12 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [28]: Perpustakaan yang Menyeramkan

Chusmeru by Chusmeru
August 14, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MEMBACA buku saat ini tidak menarik lagi bagi anak muda, termasuk mahasiswa. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menjadikan mahasiswa dimanja oleh keadaan. Sumber bacaan secara digital begitu banyak. Tinggal buka laptop atau ponsel, semua informasi dan sumber bacaan bisa diperoleh.

Beda generasi memang beda kebiasaan. Membaca buku bagi mahasiswa tahun 1960 – 1990 merupakan kewajiban. Buku bisa menjadi ukuran intelektualitas dan “kekayaan” mahasiswa. Semakin banyak mahasiswa membaca buku, ia akan dipandang sebagai intelektual. Semakin banyak ia menyimpan buku di kamarnya, semakin ia dipandang “kaya”.

Orientasi mahasiswa terhadap ilmu dan pengetahuan pada masa lalu memang tinggi. Meski dengan keterbatasan teknologi, banyak buku-buku berbobot yang ditulis oleh dosen, mahasiswa, maupun aktivis kampus. Nyaris tak ada waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk membaca, meski kegiatan organisasi kemahasiswaan juga banyak. Perpustakaan menjadi tempat mahasiswa membaca dan meminjam buku-buku untuk kepentingan perkuliahan.

Buku, baik ilmiah maupun fiksi  bukan hanya menjadi sumber bacaan, tetapi juga menginspirasi banyak pihak untuk diangkat di layar film. Sebut saja Bumi Manusia, Laskar Pelangi, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan lain-lain yang sukses diangkat menjadi film. Tokoh Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra dalam film Ada Apa Dengan Cinta juga digambarkan sebagai sosok pria tampan yang kutu buku.

Kini mahasiswa dimanjakan oleh teknologi. Buku tidak harus pinjam di perpustakaan. Banyak aplikasi maupun tautan yang menawarkan buku elektronik. Membaca dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak harus di perpustakaan. Apalagi perpustakaan bagi mahasiswa sering dipandang sebagai tempat yang membosankan, bahkan kadang dianggap menyeramkan.

Mahasiswa kadang merasa enggan untuk berkunjung ke perpustakaan. Meskipun salah satu syarat wisuda adalah bebas pinjaman buku di perpustakaan. Mahasiswa acap menganggap perpustakaan sebagai gudang buku yang sepi dengan lampu yang temaram menyeramkan.

Saat ini, perpustakaan di beberapa kampus berupaya menghapus stigma membosankan dan menyeramkan bagi perpustakaan. Banyak perpustakaan yang desain interiornya kekininian dengan spot foto yang menarik. Koleksi buku juga tertata dengan baik, sehingga enak untuk dilihat dan dicari. Bahkan beberapa kampus menyediakan kafe di dalam perpustakaan.

***

Kampus tempat Biru Sabrina kuliah memiliki perpustakaan yang cukup representatif. Koleksi bukunya lengkap, baik buku eksakta maupun humaniora. Desain ruangan perpustakaan juga kekinian dengan AC yang sejuk. Lampu di dalam perpustakaan cukup terang dengan tempat duduk dan meja yang nyaman. Di luar gedung perpustakaan terdapat kafe untuk bersantai bagi mahasiswa yang lelah membaca buku di dalam perpustakaan.

Biru Sabrina sengaja datang ke perpustakaan agak pagi, lantaran siangnya ada kuliah. Perpustakaan masih sepi di pagi hari. Walau hari-hari biasa juga tidak terlalu banyak pengunjung. Mahasiswa akan banyak datang ke perpustakaan bila menjelang ujian tengah semester (UTS) maupun ujian akhir semester (UAS).

Hanya ada tiga orang mahasiswa berada di perpustakaan saat Biru Sabrina membaca buku Marketing 5.0. Suasana sunyi memang nyaman untuk membaca. Namun ruang perpustakaan yang luas juga membuat Biru Sabrina agak takut.

Baru membaca pendahuluan dalam buku itu, Biru Sabrina dikejutkan dengan kehadiran seorang mahasiswa yang duduk berhadapan dengannya.  Biru tak melihat kedatangan mahasiswa laki-laki itu yang duduk begitu saja. Mahasiswa itu memegangi sebuah buku. Tidak membacanya. Hanya memandangi buku itu dengan tatapan kosong.

Dengan sedikit rasa takut Biru mencoba memandang mahasiswa itu. Betapa terkejut dia. Mahasiswa itu memandangi Biru dengan tatap mata yang kosong dan wajah yang pucat. Raut muka mahasiswa itu menunjukkan kesedihan. Biru mengalihkan pandangannya dengan membuka lembar halaman buku yang ia baca.

Sungguh mengejutkan. Ketika Biru Sabrina kembali hendak memandang mahasiswa di depannya, tak lagi tampak. Mahasiswa itu sudah tidak duduk di depannya. Padahal Biru tak melihat atau mendengar mahasiswa itu beranjak dari tempat duduknya. Biru merinding. Bulu kuduk di tengkuknya berdiri. “Kemana perginya mahasiswa itu?” tanya Biru dalam hati.

Anehnya, buku yang tadi dibaca oleh mahasiswa itu masih tergeletak di atas meja. Biru Sabrina mengamati buku itu. Bertambah terkejut dan takut Biru saat melihat judul buku itu, “Mati Tak Berarti Pergi” karya penulis Herwiratno. Bergegas Biru menutup buku Marketing 5.0 yang dibacanya. Ia segera meninggalkan perpustakaan.

***

Menjelang siang Bela Mahardika mengunjungi perpustakaan. Ada tugas dari dosen untuk melakukan resensi buku politik. Bela Mahardika memilih buka karya Plato “The Republic”. Menariknya buku ini bagi Bela adalah isi buku yang ditulis dalam bentuk dialog.

Bela Mahardika begitu serius membaca buku. Namun ia dikagetkan oleh sebuah buku yang jatuh dari tempat pemajangan buku di perpustakaan. Bela tidak begitu menaruh perhatian. Mungkin saja ada mahasiswa yang menyentuh dan menjatuhkannya. Akan tetapi Bela tidak melihat seorang mahasiswa pun yang melintas di lorong penyimpanan buku.

Terdorong oleh rasa penasaran, Bela Mahardika memungut buku yang jatuh dan menaruhnya kembali di rak buku. Belum sempat duduk, Bela kembali dikejutkan oleh buku yang terjatuh dari raknya. Bela menongoknya. Buku yang tadi ia taruh terjatuh kembali. Aneh, pikirnya. Padahal baru saja ia telah menaruh buku itu. Perasaan Bela mulai tidak enak. Namun Bela menduga, ia tidak tepat menaruhnya.

Kembali Bela Mahardika memungut buku itu dan memastikan bahwa ia telah menaruh buku dengan benar. Baru saja membalikkan badan untuk kembali ke tempat duduknya, Bela dikagetkan dengan buku yang jatuh lagi. Kali ini Bela mulai merinding.

Antara takut, ragu, dan penasaran, Bela Mahardika menghampiri buku yang terjatuh. Ia melihat dengan seksama buku itu. Kaget bukan kepalang Bela. Buku itu berjudul “Mati Tak Berarti Pergi”. Seketika Bela merinding. Keringat dingin ia rasakan mengucur dari keningnya. Bela bergegas keluar dari perpustakaan.

Sore hari, Farhan Agusta baru sempat ke perpustakaan. Dicarinya buku “Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman”. Itu karena tugas dosen dan ia tidak memiliki buku tersebut di rumahnya. Koleksi buku-buku tentang pertanian di perpustakaan sangat lengkap. Apalagi kampus tempatnya kuliah banyak dosen yang menulis buku pertanian.

Ketika Farhan Agusta duduk di ruang baca, di atas meja sudah terletak buku lain. Entah buku apa, dan siapa yang hendak meminjam. Mungkin yang baca buku itu sedang istirahat sejenak, pikir Farhan. Ia tak begitu peduli. Dia duduk di samping kanan buku itu.

Ruang perpustakaan yang sunyi membuat Farhan Agusta khusuk membaca buku yang akan dipinjamnya. Tengah asyik membuat cacatan dari apa yang ia baca, Farhan dikagetkan oleh buku yang ada di samping kanannya. Buku itu terbuka sendiri. Seolah ada orang yang sedang membacanya. Awalnya Farhan Agusta menduga buku itu tertiup angin. Tapi bukankah ruang perpustakaan tertutup rapat?

Farhan Agusta kembali membaca buku yang dipinjamnya. Suhu udara di ruang baca semakin dingin. Semilir angin menerpa punggung dan tengkuknya. Berbarengan dengan itu, buku yang ada di sampingnya kembali terbuka sendiri. Kali ini halaman demi halaman terbuka begitu cepat. Farhan merinding ketakutan. Buku itu bergerak seolah ada orang yang membacanya.

Wajah pucat mulai tampak pada Farhan Agusta. Ia menengok kiri kanan untuk mencari orang lain. Namun menjelang sore perputakaan sudah sepi pengunjung. Perlahan Farhan menghampiri buku itu. Bertambah kaget dan merinding bulu kuduk Farhan ketika melihat judul buku yang terbuka sendiri, “Mati Tak Berarti Pergi”. Kaki Farhan Agusta gemetaran. Dengan cepat ia berjalan meninggalkan ruang baca perpustakaan.

***

Sejak peristiwa yang dialami Biru Sabrina, Bela Mahardika, dan Farhan Agusta pengunjung perpustakaan semakin menurun. Cerita dari mulut ke mulut tentang tiga mahasiswa itu menyurutkan niat mahasiswa untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka takut berhadapan dengan buku misterius yang tersimpan di perpustakaan.

Pihak perpustakaan melakukan evaluasi terhadap minat mahasiswa yang berkunjung. Mendengar kisah Biru, Bela, dan Farhan pihak perpustakaan mengambil buku yang menimbulkan ketakutan mahasiswa. Buku itu memang hanya tersedia satu eksemplar di ruang baca.

“Buku itu dulu pernah dipinjam oleh mahasiswa program studi sastra Indonesia. Saat hendak pulang ke rumah mahasiswa itu mengalami kecelakaan tabrak lari. Mahasiswa yang mengendarai sepeda motor ditabrak truk di jalan raya. Sang sopir kabur, dan mahasiswa itu meninggal di tempat. Di dalam tasnya terdapat buku yang ia pinjam berjudul  Mati Tak Berarti Pergi,” jelas petugas perpustakaan kepada Biru, Bela, dan Farhan yang menanyakan tentang buku misterius yang menyeramkan di ruang baca perpustakaan.

Atas saran seorang dosen senior di kampus, pihak perpustakaan diminta untuk menyerahkan saja buku itu ke pihak orang tua atau keluarga mahasiswa yang meninggal dalam kecelakaan. Dengan harapan, tidak lagi ada kejadian misterius di perpustakaan.

Kepala perpustakaan merespons saran dosen senior itu. Dia sendiri yang mengantar buku  “Mati Tak Berarti Pergi” ke rumah orang tua mahasiswa untuk disimpan. Tangis haru orang tua mahasiswa menerima buku itu. Namun mereka berjanji untuk menyimpan buku itu di bekas kamar anaknya yang kini sudah tenang di alam baka.

Tidak ada lagi kejadian aneh yang menyeramkan di perpustakaan setelah buku misterius itu diserahkan kepada keluarga mahasiswa yang meninggal karena kecelakaan. Meski begitu, perpustakaan tetap saja tidak banyak pengunjung. Mahasiswa lebih banyak berdiskusi di kafe sambil bergosip soal drama Korea dan perselingkuhan selebritis. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
 Kampusku Sarang Hantu [27]: Taman Kampus, Taman Hantu
Kampusku Sarang Hantu [26]: Tamu Tak Diundang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus
Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal
Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong

 

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kutukan Gandari

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co