MENJELANG sampai di Taman Baca Kesiman (TBK), Denpasar, saya mengirim pesan WA ke Agung Alit, pendiri TBK dan Taman 65. Tidak lama kemudian dia menjawab, akan segera meluncur dari rumahnya.
“Silakan ngopi-ngopi dulu,” tulisnya.
Dua bulan sebelum berangkat menuju Labuan Bajo, saya berkabar padanya untuk mampir ke TBK.
“Dengan senang hati. Tak tunggu kehadirannya, semoga lancar perjalanannya,” ujarnya saat itu.
Di halaman depan TBK saya sempat celingukan. Di dalam ada beberapa anak muda, sebagian sedang membaca dan lainnya lagi menikmati secangkir kopi sambil ngobrol.
Setelah sepeda saya parkir, saya melangkah masuk dan duduk di salah satu kursi. Tidak lama kemudian perempuan muda menghampiri saya.
“Selamat sore. Mau minum apa, Pak?,” sapanya ramah.
“Kopi.”
Sejenak kemudian dia kembali dengan membawa secangkir kopi di atas nampan.
“Berapa?,” tanya saya sambil mengeluarkan dompet dari kantong celana.
Mendadak lelaki muda di meja kasir memberi kode dengan tangannya kepada perempuan muda itu.
“Tidak usah bayar, Pak,” katanya.
“Tidak bayar bagaimana? Saya harus bayar.”
Lelaki muda yang memberi kode tadi tergopoh-gopoh datang ke meja saya.
“Jangan Pak. Nanti saya dimarahi Ajik. Tadi Ajik pesan, bapak tidak boleh bayar,” katanya.
“Baik, terima kasih ya.”
“Sama-sama.”
Tidak lama kemudian Agung Alit datang. Kami pun terlibat obrolan dengan tema yang meloncat-loncat.
“Saat turun dari kapal di Gilimanuk apakah melalui pemeriksaan ketat?” tanyanya.
“Iya, Jik. Sebelum screening Peduli Lindungi, saya diminta menunjukkan KTP. Kemudian ditanya macam-macam. Tujuannya ke mana, kenapa naik sepeda, sendiri atau rombongan, dan banyak lagi.”
“Ini karena berkaitan dengan persiapan G20. Kawan saya, anak Green Peace yang juga bersepeda, ditolak masuk Bali,” katanya.
Saya menduga pegiat lingkungan hidup dari Green Peace itu dicurigai akan berkampanye tentang pemanasan global saat berlangsungnya G20. Entahlah.
Tidak lama kemudian datang Ari Antoni, pegiat kesenian di Denpasar. Kami pun melanjutkan obrolan hingga menjelang TBK tutup.
“Malam ini Bung menginap di mana?” tanya Agung Alit.
“Yang dekat sini saja, tapi yang sejalur dengan Padangbai.”
“Semua akan saya siapkan. Bung santai saja.”
Saya pikir pegiat literasi itu hanya mencarikan hotel. Tapi dia juga membayarnya. Saya benar-benar dimanjakan Agung Alit selama 2 malam di Denpasar.
Tanggal 15 November 2022 pukul 05.30 WITA, saya melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Padangbai.
Pagi itu Denpasar masih sepi. Untuk memudahkan perjalanan, saya mengaktifkan Google Map. Setelah melalui jalan sempit, saya diarahkan untuk masuk ke Jl. Bypass Ida Bagus Mantra.
“Mau ke mana?”
Tiba-tiba saja ada anak muda yang mengendarai roadbike di sebelah saya. Jl Bypass Ida Bagus Mantra masih lengang. Saya taksir usianya belum genap 25 tahun. Udara sejuk menerpa kulitnya yang bersih.
“Ke Labuan Bajo.”
“Widiih! Jauh banget!”
“Ya jalan santai saja. Semoga kuat.”
Kami pun bersepeda sambil ngobrol hingga pertigaan jalan menuju ke Pelabuhan Padangbai. Denpasar sudah jauh tertinggal di belakang.
Jarak dari hotel tempat saya menginap ke Pelabuhan Padangbai hanya sekitar 40 kilometer.
Dengan kecepatan rata-rata 17,6 kilometer per jam, saya sampai di pelabuhan yang terletak di kabupaten Karangasem itu dalam waktu 2 jam 18 menit. [T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
- BACA CERITA SEBELUMNYA:
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda7-750x375.jpeg)


























