22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [28]: Perpustakaan yang Menyeramkan

Chusmeru by Chusmeru
August 14, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MEMBACA buku saat ini tidak menarik lagi bagi anak muda, termasuk mahasiswa. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menjadikan mahasiswa dimanja oleh keadaan. Sumber bacaan secara digital begitu banyak. Tinggal buka laptop atau ponsel, semua informasi dan sumber bacaan bisa diperoleh.

Beda generasi memang beda kebiasaan. Membaca buku bagi mahasiswa tahun 1960 – 1990 merupakan kewajiban. Buku bisa menjadi ukuran intelektualitas dan “kekayaan” mahasiswa. Semakin banyak mahasiswa membaca buku, ia akan dipandang sebagai intelektual. Semakin banyak ia menyimpan buku di kamarnya, semakin ia dipandang “kaya”.

Orientasi mahasiswa terhadap ilmu dan pengetahuan pada masa lalu memang tinggi. Meski dengan keterbatasan teknologi, banyak buku-buku berbobot yang ditulis oleh dosen, mahasiswa, maupun aktivis kampus. Nyaris tak ada waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk membaca, meski kegiatan organisasi kemahasiswaan juga banyak. Perpustakaan menjadi tempat mahasiswa membaca dan meminjam buku-buku untuk kepentingan perkuliahan.

Buku, baik ilmiah maupun fiksi  bukan hanya menjadi sumber bacaan, tetapi juga menginspirasi banyak pihak untuk diangkat di layar film. Sebut saja Bumi Manusia, Laskar Pelangi, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan lain-lain yang sukses diangkat menjadi film. Tokoh Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra dalam film Ada Apa Dengan Cinta juga digambarkan sebagai sosok pria tampan yang kutu buku.

Kini mahasiswa dimanjakan oleh teknologi. Buku tidak harus pinjam di perpustakaan. Banyak aplikasi maupun tautan yang menawarkan buku elektronik. Membaca dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak harus di perpustakaan. Apalagi perpustakaan bagi mahasiswa sering dipandang sebagai tempat yang membosankan, bahkan kadang dianggap menyeramkan.

Mahasiswa kadang merasa enggan untuk berkunjung ke perpustakaan. Meskipun salah satu syarat wisuda adalah bebas pinjaman buku di perpustakaan. Mahasiswa acap menganggap perpustakaan sebagai gudang buku yang sepi dengan lampu yang temaram menyeramkan.

Saat ini, perpustakaan di beberapa kampus berupaya menghapus stigma membosankan dan menyeramkan bagi perpustakaan. Banyak perpustakaan yang desain interiornya kekininian dengan spot foto yang menarik. Koleksi buku juga tertata dengan baik, sehingga enak untuk dilihat dan dicari. Bahkan beberapa kampus menyediakan kafe di dalam perpustakaan.

***

Kampus tempat Biru Sabrina kuliah memiliki perpustakaan yang cukup representatif. Koleksi bukunya lengkap, baik buku eksakta maupun humaniora. Desain ruangan perpustakaan juga kekinian dengan AC yang sejuk. Lampu di dalam perpustakaan cukup terang dengan tempat duduk dan meja yang nyaman. Di luar gedung perpustakaan terdapat kafe untuk bersantai bagi mahasiswa yang lelah membaca buku di dalam perpustakaan.

Biru Sabrina sengaja datang ke perpustakaan agak pagi, lantaran siangnya ada kuliah. Perpustakaan masih sepi di pagi hari. Walau hari-hari biasa juga tidak terlalu banyak pengunjung. Mahasiswa akan banyak datang ke perpustakaan bila menjelang ujian tengah semester (UTS) maupun ujian akhir semester (UAS).

Hanya ada tiga orang mahasiswa berada di perpustakaan saat Biru Sabrina membaca buku Marketing 5.0. Suasana sunyi memang nyaman untuk membaca. Namun ruang perpustakaan yang luas juga membuat Biru Sabrina agak takut.

Baru membaca pendahuluan dalam buku itu, Biru Sabrina dikejutkan dengan kehadiran seorang mahasiswa yang duduk berhadapan dengannya.  Biru tak melihat kedatangan mahasiswa laki-laki itu yang duduk begitu saja. Mahasiswa itu memegangi sebuah buku. Tidak membacanya. Hanya memandangi buku itu dengan tatapan kosong.

Dengan sedikit rasa takut Biru mencoba memandang mahasiswa itu. Betapa terkejut dia. Mahasiswa itu memandangi Biru dengan tatap mata yang kosong dan wajah yang pucat. Raut muka mahasiswa itu menunjukkan kesedihan. Biru mengalihkan pandangannya dengan membuka lembar halaman buku yang ia baca.

Sungguh mengejutkan. Ketika Biru Sabrina kembali hendak memandang mahasiswa di depannya, tak lagi tampak. Mahasiswa itu sudah tidak duduk di depannya. Padahal Biru tak melihat atau mendengar mahasiswa itu beranjak dari tempat duduknya. Biru merinding. Bulu kuduk di tengkuknya berdiri. “Kemana perginya mahasiswa itu?” tanya Biru dalam hati.

Anehnya, buku yang tadi dibaca oleh mahasiswa itu masih tergeletak di atas meja. Biru Sabrina mengamati buku itu. Bertambah terkejut dan takut Biru saat melihat judul buku itu, “Mati Tak Berarti Pergi” karya penulis Herwiratno. Bergegas Biru menutup buku Marketing 5.0 yang dibacanya. Ia segera meninggalkan perpustakaan.

***

Menjelang siang Bela Mahardika mengunjungi perpustakaan. Ada tugas dari dosen untuk melakukan resensi buku politik. Bela Mahardika memilih buka karya Plato “The Republic”. Menariknya buku ini bagi Bela adalah isi buku yang ditulis dalam bentuk dialog.

Bela Mahardika begitu serius membaca buku. Namun ia dikagetkan oleh sebuah buku yang jatuh dari tempat pemajangan buku di perpustakaan. Bela tidak begitu menaruh perhatian. Mungkin saja ada mahasiswa yang menyentuh dan menjatuhkannya. Akan tetapi Bela tidak melihat seorang mahasiswa pun yang melintas di lorong penyimpanan buku.

Terdorong oleh rasa penasaran, Bela Mahardika memungut buku yang jatuh dan menaruhnya kembali di rak buku. Belum sempat duduk, Bela kembali dikejutkan oleh buku yang terjatuh dari raknya. Bela menongoknya. Buku yang tadi ia taruh terjatuh kembali. Aneh, pikirnya. Padahal baru saja ia telah menaruh buku itu. Perasaan Bela mulai tidak enak. Namun Bela menduga, ia tidak tepat menaruhnya.

Kembali Bela Mahardika memungut buku itu dan memastikan bahwa ia telah menaruh buku dengan benar. Baru saja membalikkan badan untuk kembali ke tempat duduknya, Bela dikagetkan dengan buku yang jatuh lagi. Kali ini Bela mulai merinding.

Antara takut, ragu, dan penasaran, Bela Mahardika menghampiri buku yang terjatuh. Ia melihat dengan seksama buku itu. Kaget bukan kepalang Bela. Buku itu berjudul “Mati Tak Berarti Pergi”. Seketika Bela merinding. Keringat dingin ia rasakan mengucur dari keningnya. Bela bergegas keluar dari perpustakaan.

Sore hari, Farhan Agusta baru sempat ke perpustakaan. Dicarinya buku “Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman”. Itu karena tugas dosen dan ia tidak memiliki buku tersebut di rumahnya. Koleksi buku-buku tentang pertanian di perpustakaan sangat lengkap. Apalagi kampus tempatnya kuliah banyak dosen yang menulis buku pertanian.

Ketika Farhan Agusta duduk di ruang baca, di atas meja sudah terletak buku lain. Entah buku apa, dan siapa yang hendak meminjam. Mungkin yang baca buku itu sedang istirahat sejenak, pikir Farhan. Ia tak begitu peduli. Dia duduk di samping kanan buku itu.

Ruang perpustakaan yang sunyi membuat Farhan Agusta khusuk membaca buku yang akan dipinjamnya. Tengah asyik membuat cacatan dari apa yang ia baca, Farhan dikagetkan oleh buku yang ada di samping kanannya. Buku itu terbuka sendiri. Seolah ada orang yang sedang membacanya. Awalnya Farhan Agusta menduga buku itu tertiup angin. Tapi bukankah ruang perpustakaan tertutup rapat?

Farhan Agusta kembali membaca buku yang dipinjamnya. Suhu udara di ruang baca semakin dingin. Semilir angin menerpa punggung dan tengkuknya. Berbarengan dengan itu, buku yang ada di sampingnya kembali terbuka sendiri. Kali ini halaman demi halaman terbuka begitu cepat. Farhan merinding ketakutan. Buku itu bergerak seolah ada orang yang membacanya.

Wajah pucat mulai tampak pada Farhan Agusta. Ia menengok kiri kanan untuk mencari orang lain. Namun menjelang sore perputakaan sudah sepi pengunjung. Perlahan Farhan menghampiri buku itu. Bertambah kaget dan merinding bulu kuduk Farhan ketika melihat judul buku yang terbuka sendiri, “Mati Tak Berarti Pergi”. Kaki Farhan Agusta gemetaran. Dengan cepat ia berjalan meninggalkan ruang baca perpustakaan.

***

Sejak peristiwa yang dialami Biru Sabrina, Bela Mahardika, dan Farhan Agusta pengunjung perpustakaan semakin menurun. Cerita dari mulut ke mulut tentang tiga mahasiswa itu menyurutkan niat mahasiswa untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka takut berhadapan dengan buku misterius yang tersimpan di perpustakaan.

Pihak perpustakaan melakukan evaluasi terhadap minat mahasiswa yang berkunjung. Mendengar kisah Biru, Bela, dan Farhan pihak perpustakaan mengambil buku yang menimbulkan ketakutan mahasiswa. Buku itu memang hanya tersedia satu eksemplar di ruang baca.

“Buku itu dulu pernah dipinjam oleh mahasiswa program studi sastra Indonesia. Saat hendak pulang ke rumah mahasiswa itu mengalami kecelakaan tabrak lari. Mahasiswa yang mengendarai sepeda motor ditabrak truk di jalan raya. Sang sopir kabur, dan mahasiswa itu meninggal di tempat. Di dalam tasnya terdapat buku yang ia pinjam berjudul  Mati Tak Berarti Pergi,” jelas petugas perpustakaan kepada Biru, Bela, dan Farhan yang menanyakan tentang buku misterius yang menyeramkan di ruang baca perpustakaan.

Atas saran seorang dosen senior di kampus, pihak perpustakaan diminta untuk menyerahkan saja buku itu ke pihak orang tua atau keluarga mahasiswa yang meninggal dalam kecelakaan. Dengan harapan, tidak lagi ada kejadian misterius di perpustakaan.

Kepala perpustakaan merespons saran dosen senior itu. Dia sendiri yang mengantar buku  “Mati Tak Berarti Pergi” ke rumah orang tua mahasiswa untuk disimpan. Tangis haru orang tua mahasiswa menerima buku itu. Namun mereka berjanji untuk menyimpan buku itu di bekas kamar anaknya yang kini sudah tenang di alam baka.

Tidak ada lagi kejadian aneh yang menyeramkan di perpustakaan setelah buku misterius itu diserahkan kepada keluarga mahasiswa yang meninggal karena kecelakaan. Meski begitu, perpustakaan tetap saja tidak banyak pengunjung. Mahasiswa lebih banyak berdiskusi di kafe sambil bergosip soal drama Korea dan perselingkuhan selebritis. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
 Kampusku Sarang Hantu [27]: Taman Kampus, Taman Hantu
Kampusku Sarang Hantu [26]: Tamu Tak Diundang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus
Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal
Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

 

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kutukan Gandari

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co