SABTU, 12 November 2022. Saya bangun sekitar pukul 03.30 WIB. Semalam saya bisa tidur pulas, sehingga paginya badan terasa bugar.
Setelah melakukan peregangan otot selama beberapa menit, saya mandi dengan air dingin dari shower. Meskipun tarif penginapan hanya Rp150 ribu per malam, kamar mandi bersih dengan jamban duduk yang terawat.
Saya lihat melalui angin-angin kamar, langit masih gelap. Saya segera memasang lampu depan dan belakang. Setelah saya pastikan tidak ada barang tertinggal, saya menuju resepsionis untuk mengambil KTP.
Tepat pukul 05.05 WIB saya keluar dari hotel menuju arah timur. Setelah berjalan sekira 2 kilometer, saya lihat sudah ada warung makan yang buka.
Saya harus sarapan dulu, karena akan masuk Hutan Baluran. Di warung kecil itu hanya ada nasi pecel dengan lauk ayam goreng dan telur rebus. Saya pesan nasi pecel tanpa bumbu dengan 2 telur rebus.
Gerbang masuk ke Hutan Baluran tidak jauh dari hotel tempat saya menginap, hanya 9,66 kilometer. Pukul 05.50 WIB saya sudah sampai di depan Monumen Taman Nasional Baluran. Saya berhenti beberapa menit untuk membuat foto.
Saya tidak mau mengulang peristiwa Juni 2021 lalu, ketika saya hampir mengalami bonking ketika masuk Hutan Baluran. Saat itu saya lupa membawa makanan manis untuk menambah kalori.
Sejak dari Asembagus, dua bidon saya isi penuh dan framebag saya isi dengan beberapa macam kue manis. Rute sepanjang 27 kilometer itu saya lalui dengan lancar. Hanya sekali rantai los menjelang tanjakan sebelum pintu masuk Waduk Bajulmati.

Ketika sampai di Watudodol, 6 kilometer sebelum Pelabuhan Ketapang | Foto: Dok. Wirya
Sampai di Pelabuhan Ketapang pukul 10.55 WIB. Saya sudah ditunggu oleh Mas Sonny Yoemarsono, sesepuh komunitas Honda CB Banyuwangi. Setelah membuat beberapa foto, saya pamit untuk menyeberang.
Biaya penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk hanya Rp11 ribu. Pembayaran tidak bisa menggunakan kartu elektronik, tapi dengan sistem online. Oleh petugas loket, saya disarankan untuk membayar di Indomaret, yang letaknya di seberang.
Di atas kapal saya kembali merenung tentang penyebab lain dari hilangnya kegembiraan bersepeda. Saya menangkap ada beberapa kata yang beredar di media sosial terkait perjalanan saya, seperti “hebat”, “berjuang” dan “luar biasa”.
Kata-kata itu dilontarkan oleh beberapa kawan, sebagai bentuk dukungan kepada saya. Padahal sejak awal saya sudah menyampaikan, baik melalui verbal maupun teks, bahwa perjalanan ini hanya rekreasi belaka. Seperti halnya orang-orang yang bermain futsal, memancing atau catur.
Jarak 1000 kilometer, memang terbaca (dan terdengar) hebat bagi orang-orang yang tidak memahami dunia sepeda jarak jauh (long distance cycling). Tapi bagi mereka yang menyukainya, 1000 kilometer merupakan jarak tempuh yang biasa saja.
Sejak dari persiapan hingga hari keberangkatan, saya tidak merasa hebat, tidak merasa berjuang, apalagi menjadi orang yang luar biasa. Saya hanya ingin bersepeda untuk mendapatkan kegembiraan. Celakanya, ketika tiga kata itu secara simultan menggedor benak, saya menjadi terbebani.
Saya mulai melepaskan beban yang timbul dari tiga kata tersebut, sejak keluar dari Asembagus. Ketika hal itu bisa saya singkirkan, kegembiraan dalam bersepeda terus meningkat. Saya kembali bisa merasakan kegembiraan.
Sampai di Pelabuhan Gilimanuk pukul 13.10 WITA. Sebelum keluar fery para penumpang harus menjalani pemeriksaan ketat, tidak seperti biasanya.
“Berhenti dulu. Tolong masker dan helm dilepas!,” kata petugas di pintu keluar pelabuhan.
Saya menghentikan sepeda tepat di depan pos penjagaan.
“Tolong KTP-nya. Bapak mau ke mana!?”
“Ke Labuan Bajo,” jawab saya sambil merogoh dompet dan mengeluarkan KTP.
Petugas dengan perut agak buncit itu segera mengamati KTP saya.
“Bersepeda!? Sendiri!? Dari Gresik!?”
“Iya.”
“Apa tujuannya?”
“Rekreasi.”
“Hanya rekreasi!? Coba dibuka tasnya.”
Setelah pannier kiri dan kanan saya buka, 2 petugas membongkar isinya dengan hati-hati.
“Ok. Silakan Bapak ikuti antrian, menuju ruang pemeriksaan. Sepeda diparkir di sini.”
Saya segera mengikuti antrian menuju kantor pelabuhan. Di kantor tersebut saya diminta mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi Peduli Lindungi.
“Ok. Silakan meneruskan perjalanan, Pak,” kata salah satu petugas.
“Terima kasih.”
Setelah keluar pelabuhan saya baru ingat, pemeriksaan ketat tersebut berkaitan dengan persiapan G 20 di Nusa Dua.
Pelaksanaan hajatan yang melibatkan 19 negara dan 1 lembaga Uni Eropa itu, dilaksanakan pada 15-16 November 2022. [T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
- BACA CERITA SEBELUMNYA:
![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [5]–Menjalani Pemeriksaan Ketat di Pelabuhan Gilimanuk](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda5-750x375.jpeg)


























