2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia, Sakit, Obat dan Pengobatan

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
August 12, 2025
in Esai
Manusia, Sakit, Obat dan Pengobatan

Ilustrasi tatkala.co

Manusia adalah mahluk hidup. Dalam agama Hindu, disebutkan bahwa semua mahluk hidup terdiri dari tiga badan/sarira yaitu: badan kasar/tubuh fisik (stula sarira), badan halus/tubuh suksma (suksma sarira), dan badan penyebab/roh/atman (antah karena sarira).

Sebagai mahluk hidup di bumi, di alam semesta, manusia berhadapan dengan alam ( material padat, zat cair, api/tenpratur, zat gas/udara, ruang dan waktu yang menciptakan kondisi.

Atma dan Moksa

Badan penyebab/atma/roh menjadi faktor utama sesuatu disebut hidup atau mati. Sesuatu yang ber-atma disebut hidup, yang tanpa atma disebut mati.

Lalu bagimana dengan atma pada tubuh kasar dan tubuh halus?

Perbedaan kondisi pada tubuh kasar dan tubuh halus ini membuat seorang manusia disebut sehat atau sakit. Sebelum seseorang itu ada, maka ia juga pernah ada dalam kondisi tiada.
Jadi atma hidup adalah ada pada badan kasar dan badan halus, dan mati/tiada pada badan kasar dan badan halus. Atma mati/tiada tanpa badan kasar dan badan halus. Atma yang tiada ini diteorikan menyatu dengan brahman (esensi Tuhan) yang disebut moksa.

Sakit

Sakit adalah sebuah kondisi ketidakharmonisan yang dihadapi mahluk hidup (manusia, binatang, pohon, dll.) ketika ada atma dalam badan kasar dan badan halusnya.

Manusia konon diberi kelebihan berupa pikiran dibanding mahluk lain. Pikiran inilah yang konon menjadikan manusia lebih maju, lebih berbudaya dan beradab dibanding mahluk lainnya, tapi belum tentu konon lebih sehat, aman, damai dan bahagia lho.

Yang jelas kemampuan berpikir inilah yang kemudian membuat manusia; orang-orang, kita dan saya, bisa berusaha untuk menjadi lebih sehat, aman, damai dan bahagia.

Sakit artinya tidak sehat, membuat orang-orang, kita dan saya merasa sedikit tidak aman, damai, dan bahagia. Kadarnya bisa berbeda-beda sesuai dengan kondisi, situasi (badan kasar maupun badan halus) seseorang.

Belajar Sakit

Kondisi sakit biasanya dirasakan oleh yang bersangkutan, orang dekat yang diajak setiap hari, yang perhatian, menjadi sedikit tahu, bukan benar-benar tahu.

Sakit fisik/badan kasar mudah dikenali, tetapi sakit psikis/badan halus sulit dikenali. Sakit psikis yang tidak diobati/diharmoniskan/dinetralisir oleh yang bersangkutan akan menjadi sakit fisik/badan kasar.

Kenali Sakit

Sebelum kita mencari obat untuk mengobati sakit yang kita derita ada baiknya, kita terlebih dahulu belajar tentang sakit yang kita derita. Dalam proses belajar ini kita bisa memanfaatkan seluruh potensi yang ada pada manusia (indria,pikiran, rasa dan pengetahuan yang bisa kita dapatkan dari leluhur, guru, pengobat, buku dll) dan harus jujur pada diri sendiri.

Misalnya suhu tubuh kita tiba-tiba panas, kita bisa cek bagian-bagian dari tubuh kita, misalnya ada kulit yang bisul, ada gigi yang berlubang dll.

Belajar tentang sakit yang kita derita, kemudian menyampaikannya dengan jujur pada seorang pengobat (modern, tradisional) akan mempermudah penyembuhan dan proses penyembuhan sakit yang kita derita.

Obat dan Pengobatan

Saat ini banyak orang yang bermental Instan dan Hedonis (serba singkat/cepat, mengabaikan tanggungjawab, yang penting menguntungkan, tanpa memikirkan efek jangka panjang). Banyak orang yang tidak mau jujur, tidak mau belajar sungguh-sungguh, tentang sakitnya dan sakit orang lain (pasien), sehingga tempat praktek dokter, puskesmas, rumah sakit-rumah sakit semakin penuh, padahal ilmu pengetahuan tentang obat-obat modern dan tradisional semakin berkembang dan maju.

Tak heran jika Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) selalu mengeluh rugi. Sehingga rumah sakit pemerintah seperti dipaksa untuk melayani peserta BPJS klas biasa, karena yang beruang akan memilih ke rumah sakit swasta.

Rumah Sakit

Tak seorangpun ingin sakit, berobat ke rumah sakit diharaplan agar sakitnya sembuh, agar sehat.

Banyaknya pasien yang berobat ke rumah sakit membuat pelayanan tidak maksimal. Padahal tidak semua orang sakit harus berobat ke rumah sakit/dokter. Sayangnya mental instran/hedonis kita masyarakat yang tidak mau belajar tentang tubuh sendiri tentang sakit, sekitar, obat dan proses pengobatan, membuat rumah sakit negeri, puskesmas seolah-olah paling bertanggung jawab atas kesembuhan orang-orang dan masyarakat.

Kondisi ini diperparah oleh mental instan dan hedonis para pengobat dan jaringan pengobat, yang abai pada sifat pengetahuan dan tugasnya untuk membantu mengobati masyarakat.

Kesehatan Mental dan Pancasila

Kesehatan adalah masalah kita semua, masalah negara dan kemanusiaan.

Mental instan/hedonis dalam ruang yang lebih luas adalah mental yang tidak beradab dan berbudaya karena mengingkari kemanusiaan, hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan diri dan kelompoknya.

Di Indonesia, kini banyak pejabat, pemimpin yang bermental instan dan hedonis, yang tanpa dasar, bahkan dengan bangga mempertontonkannya di media sosial. Salah satu wujud mental instan dan hedonis itu adalah membuat tayangan kontroversial, mecaci maki, memfitnah untuk mencari nama. Berbeda dengan pemimpin yang turun ke bawah bekerja sungguh-sungguh, sehingga namanya terangkat dan dipilih jadi pemimpin.

Kini bangsa Indonesia banyak yang sakit secara mental, pasti akan mempengaruhi kesehatan fisik masyarakat secara luas.

Untuk mengobati sakit mental yang mengakibatkan sakit fisik, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, terutama sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa harus kembali diajarkan agar bangsa Indonesia, generasi muda anak-anak Indonesia, belajar, tentang dirinya sebagai manusia, yang percaya pada Kemahakuasaan Tuhan termanisfestasi pada manusia, binatang, pohon, alam semesta, sehingga bisa menghormati dan menghargai manausia lain, mahluk lain dan alam.

Dengan kesadaran sebagai manusia, yang berjiwa-raga memiliki indria-indria, pikiran dan perasaan, kita akan bisa menghargai diri sebagai pribadi, dan orang lain, sehingga bisa terpacu untuk belajar mengetahui, memahami sekitar. Pengetahuan dan pemahaman kita tentang diri dan sekitar, akan merangsang kreatifitas, karena sifat dasar manusia tak bisa diam. Tanpa pengetahuan dan pemahaman kita akan terjebak pada pengingkaran-pengingkaran, pelarian-pelarian, dan permaian- permainan untuk kebahagiaan sesaat. Pengetahuan dan pemahaman sederhana terhadap sesuatu, walaupun kecil dan terbatas, akan melahirkan rasa bahagia. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Manusia, Karya, Tulisan, Penderitaan dan Kebahagiaan
Purnama, Pengetahuan, Profesor dan Pendeta
Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran
Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia
Tumpek Kandang, Manusia dan Alam Semesta
Tags: kesehatankesehatan mentalsakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Frekuensi dan Nasi Goreng: Teori Dasar Penyajian Teater

Next Post

Mencatat Festival Sebagai Ruang Belajar: Refleksi atas Pemutaran dan Diskusi Film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mencatat Festival Sebagai Ruang Belajar: Refleksi atas Pemutaran dan Diskusi Film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year

Mencatat Festival Sebagai Ruang Belajar: Refleksi atas Pemutaran dan Diskusi Film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co