3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Brain Rot” Atawa Otak Busuk

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 17, 2025
in Esai
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk

Ilustrasi tatkala.co

“Dasar otak busuk!” Teriakan semacam itu mungkin pernah kita dengar dari orang tua yang sedang jengkel, atau dari teman saat bercanda. Busuk di sini artinya jahat, niatnya jelek. Tapi, siapa sangka, istilah yang dulu terdengar kasar itu kini punya gaung baru. Dari Barat datang istilah keren: Brain Rot. Rupanya, leluhur kita jauh lebih cepat menemukan padanannya: otak busuk.

Bedanya, kalau dulu otak busuk dituduhkan pada orang yang niatnya tidak baik, sekarang otak busuk benar-benar bisa terjadi. Bukan dalam arti moral, tapi karena kebiasaan sehari-hari kita. Gara-gara terlalu sering main ponsel, gara-gara otak dijejali terus-menerus oleh hal-hal sepele yang kita anggap penting.

Kita menyebutnya scrolling. Bahasa gampangnya: menyapu layar tanpa tujuan. Kadang seperti refleks saja. Jari telunjuk seakan punya hidupnya sendiri: naik, turun, geser, lagi dan lagi. Kadang, setelah lima belas menit, kita bahkan lupa apa yang sebenarnya kita cari.

Saya sering merasakannya sendiri. Misalnya, sedang duduk berdua dengan pasangan, ingin ngobrol santai. Baru mulai bicara, eh, matanya sudah tertarik ke layar. Kesal? Iya. Tapi lebih kesal lagi ketika sadar saya pun sering melakukan hal yang sama. Rasanya aneh: kami duduk bersebelahan, jarak fisik cuma sejengkal, tapi seolah ada dinding transparan setebal ratusan kilometer. Suara notifikasi lebih cepat mencuri perhatian dibandingkan suara saya.

Fenomena ini gampang kita temui. Lihat saja di jalan: pedagang keliling yang seharusnya sibuk memanggil pembeli, malah lebih sering menunduk ke ponsel. Di warung makan, orang-orang membalas pesan ketimbang mengobrol. Anak-anak yang dulu ramai bermain bola di lapangan, sekarang duduk diam, wajahnya diterangi cahaya biru layar.

Begitu kuat sihir media sosial. Kita jadi pengikut setia tanpa sadar. Seolah dunia akan runtuh kalau sehari saja kita tidak membuka Instagram, TikTok, atau WhatsApp. Ketakutan itu bahkan punya istilah keren: FOMO—Fear of Missing Out. Takut ketinggalan sesuatu. Padahal, yang kita takutkan ketinggalan itu sering kali hanya gosip artis, video receh, atau tren yang usianya tidak lebih dari seminggu.

Data pun menunjukkan betapa dalam kita terjerat. Menurut laporan We Are Social 2025, orang Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari di internet. Itu hampir sama dengan waktu kerja satu hari penuh. Saya jadi bertanya-tanya, kapan sebenarnya kita benar-benar hidup di dunia nyata?

Masalahnya, tujuh jam itu tidak membuat kita lebih pintar. Justru membuat kita makin gampang lupa, makin sulit fokus, dan makin cepat marah. Otak kita terbiasa dengan informasi singkat, potongan-potongan, yang membuat kita malas berpikir panjang. Seperti perut yang kebanyakan makan camilan—kenyang, tapi tak pernah benar-benar bernutrisi. Kita hanya kuat menelan remah, tapi tidak sanggup mengunyah roti utuh.

Saya sendiri sering merasa jantung berdebar hanya karena pesan belum terbaca. Atau merasa bersalah ketika sadar sudah dua jam habis untuk menonton video kucing dan resep masakan yang ujung-ujungnya tidak pernah saya praktikkan. Kalau dipikir, inilah otak busuk versi modern.

Yang paling bikin saya khawatir adalah anak-anak. Banyak orang tua, supaya anaknya tenang, memberikan ponsel sejak kecil. Anak-anak yang dulu tumbuh dengan dongeng atau cerita sebelum tidur, sekarang ditemani layar YouTube. Mereka terbiasa menatap cahaya biru, bukan wajah orang tuanya. Kalau sejak kecil sudah akrab dengan layar, apa jadinya mereka ketika dewasa?

Saya membayangkan generasi baru ini tumbuh seperti zombie. Berjalan, bicara, tertawa, tapi matanya kosong. Bisa cepat mengikuti tarian viral, tapi bingung ketika diminta merenung. Bisa tertawa keras melihat video singkat, tapi kaku saat diajak mengobrol langsung. Inilah Brain Rot paling nyata: otak yang kehilangan daya hidupnya.

Namun, tentu saja, menyalahkan teknologi saja tidak adil. Ponsel pintar, internet, media sosial—semua itu hanya alat. Sama seperti kopi: secangkir bisa bikin segar, tapi kalau kebanyakan bisa bikin gemetar. Internet pun begitu. Bisa memberi ilmu, menyambung kawan lama, memperkaya wawasan. Tapi kalau berlebihan, ia bisa mengikis daya hidup kita.

Seorang teman pernah berkata: “Teknologi itu tidak bisa kita lawan. Yang bisa kita lakukan cuma mengatur jaraknya.” Kalimat sederhana, tapi terasa pas. Kita tidak mungkin hidup tanpa internet sekarang. Tapi kita bisa belajar menjaga jarak. Tidak usah muluk-muluk: mematikan ponsel sejam sebelum tidur, tidak membawa ponsel ke meja makan, atau memilih satu hari dalam seminggu untuk libur dari dunia maya.

Saya percaya otak manusia punya daya pulih. Sama seperti tanah yang bisa kembali subur setelah musim kering, otak pun bisa segar kembali kalau diberi waktu bernapas. Kita hanya perlu memberi jeda, memberi ruang kosong, memberi kesempatan untuk diam.

Saya tidak ingin jadi budak layar. Tidak ingin percakapan dengan pasangan diganggu notifikasi. Tidak ingin kebersamaan dengan teman diganti emoji. Tidak ingin tawa anak-anak tergantikan suara dering aplikasi. Dunia maya memang menggoda, tapi dunia nyata jauh lebih layak diperjuangkan.

“Brain Rot” atawa otak busuk adalah momok zaman ini. Tapi pilihan tetap ada di tangan kita. Mau membiarkan otak kita menghitam pelan-pelan, seperti pisang yang kelamaan di sudut dapur? Atau menjaga otak tetap segar; dengan jeda, dengan percakapan nyata, dengan tawa yang lahir dari tatap muka, bukan dari emoji? [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Tags: brain rotmedia sosialteknologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [7]–Bertemu Agung Alit di Taman Baca Kesiman

Next Post

Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co