PURNAMA adalah kondisi saat bulan terlihat bulat sempurna. Leluhur Bali meyakini bulan dan cahayanya adalah pantulan dari matahari cahayanya. Disebut cahaya karena bisa dilihat, diketahui dan dipahami dari pandangan mata biasa. Bentuk cahaya bulan yang berubah-ubah setiap hari, memberi pengetahuan dan pemahaman tentang bentuk utuh bulan yang bulat, seperti halnya bumi dan planet-planet.
Selain bentuk yang bulat, leluhur Bali juga memberi pengetahuan tentang kondisi situasi bulan dalam hubungannya dengan bumi, matahari dan benda-benda angkasa lainnya, yang terlihat lebih kecil, sedang besar, sangat besar, redup, terang dan sangat terang, seperti yang dituliskan dalam lontar dalam bentuk karya-karya sastra . Pengetahuan tentang bulan Purnama ini dengan sangat detail dituliskan oleh sastrawan Bali asal Klungkung, almarhum I Dewa Raka Kusuma dalam cerpennya yang berjudul “Ngambar Bulan” (Menggambar Bulan).
Bulan
Sinar bulan yang lembut, terasa sejuk membuat kita betah berlama-lama memandang dan mengaguminya. Lewat pandangan mata, sinar bulan terserap dan masuk ke dalam jiwa. Menjadi inspirasi bagi manusia dalam mengembangkan pengetahuan lahir maupun batin.
Bulan seperti halnya bumi, matahari, planet-planet, manusia, binatang dan tumbuhan bersifat material dan spiritual.
Manusia modern, terutama para profesor (ilmuan yang sudah profesional di bidangnya) berusaha menggali pengetahuan tentang bulan sebagai material dengan berusaha menyentuh material dan unsur-unsurnya secara langsung, menelitinya untuk mendapatkan pengetahuan tentang benda-benda langit, bumi, manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan sebagai bagian dari alam semesta.
Manusia tradisional, para spiritual (Pendeta di Bali misalnya) berusaha menggali pengetahuan tentang bulan sebagai spiritual, dengan berusaha merasakan, meresapi menikmati sinarnya, untuk mendapatkan pengetahuan tentang sinar bulan, matahari, planet-planet, bumi, manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan sebagai bagian dari alam semesta.
Profesor dan Pendeta
Untuk menjadi seorang Profesor, seorang intelektual /orang yang memiliki kecerdasan tinggi dan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta kreatif, terutama dalam memahami dan memecahkan masalah yang kompleks, harus melalui pendidikan formal, melakukan penelitian-penelitian, menemukan dan menyebarkan hasil penelitiannya melalui seminar-seminar, jurnal-jurnal ilmiah, buku dan lain-lain.
Istilah brahmana disebutkan berasal dari akar kata brahman yang berarti realitas tertinggi, sumber segala sesuatu, dan prinsip kosmik yang kekal dan tidak terbatas (Tuhan dengan segala aspeknya material maupun spiritual). Yang menjalani pembelajaran tentang segala aspek brahman disebut brahmana. Dalam kontek agama Hindu di Bali, brahmana kemudian dipergunakan sebagai istilah untuk menyebut seseorang atau sekelompok orang dengan bernama depan ida, yang puncak pencapaian tertingginya disebut Pendeta.
Intelektual dan Brahmana
Manusia adalah pelaku, subyek dari pengetahuan modern maupun tradisionil. Seorang Intelektual umumnya menjadikan bulan, matahari, planet, bumi, manusia binatang, tumbuh-tumbuhan dan semua aspek yang ada dan terkait dengannya obyek penelitian. Seorang “brahmana” konon menjadikan dirinya sendiri sebagai obyek penelitian.
Diri sebagai obyek penelitian untuk mendapatkan pengetahuan didasari oleh keyakinan bahwa Brahman (percikan Brahman) ada dalam diri manusia dan mahluk hidup lainnya, umat Hindu di Bali menyebutnya Atman, umat beragama lain menyebut Roh Kudus, Nur Muhammad Nur Illahi dan lain-lain.
Penelitian ke luar dan ke dalam bertujuan untuk mencapai kebahagian lahir dan batin.
Tantangan bagi Intelektual dan Brahmana adalah bagaimana mempergunakan pengetahuannya untuk memberikan dampak positif bagi dunia, manusia, binatang, pohon, alam sekitar, bumi dan alam semesta. Penggunaan pengetahuan yang hanya untuk menguntungkan diri sendiri dan kelompok, hanya mengakibatkan penderitaan lahir dan batin.
Ajiwera
Mungkin itu sebabnya, pengajaran tentang pengetahuan oleh “brahmana”/ Pendeta, tidak diberikan secara sembarangan (ajiwera), hanya diberikan oleh guru kepada murid melalui tahapan pengujian yang disebut diksa pariksa (pengujian mental spiritual).
Dalam ujian mental-spiritual biasanya yang paling krusial adalah ketulusiklasan yang bersangkutan untuk menjalankan pengetahuan Brahman/Tuhan /Spiritual. Guru biasanya akan mengingatkan agar murid yang telah menguasai pengetahuan agar tidak tergoda menjadi Balian, penyembuh pribadi yang menerima upah.
Tetapi hanya sebagai pengantar/penyampai doa yang hanya menerima sari (seirup nafas yang wangi), bukan menerima pajak sebagai prosentase dari pengelolaan sumber daya (fee), bukan menerima nilai tukar dari kerajinan tubuh, atau bahkan menerima bati (keuntungan dari prosentase penjualan dan pembelian).
Bersyukur
Kita mesti bersyukur beberapa orang di Bali, Nusantara, Asia dan dunia, masih menjaga, memelihara dan mengembangkan adat, tradisi dan budaya dalam sistem belajar untuk mendapatkan, menerapkan dan mengembangkan pengetahuan demi kebaikan manusia alam dan sekitar.
Semoga Perayaan Purnama kali ini bisa menjadi sinar yang memantulkan diri kita sebagai manusia, alam dan semesta, untuk menerima dan memaafkan kesalahan diri, orang lain, bangsa, negara dan alam semesta, agar bisa memperbaiki diri, alam dan semesta untuk menjadi lebih baik, aman, nyaman dan damai. [T]
Denpasar, 08.08.2025
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:





























