26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [28]: Perpustakaan yang Menyeramkan

Chusmeru by Chusmeru
August 14, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MEMBACA buku saat ini tidak menarik lagi bagi anak muda, termasuk mahasiswa. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menjadikan mahasiswa dimanja oleh keadaan. Sumber bacaan secara digital begitu banyak. Tinggal buka laptop atau ponsel, semua informasi dan sumber bacaan bisa diperoleh.

Beda generasi memang beda kebiasaan. Membaca buku bagi mahasiswa tahun 1960 – 1990 merupakan kewajiban. Buku bisa menjadi ukuran intelektualitas dan “kekayaan” mahasiswa. Semakin banyak mahasiswa membaca buku, ia akan dipandang sebagai intelektual. Semakin banyak ia menyimpan buku di kamarnya, semakin ia dipandang “kaya”.

Orientasi mahasiswa terhadap ilmu dan pengetahuan pada masa lalu memang tinggi. Meski dengan keterbatasan teknologi, banyak buku-buku berbobot yang ditulis oleh dosen, mahasiswa, maupun aktivis kampus. Nyaris tak ada waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk membaca, meski kegiatan organisasi kemahasiswaan juga banyak. Perpustakaan menjadi tempat mahasiswa membaca dan meminjam buku-buku untuk kepentingan perkuliahan.

Buku, baik ilmiah maupun fiksi  bukan hanya menjadi sumber bacaan, tetapi juga menginspirasi banyak pihak untuk diangkat di layar film. Sebut saja Bumi Manusia, Laskar Pelangi, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan lain-lain yang sukses diangkat menjadi film. Tokoh Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra dalam film Ada Apa Dengan Cinta juga digambarkan sebagai sosok pria tampan yang kutu buku.

Kini mahasiswa dimanjakan oleh teknologi. Buku tidak harus pinjam di perpustakaan. Banyak aplikasi maupun tautan yang menawarkan buku elektronik. Membaca dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak harus di perpustakaan. Apalagi perpustakaan bagi mahasiswa sering dipandang sebagai tempat yang membosankan, bahkan kadang dianggap menyeramkan.

Mahasiswa kadang merasa enggan untuk berkunjung ke perpustakaan. Meskipun salah satu syarat wisuda adalah bebas pinjaman buku di perpustakaan. Mahasiswa acap menganggap perpustakaan sebagai gudang buku yang sepi dengan lampu yang temaram menyeramkan.

Saat ini, perpustakaan di beberapa kampus berupaya menghapus stigma membosankan dan menyeramkan bagi perpustakaan. Banyak perpustakaan yang desain interiornya kekininian dengan spot foto yang menarik. Koleksi buku juga tertata dengan baik, sehingga enak untuk dilihat dan dicari. Bahkan beberapa kampus menyediakan kafe di dalam perpustakaan.

***

Kampus tempat Biru Sabrina kuliah memiliki perpustakaan yang cukup representatif. Koleksi bukunya lengkap, baik buku eksakta maupun humaniora. Desain ruangan perpustakaan juga kekinian dengan AC yang sejuk. Lampu di dalam perpustakaan cukup terang dengan tempat duduk dan meja yang nyaman. Di luar gedung perpustakaan terdapat kafe untuk bersantai bagi mahasiswa yang lelah membaca buku di dalam perpustakaan.

Biru Sabrina sengaja datang ke perpustakaan agak pagi, lantaran siangnya ada kuliah. Perpustakaan masih sepi di pagi hari. Walau hari-hari biasa juga tidak terlalu banyak pengunjung. Mahasiswa akan banyak datang ke perpustakaan bila menjelang ujian tengah semester (UTS) maupun ujian akhir semester (UAS).

Hanya ada tiga orang mahasiswa berada di perpustakaan saat Biru Sabrina membaca buku Marketing 5.0. Suasana sunyi memang nyaman untuk membaca. Namun ruang perpustakaan yang luas juga membuat Biru Sabrina agak takut.

Baru membaca pendahuluan dalam buku itu, Biru Sabrina dikejutkan dengan kehadiran seorang mahasiswa yang duduk berhadapan dengannya.  Biru tak melihat kedatangan mahasiswa laki-laki itu yang duduk begitu saja. Mahasiswa itu memegangi sebuah buku. Tidak membacanya. Hanya memandangi buku itu dengan tatapan kosong.

Dengan sedikit rasa takut Biru mencoba memandang mahasiswa itu. Betapa terkejut dia. Mahasiswa itu memandangi Biru dengan tatap mata yang kosong dan wajah yang pucat. Raut muka mahasiswa itu menunjukkan kesedihan. Biru mengalihkan pandangannya dengan membuka lembar halaman buku yang ia baca.

Sungguh mengejutkan. Ketika Biru Sabrina kembali hendak memandang mahasiswa di depannya, tak lagi tampak. Mahasiswa itu sudah tidak duduk di depannya. Padahal Biru tak melihat atau mendengar mahasiswa itu beranjak dari tempat duduknya. Biru merinding. Bulu kuduk di tengkuknya berdiri. “Kemana perginya mahasiswa itu?” tanya Biru dalam hati.

Anehnya, buku yang tadi dibaca oleh mahasiswa itu masih tergeletak di atas meja. Biru Sabrina mengamati buku itu. Bertambah terkejut dan takut Biru saat melihat judul buku itu, “Mati Tak Berarti Pergi” karya penulis Herwiratno. Bergegas Biru menutup buku Marketing 5.0 yang dibacanya. Ia segera meninggalkan perpustakaan.

***

Menjelang siang Bela Mahardika mengunjungi perpustakaan. Ada tugas dari dosen untuk melakukan resensi buku politik. Bela Mahardika memilih buka karya Plato “The Republic”. Menariknya buku ini bagi Bela adalah isi buku yang ditulis dalam bentuk dialog.

Bela Mahardika begitu serius membaca buku. Namun ia dikagetkan oleh sebuah buku yang jatuh dari tempat pemajangan buku di perpustakaan. Bela tidak begitu menaruh perhatian. Mungkin saja ada mahasiswa yang menyentuh dan menjatuhkannya. Akan tetapi Bela tidak melihat seorang mahasiswa pun yang melintas di lorong penyimpanan buku.

Terdorong oleh rasa penasaran, Bela Mahardika memungut buku yang jatuh dan menaruhnya kembali di rak buku. Belum sempat duduk, Bela kembali dikejutkan oleh buku yang terjatuh dari raknya. Bela menongoknya. Buku yang tadi ia taruh terjatuh kembali. Aneh, pikirnya. Padahal baru saja ia telah menaruh buku itu. Perasaan Bela mulai tidak enak. Namun Bela menduga, ia tidak tepat menaruhnya.

Kembali Bela Mahardika memungut buku itu dan memastikan bahwa ia telah menaruh buku dengan benar. Baru saja membalikkan badan untuk kembali ke tempat duduknya, Bela dikagetkan dengan buku yang jatuh lagi. Kali ini Bela mulai merinding.

Antara takut, ragu, dan penasaran, Bela Mahardika menghampiri buku yang terjatuh. Ia melihat dengan seksama buku itu. Kaget bukan kepalang Bela. Buku itu berjudul “Mati Tak Berarti Pergi”. Seketika Bela merinding. Keringat dingin ia rasakan mengucur dari keningnya. Bela bergegas keluar dari perpustakaan.

Sore hari, Farhan Agusta baru sempat ke perpustakaan. Dicarinya buku “Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman”. Itu karena tugas dosen dan ia tidak memiliki buku tersebut di rumahnya. Koleksi buku-buku tentang pertanian di perpustakaan sangat lengkap. Apalagi kampus tempatnya kuliah banyak dosen yang menulis buku pertanian.

Ketika Farhan Agusta duduk di ruang baca, di atas meja sudah terletak buku lain. Entah buku apa, dan siapa yang hendak meminjam. Mungkin yang baca buku itu sedang istirahat sejenak, pikir Farhan. Ia tak begitu peduli. Dia duduk di samping kanan buku itu.

Ruang perpustakaan yang sunyi membuat Farhan Agusta khusuk membaca buku yang akan dipinjamnya. Tengah asyik membuat cacatan dari apa yang ia baca, Farhan dikagetkan oleh buku yang ada di samping kanannya. Buku itu terbuka sendiri. Seolah ada orang yang sedang membacanya. Awalnya Farhan Agusta menduga buku itu tertiup angin. Tapi bukankah ruang perpustakaan tertutup rapat?

Farhan Agusta kembali membaca buku yang dipinjamnya. Suhu udara di ruang baca semakin dingin. Semilir angin menerpa punggung dan tengkuknya. Berbarengan dengan itu, buku yang ada di sampingnya kembali terbuka sendiri. Kali ini halaman demi halaman terbuka begitu cepat. Farhan merinding ketakutan. Buku itu bergerak seolah ada orang yang membacanya.

Wajah pucat mulai tampak pada Farhan Agusta. Ia menengok kiri kanan untuk mencari orang lain. Namun menjelang sore perputakaan sudah sepi pengunjung. Perlahan Farhan menghampiri buku itu. Bertambah kaget dan merinding bulu kuduk Farhan ketika melihat judul buku yang terbuka sendiri, “Mati Tak Berarti Pergi”. Kaki Farhan Agusta gemetaran. Dengan cepat ia berjalan meninggalkan ruang baca perpustakaan.

***

Sejak peristiwa yang dialami Biru Sabrina, Bela Mahardika, dan Farhan Agusta pengunjung perpustakaan semakin menurun. Cerita dari mulut ke mulut tentang tiga mahasiswa itu menyurutkan niat mahasiswa untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka takut berhadapan dengan buku misterius yang tersimpan di perpustakaan.

Pihak perpustakaan melakukan evaluasi terhadap minat mahasiswa yang berkunjung. Mendengar kisah Biru, Bela, dan Farhan pihak perpustakaan mengambil buku yang menimbulkan ketakutan mahasiswa. Buku itu memang hanya tersedia satu eksemplar di ruang baca.

“Buku itu dulu pernah dipinjam oleh mahasiswa program studi sastra Indonesia. Saat hendak pulang ke rumah mahasiswa itu mengalami kecelakaan tabrak lari. Mahasiswa yang mengendarai sepeda motor ditabrak truk di jalan raya. Sang sopir kabur, dan mahasiswa itu meninggal di tempat. Di dalam tasnya terdapat buku yang ia pinjam berjudul  Mati Tak Berarti Pergi,” jelas petugas perpustakaan kepada Biru, Bela, dan Farhan yang menanyakan tentang buku misterius yang menyeramkan di ruang baca perpustakaan.

Atas saran seorang dosen senior di kampus, pihak perpustakaan diminta untuk menyerahkan saja buku itu ke pihak orang tua atau keluarga mahasiswa yang meninggal dalam kecelakaan. Dengan harapan, tidak lagi ada kejadian misterius di perpustakaan.

Kepala perpustakaan merespons saran dosen senior itu. Dia sendiri yang mengantar buku  “Mati Tak Berarti Pergi” ke rumah orang tua mahasiswa untuk disimpan. Tangis haru orang tua mahasiswa menerima buku itu. Namun mereka berjanji untuk menyimpan buku itu di bekas kamar anaknya yang kini sudah tenang di alam baka.

Tidak ada lagi kejadian aneh yang menyeramkan di perpustakaan setelah buku misterius itu diserahkan kepada keluarga mahasiswa yang meninggal karena kecelakaan. Meski begitu, perpustakaan tetap saja tidak banyak pengunjung. Mahasiswa lebih banyak berdiskusi di kafe sambil bergosip soal drama Korea dan perselingkuhan selebritis. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
 Kampusku Sarang Hantu [27]: Taman Kampus, Taman Hantu
Kampusku Sarang Hantu [26]: Tamu Tak Diundang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus
Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal
Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

 

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kutukan Gandari

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co