3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Trauma Masa Kecil yang Diam-Diam Merusak Hubungan Cinta

Krisna Aji by Krisna Aji
August 13, 2025
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SEORANG perempuan berusia 25 tahun, sebut saja Ira, selalu bermasalah dalam setiap hubungan percintaan. Setiap kali ia menjalin kedekatan dengan seseorang, selalu muncul perasaan takut ditinggalkan. Ira mudah sekali curiga dan merasa tidak cukup dicintai oleh pasangannya. Ia menjadi terlalu sering mengecek ponsel pasangannya, menanyakan kabar setiap jam, bahkan selalu menanyakan hal yang sama:”Apakah kamu mencintaiku?”

Masalah hubungan antar pasangan tidak hanya terjadi pada Ira. Hubungan emosional yang bermasalah memang banyak terjadi di periode usia 20 sampai 40–intimacy vs isolation–jika kita mengacu pada teori psikososial menurut Erikson. Masa di mana seseorang mencari keseimbangan antara menjadi diri sendiri yang mandiri dan mampu menjalin hubungan emosional yang intim dengan pasangan. Walaupun tidak menutup kemungkinan adanya masalah yang serupa di periode usia lain.

Terlepas dari periode tersering dari masalah hubungan berpasangan, sebenarnya masalah sudah terbentuk sejak kecil. Saat itu, masalah mungkin belum terlalu tampak karena dampak yang dirasakan belum terlalu signifikan. Untuk memahaminya, kita bisa mulai dengan teori kelekatan John Bowlby dan Mary Ainsworth dalam perkembangan psikososial Erik H Erikson.

Menurut Bolby dan Ainsworth, pola awal masalah berakar dari kelekatan emosional antara bayi dan orang tua sebagai pengasuh utama. Di usia 0-2 tahun, terutama 6-24 bulan, bayi mulai mengenal sosok yang akrab dan bereaksi secara spesifik terhadap kehadiran atau ketidakhadiran mereka. Jika menyertakan teori perkembangan kognitif Piaget, ini adalah masa yang sama dengan tahapan sensori-motor. Tahapan di mana anak pertama kali belajar realita yang tidak hitam-putih. Di mana orang tua yang pergi bukan berarti hilang secara permanen. Orang tua yang pergi tetaplah ada dan bisa saja kembali untuk memberikan rasa aman. Di masa ini, periode kritis terjadi karena otak, tubuh, dan jiwa bayi secara intuitif membangun kepercayaan terhadap dunia yang aman. Pola yang juga berada di fase yang tepat sama dengan trust-misstrust oleh Erikson.

            Di usia selanjutnya, yaitu 2-3 tahun, masalah kelekatan menjadi makin kuat dan jelas. Anak mulai mengidentifikasi sosok yang dapat dianggap sebagai “area aman”– sosok yang akan dicari saat takut, marah, sakit, atau merasa tertekan. Walaupun di masa ini anak sudah mulai belajar bahwa kepergian saat orang tua belum tentu adalah situasi yang permanen, anak belum paham akan alasan orang tua sebagai objek yang dilekati harus pergi–walaupun untuk bekerja atau belanja ke pasar. Kegelisahan dari anak menjadi makin dramatis saat perpisahan dengan objek ini terjadi. Membuat anak menjadi reaktif, penuntut, dan juga posesif. Sebaliknya, keceriaan akan muncul saat berkumpul dengan objek yang dilekati. Di mana hal tersebut membuktikan bahwa relasi antara anak sebagai subjek dan orang tua sebagai objek makin terbentuk.

            Tipe kelekatan yang mulai terlihat jelas di usia ini terbagi menjadi empat. Empat tipe tersebut adalah kelekatan yang aman–secure attachment, menghindar–insecure-avoidant attachment, tak teratur–disorganized attachment, serta cemas dan ambivalen–insecure-ambivalent attachment.

Kelekatan yang baik adalah kondisi anak yang akan tenang saat pengasuh hadir, sedih saat ditinggal, lalu tenang dengan cepat saat pengasuh kembali. Menjadi kondisi yang baik karena anak mulai belajar bahwa dunia merupakan tempat yang aman dan cinta akan datang tanpa perlu diminta.

Kelekatan menghindar, yang sangat berbeda dengan tipe sebelumnya, adalah kondisi di mana anak tampak tidak peduli terhadap kehadiran atau kepergian pengasuh. Kondisi ini sekilas tampak baik karena anak sepertinya “mandiri”. Tetapi, sebetulnya anak sedang menarik diri karena terbiasa diabaikan.

Saat kelekatan menghindar dicirikan dengan ketidakpedulian, kelekatan yang tak teratur dicirikan dengan respons yang kontraindikatif, kacau, bahkan aneh. Kondisi ini sering terjadi pada anak dengan riwayat trauma, penelantaran, atau pengasuhan yang mengancam. Anak dapat berpikir bahwa dunia adalah tempat yang menakutkan dan sumber cinta yang seharusnya bisa dijadikan tempat berlindung juga menjadi sumber luka.

Kelekatan bermasalah selanjutnya adalah tipe cemas dan ambivalen. Kondisi ini terlihat dari anak yang sangat gelisah saat ditinggal dan sulit ditenangkan saat pengasuh kembali. Kecemasan hadir karena anak diliputi ketidakpastian: kapan cinta hadir dan kapan cinta akan menghilang. Anak hidup dalam dilema: jika ia terlalu berharap akan datangnya objek cinta, maka kecemasan akan hilangnya objek cinta itu juga akan semakin besar.

Manusia terus bertumbuh. Dengan pengembangan teori kelekatan oleh Patricia Crittenden, anak di usia 3-6 tahun mulai dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya untuk benar-benar tidak lagi berpikir hitam-putih. Orang tua yang pergi bisa saja hanya sementara dan kembali lagi. Anak mulai bisa diajak bernegosiasi dan ditenangkan dengan janji bahwa suatu saat, orang tua sebagai objek cinta pasti akan kembali. Walaupun demikian, kelekatan anak di usia masih rapuh. Anak akan sensitif terhadap perubahan suasana hati orang tua serta merasa cemas saat komunikasi emosional dengan orang tua terganggu. Hal ini dapat disebabkan, salah satunya, oleh kondisi emosional orang tua yang bermasalah saat mengasuh anak. Jika menggabungkan teori perkembangan kognitif Piaget dan psikososial Erikson, kemampuan otak yang sudah berkembang membuat internalisasi peran di diri anak yang terpusat pada dirinya muncul. Memunculkan pertanyaan seperti: “Bagaimana caranya agar aku selalu disayang?” Di titik ini pula, pola pikiran “Apakah aku layak dicintai?” berawal. Dengan motif tersebut, anak di usia ini sudah dapat mengembangkan strategi agar mendapat perhatian. Berperilaku berpura-pura dengan menunjukkan emosi yang tidak sesuai hanya untuk menghindari penolakan adalah salah satu contohnya.

Perkembangan tersebut berlanjut di usia 6-12 tahun. Dengan mengacu pada teori psikososial Erikson, lingkungan anak sudah berkembang lebih luas. Berkembang ke lingkungan  teman-teman sekolah dan anak-anak sebaya di sekitar rumah. Dengan hubungan yang lebih lebar dari pada lingkungan di dalam rumah, anak yang sudah berhasil melewati fase sebelumnya akan menjadi percaya diri saat mengarungi dunia yang lebih luas. Tetapi, jika relasi di dalam rumah dingin, penuh konflik, dan banyak masalah, anak bisa menjadi tertutup, agresif, dan haus validasi untuk diterima saat berinteraksi dengan lingkungan barunya.

 Di usia selanjutnya, yaitu 12-18 tahun, fase remaja saat seseorang sedang mencari jati diri–identity vs role confusion jika menurut Erikson–adalah kondisi di mana seseorang tidak lagi bergantung secara fisik terhadap orang tua, tetapi masih memiliki jejak kelekatan masa kecil. Jejak kelekatan tersebut menjadi cetak biru dalam relasi baru di tahap ini. Dengan pengembangan teori oleh Hazan dan Shaver, manusia mulai mengalami pergeseran kelekatan ke teman sebaya atau pasangan romantis. Remaja dengan kelekatan yang aman akan cenderung membuka diri, menyatakan kebutuhan, dan menoleransi ketidakpastian. Sebaliknya, remaja dengan kelekatan yang tidak aman menjadi sangat bergantung atau bahkan menarik diri dari keintiman sosial. Pola tersebut akan semakin mengendap di fase selanjutnya, yang menurut Erikson, adalah fase pencarian keintiman emosional dengan cara berpasangan. Fase usia di mana Ira berada sekarang.

Lalu, apa yang terjadi pada Ira? Pola kelekatan yang terjadi padanya adalah tipe cemas dan ambivalen. Ia merasa tidak cukup berharga untuk dicintai dan haus akan validasi akan cinta. Setelah ditelisik lebih dalam, ternyata orang tuanya sudah berkonflik sejak Ira dilahirkan, lalu bercerai saat Ira berusia 2 tahun. Membuat Ira hanya diasuh oleh ibu tanpa kehadiran ayah.

Ketiadaan figur ayah sejak kecil membuat cara pandangnya terhadap laki-laki dipenuhi oleh kecemasan. Cemas karena sejak awal kehidupan, ayah sebagai cinta pertamanya tidak memberikan respons yang memadai. Ayahnya pergi dan Ira hanya tinggal berdua dengan ibunya. Di saat itu pula, ibu juga memiliki masalah mental akibat perceraian yang dihadapi. Hubungan antara anak, ayah, dan ibu bermasalah sejak saat itu. Menjadi pola awal dalam melihat masa kini yang selalu tampak tidak pasti. Penuh rasa tidak aman dan khawatir akan ditinggalkan lagi. Seperti ayah sebagai objek cinta pertama yang pernah meninggalkannya dahulu.

Apakah pola ini bisa diubah jika sudah terlanjur membeku di usia dewasa?

Jawabannya bisa macam-macam. Banyak yang menetap tetapi ada juga yang dapat berubah. Perubahan bisa terjadi saat seseorang sudah menyadari pola yang terjadi serta penyebab dari terbentuknya pola tersebut. Setelah menyadari pola, dengan kemampuan otak yang sudah cukup matang di usia dewasa, memahami akar masalah dan mengubah alam bawah sadar masih dapat dilakukan. Cara ini–tentu saja–akan penuh dengan tantangan karena memerlukan usaha yang konsisten.

Contoh dari pemahaman akan sumber kelekatan di masa lalu dan usaha untuk mengubahnya terjadi pada cerita lain yang sempat saya tulis di esai berjudul Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar.

Di cerita tersebut, terdapat tokoh bernama Mita yang memiliki masalah kelekatan dengan ayahnya. Di masa lalu, ayah Mita bersikap pasif dan berjarak dengan anak-anaknya. Komunikasi yang dilakukan ayah ke anak sangat kurang. Ayah juga tidak pernah mengungkapkan rasa sayang secara terang-terangan kepada anaknya. Komunikasi yang terjadi antara ayah dan keluarganya lebih sering terjadi hanya saat ada masalah. Kata-kata yang keluar saat komunikasi itu terjalin pun lebih didominasi kata-kata kasar dan menusuk. Dari sudut pandang Mita sebagai anak, ayah serasa ada dan tiada. Mungkin lebih baik tidak ada sama sekali.

Dengan figur ayah yang juga bermasalah, Mita menampilkan tipe kelekatan yang secara kasat mata sangat bertolak belakang dengan Ira. Kelekatan tersebut bertipe menghindar–insecure-avoidant attachment–yang dicirikan dengan perilaku yang relatif dingin dan minim emosi. Hal tersebut membuat Mita tampak menjalani hidup dengan sikap keras, sukar menyampaikan perasaan secara terbuka walaupun kepada orang terdekatnya, dan dapat berjalan di kaki sendiri tanpa perlu bantuan laki-laki.

Tujuan sebenarnya dari sikap tersebut bukanlah untuk “kejam” atau “tidak peduli”, tetapi untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional akibat penolakan. Penolakan yang dapat dikendalikan dengan terciptanya jarak aman agar potensi konflik menjadi minim. Dengan tujuan yang sama,  Mita bersikap dingin agar bisa menghindari rasa ketergantungan kepada orang lain. Karena ketergantungan dianggap berisiko membuat hati terluka. Semua dilakukan akibat kedekatan dirasa sangat mengancam.

Di usia dewasa, mirip seperti Ira, Mita mengalami masalah dalam hubungan berpasangan akibat kelekatan yang bermasalah. Setiap hubungan personal yang ia jalin dengan laki-laki selalu berantakan. Pola yang sama selalu terulang kembali walaupun Mita sudah mengantisipasi semua kemungkinan buruk dengan antisipasi logika yang matang. Pola tersebut baru mulai terkikis setelah Mita menelusur jauh ke dalam alam bawah sadar yang terbentuk di masa kecil dan pelan-pelan menyelesaikannya.

Dalam artikel Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar disebutkan bahwa Mita mengawali penyelesaian konflik masa kecil dengan melihat masalah dengan lebih luas. Ia mulai membayangkan kondisi yang terjadi pada tumbuh kembang ayahnya dari cerita-cerita yang didengar dari kerabatnya.

Pada perjalanannya Mita mengetahui bahwa kedua orang tua dari ayah sudah meninggal akibat tragedi PKI sejak ayah Mita berusia lima tahun. Hal tersebut membuat ayah tidak memiliki figur laki – laki yang dapat dijadikan panutan. Ayah lebih sering menghindari konflik karena trauma atas tragedi pembersihan PKI di saat kecil. Hal yang menyebabkan ayah Mita terbiasa memendam masalah dan menggunakan anak dan istrinya sebagai tempat sampah pelampiasan amarah saat memiliki masalah dengan orang lain.

Dengan membayangkan berada di posisi ayahnya, Mita menjadi paham bahwa semua orang yang berada di posisi ayah kemungkinan besar akan melakukan hal yang serupa. Bahkan, bisa lebih parah. Jika saat itu ayah Mita mendapat sedikit saja kemudahan, seperti situasi politik yang aman dan pengetahuan akan kesehatan mental yang cukup, ayah sangat mungkin akan menjadi pribadi yang lebih baik. Karena, siapa, sih, yang dengan sadar tega merusak mental keluarganya? Bahkan, jika posisinya dibalik, di mana Mita berada di posisi ayahnya saat itu, Mita sangat mungkin melakukan hal yang sama–atau bahkan lebih buruk.

Dengan melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas, sikap memaafkan kondisi yang sudah terjadi bisa saja akan tumbuh secara perlahan. Bisa jadi, Ira pun dapat menggunakan cara serupa sebagai solusi terhadap masalahnya. Dengan membayangkan bahwa ketiadaan ayah di masa kecil akan selalu memiliki alasan. Karena bisa saja, masih banyak hal baik yang tidak diketahui yang dapat dijadikan bahan untuk memaafkan masa lalu yang suram. Sikap memaafkan yang dulu tidak bisa dilakukan, saatnya dimulai. Dengan kebijaksanaan di usia saat ini yang jauh lebih berkembang dibandingkan saat kecil dulu. [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar
Dendam pada Musuh yang Imaginer
Psikoterapi dengan Kecerdasan Buatan: Sejauh Apa Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Manusia?
Pikiran Salah terhadap Depresi
Tags: cintakesehatan jiwakesehatan mentalPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencatat Festival Sebagai Ruang Belajar: Refleksi atas Pemutaran dan Diskusi Film Legiun Tulang Lunak – 20 Centimeters Per Year

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [3]–Nyeri Semakin Menjadi Menjelang Masuk Tanjakan Paiton

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [3]–Nyeri Semakin Menjadi Menjelang Masuk Tanjakan Paiton

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [3]--Nyeri Semakin Menjadi Menjelang Masuk Tanjakan Paiton

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co