12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar

Krisna Aji by Krisna Aji
February 1, 2025
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

  • Lanjutan esai Dendam pada Musuh Imaginer

Apa yang terjadi saat seseorang mengenakan kaca mata berlensa hitam? Semua yang terlihat akan relatif berwarna hitam walaupun objek yang diindera berwarna lain. Hal yang sama terjadi pada cara pandang seseorang terhadap dunia. Cara pandang tersebut sangat bergantung pada pengalaman tumbuh kembang yang akhirnya membentuk warna dari lensa kaca mata yang digunakan.

Cara pandang jelas memiliki konsekuensi, entah baik atau buruk. Seseorang bisa saja beranggapan bahwa mayoritas kejadian yang hadir di hidupnya bersifat positif dan menghasilkan situasi yang nyaman. Dengan realita yang sama, seseorang juga dapat berpikir bahwa mayoritas kejadian yang ditemui bersifat negatif dan membuat hidup berjalan kacau. Konsekuensi dari cara pandang ini pada akhirnya menjadi penyebab dari konsekuensi turunan lainnya yang terus berkelanjutan.

Untuk lebih jelas, mari kita bahas dengan menggunakan contoh cerita imajinasi yang terinspirasi dari banyak pasien yang saya temui. Berbagai pasien tersebut memiliki pola serupa walau datang dari latar belakang yang berbeda dan menghasilkan tokoh imajinasi yang bernama “Mita”. Perempuan berusia empat puluh tahunan yang memiliki masalah dalam relasi interpersonalnya.

Mita adalah seorang perempuan yang memiliki trauma terhadap peran ayah yang bermasalah. Di masa lalu, ayah bersifat pasif dan berjarak dengan anak-anaknya. Komunikasi di antara mereka sangatlah kurang. Tidak ada rasa sayang yang diungkapkan secara eksplisif dari ayah ke anak.

Mita merasa tidak memiliki ayah karena figur tersebut antara ada dan tiada. Terlepas dari hubungan ayah dan anak yang berjarak, komunikasi antara ayah dan ibu juga sangat buruk. Ayah hanya berkomunikasi dengan ibu saat ada masalah. Komunikasi itu pun lebih didominasi kata-kata kasar dan menusuk. Ayah juga tidak membela ibu saat ibu memiliki masalah dengan orang lain. Ibu tampak berdiri sendiri tanpa ada pegangan untuk bersandar.

Mita juga marah kepada ibu karena ibu tidak bisa membela diri dari tindakan negatif ayah. Seharusnya ibu bisa bertindak sehingga keselarasan bisa muncul. Walaupun kemarahan pada ibu cukup besar, kemarahan lebih besar tetap tertuju pada ayah sebagai sumber masalah utama.

Sikap orang tua mengubah cara pandang Mita dalam melihat dunia. Ia menjadi keras, dapat berdiri di kaki sendiri tanpa perlu bantuan laki-laki, dan sukar menyampaikan perasaannya secara terbuka walaupun terhadap orang terdekatnya. Tampaknya sifat yang terbentuk merupakan kebalikan dari ibu; Mita seolah ingin membuktikan bahwa dunia bisa berjalan dengan baik jika kesalahan-kesalahan orang tua tidak diulanginya.

Walaupun demikian, pola yang sama terulang. Mita menjadi persis seperti ibunya. Mita tetap memilih pasangan yang memiliki sifat buruk seperti ayahnya. Kesalahan tetap terjadi walaupun sejak awal memilih pasangan, Mita selalu menjauhi berbagai laki-laki yang mirip dengan ayah.

Munculnya sifat buruk pada pasangan yang mirip dengan keburukan ayah bukanlah tanpa sebab. Saat memilih pasangan, alam bawah sadar sudah mendeteksi dan memilih calon pasangan yang memiliki gestur tersembunyi yang serupa dengan figur ayah. Hal tersebut tetap terjadi walaupun secara kasat mata, calon pasangan tersebut menampilkan gelagat yang berkebalikan. Bahkan, saat pasangan yang dipilih benar-benar memiliki sifat yang berbeda dengan figur ayah, Mita akan tetap memancing agar pasangan tersebut mengeluarkan berbagai tindakan yang serupa dengan perilaku negatif ayah.

Setelah menikah, konflik semakin sering terjadi antara Mita dan suaminya. Setiap muncul konflik, yang paling sering terlintas di benak Mita adalah bayangan ayah yang sangat ia benci. Kebencian yang dipendam seperti mencari jalan untuk melampiaskan ledakan-ledakan melalui pasangan. Kebencian terselubung ini semakin disadari saat ayah Mita meninggal.

Berbagai pertanyaan mulai menghantui di masa berkabung. Bingung sekaligus kesal muncul bersamaan. Awalnya Mita merasa tidak akan ada yang hilang karena sejak kecil ia sudah mandiri tanpa figur ayah. Tetapi kondisi yang terjadi malah berkebalikan: ia merasa sangat marah sekaligus menyesal akibat tidak sempat berdamai dengan dendam saat ayah masih hidup. Kehilangan tersebut membuat trauma semakin kuat tertancap dalam sanubari.

Kehilangan dan trauma yang bercampur menjadi satu membuat konflik antara Mita dan suami semakin sering terjadi. Kesalahan remeh yang dilakukan oleh suami dapat membuat barang – barang di rumah terlempar tak beraturan. Mita selalu menuduh suaminya tidak paham akan apa yang dirasakan Mita saat suami tersebut salah berbicara. Hal tersebut membuat suami Mita lebih banyak diam.

Saat suami lebih sering diam, kemarahan Mita semakin memiliki alasan: pasangan akhirnya memperlihatkan gelagat yang sama persis dengan ayah yang selalu menghindari konflik. Mita semakin marah dan berkata bahwa semua laki-laki sama saja. Sama seperti ayahnya yang tidak bisa memahami perasaan, lebih banyak diam, dan menyelamatkan diri sendiri saat masalah datang.

Apakah yang sebenarnya terjadi pada Mita? Akar masalah sepertinya ada di ayah Mita. Tetapi, jika dianalisis lebih jauh, yang terjadi sebenarnya bukan konflik antar dua individu. Bukan antara Mita dengan ayahnya. Apa lagi antara Mita dengan pasangannya.

Seperti yang pernah saya tulis dalam esai yang berjudul Dendam Pada Musuh Imaginer di tatkala.co, konflik sejatinya hanya terjadi pada diri sendiri. Diri membentuk musuh imaginer yang akan tetap ada terlepas dari apapun yang terjadi pada realita sebenarnya. Bahkan, seandainya ayah yang pernah berlaku buruk pada akhirnya meminta maaf, dendam di dalam diri akan tetap menyala selama musuh imaginer tersebut masih terpelihara.

Ada banyak cara yang pernah dilakukan oleh berbagai pasien untuk menyelesaikan kasus seperti ini. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menempatkan diri di posisi lawan dan membayangkan fenomena yang mungkin terjadi pada posisi tersebut. Cara yang juga sering dipakai pada psikoterapi gestalt.

Dengan menggunakan cerita yang sama, Mita bisa membayangkan kondisi yang terjadi pada tumbuh kembang ayah. Hanya sebatas membayangkan karena Mita tidak mungkin bisa sepenuhnya menjadi ayah yang mengalami sendiri fenomenanya. Bahan-bahan yang digunakan untuk membayangkan cukup didapat dari apa yang diketahui Mita, baik dari cerita kakek-nenek, ibu, keluarga besar, dan semua orang yang mengenal ayah.

Misalkan saja, Mita mengetahui bahwa kedua orang tua dari ayah sudah meninggal akibat tragedi PKI sejak ayah Mita berusia lima tahun. Hal tersebut membuat ayah tidak memiliki figur laki-laki yang dapat dijadikan panutan. Ayah lebih sering menghindari konflik karena trauma atas tragedi pembersihan PKI di saat ia kecil.

Hal itu menyebabkan ayah terbiasa memendam masalah dan menggunakan istrinya sebagai tempat sampah pelampiasan amarah saat ia memiliki masalah dengan orang lain. Ketakutan terhadap konflik juga terjadi sehingga ia lebih sering bersembunyi saat ada masalah menimpa anggota keluarganya. Singkatnya, ayah Mita menjadi tidak memiliki figur kepala keluarga yang dapat diandalkan.

Dengan mengetahui alasan tersebut, semua orang yang berada di posisi ayah kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama. Bahkan, bisa lebih buruk. Jika ayah memiliki sedikit saja kemudahan, seperti situasi politik yang aman dan informasi mengenai kesehatan mental yang mudah didapat seperti di masa sekarang, mungkin saja ayah bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Tetapi, kejadian itu terjadi di masa lalu dengan segala keterbatasannya. Kembali lagi, bahkan jika seandainya Mita yang berada di posisi ayah di masa itu, hal yang sama—atau bahkan lebih buruk—kemungkinan besar bisa terjadi.

Melihat dari sisi yang lebih luas dapat memperbaiki situasi. Ayah kemungkinan besar juga merasa sangat tersiksa akibat perbuatan di masa lalu. Bahkan, ayah bisa saja lebih sukar memaafkan dirinya sendiri dari pada orang lain. Apa lagi sampai tidak sempat meminta maaf pada keluarga yang pernah disakiti. Dengan pemahaman ini, bukankah akan muncul rasa kasih yang lebih besar dari pada dendam itu sendiri?

Kasih yang besar dapat mengobati luka. Walaupun demikian, pandangan keliru terhadap kasih kadang berujung pada tindakan menyalahkan diri sendiri. Hal itu terjadi karena adanya pandangan hitam-putih yang berujung pada keyakinan bahwa harus ada yang salah saat terjadi konflik: jika dia tidak salah akibat ketiadaan pilihan, artinya aku yang salah karena tidak bisa memaafkan orang yang seharusnya dikasihani. Konflik batin belum mencapai titik akhir.

Konflik terjadi karena pandangan hitam-putih yang tidak mempersilahkan rentang warna di antaranya. Padahal ada spektrum warna tak terbatas di antara dua warna hitam-putih. Dalam konteks siapa yang salah, ada kemungkinan di mana semuanya sama-sama salah jika dipandang dari sudut masing – masing. Kedua belah pihak juga sama-sama benar karena ketiadaan pilihan. Dengan kemungkinan tersebut, bagaimana jika mengambil kesimpulan bahwa tidak ada yang salah? Lebih tepatnya, tidak ada yang perlu disalahkan. Bukankah itu lebih melegakan?

Lagi pula, konflik tetap berada di masa lalu. Terlalu fokus memandang masa lalu akan menghabiskan energi dan membahayakan. Seperti terlalu fokus melihat kaca spion saat berkendara: kecelakaan sangat mungkin terjadi karena kewaspadaan akan posisi saat ini dan pandangan ke depan menjadi berantakan. Fungsi utama dari kaca spion hanyalah sebagai pengingat bahwa ada sesuatu yang sudah terlewati dan bisa dijadikan bahan belajar, bukan untuk hidup di masa lalu yang semu. [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Dendam pada Musuh yang Imaginer
Psikoterapi dengan Kecerdasan Buatan: Sejauh Apa Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Manusia?
Pikiran Salah terhadap Depresi
Tags: kesehatankesehatan mentalPsikologiPsikoterapi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sabtu, 1 Februari, Bulan Bahasa Bali VII Dibuka dengan Fragmentari “Sewaka Kurma Raja”

Next Post

I Nyoman Bangun Mahatma, Siswa SMKN 3 Singaraja, Juara I Lomba Lagas Jaya Menggambar Denah, Tampak dan Potongan III

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
I Nyoman Bangun Mahatma, Siswa SMKN 3 Singaraja, Juara I Lomba Lagas Jaya Menggambar Denah, Tampak dan Potongan III

I Nyoman Bangun Mahatma, Siswa SMKN 3 Singaraja, Juara I Lomba Lagas Jaya Menggambar Denah, Tampak dan Potongan III

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co