24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Brain Rot” Atawa Otak Busuk

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 17, 2025
in Esai
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk

Ilustrasi tatkala.co

“Dasar otak busuk!” Teriakan semacam itu mungkin pernah kita dengar dari orang tua yang sedang jengkel, atau dari teman saat bercanda. Busuk di sini artinya jahat, niatnya jelek. Tapi, siapa sangka, istilah yang dulu terdengar kasar itu kini punya gaung baru. Dari Barat datang istilah keren: Brain Rot. Rupanya, leluhur kita jauh lebih cepat menemukan padanannya: otak busuk.

Bedanya, kalau dulu otak busuk dituduhkan pada orang yang niatnya tidak baik, sekarang otak busuk benar-benar bisa terjadi. Bukan dalam arti moral, tapi karena kebiasaan sehari-hari kita. Gara-gara terlalu sering main ponsel, gara-gara otak dijejali terus-menerus oleh hal-hal sepele yang kita anggap penting.

Kita menyebutnya scrolling. Bahasa gampangnya: menyapu layar tanpa tujuan. Kadang seperti refleks saja. Jari telunjuk seakan punya hidupnya sendiri: naik, turun, geser, lagi dan lagi. Kadang, setelah lima belas menit, kita bahkan lupa apa yang sebenarnya kita cari.

Saya sering merasakannya sendiri. Misalnya, sedang duduk berdua dengan pasangan, ingin ngobrol santai. Baru mulai bicara, eh, matanya sudah tertarik ke layar. Kesal? Iya. Tapi lebih kesal lagi ketika sadar saya pun sering melakukan hal yang sama. Rasanya aneh: kami duduk bersebelahan, jarak fisik cuma sejengkal, tapi seolah ada dinding transparan setebal ratusan kilometer. Suara notifikasi lebih cepat mencuri perhatian dibandingkan suara saya.

Fenomena ini gampang kita temui. Lihat saja di jalan: pedagang keliling yang seharusnya sibuk memanggil pembeli, malah lebih sering menunduk ke ponsel. Di warung makan, orang-orang membalas pesan ketimbang mengobrol. Anak-anak yang dulu ramai bermain bola di lapangan, sekarang duduk diam, wajahnya diterangi cahaya biru layar.

Begitu kuat sihir media sosial. Kita jadi pengikut setia tanpa sadar. Seolah dunia akan runtuh kalau sehari saja kita tidak membuka Instagram, TikTok, atau WhatsApp. Ketakutan itu bahkan punya istilah keren: FOMO—Fear of Missing Out. Takut ketinggalan sesuatu. Padahal, yang kita takutkan ketinggalan itu sering kali hanya gosip artis, video receh, atau tren yang usianya tidak lebih dari seminggu.

Data pun menunjukkan betapa dalam kita terjerat. Menurut laporan We Are Social 2025, orang Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari di internet. Itu hampir sama dengan waktu kerja satu hari penuh. Saya jadi bertanya-tanya, kapan sebenarnya kita benar-benar hidup di dunia nyata?

Masalahnya, tujuh jam itu tidak membuat kita lebih pintar. Justru membuat kita makin gampang lupa, makin sulit fokus, dan makin cepat marah. Otak kita terbiasa dengan informasi singkat, potongan-potongan, yang membuat kita malas berpikir panjang. Seperti perut yang kebanyakan makan camilan—kenyang, tapi tak pernah benar-benar bernutrisi. Kita hanya kuat menelan remah, tapi tidak sanggup mengunyah roti utuh.

Saya sendiri sering merasa jantung berdebar hanya karena pesan belum terbaca. Atau merasa bersalah ketika sadar sudah dua jam habis untuk menonton video kucing dan resep masakan yang ujung-ujungnya tidak pernah saya praktikkan. Kalau dipikir, inilah otak busuk versi modern.

Yang paling bikin saya khawatir adalah anak-anak. Banyak orang tua, supaya anaknya tenang, memberikan ponsel sejak kecil. Anak-anak yang dulu tumbuh dengan dongeng atau cerita sebelum tidur, sekarang ditemani layar YouTube. Mereka terbiasa menatap cahaya biru, bukan wajah orang tuanya. Kalau sejak kecil sudah akrab dengan layar, apa jadinya mereka ketika dewasa?

Saya membayangkan generasi baru ini tumbuh seperti zombie. Berjalan, bicara, tertawa, tapi matanya kosong. Bisa cepat mengikuti tarian viral, tapi bingung ketika diminta merenung. Bisa tertawa keras melihat video singkat, tapi kaku saat diajak mengobrol langsung. Inilah Brain Rot paling nyata: otak yang kehilangan daya hidupnya.

Namun, tentu saja, menyalahkan teknologi saja tidak adil. Ponsel pintar, internet, media sosial—semua itu hanya alat. Sama seperti kopi: secangkir bisa bikin segar, tapi kalau kebanyakan bisa bikin gemetar. Internet pun begitu. Bisa memberi ilmu, menyambung kawan lama, memperkaya wawasan. Tapi kalau berlebihan, ia bisa mengikis daya hidup kita.

Seorang teman pernah berkata: “Teknologi itu tidak bisa kita lawan. Yang bisa kita lakukan cuma mengatur jaraknya.” Kalimat sederhana, tapi terasa pas. Kita tidak mungkin hidup tanpa internet sekarang. Tapi kita bisa belajar menjaga jarak. Tidak usah muluk-muluk: mematikan ponsel sejam sebelum tidur, tidak membawa ponsel ke meja makan, atau memilih satu hari dalam seminggu untuk libur dari dunia maya.

Saya percaya otak manusia punya daya pulih. Sama seperti tanah yang bisa kembali subur setelah musim kering, otak pun bisa segar kembali kalau diberi waktu bernapas. Kita hanya perlu memberi jeda, memberi ruang kosong, memberi kesempatan untuk diam.

Saya tidak ingin jadi budak layar. Tidak ingin percakapan dengan pasangan diganggu notifikasi. Tidak ingin kebersamaan dengan teman diganti emoji. Tidak ingin tawa anak-anak tergantikan suara dering aplikasi. Dunia maya memang menggoda, tapi dunia nyata jauh lebih layak diperjuangkan.

“Brain Rot” atawa otak busuk adalah momok zaman ini. Tapi pilihan tetap ada di tangan kita. Mau membiarkan otak kita menghitam pelan-pelan, seperti pisang yang kelamaan di sudut dapur? Atau menjaga otak tetap segar; dengan jeda, dengan percakapan nyata, dengan tawa yang lahir dari tatap muka, bukan dari emoji? [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Tags: brain rotmedia sosialteknologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Next Post

Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co