6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Strategi Apik Warga Baduy Dalam: Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [1]

Asep Kurnia by Asep Kurnia
August 12, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

MENURUT pengakuan mereka, sejak lahir suku Baduy sudah terbagi menjadi dua kelompok, yaitu yang dinamakan Baduy Luar dan yang menamakan Urang Tangtu, Urang Jero atau suku Baduy Dalam. Menurut risalahnya, kedua kelompok ini memiliki perbedaan yang mencolok dalam menatalaksanakan hukum adat, namun juga memiliki persamaan dalam melaksanakan Pikukuh Karuhun atau sering disebut Amanat Leluhur kesukuan mereka.

Baduy Luar menolak pandangan bahwa mereka merupakan warga pecahan dari Baduy Dalam yang dikeluarkan karena kena hukuman akibat melanggar hukum adat.Setelah saya konfirmasi dari ciri-ciri khusus melalui observasi, wawancara dan riset, memang benar bahwa kelompok Baduy Luar bukan berasal dari warga Baduy Dalam yang keluar atau dikeluarkan karena melanggar larangan, pantangan dan pamali hukum adat—walau tidak menampik bahwa banyak warga Baduy Luar  berasal dari warga Baduy Dalam yang sengaja keluar atau dikeluarkan dan menetap atau berpindah jadi warga Baduy Luar.

Bukti autentik yang tak terbantahkan bahwa kelompok Baduy Luar dan Baduy Dalam itu sudah ada sejak kesukuan mereka lahir adalah diabadikannya kedua kelompok itu dalam nama Lembaga Adat “Tangtu Tilu Jaro Tujuh”, di mana yang dimaksud Tangtu Tilu itu adalah tokoh kelompok Baduy Dalam dan Jaro Tujuh itu adalah tokoh adat dari Baduy Luar.

Catatan penting: bahwa perpindahan warga Baduy Dalam menjadi warga Baduy Luar itu diakibatkan oleh berbagai alasan dan faktor, bukan hanya semata-mata  dihukum/dikeluarkan  karena melanggar aturan hukum adat Baduy Dalam. (Baca artikel: Hijrahnya Warga Baduy Dalam Ke Baduy Luar.)

Dari berbagai litelatur suku Baduy yang sudah terbit dan diakui secara akademik dan menjadi rujukan ilmiah, terungkap bahwa Baduy Luar memiliki perbedaan yang tajam dengan Baduy Dalam, baik dikaji dari letak geografis, hukum adat yang dipakai maupun sosial ekonomi demografinya. Pada buku cetakan lama atau penulis sebut saja cetakan ORLA (orde lama) tidak banyak dibedah secara mendetail perbedaan maupun persamaan kedua kelompok tersebut.

Di buku cetakan lama para penulis lebih memaparkan perbedaan dan persamaan secara sekilas dan umum, mungkin karena observasi dan penggalian informasi ke-Baduy-an pada saat lampau tidak begitu mudah didapat. Keterbukaan informasi seperti saat itu masih belum menjadi rujukan yang sah dan mengikat, berbeda dengan sekarang. Itu saya sebut alasan-alasan mendasar mengapa buku tentang suku Baduy cetakan lama jarang dan tidak mendetail.

Alasan lain adalah bahwa Baduy pada saat lampau sering disebut atau dilabeli salah satu suku yang tertutup dan kaku, terpencil, mengasingkan diri dan kuat memegang aturan hukum adat atau Pikukuh Karuhun, sehingga sulit untuk dilacak secara akurat oleh para penulis maupun researcher.

Kerentanan Sosial Ekonomi Baduy Luar dengan Baduy Dalam

Oleh karena, pada saat lampau, mereka dilabeli suku yang tertutup dan menghindar dari pergaulan dengan masyarakat modern, beberapa aspek kehidupan mereka tidak terungkap secara lugas dan detail. Salah satu yang tertutup dan ditutup rapat-rapat adalah situasi dan kondisi taraf sosial ekenomi mereka yang sebenarnya, yang selalu dibungkus oleh semacam teori atau informasi sesat bahwa masyarakat Baduy Dalam itu sejahtera dan berswasembada pangan, memiliki cadangan padi yang melimpah sampai dikatakan memiliki cadangan untuk 45 tahun ke depan.

Kemudian, mereka juga dikatagorikan dan atau di-framing sebagai suku yang selalu menolak program dan bantuan-bantuan pemerintah, dengan alasan klasik bahwa mereka secara mandiri bisa memenuhi dan mencukupi segala kebutuhan hidupnya dari penghasilan alam mereka, serta tuduhan-tuduhan yang kurang tepat lainnya.

Stigma tersebut begitu lama diyakini dan dipercaya oleh masyarakat luar Baduy, sehingga sampai sekarang masyarakat Baduy Dalam masih dianggap masyarakat yang sejahtera, mandiri berswasembada pangan setara dengan saudara warga negara lainnya. Padahal, jika dilihat secara faktual saat ini, stigma tersebut sangat mudah terbantahkan, karena situasi dan kondisi sosial ekonomi mereka sesungguhnya berbanding terbalik dengan label atau stigma yang diberikan di atas.

Sampai saat ini, mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan penghasilan keuangan karena mereka masih dilarang berbisnis (berniaga/dagang) di wilayah perkampungannya, di area tanah ulayat mereka tidak ada area sawah, penanaman pohon bernilai ekonomis masih dilarang, beternak hewan kaki empat juga dilarang, hasil bumi hanya mengandalkan tanaman yang hidup atau tumbuh secara alami.

Mereka diwajibkan Ngahuma atau berladang setahun sekali dan hasil padinya khusus digunakan atau dipakai untuk ritual dan acara kegiatan adat, untuk makan sehari hari mereka harus beli beras dari luar Baduy. Sementara lahan untuk berladang semakin sempit dan kurang subur, akibatnya banyak sekali gagal panen. Kondisi riil ini tidak banyak terpantau dan dipantau atau lepas dari pandangan publik, pemerintah dan para pencermat dan pengamat suku Baduy.

Kondisi sosial ekonomi atau taraf kesejahteraan suku Baduy yang terbaca oleh publik lebih terwakili oleh kondisi masyarakat Baduy Luar yang memang sejak lama sudah meningkat taraf hidupnya berkat banyaknya dan atau seringnya berinteraksi dengan masyarakat luar Baduy serta para wisatawan yang berkunjung ke tanah Baduy ditambah bahwa warga Baduy Luar sudah dilonggarkan untuk melakukan bisnis, berniaga, atau berdagang.

Dengan intensitas kunjungan para wisatawan yang tinggi dan warga Baduy Luar sudah dizinkan atau diperbolehkan berdagang terutama di kampung kampung  jalur wisata, maka transaksi bisnis menjadi meningkat, sirkulasi serta perputaran keuangan pun meningkat dan alhasil penghasilan/pendapatan warga Baduy Luar pun akhirnya meningkat, ujungnya tingkat kesejahteraan pun meningkat secara signifikan. Namun, warga Baduy Luar lainnya yang tidak terlewati jalur wisata taraf kesejahteraannya masih tertinggal jauh seperti warga Baduy Dalam.

Itulah potret yang terpantau dan terekam oleh publik, padahal jika diselusuri secara akurat tingkat kesejahteraan warga Baduy Dalam sangat jauh dari kriteria warga Baduy Luar yang terdampak jalur wisata. Kalimat pendeknya ada kesenjangan tingkat sosial ekonomi yang cukup jauh antara warga Baduy Luar dengan warga Baduy Dalam (Asep Kurnia, 2025).

Masih Terjadi Penggalan, Pembelokan, dan Penyesatan Informasi

Pada tulisan-tulisan lain, telah saya paparkan berbagai situasi dan kondisi kekinian suku Baduy dengan tema-tema yang tentunya amat sangat berbeda dengan situasi dan kondisi masa lampau mereka yang tidak sempat terdokumentasikan secara utuh oleh para penulis pendahulu.

Tentang problematika, dilema, proses dinamisasi pada aspek tertentu, kekhawatiran tentang masa depan kesukuan Baduy, serta berbagai fenomena yang terjadi di suku Baduy adalah tulisan yang sengaja saya paparkan agar informasi dan berita kekinian suku Baduy bisa dibaca secara berkesinambungan—yang berfungsi sebagai pelurus informasi, penambah wawasan, dan pengetahuan baru (new knowledge) tentang seputar dan sekitar suku Baduy.

Kondisi dan situasi sosial ekonomi suku Baduy baik di Baduy Luar maupun di Baduy Dalam adalah bagian yang tak terpisahkan yang wajib saya paparkan dengan jelas, jernih, dan akurat untuk menyempurnakan informasi tentang Baduy agar lebih sahih dan measureable. Bicara dan membicarakan suku Baduy tidak akan utuh kalau tidak menjelaskan secara gamblang tentang siapa, bagaimana kelompok Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Di luar baduy tidak banyak yang paham tentang siapa Baduy yang sebenanya. Walaupun banyak konten yang membahas tentang suku Baduy, tapi penafsiran tentang Baduy tetap menyisakan penggalan-penggalan dan bias atau terjadi penyesatan informasi karena kebanyakan konten tidak berdasarkan lacakan ilmiah dengan  narasumber yang primer, jenis dan kualitas informasinya lebih berdasarkan pada kejadian visualisasi sesaat, opini, atau atas dasar interest dan interpretasi pribadi.

Pemberitaan sekaligus interpretasi tentang situasi dan kondisi sosial ekonomi atau tingkat kesejahteraan masyarakat Baduy Dalam di 3 kampung, Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik, masih banyak yang “ngawur bin patojaiyah” (tidak sinkron) karena mereka tidak memahami secara riil.

Publik masih memandang bahwa tingkat kesejahteraan warga Baduy Dalam masih memadai atau sejajar dengan warga Baduy Luar maupun luar Baduy dan dianggap tidak bermasalah. Padahal, tingkat sosial ekonomi warga Baduy Dalam itu sangat tertinggal jauh dari saudara-saudaranya dan itu merupakan problematika yang sudah lama mereka rasakan namun tidak terungkap, sulit untuk dipecahkan bahkan kesenjangan itu sudah menjadi dilema kecemburuan sosial.

Bagaimana kecemburuan sosial itu terjadi dan apa solusi menanganinya, ikuti episode lanjutannya.[T]

Ditulis di Padepokan Sisi Leuit perbatasan Baduy, Agustus 2025

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Jaswanto

Baduy Perlu Menciptakan Budaya Baru Demi Keberlangsungan Masa Depan Kesukuannya
Efek Peran Ganda Pemimpin Adat di Baduy
Modifikasi dan Pembangunan Modern di Tanah Ulayat Baduy
Tags: Suku BaduySuku Baduy DalamSuku Baduy Luar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi Bagus Didapat dari Tema yang Dekat: Resep Menulis Puisi ala Oka Rusmini

Next Post

Israel Valera dan Kecak Drum: Sebuah Kolaborasi yang Apik

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Israel Valera dan Kecak Drum: Sebuah Kolaborasi yang Apik

Israel Valera dan Kecak Drum: Sebuah Kolaborasi yang Apik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co