24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencatat Festival Sebagai Ruang Belajar: Refleksi atas Pemutaran dan Diskusi Film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year

Gading Ganesha by Gading Ganesha
August 13, 2025
in Khas
Mencatat Festival Sebagai Ruang Belajar: Refleksi atas Pemutaran dan Diskusi Film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year

Pemutaran film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year di Kedai Umah Pradja Singaraja | Foto: Singaraja Menonton

DI malam yang hening di Umah Pradja, sebuah ruang kedai di Kelurahan Banyuasri, Singaraja, Buleleng, yang kini sering menjadi titik pertemuan gagasan dan energi kreatif, saya bersama puluhan orang berkumpul, untuk terlibat pada gelaran pemutaran ilmu dan diskusi.  Kegaiatan ini digagas oleh Komunitas Singaraja Menonton berkolaborasi dengan Kolektif Hysteria dalam program Bandeng Keliling.

Dan, tepat pukul 19.30 WITA, layar menyala dan film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year mulai diputar. Film dokumenter itu berdurasi 55 menit 32 detik.  Film yang saya tonton ini bukan hanya sekadar arsip visual, tetapi sebuah narasi panjang tentang perjalanan, kolaborasi, dan semangat kolektif yang telah dirajut oleh Kolektif Hysteria selama dua dekade.

Pemutaran film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year di Kedai Umah Pradja Singaraja | Foto: Singaraja Menonton

Film ini bukan dokumenter biasa. Ia menggunakan pendekatan partisipatif yang memadukan wawancara, narasi personal, dan elemen artistik yang menyatu dengan sangat baik. Tak hanya menyampaikan informasi, film ini seakan memaksa saya untuk merenung, mempertanyakan, dan mungkin merekonstruksi pemahaman saya tentang komunitas dan festival.

Seusai menontonnya, kepala saya penuh dengan tanya – 20 tahun mereka berkarya, menyusun kegiatan demi kegiatan, membangun festival dan forum diskusi. Bukan waktu yang sebentar, dan jelas bukan perjalanan yang mudah.

Satu hal yang nampak kuat disuarakan oleh film ini adalah pentingnya arsip dan pendokumentasian. Film ini membuka mata saya bahwa dokumentasi bukanlah sekadar catatan; ia adalah ingatan kolektif yang membentuk identitas dan bahkan menentukan arah masa depan sebuah komunitas. Dalam zaman yang begitu cepat, saya merasa  sering terjebak dalam rutinitas dan perayaan sesaat. Banyak hal terjadi, banyak kegiatan berlangsung, namun sedikit sekali yang tercatat dengan baik.

Melalui dokumentasi, karya dan peristiwa tak hanya dikenang, tetapi juga bisa dikritisi, dipelajari, dan dilanjutkan. Festival, diskusi, pameran, semua itu bukan hanya sekadar momen hiburan, tetapi juga bisa menjadi ruang belajar yang penuh nilai.

Seperti yang disampaikan oleh Yuswinardi, salah satu founder dari Kolektif Hysteria yang hadir pada malam itu. Pada diskusi yang dipandu oleh Ni Made Yuli Susilawati, menurut Yuswinardi pengarsipan sangat penting. Tidak hanya sebagai bentuk tanggungjawab atas kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi ia juga jadi pengingat dan menjadi media belajar.

“Saya sadar betul bahwa pengarsipan dan pendokumentasian sangat penting, maka dalam setiap kegiatan selalu ada yang ditugaskan untuk melakukan pendokumentasian, baik berupa foto, video maupun tulisan,” kata Yuswinardi.

Film ini juga mengajak saya dan para penonton melihat kembali makna sebuah festival. Seringkali kita memahami festival hanya sebagai ajang perayaan – penuh panggung, musik, keramaian, dan kembang api. Namun Legiun Tulang Lunak menunjukkan sisi lain: bahwa festival bisa menjadi ruang belajar yang mendalam. Ia membuka ruang pertemuan antara warga, seniman, penggiat komunitas, dan pemangku kepentingan. Ia menjadi wadah kolaborasi lintas sektor, tempat gagasan saling tumbuh bersama. Serta menjadi sarana untuk mencari solusi atas persoalan-persoalan yang ada dimasyarakat.

Festival bukan semata tentang selebrasi, melainkan tentang proses – tentang bagaimana ide dibangun, jaringan diciptakan, dan komunitas diperkuat. Bagaimana sebuah festival dihadirkan bukan sekadar sebagai tontonan, tapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, lalu ia mampu menjadi alat perubahan sosial yang nyata.

Yuswinardi (kiri depan) dan saya (tengah) pada diskusi film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year di Kedai Umah Pradja Singaraja | Foto: Singaraja Menonton

Melihat ke Buleleng, saya jadi bertanya-tanya. Di kota ini, banyak festival yang telah digelar. Namun, entah saya yang kurang tahu. Dari sekian banyak itu, terutama yang dibuat oleh pemerintah daerah, berapa festival itu yang benar-benar tercatat dengan baik? Berapa banyak yang didokumentasikan bukan hanya untuk laporan pertanggungjawaban, tetapi untuk menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya?

Apakah karena sebagian besar festival hanya menjadi sebagai sarana hiburan semata? Atau sebatas meyuarakan sesuatu. Apa karena karena festivalnya tidak cukup menarik bagi media dan institusi pencatat sejarah? Atau justru memang kita belum menganggap penting upaya mengarsipkan proses dan narasi di baliknya?

Lewat film dokumenter Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year ini, saya merasakan bagaimana mengarsip itu bukan hanya soal menyimpan dokumentasi. Ini tentang memberi penghormatan. Memberi tempat bagi ingatan kolektif agar tak lenyap begitu saja. Festival, sekecil apapun, seperti yang digagas oleh Kolektif Hysteria yang ditunjukkan dalam film. Jika festival kecil itu mampu menciptakan dampak bagi masyarakat, maka ia layak dikenang dan dicatat. Bukan semata untuk nostalgia, tapi sebagai bekal untuk menyusun strategi membangun di masa depan.

Dalam pemutaran dan diskusi film ini juga menggugah saya untuk berpikir tentang tantangan dalam berkomunitas. Tentang bagaimana relasi antara komunitas dan kota. Seperti yang ungkapkan oleh Yuswinardi sendiri, ada banyak komunitas yang tumbuh tapi tak mampu bertahan lama. Lalu tentang hubungan komunitas dengan pemerintah dan masyarakat dimana komunitas itu berdiri. Ada banyak keterbatasan yang dihadapi oleh komunitas. Perjalanan Kolektif Hysteria selama 20 tahun lebih juga mengalami pasang surut.

Saya merasakan juga di Kota Singaraja, ada banyak komunitas yang dengan segala keterbatasannya tetap menghidupkan ruang-ruang kota dengan kegiatan, karya, dan gagasan. Tapi pertanyaannya sejauh mana kota telah memberi ruang balik untuk mereka? Apakah kota ini telah cukup hadir sebagai rumah yang menghidupi komunitas-komunitas tersebut.

Dukungan terhadap komunitas tidak hanya soal dana. Ia juga soal kepercayaan, keterbukaan, dan kemauan untuk mendengarkan. Kota yang hidup adalah kota yang tumbuh bersama warganya – termasuk para pegiat komunitas yang selama ini menjadi motor penggerak di berbagai lini.

Yuswinardi (kiri depan) dan saya (tengah) pada diskusi film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year di Kedai Umah Pradja Singaraja | Foto: Singaraja Menonton

Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year adalah lebih dari sekadar film dokumenter. Ia adalah pengingat bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil. Ia mengajak saya dan pemirsanya untuk tidak hanya terlibat dalam kegiatan, tetapi juga mencatat, merefleksikan, dan membagikannya sebagai pengetahuan bersama. Dimana kita bisa menjadikan Fesrtival sebagai ruang belajar tidak hanya menjadi panggung hiburan. 

Di Kota Singaraja ini rasanya juga butuh banyak pendokumentasian seperti ini. Kita perlu banyak ruang yang tak hanya menjadi sebuah panggung tapi tempat belajar. Pemutaran dan diskusi film ini pun jadi catatan untuk saya agar tidak lupa mendokumentasikannya. Sebab banyak yang bilang, sejarah bukan hanya milik mereka yang menang atau besar. Sejarah juga milik mereka yang mau mencatat. [T]

Penulis: Gading Ganesha
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa
Tags: filmfilm dokumenterSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia, Sakit, Obat dan Pengobatan

Next Post

Trauma Masa Kecil yang Diam-Diam Merusak Hubungan Cinta

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Trauma Masa Kecil yang Diam-Diam Merusak Hubungan Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co