3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 8, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

AGUSTUS memang bulan kemerdekaan. Sekedar info saja, tanggal 7 Agustus kemarin diperingati sebagai Hari Hutan Indonesia. Tapi memang tidak seperti tanggal 17, sepertinya tanggal 7 ini banyak yang diam-diam mau melewatkannya. Banyak yang bikin dosa di sini soalnya. Bukan rahasia kalau hutan kita yang kaya raya dan berharga itu habis dieksploitasi oknum penguasa dan kroninya.

Setelah rusak, ada suatu harapan baru penuh optimisme dengan kemasan “program hijau”. Namanya keren,  FOLU Net Sink 2030. FOLU merupakan singkatan dari Forestry and Other Land Use. Katanya, ini strategi pamungkas Indonesia untuk menyelamatkan iklim. Targetnya adalah menjadikan sektor kehutanan dan penggunaan lahan lain sebagai penyerap karbon bersih dalam waktu lima tahun ke depan.  Secara  singkatnya, ini adalah keadaan di mana proses penyerapan karbon dioksida lebih besar daripada karbon dioksida yang dihasilkan. 

Jelas ambisius, jelas megah. Tapi, kok beredar selentingan di jalanan depan gang, saat warga RT ramai-ramai mengecat jalan kampung dengan air kapur, suatu pertanyaan yang seolah asal bunyi. Mereka agak bingung apakah ini solusi ekologis, atau cuma sekadar tampang baru kapitalisme hijau tapi versi lokal?Saya tidak sempat dengar jawaban nyeleneh apalagi akademis, tertelan oleh candaan receh, pisang goreng dan kopi.

Karbon yang Dulu Musuh, Kini Komoditas

FOLU Net Sink, secara teknis, ingin menurunkan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan, sekaligus menyerap karbon lewat hutan alam, gambut, dan reklamasi. Namun ada satu perubahan penting dalam paradigma ini. Karbon bukan lagi dianggap sebagai “dosa industri”, tapi jadi komoditas yang bisa diperdagangkan. Cerdas bin kreatif. Dan hanya orang berpendidikan yang bisa berpikir seperti ini.  

Dengan logika ini, hutan bukan sekadar ekosistem, melainkan tambang karbon yang bisa dihitung, disertifikasi, dan dijual dalam skema pasar karbon. Dan pemain utamanya tetap saja bukan masyarakat adat, bukan juga petani kecil seputaran hutan. Sesuai harapan netizen, pemainnya adalah perusahaan tambang, sawit, hutan tanaman industri (HTI), dan para pemilik modal dengan akses ke istana. Kalau di pelajaran biologi  mungkin ini namanya metamorfosis.

Bayangkan, perusahaan yang dulunya jadi aktor utama deforestasi, kini memoles citra sebagai penyelamat iklim. Dulu menebang hutan, sekarang menanam ulang dan menjual kredit karbon ke luar negeri. Ini seperti maling yang lari pontang-panting ke pojok gelap gudang, buru-buru ganti baju, keluar sudah jadi satpam, lengkap dengan piagam penghargaan. Sepertinya bakal aman dan rencana bisa berjalan mulus.

Pasar Karbon Solusi Iklim atau Komoditi Baru

Tapi tidak semudah itu, ferguso. Kritik tajam datang dari banyak LSM dan akademisi. Dari WALHI, Greenpeace, AMAN, hingga suara-suara lokal di Kalimantan dan Papua. Kajian bersama BRIN, Greenpeace, dan WALHI menunjukkan bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan berpotensi memperparah deforestasi dan kekeringan ekstrem hingga tahun 2033 (Tempo, 2024).

 Mereka sepakat bahwa FOLU Net Sink bisa menjadi proyek mercusuar hijau yang menyembunyikan wajah lama oligarki kehutanan.  Indonesia kita ini selama puluhan tahun konon dikuasai oleh ekonomi ekstraktif berbasis konsesi lahan. Sawit, HTI, tambang, semuanya punya jejak panjang dalam kisah penghancuran ekosistem hutan.

Setalah semuanya rusak, dalam FOLU, para aktor ini masih tetap eksis. Bahkan mereka ini lebih berkibar karena proyek restorasi dan pasar karbon justru diserahkan ke tangan mereka.  Asyik bener kalau di sisi mereka.  Negara, bukannya mereformasi kepemilikan dan akses lahan, malah memperkuat relasi kuasa yang timpang ini. Sembari menggambarkan masa depan hutan dengan optimisme ke dalam laporan-laporan prestisius.

Bukannya mengubah sistem, di sini pasar karbon menciptakan sistem baru di mana polusi bisa ditebus dengan uang. Istilah gampangnya, korporasi mana pun bisa tetap membakar batu bara, asal bayar sebagai suatu penebusan dosa lewat skema offset karbon. Inilah logika green capitalism yang menyamar sebagai penyelamat planet. Maka muncul pertanyaan sinis tapi masuk akal, apakah FOLU Net Sink bertujuan menyelamatkan hutan, atau menyelamatkan ekonomi elite?

Alam Tak Bisa Dinegosiasi

Jika kita bicara tentang tanah adat, hingga hari ini, lebih dari 12 juta hektare wilayah adat belum diakui secara hukum. Masyarakat adat, yang terbukti paling mampu merawat hutan, justru masih berstatus sebagai pendatang liar di atas tanah leluhurnya sendiri.

Ironisnya, dalam proyek FOLU, pengakuan tanah adat tidak jadi komponen utama. Yang jadi fokus adalah sertifikasi karbon, mitra korporat, dan penilaian investor. Artinya, FOLU jadi bisu dalam menjawab problem kolonialisme agraria yang sudah terlalu lama berakar. Ia justru memutar persoalan ini dalam format baru yaitu karbonisasi kehutanan dengan sentuhan investor.

Pembaca yang budiman, kita semua tahu bahwa bencana ekologis tak bisa dicegah dengan menunggu FOLU sukses. Longsor, banjir bandang, kekeringan ekstrem, dan krisis pangan kini  telah mulai jadi bagian dari kehidupan harian. Dan tak seperti kasus hukum para elite politik, kerusakan ekologi tak mengenal amnesti, abolisi, atau surat grasi dari presiden. Tak ada ampun, tak ada penundaan, tak ada alasan. Alam bekerja dalam logika sebab-akibat, bukan putusan Mahkamah Konstitusi. Ia menghukum dengan senyap tapi pasti. Tidak ada nego.

Jadi kalau hari ini para pemegang kuasa berdandan apik dengan nuansa hijau segar  demi pencitraan internasional, maka kelak anak cucu kitalah yang akan memanen hasil tipu-tipu itu.  Udara kotor, tanah retak, air menghilang, dan harga pangan tak lagi bisa ditebus dengan e-wallet. Dan pada saat itu, tidak ada pencitraan internasional yang bisa menyelamatkan kita. Alam akan tetap menuntut.

Dan anak cucu, yang tak pernah memilih para pejabat hari ini, akan jadi generasi yang membayar utangnya. Tipe kejahatan ekologis ini kok rasa-rasanya sama bejatnya dengan para pelaku rudapaksa anak kandung. Tega sama anak cucu sendiri. Lha, terus, gimana?  Sambil lanjut pasang umbul-umbul dan ngecat jalan gang pakai air kapur, kita dengarkan nyanyian merdu Ebiet G. Ade saja.

“Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…”

Tabik.

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Tags: alamhutanlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Next Post

Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co