3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 8, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

AGUSTUS memang bulan kemerdekaan. Sekedar info saja, tanggal 7 Agustus kemarin diperingati sebagai Hari Hutan Indonesia. Tapi memang tidak seperti tanggal 17, sepertinya tanggal 7 ini banyak yang diam-diam mau melewatkannya. Banyak yang bikin dosa di sini soalnya. Bukan rahasia kalau hutan kita yang kaya raya dan berharga itu habis dieksploitasi oknum penguasa dan kroninya.

Setelah rusak, ada suatu harapan baru penuh optimisme dengan kemasan “program hijau”. Namanya keren,  FOLU Net Sink 2030. FOLU merupakan singkatan dari Forestry and Other Land Use. Katanya, ini strategi pamungkas Indonesia untuk menyelamatkan iklim. Targetnya adalah menjadikan sektor kehutanan dan penggunaan lahan lain sebagai penyerap karbon bersih dalam waktu lima tahun ke depan.  Secara  singkatnya, ini adalah keadaan di mana proses penyerapan karbon dioksida lebih besar daripada karbon dioksida yang dihasilkan. 

Jelas ambisius, jelas megah. Tapi, kok beredar selentingan di jalanan depan gang, saat warga RT ramai-ramai mengecat jalan kampung dengan air kapur, suatu pertanyaan yang seolah asal bunyi. Mereka agak bingung apakah ini solusi ekologis, atau cuma sekadar tampang baru kapitalisme hijau tapi versi lokal?Saya tidak sempat dengar jawaban nyeleneh apalagi akademis, tertelan oleh candaan receh, pisang goreng dan kopi.

Karbon yang Dulu Musuh, Kini Komoditas

FOLU Net Sink, secara teknis, ingin menurunkan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan, sekaligus menyerap karbon lewat hutan alam, gambut, dan reklamasi. Namun ada satu perubahan penting dalam paradigma ini. Karbon bukan lagi dianggap sebagai “dosa industri”, tapi jadi komoditas yang bisa diperdagangkan. Cerdas bin kreatif. Dan hanya orang berpendidikan yang bisa berpikir seperti ini.  

Dengan logika ini, hutan bukan sekadar ekosistem, melainkan tambang karbon yang bisa dihitung, disertifikasi, dan dijual dalam skema pasar karbon. Dan pemain utamanya tetap saja bukan masyarakat adat, bukan juga petani kecil seputaran hutan. Sesuai harapan netizen, pemainnya adalah perusahaan tambang, sawit, hutan tanaman industri (HTI), dan para pemilik modal dengan akses ke istana. Kalau di pelajaran biologi  mungkin ini namanya metamorfosis.

Bayangkan, perusahaan yang dulunya jadi aktor utama deforestasi, kini memoles citra sebagai penyelamat iklim. Dulu menebang hutan, sekarang menanam ulang dan menjual kredit karbon ke luar negeri. Ini seperti maling yang lari pontang-panting ke pojok gelap gudang, buru-buru ganti baju, keluar sudah jadi satpam, lengkap dengan piagam penghargaan. Sepertinya bakal aman dan rencana bisa berjalan mulus.

Pasar Karbon Solusi Iklim atau Komoditi Baru

Tapi tidak semudah itu, ferguso. Kritik tajam datang dari banyak LSM dan akademisi. Dari WALHI, Greenpeace, AMAN, hingga suara-suara lokal di Kalimantan dan Papua. Kajian bersama BRIN, Greenpeace, dan WALHI menunjukkan bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan berpotensi memperparah deforestasi dan kekeringan ekstrem hingga tahun 2033 (Tempo, 2024).

 Mereka sepakat bahwa FOLU Net Sink bisa menjadi proyek mercusuar hijau yang menyembunyikan wajah lama oligarki kehutanan.  Indonesia kita ini selama puluhan tahun konon dikuasai oleh ekonomi ekstraktif berbasis konsesi lahan. Sawit, HTI, tambang, semuanya punya jejak panjang dalam kisah penghancuran ekosistem hutan.

Setalah semuanya rusak, dalam FOLU, para aktor ini masih tetap eksis. Bahkan mereka ini lebih berkibar karena proyek restorasi dan pasar karbon justru diserahkan ke tangan mereka.  Asyik bener kalau di sisi mereka.  Negara, bukannya mereformasi kepemilikan dan akses lahan, malah memperkuat relasi kuasa yang timpang ini. Sembari menggambarkan masa depan hutan dengan optimisme ke dalam laporan-laporan prestisius.

Bukannya mengubah sistem, di sini pasar karbon menciptakan sistem baru di mana polusi bisa ditebus dengan uang. Istilah gampangnya, korporasi mana pun bisa tetap membakar batu bara, asal bayar sebagai suatu penebusan dosa lewat skema offset karbon. Inilah logika green capitalism yang menyamar sebagai penyelamat planet. Maka muncul pertanyaan sinis tapi masuk akal, apakah FOLU Net Sink bertujuan menyelamatkan hutan, atau menyelamatkan ekonomi elite?

Alam Tak Bisa Dinegosiasi

Jika kita bicara tentang tanah adat, hingga hari ini, lebih dari 12 juta hektare wilayah adat belum diakui secara hukum. Masyarakat adat, yang terbukti paling mampu merawat hutan, justru masih berstatus sebagai pendatang liar di atas tanah leluhurnya sendiri.

Ironisnya, dalam proyek FOLU, pengakuan tanah adat tidak jadi komponen utama. Yang jadi fokus adalah sertifikasi karbon, mitra korporat, dan penilaian investor. Artinya, FOLU jadi bisu dalam menjawab problem kolonialisme agraria yang sudah terlalu lama berakar. Ia justru memutar persoalan ini dalam format baru yaitu karbonisasi kehutanan dengan sentuhan investor.

Pembaca yang budiman, kita semua tahu bahwa bencana ekologis tak bisa dicegah dengan menunggu FOLU sukses. Longsor, banjir bandang, kekeringan ekstrem, dan krisis pangan kini  telah mulai jadi bagian dari kehidupan harian. Dan tak seperti kasus hukum para elite politik, kerusakan ekologi tak mengenal amnesti, abolisi, atau surat grasi dari presiden. Tak ada ampun, tak ada penundaan, tak ada alasan. Alam bekerja dalam logika sebab-akibat, bukan putusan Mahkamah Konstitusi. Ia menghukum dengan senyap tapi pasti. Tidak ada nego.

Jadi kalau hari ini para pemegang kuasa berdandan apik dengan nuansa hijau segar  demi pencitraan internasional, maka kelak anak cucu kitalah yang akan memanen hasil tipu-tipu itu.  Udara kotor, tanah retak, air menghilang, dan harga pangan tak lagi bisa ditebus dengan e-wallet. Dan pada saat itu, tidak ada pencitraan internasional yang bisa menyelamatkan kita. Alam akan tetap menuntut.

Dan anak cucu, yang tak pernah memilih para pejabat hari ini, akan jadi generasi yang membayar utangnya. Tipe kejahatan ekologis ini kok rasa-rasanya sama bejatnya dengan para pelaku rudapaksa anak kandung. Tega sama anak cucu sendiri. Lha, terus, gimana?  Sambil lanjut pasang umbul-umbul dan ngecat jalan gang pakai air kapur, kita dengarkan nyanyian merdu Ebiet G. Ade saja.

“Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…”

Tabik.

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Tags: alamhutanlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Next Post

Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co