4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baduy Perlu Menciptakan Budaya Baru Demi Keberlangsungan Masa Depan Kesukuannya

Asep Kurnia by Asep Kurnia
August 6, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

“Ngindung ka waktu ngais ka zaman” adalah peribahasa popular yang melekat di kesukuan Sunda yang memiliki makna sangat luas terkait dengan periodesasi perubahan alam (Segir Zaman). Adanya masa kini tentunya karena adanya masa lalu. Kekinian atau kebaruan pola kehidupan suatu komunitas adalah hasil proses evolusi budaya yang lama melalui tahapan-tahapan perubahan sesuai dengan kebutuhan dan atau tuntutan zaman, ini adalah teori kebertahanan (survival theory) suatu komunitas. (Asep Kurnia, 2025).

Zaman terus berubah, maka dalam catatan sejarah pola kehidupan manusia dan peradaban pun dipastikan ikut berubah dari waktu ke waktu, dan itu adalah salah satu sunatullah. Implikasinya jelas sekali, bahwa manusia tidak bisa melawan zaman atau menghentikannya dan tidak mungkin bisa berada atau bertahan di satu zaman tertentu. karena bumi ini pun sebagai tempat hidup manusia terus berputar atau berotasi tanpa henti.

Manusia atau kelompok manusia, demikian pula suatu kesukuan yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan dan tidak melakukan perubahan (dinamisasi dan updating) sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman, mereka dipastikan akan mengalami kehancuran dan kepunahan (destruction and extinction of ethnic cultures). Banyak fakta keberadaan suatu suku bangsa di dunia yang hilang dari pergaulan dunia karena tidak segera adaptif dengan sikon kekinian zaman, atau terlalu kaku dan menutup pembaharuan budaya, dan akhirnya kini hanya tinggal dikenang nama dalam catatan sejarahnya saja. 

Makna tersirat lainnya dari peribahasa di atas adalah bahwa manusia harus terus berproses untuk menuju kesempurnaan dan keterlengkapan (perfection and completeness), mengganti hal-hal yang kurang baik dan usang dengan hal yang baik dan update, terus membangun sumber daya manusia (the national character building) yang lebih berkualitas serta membangun fisik /material  dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang kurang baik dan kurang lengkap menjadi lebih baik untuk mendekati kondisi sempurna.

Baduy sebagai suatu kesukuan di tanah Sunda dengan segala kondisi dan problematikanya, tentunya perlu melakukan proses dinamisasi dan updating sikap yang bijak, terencana dan terukur dalam rangka mempertahankan keberadaan, keajegan dan keterlangsungan kesukuannya dengan merespons secara selektif terhadap berbagai tuntutan dan perubahan zaman. Ngindung ka waktu ngais ka zaman makna singkatnya adalah bahwa kita wajib dan harus mampu beradaptasi dengan segala kondisi, tuntutan dan kebutuhan zaman. Zaman modern dan era digitalisasi menuntut paksa kita semua sebagai umat manusia didunia untuk adaptif terhadap tuntutan zaman yang sedang berlangsung jika kita ingin hidup kita tetap berkelangsungan, termasuk komunitas adat bernama Suku Baduy.

Masa Depan Suku Baduy Perlu dan Bisa Diciptakan

Masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat ditentukan oleh kecekatan, ketajaman, dan keluwesan para pemikir-pemikir, elit politik, pemimpin-pemimpin dan para pengelola negara dalam membuat atau menciptakan Garis-Garis Besar Haluan Negara sebagai acuan membangun masa depan kebangsaan dengan berbagai revisi konstitusi atau amandemen perundang-undangan.

Suku Baduy pun sama perlu adanya peng-update-an yang kekinian agar mereka tidak salah dalam memilih sikap adat dan budayanya demi menghadapi tantangan masa depan baduy yang lebih kompetitip menuju suasana yang lebih sejahtera dan bermartabat. Maka adaptasi dan dinamisasi hukum adat menjadi penting untuk diciptakan agar kesukuan mereka bisa bertahan dan mampu mengikuti zaman selaras dengan tuntutan situasi dan kondisi yang ada dengan tidak menanggalkan dan meninggalkan prinsip pokok hukum adat dan identitas khas mereka. Hemat penulis, modifikasi dan akulturasi menjadi pilihan bijak bagi mereka.

Baduy adalah living culture  masyarakat  masa lalu yang mendekati pada pewaris asli budaya dan amanat leluhur kesukuan Sunda. Istilah pewaris asli hanya menunjuk pada tingkat ketaatan dan kesadaran komunitas mereka dalam mempertahankan adat istiadatnya dan kekonsistenan menutup dirinya dari pengaruh-pengaruh kebudayaan asing yang dianggap negatif.  

Namun, sesuai dengan lintasan zaman, Baduy saat ini sedang melintasi modernisasi dengan percepatan yang luar biasa sehingga sangat mencengangkan publik, berbagai perubahan dan dinamisasi sedang mereka tampilkan dan lakukan di berbagai aspek kehidupan. Artinya mereka sedang dan sudah memulai: “Mendesain dan Menciptakan Pola Hidup Masa Depan Kesukuannya“, agar mereka bisa terus menterlanjutakan kisah kesukuannya dan keberadaannya di kancah pergaulan kebangsaan dalam bingkai NKRI.

Di kekinian, mereka sedang melawan, menyeleksi dan memodifikasi pola kehidupan kesukuannya di berbagai aspek kehidupan demi mengimbangi perubahan dan tuntutan zaman.  Berbagai dinamisasi sedang gencar mereka lakukan demi meng-counter berbagai hal negatif sesuai dengan percepatan dahsyatnya pengaruh modernisasi termasuk efek domino dari digitalisasi yang mengarah pada terjadinya “Technotronic Ethnocide”.  

Mereka amat sangat menyadari bahwa keutuhan dan keajegan serta kekonsistensian melaksanakan amanat leluhur dan hukum adat kesukuan mereka sedang diuji secara berat oleh ancaman pemodernan yang brutal. Mereka pun menyadari bahwa melawan atau menolak perubahan dan tuntutan zaman adalah sesuatu yang tidak mungkin dan tidak bisa mereka lakukan. Tetap kaku dengan budaya dan norma adat yang mereka anut adalah beresiko akan terisolirnya mereka dari pergaulan dengan masyarakat luar Baduy. Membuka diri secara vulgar menerima berbagai pemodernan juga sangat beresiko terjadinya disitegrasi dan resistensi antara kelompok Baduy Luar dengan Baduy Dalam.

Mereka sadar hanya dengan cara memodifikasi dan akulturasilah mereka bisa mempertahankan dan menterlanjutkan keberadaan kesukuannya. Menelan dan menerapkan mentah-mentah semua pola atau model pemodernan kedalam kehidupan adat mereka adalah kesalahan fatal dan sangat merugikan, menolak secara total pemodernan juga akan sangat mempersulit kehidupan mereka terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan. Maka, mengadopsi dan sekaligus memodifikasi pola kehidupan modern menjadi bagian dari pola kehidupan adat mereka secara selektif adalah cara tengah yang paling aman dan bijak bagi keberlangungan kesukuan mereka.

Perlu Adanya Pengarah dan Pendesain Modifikasi

Kita paham dan mengetahui bahwa suku Baduy adalah salah satu kesukuan yang patrun dengan hukum adat, lengket dengan budaya lisan dan kurang bersahabat dengan budaya tulisan. Sehingga hukum adat itu berada di ucapan sesepuh atau tokoh adat dan tidak terkodifikasikan. Sehingga kita tidak akan paham bentuk-bentuk atau bunyi-bunyi dan atau pasal-pasal hukum ada mereka yang diberlakukan dalam bentuk tulisan, hukum adat mereka baru akan diketahui dari ucapan tokoh adat dan dari hebitasi kehidupan sehari hari mereka.   Oleh karenanya intervensi, provokasi dan rekayasa sosial menjadi penting untuk membantu mereka menemukan jalan dalam menciptakan pola atau modifikasi budaya baru mereka yang mampu menyeimbangkan hukum adat yang berlaku dengan modernisasi. 

Mereka juga tidak biasa dan dibiasakan untuk berdiskusi tentang bagaimana perkembangan peradaban di luar kesukuan mereka, karena mereka mematuhi tugas kesukuan mereka: “Neguhkeun agama ka sakabeh agama, neguhkeun nagara ka sakabeh nagara, teu kabagean ngaramekeun negara“ (Mempastikan/menegaskan agama ke seluruh agama, menegaskan negara ke seluruh negara, tidak kebagian untuk berkecimpung meramaikan dalam mengelola negara). Sehingga pelaksanaan hukum adat mereka menjadi kaku, tegas , lugas dan tidak mengenal kompromi.

Atas dasar dua kondisi nyata karakter mereka yaitu budaya lisan dan kekakuan hukum adat, maka keberadaan dan kehadiran pakar antropologi, sosiologi, budayawan, pemerhati komunitas adat,  dan pakar hukum adat serta pemerintah sebagai penaung keberadaan mereka sebagai pengarah dan pendesain modifikasi pola hidup baru suku Baduy yang bisa adaptif dengan tuntutan zaman adalah amat sangat penting keberadaannya. 

Yach, sederhananya atau paling tidak dengan adanya team riset serta kajian-kajian secara ilmiah yang terus menerus dan berkesinambungan, akan melahirkan kebijakan pemerintah yang tepat guna dan tepat sasaran bagi masa depan masyarakat Baduy ke depan.

Kesimpulanya bahwa masa depan bisa dibaca dan diprediksi sejak hari ini, dan masa depan bisa diciptakan sejak hari ini, maka jika dan hanya jika kita menginginkan dan memimpikan masa depan yang sukses dan gemilang prediksilah ( baca) dan ciptakanlah di hari ini jangan ditunda ke hari esok. Sebab jarak antara masa lalu ke masa kini dan ke masa depan itu nisbi batas waktunya. [T]

(Di tulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, Agustus 2025)

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Problematika Desa Adat Baduy Menuju Desa Wisata — [Bagian 1]
Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy – [Bagian 1]
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran

Next Post

Pada Waktu Seperti Apa Sebaiknya Kita Makan Rujak?

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Puasa Sehat Ramadan: Menu Apa yang Sebaiknya Dipilih Saat Sahur dan Berbuka?

Pada Waktu Seperti Apa Sebaiknya Kita Makan Rujak?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co