23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Brain Rot” Atawa Otak Busuk

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 17, 2025
in Esai
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk

Ilustrasi tatkala.co

“Dasar otak busuk!” Teriakan semacam itu mungkin pernah kita dengar dari orang tua yang sedang jengkel, atau dari teman saat bercanda. Busuk di sini artinya jahat, niatnya jelek. Tapi, siapa sangka, istilah yang dulu terdengar kasar itu kini punya gaung baru. Dari Barat datang istilah keren: Brain Rot. Rupanya, leluhur kita jauh lebih cepat menemukan padanannya: otak busuk.

Bedanya, kalau dulu otak busuk dituduhkan pada orang yang niatnya tidak baik, sekarang otak busuk benar-benar bisa terjadi. Bukan dalam arti moral, tapi karena kebiasaan sehari-hari kita. Gara-gara terlalu sering main ponsel, gara-gara otak dijejali terus-menerus oleh hal-hal sepele yang kita anggap penting.

Kita menyebutnya scrolling. Bahasa gampangnya: menyapu layar tanpa tujuan. Kadang seperti refleks saja. Jari telunjuk seakan punya hidupnya sendiri: naik, turun, geser, lagi dan lagi. Kadang, setelah lima belas menit, kita bahkan lupa apa yang sebenarnya kita cari.

Saya sering merasakannya sendiri. Misalnya, sedang duduk berdua dengan pasangan, ingin ngobrol santai. Baru mulai bicara, eh, matanya sudah tertarik ke layar. Kesal? Iya. Tapi lebih kesal lagi ketika sadar saya pun sering melakukan hal yang sama. Rasanya aneh: kami duduk bersebelahan, jarak fisik cuma sejengkal, tapi seolah ada dinding transparan setebal ratusan kilometer. Suara notifikasi lebih cepat mencuri perhatian dibandingkan suara saya.

Fenomena ini gampang kita temui. Lihat saja di jalan: pedagang keliling yang seharusnya sibuk memanggil pembeli, malah lebih sering menunduk ke ponsel. Di warung makan, orang-orang membalas pesan ketimbang mengobrol. Anak-anak yang dulu ramai bermain bola di lapangan, sekarang duduk diam, wajahnya diterangi cahaya biru layar.

Begitu kuat sihir media sosial. Kita jadi pengikut setia tanpa sadar. Seolah dunia akan runtuh kalau sehari saja kita tidak membuka Instagram, TikTok, atau WhatsApp. Ketakutan itu bahkan punya istilah keren: FOMO—Fear of Missing Out. Takut ketinggalan sesuatu. Padahal, yang kita takutkan ketinggalan itu sering kali hanya gosip artis, video receh, atau tren yang usianya tidak lebih dari seminggu.

Data pun menunjukkan betapa dalam kita terjerat. Menurut laporan We Are Social 2025, orang Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari di internet. Itu hampir sama dengan waktu kerja satu hari penuh. Saya jadi bertanya-tanya, kapan sebenarnya kita benar-benar hidup di dunia nyata?

Masalahnya, tujuh jam itu tidak membuat kita lebih pintar. Justru membuat kita makin gampang lupa, makin sulit fokus, dan makin cepat marah. Otak kita terbiasa dengan informasi singkat, potongan-potongan, yang membuat kita malas berpikir panjang. Seperti perut yang kebanyakan makan camilan—kenyang, tapi tak pernah benar-benar bernutrisi. Kita hanya kuat menelan remah, tapi tidak sanggup mengunyah roti utuh.

Saya sendiri sering merasa jantung berdebar hanya karena pesan belum terbaca. Atau merasa bersalah ketika sadar sudah dua jam habis untuk menonton video kucing dan resep masakan yang ujung-ujungnya tidak pernah saya praktikkan. Kalau dipikir, inilah otak busuk versi modern.

Yang paling bikin saya khawatir adalah anak-anak. Banyak orang tua, supaya anaknya tenang, memberikan ponsel sejak kecil. Anak-anak yang dulu tumbuh dengan dongeng atau cerita sebelum tidur, sekarang ditemani layar YouTube. Mereka terbiasa menatap cahaya biru, bukan wajah orang tuanya. Kalau sejak kecil sudah akrab dengan layar, apa jadinya mereka ketika dewasa?

Saya membayangkan generasi baru ini tumbuh seperti zombie. Berjalan, bicara, tertawa, tapi matanya kosong. Bisa cepat mengikuti tarian viral, tapi bingung ketika diminta merenung. Bisa tertawa keras melihat video singkat, tapi kaku saat diajak mengobrol langsung. Inilah Brain Rot paling nyata: otak yang kehilangan daya hidupnya.

Namun, tentu saja, menyalahkan teknologi saja tidak adil. Ponsel pintar, internet, media sosial—semua itu hanya alat. Sama seperti kopi: secangkir bisa bikin segar, tapi kalau kebanyakan bisa bikin gemetar. Internet pun begitu. Bisa memberi ilmu, menyambung kawan lama, memperkaya wawasan. Tapi kalau berlebihan, ia bisa mengikis daya hidup kita.

Seorang teman pernah berkata: “Teknologi itu tidak bisa kita lawan. Yang bisa kita lakukan cuma mengatur jaraknya.” Kalimat sederhana, tapi terasa pas. Kita tidak mungkin hidup tanpa internet sekarang. Tapi kita bisa belajar menjaga jarak. Tidak usah muluk-muluk: mematikan ponsel sejam sebelum tidur, tidak membawa ponsel ke meja makan, atau memilih satu hari dalam seminggu untuk libur dari dunia maya.

Saya percaya otak manusia punya daya pulih. Sama seperti tanah yang bisa kembali subur setelah musim kering, otak pun bisa segar kembali kalau diberi waktu bernapas. Kita hanya perlu memberi jeda, memberi ruang kosong, memberi kesempatan untuk diam.

Saya tidak ingin jadi budak layar. Tidak ingin percakapan dengan pasangan diganggu notifikasi. Tidak ingin kebersamaan dengan teman diganti emoji. Tidak ingin tawa anak-anak tergantikan suara dering aplikasi. Dunia maya memang menggoda, tapi dunia nyata jauh lebih layak diperjuangkan.

“Brain Rot” atawa otak busuk adalah momok zaman ini. Tapi pilihan tetap ada di tangan kita. Mau membiarkan otak kita menghitam pelan-pelan, seperti pisang yang kelamaan di sudut dapur? Atau menjaga otak tetap segar; dengan jeda, dengan percakapan nyata, dengan tawa yang lahir dari tatap muka, bukan dari emoji? [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Tags: brain rotmedia sosialteknologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Next Post

Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co