1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [28]: Perpustakaan yang Menyeramkan

Chusmeru by Chusmeru
August 14, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MEMBACA buku saat ini tidak menarik lagi bagi anak muda, termasuk mahasiswa. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menjadikan mahasiswa dimanja oleh keadaan. Sumber bacaan secara digital begitu banyak. Tinggal buka laptop atau ponsel, semua informasi dan sumber bacaan bisa diperoleh.

Beda generasi memang beda kebiasaan. Membaca buku bagi mahasiswa tahun 1960 – 1990 merupakan kewajiban. Buku bisa menjadi ukuran intelektualitas dan “kekayaan” mahasiswa. Semakin banyak mahasiswa membaca buku, ia akan dipandang sebagai intelektual. Semakin banyak ia menyimpan buku di kamarnya, semakin ia dipandang “kaya”.

Orientasi mahasiswa terhadap ilmu dan pengetahuan pada masa lalu memang tinggi. Meski dengan keterbatasan teknologi, banyak buku-buku berbobot yang ditulis oleh dosen, mahasiswa, maupun aktivis kampus. Nyaris tak ada waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk membaca, meski kegiatan organisasi kemahasiswaan juga banyak. Perpustakaan menjadi tempat mahasiswa membaca dan meminjam buku-buku untuk kepentingan perkuliahan.

Buku, baik ilmiah maupun fiksi  bukan hanya menjadi sumber bacaan, tetapi juga menginspirasi banyak pihak untuk diangkat di layar film. Sebut saja Bumi Manusia, Laskar Pelangi, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan lain-lain yang sukses diangkat menjadi film. Tokoh Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra dalam film Ada Apa Dengan Cinta juga digambarkan sebagai sosok pria tampan yang kutu buku.

Kini mahasiswa dimanjakan oleh teknologi. Buku tidak harus pinjam di perpustakaan. Banyak aplikasi maupun tautan yang menawarkan buku elektronik. Membaca dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak harus di perpustakaan. Apalagi perpustakaan bagi mahasiswa sering dipandang sebagai tempat yang membosankan, bahkan kadang dianggap menyeramkan.

Mahasiswa kadang merasa enggan untuk berkunjung ke perpustakaan. Meskipun salah satu syarat wisuda adalah bebas pinjaman buku di perpustakaan. Mahasiswa acap menganggap perpustakaan sebagai gudang buku yang sepi dengan lampu yang temaram menyeramkan.

Saat ini, perpustakaan di beberapa kampus berupaya menghapus stigma membosankan dan menyeramkan bagi perpustakaan. Banyak perpustakaan yang desain interiornya kekininian dengan spot foto yang menarik. Koleksi buku juga tertata dengan baik, sehingga enak untuk dilihat dan dicari. Bahkan beberapa kampus menyediakan kafe di dalam perpustakaan.

***

Kampus tempat Biru Sabrina kuliah memiliki perpustakaan yang cukup representatif. Koleksi bukunya lengkap, baik buku eksakta maupun humaniora. Desain ruangan perpustakaan juga kekinian dengan AC yang sejuk. Lampu di dalam perpustakaan cukup terang dengan tempat duduk dan meja yang nyaman. Di luar gedung perpustakaan terdapat kafe untuk bersantai bagi mahasiswa yang lelah membaca buku di dalam perpustakaan.

Biru Sabrina sengaja datang ke perpustakaan agak pagi, lantaran siangnya ada kuliah. Perpustakaan masih sepi di pagi hari. Walau hari-hari biasa juga tidak terlalu banyak pengunjung. Mahasiswa akan banyak datang ke perpustakaan bila menjelang ujian tengah semester (UTS) maupun ujian akhir semester (UAS).

Hanya ada tiga orang mahasiswa berada di perpustakaan saat Biru Sabrina membaca buku Marketing 5.0. Suasana sunyi memang nyaman untuk membaca. Namun ruang perpustakaan yang luas juga membuat Biru Sabrina agak takut.

Baru membaca pendahuluan dalam buku itu, Biru Sabrina dikejutkan dengan kehadiran seorang mahasiswa yang duduk berhadapan dengannya.  Biru tak melihat kedatangan mahasiswa laki-laki itu yang duduk begitu saja. Mahasiswa itu memegangi sebuah buku. Tidak membacanya. Hanya memandangi buku itu dengan tatapan kosong.

Dengan sedikit rasa takut Biru mencoba memandang mahasiswa itu. Betapa terkejut dia. Mahasiswa itu memandangi Biru dengan tatap mata yang kosong dan wajah yang pucat. Raut muka mahasiswa itu menunjukkan kesedihan. Biru mengalihkan pandangannya dengan membuka lembar halaman buku yang ia baca.

Sungguh mengejutkan. Ketika Biru Sabrina kembali hendak memandang mahasiswa di depannya, tak lagi tampak. Mahasiswa itu sudah tidak duduk di depannya. Padahal Biru tak melihat atau mendengar mahasiswa itu beranjak dari tempat duduknya. Biru merinding. Bulu kuduk di tengkuknya berdiri. “Kemana perginya mahasiswa itu?” tanya Biru dalam hati.

Anehnya, buku yang tadi dibaca oleh mahasiswa itu masih tergeletak di atas meja. Biru Sabrina mengamati buku itu. Bertambah terkejut dan takut Biru saat melihat judul buku itu, “Mati Tak Berarti Pergi” karya penulis Herwiratno. Bergegas Biru menutup buku Marketing 5.0 yang dibacanya. Ia segera meninggalkan perpustakaan.

***

Menjelang siang Bela Mahardika mengunjungi perpustakaan. Ada tugas dari dosen untuk melakukan resensi buku politik. Bela Mahardika memilih buka karya Plato “The Republic”. Menariknya buku ini bagi Bela adalah isi buku yang ditulis dalam bentuk dialog.

Bela Mahardika begitu serius membaca buku. Namun ia dikagetkan oleh sebuah buku yang jatuh dari tempat pemajangan buku di perpustakaan. Bela tidak begitu menaruh perhatian. Mungkin saja ada mahasiswa yang menyentuh dan menjatuhkannya. Akan tetapi Bela tidak melihat seorang mahasiswa pun yang melintas di lorong penyimpanan buku.

Terdorong oleh rasa penasaran, Bela Mahardika memungut buku yang jatuh dan menaruhnya kembali di rak buku. Belum sempat duduk, Bela kembali dikejutkan oleh buku yang terjatuh dari raknya. Bela menongoknya. Buku yang tadi ia taruh terjatuh kembali. Aneh, pikirnya. Padahal baru saja ia telah menaruh buku itu. Perasaan Bela mulai tidak enak. Namun Bela menduga, ia tidak tepat menaruhnya.

Kembali Bela Mahardika memungut buku itu dan memastikan bahwa ia telah menaruh buku dengan benar. Baru saja membalikkan badan untuk kembali ke tempat duduknya, Bela dikagetkan dengan buku yang jatuh lagi. Kali ini Bela mulai merinding.

Antara takut, ragu, dan penasaran, Bela Mahardika menghampiri buku yang terjatuh. Ia melihat dengan seksama buku itu. Kaget bukan kepalang Bela. Buku itu berjudul “Mati Tak Berarti Pergi”. Seketika Bela merinding. Keringat dingin ia rasakan mengucur dari keningnya. Bela bergegas keluar dari perpustakaan.

Sore hari, Farhan Agusta baru sempat ke perpustakaan. Dicarinya buku “Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman”. Itu karena tugas dosen dan ia tidak memiliki buku tersebut di rumahnya. Koleksi buku-buku tentang pertanian di perpustakaan sangat lengkap. Apalagi kampus tempatnya kuliah banyak dosen yang menulis buku pertanian.

Ketika Farhan Agusta duduk di ruang baca, di atas meja sudah terletak buku lain. Entah buku apa, dan siapa yang hendak meminjam. Mungkin yang baca buku itu sedang istirahat sejenak, pikir Farhan. Ia tak begitu peduli. Dia duduk di samping kanan buku itu.

Ruang perpustakaan yang sunyi membuat Farhan Agusta khusuk membaca buku yang akan dipinjamnya. Tengah asyik membuat cacatan dari apa yang ia baca, Farhan dikagetkan oleh buku yang ada di samping kanannya. Buku itu terbuka sendiri. Seolah ada orang yang sedang membacanya. Awalnya Farhan Agusta menduga buku itu tertiup angin. Tapi bukankah ruang perpustakaan tertutup rapat?

Farhan Agusta kembali membaca buku yang dipinjamnya. Suhu udara di ruang baca semakin dingin. Semilir angin menerpa punggung dan tengkuknya. Berbarengan dengan itu, buku yang ada di sampingnya kembali terbuka sendiri. Kali ini halaman demi halaman terbuka begitu cepat. Farhan merinding ketakutan. Buku itu bergerak seolah ada orang yang membacanya.

Wajah pucat mulai tampak pada Farhan Agusta. Ia menengok kiri kanan untuk mencari orang lain. Namun menjelang sore perputakaan sudah sepi pengunjung. Perlahan Farhan menghampiri buku itu. Bertambah kaget dan merinding bulu kuduk Farhan ketika melihat judul buku yang terbuka sendiri, “Mati Tak Berarti Pergi”. Kaki Farhan Agusta gemetaran. Dengan cepat ia berjalan meninggalkan ruang baca perpustakaan.

***

Sejak peristiwa yang dialami Biru Sabrina, Bela Mahardika, dan Farhan Agusta pengunjung perpustakaan semakin menurun. Cerita dari mulut ke mulut tentang tiga mahasiswa itu menyurutkan niat mahasiswa untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka takut berhadapan dengan buku misterius yang tersimpan di perpustakaan.

Pihak perpustakaan melakukan evaluasi terhadap minat mahasiswa yang berkunjung. Mendengar kisah Biru, Bela, dan Farhan pihak perpustakaan mengambil buku yang menimbulkan ketakutan mahasiswa. Buku itu memang hanya tersedia satu eksemplar di ruang baca.

“Buku itu dulu pernah dipinjam oleh mahasiswa program studi sastra Indonesia. Saat hendak pulang ke rumah mahasiswa itu mengalami kecelakaan tabrak lari. Mahasiswa yang mengendarai sepeda motor ditabrak truk di jalan raya. Sang sopir kabur, dan mahasiswa itu meninggal di tempat. Di dalam tasnya terdapat buku yang ia pinjam berjudul  Mati Tak Berarti Pergi,” jelas petugas perpustakaan kepada Biru, Bela, dan Farhan yang menanyakan tentang buku misterius yang menyeramkan di ruang baca perpustakaan.

Atas saran seorang dosen senior di kampus, pihak perpustakaan diminta untuk menyerahkan saja buku itu ke pihak orang tua atau keluarga mahasiswa yang meninggal dalam kecelakaan. Dengan harapan, tidak lagi ada kejadian misterius di perpustakaan.

Kepala perpustakaan merespons saran dosen senior itu. Dia sendiri yang mengantar buku  “Mati Tak Berarti Pergi” ke rumah orang tua mahasiswa untuk disimpan. Tangis haru orang tua mahasiswa menerima buku itu. Namun mereka berjanji untuk menyimpan buku itu di bekas kamar anaknya yang kini sudah tenang di alam baka.

Tidak ada lagi kejadian aneh yang menyeramkan di perpustakaan setelah buku misterius itu diserahkan kepada keluarga mahasiswa yang meninggal karena kecelakaan. Meski begitu, perpustakaan tetap saja tidak banyak pengunjung. Mahasiswa lebih banyak berdiskusi di kafe sambil bergosip soal drama Korea dan perselingkuhan selebritis. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
 Kampusku Sarang Hantu [27]: Taman Kampus, Taman Hantu
Kampusku Sarang Hantu [26]: Tamu Tak Diundang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus
Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal
Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

 

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kutukan Gandari

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co