12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka 80 Tahun, Terjebak Penjajah Baru

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 17, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SETIAP tanggal 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan bangsa dengan cara yang khas dan hanya ada di Indonesia. Sebut saja balap karung sampai nyungsep, panjat pinang berminyak demi kipas angin, lomba makan kerupuk sampai mulut kering dan banyak lagi, yang penting aneh-aneh. Semua tertawa, semua terbahak dan  bersorak, saya juga. Tapi mungkin saking  kerasnya tawa kita, sampai lupa untuk mengkritisi tentang kemerdekaan itu sendiri.

Benar bahwa kita secara de facto dan de yure telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Tapi apakah kita sudah benar-benar merdeka, atau kita cuma ganti model penjajahan? Dulu kakek nenek menghadapi tank dan moncong senapan, sekarang  kita menghadapi tagihan pajak rupa-rupa, ancaman pengambilan tanah, kebijakan yang cuma menguntungkan segelintir elite, dan algoritma media sosial yang mengatur apa yang kita lihat dan pikirkan. Komplet pokoknya.

Nah, mari kita tengok sebentar sejarah 17-an. Tradisi perayaan kemerdekaan yang penuh lomba nyeleneh ini ternyata bukan murni hasil spontanitas rakyat. Ia lahir dari persilangan dua hal. Pertama  warisan pesta komunal Nusantara, yang sejak dulu sudah memiliki budaya merayakan panen, sedekah bumi, serta hajatan bersama;  dan yang kedua,  strategi politik negara yang melihat pesta rakyat sebagai cara ampuh memperkuat persatuan di kalangan masyarakat akar rumput.

Dari Rapat Raksasa ke Balap Karung

Sejarahnya begini. Tahun-tahun pertama kemerdekaan  sekitar 1945–1949, peringatan 17 Agustus itu nuansanya serius, politis, dan militan. Arsip surat kabar harian Merdeka edisi 18 Agustus 1946 mencatat bagaimana perayaan17-an kala itu lebih mirip konsolidasi revolusi.  Isinya adalah rapat raksasa, pidato pembakar semangat, pawai obor, hingga defile pemuda bersenjata bambu runcing.

Tidak ada balap karung apalagi lomba make up suami dengan ditutup matanya, dan yang nonton tertawa geli sampai nangis. Baru di awal 1950-an, ketika republik kita mulai stabil pasca pengakuan kedaulatan, barulah unsur hiburan rakyat mulai masuk. Koran Harian Rakjat  tanggal 17 Agustus 1953, pada beritanya memuat foto anak-anak di Lapangan Banteng berlari dalam karung goni.  Nah, momen inilah sepertinya yang bisa dibilang sebagai awal mula “olahraga resmi” 17 Agustusan.

Era Orde Barunya Pak Harto yang berlangsung dari 1966–1998,  menjadi puncak standarisasi lomba 17-an. Pemerintah kala itu mendorong tiap RT, sekolah, kantor, dan pabrik untuk  menggelar lomba dengan nuansa guyub rukun sekalian juga mengirim pesan,  inilah wajah persatuan Indonesia. TVRI, stasiun siaran televisi satu-satunya di negara kita waktu itu juga menyiarkan lomba panjat pinang dan balap karung sebagai tontonan nasional. Menurut Kitley, dalam bukunya, Television, Nation, and Culture in Indonesia (2000), banyak lomba yang sekarang kita anggap “tradisi leluhur” sebenarnya baru dibakukan di periode Orde Baru ini.

Lomba sebagai Pendidikan Politik Terselubung

Kalau kita bedah secara mendalam, lomba-lomba ini sebenarnya bukan sekadar lucu-lucuan. Sebenarnya lomba-lomba lucu ini semacam pendidikan politik yang dikemas dalam karnaval. Ada beberapa hal yang bisa kita temukan di sana berkaitan dengan pendidikan politik tersebut. Salah satunya adalah kohesi sosial, di mana dalam lomba-lomba ini  orang di kampung dari latar berbeda dipakasa untuk bekerja sama atau berkompetisi sehat. Ini membentuk social bonding (Putnam, 2000) yang krusial untuk ketahanan komunitas.

Ditemukan juga ruang simbolik demokrasi, di mana ada kesepakatan aturan, ada kompetisi, ada kesepakatan penghargaan untuk yang menang, jadi ini semacam miniatur demokrasi yang tanpa sadar dipraktikkan oleh warga +62. Lomba 17-an juga menjadi ritus kolektif, yang dalam kacamata Émile Durkheim, bisa disebut sebagai semacam upacara dan pesta massal yang akan memperkuat solidaritas mekanis. Suatu bentuk persatuan berbasis kesamaan pengalaman, yang diulang tiap tahun. 

Bahkan panjat pinang dapat menjadi pelajaran kolektif bahwa hadiah, yang seringkali merupakan barang-barang kekinian,  bisa diraih namun butuh kerja sama, jalannya licin, dan kadang harus berkorban demi kelancaran orang lain yang sama-sama berjuang di atas. Balap karung juga menjadi simbol bahwa perjalanan menuju tujuan, kadang dibatasi langkah terbatas yang membuat kita terhuyung-huyung.  Sementara tarik tambang adalah narasi paling sederhana utnuk memahami arti kekuatan kekompakan, persatuan dan kerjasama.

Merayakan Esensi Kemerdekaan, Bukan Sekadar Masa Lalu

Masalahnya, makna kemerdekaan yang kita rayakan seringkali berhenti di titik momen 1945. Padahal, bentuk penjajahan sekarang lebih licin dari tiang panjat pinang. Penjajahan baru yang datang tanpa senapan, tapi membuat rakyat tertekan dan sulit bergerak bebas dalam kehidupan. Tengok saja dari sisi ekonomi, di mana kita memiliki  ketergantungan besar pada impor pangan, pada utang luar negeri, dan investasi asing yang buntutnya menguras sumber daya Indonesia.

Dari sisi budaya, arus budaya global yang kuat  membuat kita minder dengan karya sendiri. Di sisi politik, sepertinya semua kita sudah pada paham, bagaimana wajah oligarki akut di negara kita membatasi ruang partisipasi rakyat. Semua itu kemudian membuat bangsa kita punya mental  inferioritas, konsumtif, dan apatis di mana warga tidak lagi merasa berdaya.  Itulah sebabnya, setiap perayaan kemerdekaan seharusnya juga jadi ajang evaluasi, apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam berpikir, merdeka dalam menentukan kebijakan sendiri, dan merdeka dalam mengelola kekayaan negeri kita sendiri.

Tiap tahun saya mengikuti renungan malam tasyakuran di RT, isinya kembali mengingatkan tentang bagaimana perjuangan para kakek dan nenek moyang berjuang saat jaman penjajahan dulu. Ya memang tentu hal itu harus diajarkan. Jangan ditinggalkan. Namun jangan kemudian hanya berhenti di situ, karena buat generasi yang lahir tahun 2000-an, kolonialisme fisik adalah bab sejarah yang seringkali tidak menyentuh pengalaman hidup mereka.

Kesadaran tentang penjajahan harus diupdate sesuai zaman. Karena tanpa reinterpretasi, 17 Agustus bisa terasa hambar, sekadar lomba memukul plastik isi air, dan bukan lagi momen perjuangan. Padahal peringatan 17 Agustus mestinya adalah untuk mengobarkan kembali rasa syukur akan kemerdekaan,  semangat perjuangan, dan cinta tanah air.

Jadi dalam hemat saya, pesta rakyat macam lomba-lomba 17-an ini bisa dimanfaatkan untuk menanamkan pesan bahwa kemerdekaan adalah proyek yang tidak pernah selesai. Balap karung bukan cuma seru-seruan, tapi juga latihan menghadapi keterbatasan. Panjat pinang bukan cuma olahraga absurd, tapi juga metafora perjuangan kolektif. Dan yang terpenting, kesadaran bagi semua, bahwa  kemerdekaan harus dijaga dari segala bentuk penjajahan baru yang kadang,  justru kita undang sendiri lewat kebijakan yang salah arah.

Sebenarnya perayaan keerdekaan kita  ini luar biasa.  Bayangkan saja, sebuah pesta di seluruh penjuru negeri, yang bikin semua warga tertawa, berkeringat, dan bersorak,  tapi sekaligus menyelipkan latihan mental melawan penindasan. Itulah lomba 17-an. Durkheim mungkin akan bilang ini adalah bentuk collective effervescence, suatu momen ketika emosi bersama membentuk rasa persatuan. Sementara di sisi politik, ini adalah soft power di mana negara dan masyarakat sama-sama menjaga kesetiaan pada ide kemerdekaan, tapi tanpa paksaan yang formal.

Kerupuk Menggoda tapi Tetap Waspada

Perayaan 17 Agustus yang biasa kita lakukan, dengan segala lomba nyeleneh dan keseruannya, adalah gabungan unik antara tradisi komunal Nusantara, strategi politik negara, dan ruang edukasi warga.  Ia bisa jadi arena untuk membangun solidaritas, namun sekaligus menjadi sarana untuk memperluas makna kemerdekaan, dari sekadar bebas dari kolonialisme fisik, menuju kepada bebas dari segala bentuk penjajahan, termasuk segala bentuk penjajahan halus akibat ulah kita sendiri.

Maka, tahun ini, ketika Anda ikut lomba makan kerupuk mari sama-sama kita sadar dan ingat bahwa ini bukan sekadar soal kerupuk. Ini soal memastikan apakah kita semua masih punya gigi, yang bukan hanya untuk mengunyah kerupuk, tapi untuk merobek setiap bentuk penindasan, baik model lama maupun model baru. Baik dari luar maupun dari dalam. Merdeka..! Merdekaaa..!!! [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh
Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaankolonial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lokakarya “Cultural Heritage Digitization and Preservation”: Digitalisasi Museum Langkah Strategis

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co