan zaman atau menghentikannya dan tidak mungkin bisa berada atau bertahan di satu zaman tertentu. karena bumi ini pun sebagai tempat hidup manusia terus berputar atau berotasi tanpa henti.

Manusia atau kelompok manusia, demikian pula suatu kesukuan yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan dan tidak melakukan perubahan (dinamisasi dan updating) sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman, mereka dipastikan akan mengalami kehancuran dan kepunahan (destruction and extinction of ethnic cultures). Banyak fakta keberadaan suatu suku bangsa di dunia yang hilang dari pergaulan dunia karena tidak segera adaptif dengan sikon kekinian zaman, atau terlalu kaku dan menutup pembaharuan budaya, dan akhirnya kini hanya tinggal dikenang nama dalam catatan sejarahnya saja. 

Makna tersirat lainnya dari peribahasa di atas adalah bahwa manusia harus terus berproses untuk menuju kesempurnaan dan keterlengkapan (perfection and completeness), mengganti hal-hal yang kurang baik dan usang dengan hal yang baik dan update, terus membangun sumber daya manusia (the national character building) yang lebih berkualitas serta membangun fisik /material  dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang kurang baik dan kurang lengkap menjadi lebih baik untuk mendekati kondisi sempurna.

Baduy sebagai suatu kesukuan di tanah Sunda dengan segala kondisi dan problematikanya, tentunya perlu melakukan proses dinamisasi dan updating sikap yang bijak, terencana dan terukur dalam rangka mempertahankan keberadaan, keajegan dan keterlangsungan kesukuannya dengan merespons secara selektif terhadap berbagai tuntutan dan perubahan zaman. Ngindung ka waktu ngais ka zaman makna singkatnya adalah bahwa kita wajib dan harus mampu beradaptasi dengan segala kondisi, tuntutan dan kebutuhan zaman. Zaman modern dan era digitalisasi menuntut paksa kita semua sebagai umat manusia didunia untuk adaptif terhadap tuntutan zaman yang sedang berlangsung jika kita ingin hidup kita tetap berkelangsungan, termasuk komunitas adat bernama Suku Baduy.

Masa Depan Suku Baduy Perlu dan Bisa Diciptakan

Masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat ditentukan oleh kecekatan, ketajaman, dan keluwesan para pemikir-pemikir, elit politik, pemimpin-pemimpin dan para pengelola negara dalam membuat atau menciptakan Garis-Garis Besar Haluan Negara sebagai acuan membangun masa depan kebangsaan dengan berbagai revisi konstitusi atau amandemen perundang-undangan.

Suku Baduy pun sama perlu adanya peng-update-an yang kekinian agar mereka tidak salah dalam memilih sikap adat dan budayanya demi menghadapi tantangan masa depan baduy yang lebih kompetitip menuju suasana yang lebih sejahtera dan bermartabat. Maka adaptasi dan dinamisasi hukum adat menjadi penting untuk diciptakan agar kesukuan mereka bisa bertahan dan mampu mengikuti zaman selaras dengan tuntutan situasi dan kondisi yang ada dengan tidak menanggalkan dan meninggalkan prinsip pokok hukum adat dan identitas khas mereka. Hemat penulis, modifikasi dan akulturasi menjadi pilihan bijak bagi mereka.

Baduy adalah living culture  masyarakat  masa lalu yang mendekati pada pewaris asli budaya dan amanat leluhur kesukuan Sunda. Istilah pewaris asli hanya menunjuk pada tingkat ketaatan dan kesadaran komunitas mereka dalam mempertahankan adat istiadatnya dan kekonsistenan menutup dirinya dari pengaruh-pengaruh kebudayaan asing yang dianggap negatif.  

Namun, sesuai dengan lintasan zaman, Baduy saat ini sedang melintasi modernisasi dengan percepatan yang luar biasa sehingga sangat mencengangkan publik, berbagai perubahan dan dinamisasi sedang mereka tampilkan dan lakukan di berbagai aspek kehidupan. Artinya mereka sedang dan sudah memulai: “Mendesain dan Menciptakan Pola Hidup Masa Depan Kesukuannya“, agar mereka bisa terus menterlanjutakan kisah kesukuannya dan keberadaannya di kancah pergaulan kebangsaan dalam bingkai NKRI.

Di kekinian, mereka sedang melawan, menyeleksi dan memodifikasi pola kehidupan kesukuannya di berbagai aspek kehidupan demi mengimbangi perubahan dan tuntutan zaman.  Berbagai dinamisasi sedang gencar mereka lakukan demi meng-counter berbagai hal negatif sesuai dengan percepatan dahsyatnya pengaruh modernisasi termasuk efek domino dari digitalisasi yang mengarah pada terjadinya “Technotronic Ethnocide”.  

Mereka amat sangat menyadari bahwa keutuhan dan keajegan serta kekonsistensian melaksanakan amanat leluhur dan hukum adat kesukuan mereka sedang diuji secara berat oleh ancaman pemodernan yang brutal. Mereka pun menyadari bahwa melawan atau menolak perubahan dan tuntutan zaman adalah sesuatu yang tidak mungkin dan tidak bisa mereka lakukan. Tetap kaku dengan budaya dan norma adat yang mereka anut adalah beresiko akan terisolirnya mereka dari pergaulan dengan masyarakat luar Baduy. Membuka diri secara vulgar menerima berbagai pemodernan juga sangat beresiko terjadinya disitegrasi dan resistensi antara kelompok Baduy Luar dengan Baduy Dalam.

Mereka sadar hanya dengan cara memodifikasi dan akulturasilah mereka bisa mempertahankan dan menterlanjutkan keberadaan kesukuannya. Menelan dan menerapkan mentah-mentah semua pola atau model pemodernan kedalam kehidupan adat mereka adalah kesalahan fatal dan sangat merugikan, menolak secara total pemodernan juga akan sangat mempersulit kehidupan mereka terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan. Maka, mengadopsi dan sekaligus memodifikasi pola kehidupan modern menjadi bagian dari pola kehidupan adat mereka secara selektif adalah cara tengah yang paling aman dan bijak bagi keberlangungan kesukuan mereka.

Perlu Adanya Pengarah dan Pendesain Modifikasi

Kita paham dan mengetahui bahwa suku Baduy adalah salah satu kesukuan yang patrun dengan hukum adat, lengket dengan budaya lisan dan kurang bersahabat dengan budaya tulisan. Sehingga hukum adat itu berada di ucapan sesepuh atau tokoh adat dan tidak terkodifikasikan. Sehingga kita tidak akan paham bentuk-bentuk atau bunyi-bunyi dan atau pasal-pasal hukum ada mereka yang diberlakukan dalam bentuk tulisan, hukum adat mereka baru akan diketahui dari ucapan tokoh adat dan dari hebitasi kehidupan sehari hari mereka.   Oleh karenanya intervensi, provokasi dan rekayasa sosial menjadi penting untuk membantu mereka menemukan jalan dalam menciptakan pola atau modifikasi budaya baru mereka yang mampu menyeimbangkan hukum adat yang berlaku dengan modernisasi. 

Mereka juga tidak biasa dan dibiasakan untuk berdiskusi tentang bagaimana perkembangan peradaban di luar kesukuan mereka, karena mereka mematuhi tugas kesukuan mereka: “Neguhkeun agama ka sakabeh agama, neguhkeun nagara ka sakabeh nagara, teu kabagean ngaramekeun negara“ (Mempastikan/menegaskan agama ke seluruh agama, menegaskan negara ke seluruh negara, tidak kebagian untuk berkecimpung meramaikan dalam mengelola negara). Sehingga pelaksanaan hukum adat mereka menjadi kaku, tegas , lugas dan tidak mengenal kompromi.

Atas dasar dua kondisi nyata karakter mereka yaitu budaya lisan dan kekakuan hukum adat, maka keberadaan dan kehadiran pakar antropologi, sosiologi, budayawan, pemerhati komunitas adat,  dan pakar hukum adat serta pemerintah sebagai penaung keberadaan mereka sebagai pengarah dan pendesain modifikasi pola hidup baru suku Baduy yang bisa adaptif dengan tuntutan zaman adalah amat sangat penting keberadaannya. 

Yach, sederhananya atau paling tidak dengan adanya team riset serta kajian-kajian secara ilmiah yang terus menerus dan berkesinambungan, akan melahirkan kebijakan pemerintah yang tepat guna dan tepat sasaran bagi masa depan masyarakat Baduy ke depan.

Kesimpulanya bahwa masa depan bisa dibaca dan diprediksi sejak hari ini, dan masa depan bisa diciptakan sejak hari ini, maka jika dan hanya jika kita menginginkan dan memimpikan masa depan yang sukses dan gemilang prediksilah ( baca) dan ciptakanlah di hari ini jangan ditunda ke hari esok. Sebab jarak antara masa lalu ke masa kini dan ke masa depan itu nisbi batas waktunya. [T]

(Di tulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, Agustus 2025)

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Problematika Desa Adat Baduy Menuju Desa Wisata — [Bagian 1]
Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy – [Bagian 1]
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran

Next Post

Pada Waktu Seperti Apa Sebaiknya Kita Makan Rujak?

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Puasa Sehat Ramadan: Menu Apa yang Sebaiknya Dipilih Saat Sahur dan Berbuka?

Pada Waktu Seperti Apa Sebaiknya Kita Makan Rujak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co