2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka 80 Tahun, Terjebak Penjajah Baru

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 17, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SETIAP tanggal 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan bangsa dengan cara yang khas dan hanya ada di Indonesia. Sebut saja balap karung sampai nyungsep, panjat pinang berminyak demi kipas angin, lomba makan kerupuk sampai mulut kering dan banyak lagi, yang penting aneh-aneh. Semua tertawa, semua terbahak dan  bersorak, saya juga. Tapi mungkin saking  kerasnya tawa kita, sampai lupa untuk mengkritisi tentang kemerdekaan itu sendiri.

Benar bahwa kita secara de facto dan de yure telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Tapi apakah kita sudah benar-benar merdeka, atau kita cuma ganti model penjajahan? Dulu kakek nenek menghadapi tank dan moncong senapan, sekarang  kita menghadapi tagihan pajak rupa-rupa, ancaman pengambilan tanah, kebijakan yang cuma menguntungkan segelintir elite, dan algoritma media sosial yang mengatur apa yang kita lihat dan pikirkan. Komplet pokoknya.

Nah, mari kita tengok sebentar sejarah 17-an. Tradisi perayaan kemerdekaan yang penuh lomba nyeleneh ini ternyata bukan murni hasil spontanitas rakyat. Ia lahir dari persilangan dua hal. Pertama  warisan pesta komunal Nusantara, yang sejak dulu sudah memiliki budaya merayakan panen, sedekah bumi, serta hajatan bersama;  dan yang kedua,  strategi politik negara yang melihat pesta rakyat sebagai cara ampuh memperkuat persatuan di kalangan masyarakat akar rumput.

Dari Rapat Raksasa ke Balap Karung

Sejarahnya begini. Tahun-tahun pertama kemerdekaan  sekitar 1945–1949, peringatan 17 Agustus itu nuansanya serius, politis, dan militan. Arsip surat kabar harian Merdeka edisi 18 Agustus 1946 mencatat bagaimana perayaan17-an kala itu lebih mirip konsolidasi revolusi.  Isinya adalah rapat raksasa, pidato pembakar semangat, pawai obor, hingga defile pemuda bersenjata bambu runcing.

Tidak ada balap karung apalagi lomba make up suami dengan ditutup matanya, dan yang nonton tertawa geli sampai nangis. Baru di awal 1950-an, ketika republik kita mulai stabil pasca pengakuan kedaulatan, barulah unsur hiburan rakyat mulai masuk. Koran Harian Rakjat  tanggal 17 Agustus 1953, pada beritanya memuat foto anak-anak di Lapangan Banteng berlari dalam karung goni.  Nah, momen inilah sepertinya yang bisa dibilang sebagai awal mula “olahraga resmi” 17 Agustusan.

Era Orde Barunya Pak Harto yang berlangsung dari 1966–1998,  menjadi puncak standarisasi lomba 17-an. Pemerintah kala itu mendorong tiap RT, sekolah, kantor, dan pabrik untuk  menggelar lomba dengan nuansa guyub rukun sekalian juga mengirim pesan,  inilah wajah persatuan Indonesia. TVRI, stasiun siaran televisi satu-satunya di negara kita waktu itu juga menyiarkan lomba panjat pinang dan balap karung sebagai tontonan nasional. Menurut Kitley, dalam bukunya, Television, Nation, and Culture in Indonesia (2000), banyak lomba yang sekarang kita anggap “tradisi leluhur” sebenarnya baru dibakukan di periode Orde Baru ini.

Lomba sebagai Pendidikan Politik Terselubung

Kalau kita bedah secara mendalam, lomba-lomba ini sebenarnya bukan sekadar lucu-lucuan. Sebenarnya lomba-lomba lucu ini semacam pendidikan politik yang dikemas dalam karnaval. Ada beberapa hal yang bisa kita temukan di sana berkaitan dengan pendidikan politik tersebut. Salah satunya adalah kohesi sosial, di mana dalam lomba-lomba ini  orang di kampung dari latar berbeda dipakasa untuk bekerja sama atau berkompetisi sehat. Ini membentuk social bonding (Putnam, 2000) yang krusial untuk ketahanan komunitas.

Ditemukan juga ruang simbolik demokrasi, di mana ada kesepakatan aturan, ada kompetisi, ada kesepakatan penghargaan untuk yang menang, jadi ini semacam miniatur demokrasi yang tanpa sadar dipraktikkan oleh warga +62. Lomba 17-an juga menjadi ritus kolektif, yang dalam kacamata Émile Durkheim, bisa disebut sebagai semacam upacara dan pesta massal yang akan memperkuat solidaritas mekanis. Suatu bentuk persatuan berbasis kesamaan pengalaman, yang diulang tiap tahun. 

Bahkan panjat pinang dapat menjadi pelajaran kolektif bahwa hadiah, yang seringkali merupakan barang-barang kekinian,  bisa diraih namun butuh kerja sama, jalannya licin, dan kadang harus berkorban demi kelancaran orang lain yang sama-sama berjuang di atas. Balap karung juga menjadi simbol bahwa perjalanan menuju tujuan, kadang dibatasi langkah terbatas yang membuat kita terhuyung-huyung.  Sementara tarik tambang adalah narasi paling sederhana utnuk memahami arti kekuatan kekompakan, persatuan dan kerjasama.

Merayakan Esensi Kemerdekaan, Bukan Sekadar Masa Lalu

Masalahnya, makna kemerdekaan yang kita rayakan seringkali berhenti di titik momen 1945. Padahal, bentuk penjajahan sekarang lebih licin dari tiang panjat pinang. Penjajahan baru yang datang tanpa senapan, tapi membuat rakyat tertekan dan sulit bergerak bebas dalam kehidupan. Tengok saja dari sisi ekonomi, di mana kita memiliki  ketergantungan besar pada impor pangan, pada utang luar negeri, dan investasi asing yang buntutnya menguras sumber daya Indonesia.

Dari sisi budaya, arus budaya global yang kuat  membuat kita minder dengan karya sendiri. Di sisi politik, sepertinya semua kita sudah pada paham, bagaimana wajah oligarki akut di negara kita membatasi ruang partisipasi rakyat. Semua itu kemudian membuat bangsa kita punya mental  inferioritas, konsumtif, dan apatis di mana warga tidak lagi merasa berdaya.  Itulah sebabnya, setiap perayaan kemerdekaan seharusnya juga jadi ajang evaluasi, apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam berpikir, merdeka dalam menentukan kebijakan sendiri, dan merdeka dalam mengelola kekayaan negeri kita sendiri.

Tiap tahun saya mengikuti renungan malam tasyakuran di RT, isinya kembali mengingatkan tentang bagaimana perjuangan para kakek dan nenek moyang berjuang saat jaman penjajahan dulu. Ya memang tentu hal itu harus diajarkan. Jangan ditinggalkan. Namun jangan kemudian hanya berhenti di situ, karena buat generasi yang lahir tahun 2000-an, kolonialisme fisik adalah bab sejarah yang seringkali tidak menyentuh pengalaman hidup mereka.

Kesadaran tentang penjajahan harus diupdate sesuai zaman. Karena tanpa reinterpretasi, 17 Agustus bisa terasa hambar, sekadar lomba memukul plastik isi air, dan bukan lagi momen perjuangan. Padahal peringatan 17 Agustus mestinya adalah untuk mengobarkan kembali rasa syukur akan kemerdekaan,  semangat perjuangan, dan cinta tanah air.

Jadi dalam hemat saya, pesta rakyat macam lomba-lomba 17-an ini bisa dimanfaatkan untuk menanamkan pesan bahwa kemerdekaan adalah proyek yang tidak pernah selesai. Balap karung bukan cuma seru-seruan, tapi juga latihan menghadapi keterbatasan. Panjat pinang bukan cuma olahraga absurd, tapi juga metafora perjuangan kolektif. Dan yang terpenting, kesadaran bagi semua, bahwa  kemerdekaan harus dijaga dari segala bentuk penjajahan baru yang kadang,  justru kita undang sendiri lewat kebijakan yang salah arah.

Sebenarnya perayaan keerdekaan kita  ini luar biasa.  Bayangkan saja, sebuah pesta di seluruh penjuru negeri, yang bikin semua warga tertawa, berkeringat, dan bersorak,  tapi sekaligus menyelipkan latihan mental melawan penindasan. Itulah lomba 17-an. Durkheim mungkin akan bilang ini adalah bentuk collective effervescence, suatu momen ketika emosi bersama membentuk rasa persatuan. Sementara di sisi politik, ini adalah soft power di mana negara dan masyarakat sama-sama menjaga kesetiaan pada ide kemerdekaan, tapi tanpa paksaan yang formal.

Kerupuk Menggoda tapi Tetap Waspada

Perayaan 17 Agustus yang biasa kita lakukan, dengan segala lomba nyeleneh dan keseruannya, adalah gabungan unik antara tradisi komunal Nusantara, strategi politik negara, dan ruang edukasi warga.  Ia bisa jadi arena untuk membangun solidaritas, namun sekaligus menjadi sarana untuk memperluas makna kemerdekaan, dari sekadar bebas dari kolonialisme fisik, menuju kepada bebas dari segala bentuk penjajahan, termasuk segala bentuk penjajahan halus akibat ulah kita sendiri.

Maka, tahun ini, ketika Anda ikut lomba makan kerupuk mari sama-sama kita sadar dan ingat bahwa ini bukan sekadar soal kerupuk. Ini soal memastikan apakah kita semua masih punya gigi, yang bukan hanya untuk mengunyah kerupuk, tapi untuk merobek setiap bentuk penindasan, baik model lama maupun model baru. Baik dari luar maupun dari dalam. Merdeka..! Merdekaaa..!!! [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh
Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaankolonial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lokakarya “Cultural Heritage Digitization and Preservation”: Digitalisasi Museum Langkah Strategis

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co