14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka 80 Tahun, Terjebak Penjajah Baru

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 17, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SETIAP tanggal 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan bangsa dengan cara yang khas dan hanya ada di Indonesia. Sebut saja balap karung sampai nyungsep, panjat pinang berminyak demi kipas angin, lomba makan kerupuk sampai mulut kering dan banyak lagi, yang penting aneh-aneh. Semua tertawa, semua terbahak dan  bersorak, saya juga. Tapi mungkin saking  kerasnya tawa kita, sampai lupa untuk mengkritisi tentang kemerdekaan itu sendiri.

Benar bahwa kita secara de facto dan de yure telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Tapi apakah kita sudah benar-benar merdeka, atau kita cuma ganti model penjajahan? Dulu kakek nenek menghadapi tank dan moncong senapan, sekarang  kita menghadapi tagihan pajak rupa-rupa, ancaman pengambilan tanah, kebijakan yang cuma menguntungkan segelintir elite, dan algoritma media sosial yang mengatur apa yang kita lihat dan pikirkan. Komplet pokoknya.

Nah, mari kita tengok sebentar sejarah 17-an. Tradisi perayaan kemerdekaan yang penuh lomba nyeleneh ini ternyata bukan murni hasil spontanitas rakyat. Ia lahir dari persilangan dua hal. Pertama  warisan pesta komunal Nusantara, yang sejak dulu sudah memiliki budaya merayakan panen, sedekah bumi, serta hajatan bersama;  dan yang kedua,  strategi politik negara yang melihat pesta rakyat sebagai cara ampuh memperkuat persatuan di kalangan masyarakat akar rumput.

Dari Rapat Raksasa ke Balap Karung

Sejarahnya begini. Tahun-tahun pertama kemerdekaan  sekitar 1945–1949, peringatan 17 Agustus itu nuansanya serius, politis, dan militan. Arsip surat kabar harian Merdeka edisi 18 Agustus 1946 mencatat bagaimana perayaan17-an kala itu lebih mirip konsolidasi revolusi.  Isinya adalah rapat raksasa, pidato pembakar semangat, pawai obor, hingga defile pemuda bersenjata bambu runcing.

Tidak ada balap karung apalagi lomba make up suami dengan ditutup matanya, dan yang nonton tertawa geli sampai nangis. Baru di awal 1950-an, ketika republik kita mulai stabil pasca pengakuan kedaulatan, barulah unsur hiburan rakyat mulai masuk. Koran Harian Rakjat  tanggal 17 Agustus 1953, pada beritanya memuat foto anak-anak di Lapangan Banteng berlari dalam karung goni.  Nah, momen inilah sepertinya yang bisa dibilang sebagai awal mula “olahraga resmi” 17 Agustusan.

Era Orde Barunya Pak Harto yang berlangsung dari 1966–1998,  menjadi puncak standarisasi lomba 17-an. Pemerintah kala itu mendorong tiap RT, sekolah, kantor, dan pabrik untuk  menggelar lomba dengan nuansa guyub rukun sekalian juga mengirim pesan,  inilah wajah persatuan Indonesia. TVRI, stasiun siaran televisi satu-satunya di negara kita waktu itu juga menyiarkan lomba panjat pinang dan balap karung sebagai tontonan nasional. Menurut Kitley, dalam bukunya, Television, Nation, and Culture in Indonesia (2000), banyak lomba yang sekarang kita anggap “tradisi leluhur” sebenarnya baru dibakukan di periode Orde Baru ini.

Lomba sebagai Pendidikan Politik Terselubung

Kalau kita bedah secara mendalam, lomba-lomba ini sebenarnya bukan sekadar lucu-lucuan. Sebenarnya lomba-lomba lucu ini semacam pendidikan politik yang dikemas dalam karnaval. Ada beberapa hal yang bisa kita temukan di sana berkaitan dengan pendidikan politik tersebut. Salah satunya adalah kohesi sosial, di mana dalam lomba-lomba ini  orang di kampung dari latar berbeda dipakasa untuk bekerja sama atau berkompetisi sehat. Ini membentuk social bonding (Putnam, 2000) yang krusial untuk ketahanan komunitas.

Ditemukan juga ruang simbolik demokrasi, di mana ada kesepakatan aturan, ada kompetisi, ada kesepakatan penghargaan untuk yang menang, jadi ini semacam miniatur demokrasi yang tanpa sadar dipraktikkan oleh warga +62. Lomba 17-an juga menjadi ritus kolektif, yang dalam kacamata Émile Durkheim, bisa disebut sebagai semacam upacara dan pesta massal yang akan memperkuat solidaritas mekanis. Suatu bentuk persatuan berbasis kesamaan pengalaman, yang diulang tiap tahun. 

Bahkan panjat pinang dapat menjadi pelajaran kolektif bahwa hadiah, yang seringkali merupakan barang-barang kekinian,  bisa diraih namun butuh kerja sama, jalannya licin, dan kadang harus berkorban demi kelancaran orang lain yang sama-sama berjuang di atas. Balap karung juga menjadi simbol bahwa perjalanan menuju tujuan, kadang dibatasi langkah terbatas yang membuat kita terhuyung-huyung.  Sementara tarik tambang adalah narasi paling sederhana utnuk memahami arti kekuatan kekompakan, persatuan dan kerjasama.

Merayakan Esensi Kemerdekaan, Bukan Sekadar Masa Lalu

Masalahnya, makna kemerdekaan yang kita rayakan seringkali berhenti di titik momen 1945. Padahal, bentuk penjajahan sekarang lebih licin dari tiang panjat pinang. Penjajahan baru yang datang tanpa senapan, tapi membuat rakyat tertekan dan sulit bergerak bebas dalam kehidupan. Tengok saja dari sisi ekonomi, di mana kita memiliki  ketergantungan besar pada impor pangan, pada utang luar negeri, dan investasi asing yang buntutnya menguras sumber daya Indonesia.

Dari sisi budaya, arus budaya global yang kuat  membuat kita minder dengan karya sendiri. Di sisi politik, sepertinya semua kita sudah pada paham, bagaimana wajah oligarki akut di negara kita membatasi ruang partisipasi rakyat. Semua itu kemudian membuat bangsa kita punya mental  inferioritas, konsumtif, dan apatis di mana warga tidak lagi merasa berdaya.  Itulah sebabnya, setiap perayaan kemerdekaan seharusnya juga jadi ajang evaluasi, apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam berpikir, merdeka dalam menentukan kebijakan sendiri, dan merdeka dalam mengelola kekayaan negeri kita sendiri.

Tiap tahun saya mengikuti renungan malam tasyakuran di RT, isinya kembali mengingatkan tentang bagaimana perjuangan para kakek dan nenek moyang berjuang saat jaman penjajahan dulu. Ya memang tentu hal itu harus diajarkan. Jangan ditinggalkan. Namun jangan kemudian hanya berhenti di situ, karena buat generasi yang lahir tahun 2000-an, kolonialisme fisik adalah bab sejarah yang seringkali tidak menyentuh pengalaman hidup mereka.

Kesadaran tentang penjajahan harus diupdate sesuai zaman. Karena tanpa reinterpretasi, 17 Agustus bisa terasa hambar, sekadar lomba memukul plastik isi air, dan bukan lagi momen perjuangan. Padahal peringatan 17 Agustus mestinya adalah untuk mengobarkan kembali rasa syukur akan kemerdekaan,  semangat perjuangan, dan cinta tanah air.

Jadi dalam hemat saya, pesta rakyat macam lomba-lomba 17-an ini bisa dimanfaatkan untuk menanamkan pesan bahwa kemerdekaan adalah proyek yang tidak pernah selesai. Balap karung bukan cuma seru-seruan, tapi juga latihan menghadapi keterbatasan. Panjat pinang bukan cuma olahraga absurd, tapi juga metafora perjuangan kolektif. Dan yang terpenting, kesadaran bagi semua, bahwa  kemerdekaan harus dijaga dari segala bentuk penjajahan baru yang kadang,  justru kita undang sendiri lewat kebijakan yang salah arah.

Sebenarnya perayaan keerdekaan kita  ini luar biasa.  Bayangkan saja, sebuah pesta di seluruh penjuru negeri, yang bikin semua warga tertawa, berkeringat, dan bersorak,  tapi sekaligus menyelipkan latihan mental melawan penindasan. Itulah lomba 17-an. Durkheim mungkin akan bilang ini adalah bentuk collective effervescence, suatu momen ketika emosi bersama membentuk rasa persatuan. Sementara di sisi politik, ini adalah soft power di mana negara dan masyarakat sama-sama menjaga kesetiaan pada ide kemerdekaan, tapi tanpa paksaan yang formal.

Kerupuk Menggoda tapi Tetap Waspada

Perayaan 17 Agustus yang biasa kita lakukan, dengan segala lomba nyeleneh dan keseruannya, adalah gabungan unik antara tradisi komunal Nusantara, strategi politik negara, dan ruang edukasi warga.  Ia bisa jadi arena untuk membangun solidaritas, namun sekaligus menjadi sarana untuk memperluas makna kemerdekaan, dari sekadar bebas dari kolonialisme fisik, menuju kepada bebas dari segala bentuk penjajahan, termasuk segala bentuk penjajahan halus akibat ulah kita sendiri.

Maka, tahun ini, ketika Anda ikut lomba makan kerupuk mari sama-sama kita sadar dan ingat bahwa ini bukan sekadar soal kerupuk. Ini soal memastikan apakah kita semua masih punya gigi, yang bukan hanya untuk mengunyah kerupuk, tapi untuk merobek setiap bentuk penindasan, baik model lama maupun model baru. Baik dari luar maupun dari dalam. Merdeka..! Merdekaaa..!!! [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh
Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaankolonial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lokakarya “Cultural Heritage Digitization and Preservation”: Digitalisasi Museum Langkah Strategis

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co