23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mercusuar Hijau di Atas Hutan yang Runtuh

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 8, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

AGUSTUS memang bulan kemerdekaan. Sekedar info saja, tanggal 7 Agustus kemarin diperingati sebagai Hari Hutan Indonesia. Tapi memang tidak seperti tanggal 17, sepertinya tanggal 7 ini banyak yang diam-diam mau melewatkannya. Banyak yang bikin dosa di sini soalnya. Bukan rahasia kalau hutan kita yang kaya raya dan berharga itu habis dieksploitasi oknum penguasa dan kroninya.

Setelah rusak, ada suatu harapan baru penuh optimisme dengan kemasan “program hijau”. Namanya keren,  FOLU Net Sink 2030. FOLU merupakan singkatan dari Forestry and Other Land Use. Katanya, ini strategi pamungkas Indonesia untuk menyelamatkan iklim. Targetnya adalah menjadikan sektor kehutanan dan penggunaan lahan lain sebagai penyerap karbon bersih dalam waktu lima tahun ke depan.  Secara  singkatnya, ini adalah keadaan di mana proses penyerapan karbon dioksida lebih besar daripada karbon dioksida yang dihasilkan. 

Jelas ambisius, jelas megah. Tapi, kok beredar selentingan di jalanan depan gang, saat warga RT ramai-ramai mengecat jalan kampung dengan air kapur, suatu pertanyaan yang seolah asal bunyi. Mereka agak bingung apakah ini solusi ekologis, atau cuma sekadar tampang baru kapitalisme hijau tapi versi lokal?Saya tidak sempat dengar jawaban nyeleneh apalagi akademis, tertelan oleh candaan receh, pisang goreng dan kopi.

Karbon yang Dulu Musuh, Kini Komoditas

FOLU Net Sink, secara teknis, ingin menurunkan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan, sekaligus menyerap karbon lewat hutan alam, gambut, dan reklamasi. Namun ada satu perubahan penting dalam paradigma ini. Karbon bukan lagi dianggap sebagai “dosa industri”, tapi jadi komoditas yang bisa diperdagangkan. Cerdas bin kreatif. Dan hanya orang berpendidikan yang bisa berpikir seperti ini.  

Dengan logika ini, hutan bukan sekadar ekosistem, melainkan tambang karbon yang bisa dihitung, disertifikasi, dan dijual dalam skema pasar karbon. Dan pemain utamanya tetap saja bukan masyarakat adat, bukan juga petani kecil seputaran hutan. Sesuai harapan netizen, pemainnya adalah perusahaan tambang, sawit, hutan tanaman industri (HTI), dan para pemilik modal dengan akses ke istana. Kalau di pelajaran biologi  mungkin ini namanya metamorfosis.

Bayangkan, perusahaan yang dulunya jadi aktor utama deforestasi, kini memoles citra sebagai penyelamat iklim. Dulu menebang hutan, sekarang menanam ulang dan menjual kredit karbon ke luar negeri. Ini seperti maling yang lari pontang-panting ke pojok gelap gudang, buru-buru ganti baju, keluar sudah jadi satpam, lengkap dengan piagam penghargaan. Sepertinya bakal aman dan rencana bisa berjalan mulus.

Pasar Karbon Solusi Iklim atau Komoditi Baru

Tapi tidak semudah itu, ferguso. Kritik tajam datang dari banyak LSM dan akademisi. Dari WALHI, Greenpeace, AMAN, hingga suara-suara lokal di Kalimantan dan Papua. Kajian bersama BRIN, Greenpeace, dan WALHI menunjukkan bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan berpotensi memperparah deforestasi dan kekeringan ekstrem hingga tahun 2033 (Tempo, 2024).

 Mereka sepakat bahwa FOLU Net Sink bisa menjadi proyek mercusuar hijau yang menyembunyikan wajah lama oligarki kehutanan.  Indonesia kita ini selama puluhan tahun konon dikuasai oleh ekonomi ekstraktif berbasis konsesi lahan. Sawit, HTI, tambang, semuanya punya jejak panjang dalam kisah penghancuran ekosistem hutan.

Setalah semuanya rusak, dalam FOLU, para aktor ini masih tetap eksis. Bahkan mereka ini lebih berkibar karena proyek restorasi dan pasar karbon justru diserahkan ke tangan mereka.  Asyik bener kalau di sisi mereka.  Negara, bukannya mereformasi kepemilikan dan akses lahan, malah memperkuat relasi kuasa yang timpang ini. Sembari menggambarkan masa depan hutan dengan optimisme ke dalam laporan-laporan prestisius.

Bukannya mengubah sistem, di sini pasar karbon menciptakan sistem baru di mana polusi bisa ditebus dengan uang. Istilah gampangnya, korporasi mana pun bisa tetap membakar batu bara, asal bayar sebagai suatu penebusan dosa lewat skema offset karbon. Inilah logika green capitalism yang menyamar sebagai penyelamat planet. Maka muncul pertanyaan sinis tapi masuk akal, apakah FOLU Net Sink bertujuan menyelamatkan hutan, atau menyelamatkan ekonomi elite?

Alam Tak Bisa Dinegosiasi

Jika kita bicara tentang tanah adat, hingga hari ini, lebih dari 12 juta hektare wilayah adat belum diakui secara hukum. Masyarakat adat, yang terbukti paling mampu merawat hutan, justru masih berstatus sebagai pendatang liar di atas tanah leluhurnya sendiri.

Ironisnya, dalam proyek FOLU, pengakuan tanah adat tidak jadi komponen utama. Yang jadi fokus adalah sertifikasi karbon, mitra korporat, dan penilaian investor. Artinya, FOLU jadi bisu dalam menjawab problem kolonialisme agraria yang sudah terlalu lama berakar. Ia justru memutar persoalan ini dalam format baru yaitu karbonisasi kehutanan dengan sentuhan investor.

Pembaca yang budiman, kita semua tahu bahwa bencana ekologis tak bisa dicegah dengan menunggu FOLU sukses. Longsor, banjir bandang, kekeringan ekstrem, dan krisis pangan kini  telah mulai jadi bagian dari kehidupan harian. Dan tak seperti kasus hukum para elite politik, kerusakan ekologi tak mengenal amnesti, abolisi, atau surat grasi dari presiden. Tak ada ampun, tak ada penundaan, tak ada alasan. Alam bekerja dalam logika sebab-akibat, bukan putusan Mahkamah Konstitusi. Ia menghukum dengan senyap tapi pasti. Tidak ada nego.

Jadi kalau hari ini para pemegang kuasa berdandan apik dengan nuansa hijau segar  demi pencitraan internasional, maka kelak anak cucu kitalah yang akan memanen hasil tipu-tipu itu.  Udara kotor, tanah retak, air menghilang, dan harga pangan tak lagi bisa ditebus dengan e-wallet. Dan pada saat itu, tidak ada pencitraan internasional yang bisa menyelamatkan kita. Alam akan tetap menuntut.

Dan anak cucu, yang tak pernah memilih para pejabat hari ini, akan jadi generasi yang membayar utangnya. Tipe kejahatan ekologis ini kok rasa-rasanya sama bejatnya dengan para pelaku rudapaksa anak kandung. Tega sama anak cucu sendiri. Lha, terus, gimana?  Sambil lanjut pasang umbul-umbul dan ngecat jalan gang pakai air kapur, kita dengarkan nyanyian merdu Ebiet G. Ade saja.

“Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…”

Tabik.

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Tags: alamhutanlingkungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sutjidra-Supriatna Bagikan Ribuan Bendera Merah Putih Sebagai Bentuk Cinta Tanah Air

Next Post

Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co