3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berdamai dengan Dendam Bawah Sadar

Krisna Aji by Krisna Aji
February 1, 2025
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

  • Lanjutan esai Dendam pada Musuh Imaginer

Apa yang terjadi saat seseorang mengenakan kaca mata berlensa hitam? Semua yang terlihat akan relatif berwarna hitam walaupun objek yang diindera berwarna lain. Hal yang sama terjadi pada cara pandang seseorang terhadap dunia. Cara pandang tersebut sangat bergantung pada pengalaman tumbuh kembang yang akhirnya membentuk warna dari lensa kaca mata yang digunakan.

Cara pandang jelas memiliki konsekuensi, entah baik atau buruk. Seseorang bisa saja beranggapan bahwa mayoritas kejadian yang hadir di hidupnya bersifat positif dan menghasilkan situasi yang nyaman. Dengan realita yang sama, seseorang juga dapat berpikir bahwa mayoritas kejadian yang ditemui bersifat negatif dan membuat hidup berjalan kacau. Konsekuensi dari cara pandang ini pada akhirnya menjadi penyebab dari konsekuensi turunan lainnya yang terus berkelanjutan.

Untuk lebih jelas, mari kita bahas dengan menggunakan contoh cerita imajinasi yang terinspirasi dari banyak pasien yang saya temui. Berbagai pasien tersebut memiliki pola serupa walau datang dari latar belakang yang berbeda dan menghasilkan tokoh imajinasi yang bernama “Mita”. Perempuan berusia empat puluh tahunan yang memiliki masalah dalam relasi interpersonalnya.

Mita adalah seorang perempuan yang memiliki trauma terhadap peran ayah yang bermasalah. Di masa lalu, ayah bersifat pasif dan berjarak dengan anak-anaknya. Komunikasi di antara mereka sangatlah kurang. Tidak ada rasa sayang yang diungkapkan secara eksplisif dari ayah ke anak.

Mita merasa tidak memiliki ayah karena figur tersebut antara ada dan tiada. Terlepas dari hubungan ayah dan anak yang berjarak, komunikasi antara ayah dan ibu juga sangat buruk. Ayah hanya berkomunikasi dengan ibu saat ada masalah. Komunikasi itu pun lebih didominasi kata-kata kasar dan menusuk. Ayah juga tidak membela ibu saat ibu memiliki masalah dengan orang lain. Ibu tampak berdiri sendiri tanpa ada pegangan untuk bersandar.

Mita juga marah kepada ibu karena ibu tidak bisa membela diri dari tindakan negatif ayah. Seharusnya ibu bisa bertindak sehingga keselarasan bisa muncul. Walaupun kemarahan pada ibu cukup besar, kemarahan lebih besar tetap tertuju pada ayah sebagai sumber masalah utama.

Sikap orang tua mengubah cara pandang Mita dalam melihat dunia. Ia menjadi keras, dapat berdiri di kaki sendiri tanpa perlu bantuan laki-laki, dan sukar menyampaikan perasaannya secara terbuka walaupun terhadap orang terdekatnya. Tampaknya sifat yang terbentuk merupakan kebalikan dari ibu; Mita seolah ingin membuktikan bahwa dunia bisa berjalan dengan baik jika kesalahan-kesalahan orang tua tidak diulanginya.

Walaupun demikian, pola yang sama terulang. Mita menjadi persis seperti ibunya. Mita tetap memilih pasangan yang memiliki sifat buruk seperti ayahnya. Kesalahan tetap terjadi walaupun sejak awal memilih pasangan, Mita selalu menjauhi berbagai laki-laki yang mirip dengan ayah.

Munculnya sifat buruk pada pasangan yang mirip dengan keburukan ayah bukanlah tanpa sebab. Saat memilih pasangan, alam bawah sadar sudah mendeteksi dan memilih calon pasangan yang memiliki gestur tersembunyi yang serupa dengan figur ayah. Hal tersebut tetap terjadi walaupun secara kasat mata, calon pasangan tersebut menampilkan gelagat yang berkebalikan. Bahkan, saat pasangan yang dipilih benar-benar memiliki sifat yang berbeda dengan figur ayah, Mita akan tetap memancing agar pasangan tersebut mengeluarkan berbagai tindakan yang serupa dengan perilaku negatif ayah.

Setelah menikah, konflik semakin sering terjadi antara Mita dan suaminya. Setiap muncul konflik, yang paling sering terlintas di benak Mita adalah bayangan ayah yang sangat ia benci. Kebencian yang dipendam seperti mencari jalan untuk melampiaskan ledakan-ledakan melalui pasangan. Kebencian terselubung ini semakin disadari saat ayah Mita meninggal.

Berbagai pertanyaan mulai menghantui di masa berkabung. Bingung sekaligus kesal muncul bersamaan. Awalnya Mita merasa tidak akan ada yang hilang karena sejak kecil ia sudah mandiri tanpa figur ayah. Tetapi kondisi yang terjadi malah berkebalikan: ia merasa sangat marah sekaligus menyesal akibat tidak sempat berdamai dengan dendam saat ayah masih hidup. Kehilangan tersebut membuat trauma semakin kuat tertancap dalam sanubari.

Kehilangan dan trauma yang bercampur menjadi satu membuat konflik antara Mita dan suami semakin sering terjadi. Kesalahan remeh yang dilakukan oleh suami dapat membuat barang – barang di rumah terlempar tak beraturan. Mita selalu menuduh suaminya tidak paham akan apa yang dirasakan Mita saat suami tersebut salah berbicara. Hal tersebut membuat suami Mita lebih banyak diam.

Saat suami lebih sering diam, kemarahan Mita semakin memiliki alasan: pasangan akhirnya memperlihatkan gelagat yang sama persis dengan ayah yang selalu menghindari konflik. Mita semakin marah dan berkata bahwa semua laki-laki sama saja. Sama seperti ayahnya yang tidak bisa memahami perasaan, lebih banyak diam, dan menyelamatkan diri sendiri saat masalah datang.

Apakah yang sebenarnya terjadi pada Mita? Akar masalah sepertinya ada di ayah Mita. Tetapi, jika dianalisis lebih jauh, yang terjadi sebenarnya bukan konflik antar dua individu. Bukan antara Mita dengan ayahnya. Apa lagi antara Mita dengan pasangannya.

Seperti yang pernah saya tulis dalam esai yang berjudul Dendam Pada Musuh Imaginer di tatkala.co, konflik sejatinya hanya terjadi pada diri sendiri. Diri membentuk musuh imaginer yang akan tetap ada terlepas dari apapun yang terjadi pada realita sebenarnya. Bahkan, seandainya ayah yang pernah berlaku buruk pada akhirnya meminta maaf, dendam di dalam diri akan tetap menyala selama musuh imaginer tersebut masih terpelihara.

Ada banyak cara yang pernah dilakukan oleh berbagai pasien untuk menyelesaikan kasus seperti ini. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menempatkan diri di posisi lawan dan membayangkan fenomena yang mungkin terjadi pada posisi tersebut. Cara yang juga sering dipakai pada psikoterapi gestalt.

Dengan menggunakan cerita yang sama, Mita bisa membayangkan kondisi yang terjadi pada tumbuh kembang ayah. Hanya sebatas membayangkan karena Mita tidak mungkin bisa sepenuhnya menjadi ayah yang mengalami sendiri fenomenanya. Bahan-bahan yang digunakan untuk membayangkan cukup didapat dari apa yang diketahui Mita, baik dari cerita kakek-nenek, ibu, keluarga besar, dan semua orang yang mengenal ayah.

Misalkan saja, Mita mengetahui bahwa kedua orang tua dari ayah sudah meninggal akibat tragedi PKI sejak ayah Mita berusia lima tahun. Hal tersebut membuat ayah tidak memiliki figur laki-laki yang dapat dijadikan panutan. Ayah lebih sering menghindari konflik karena trauma atas tragedi pembersihan PKI di saat ia kecil.

Hal itu menyebabkan ayah terbiasa memendam masalah dan menggunakan istrinya sebagai tempat sampah pelampiasan amarah saat ia memiliki masalah dengan orang lain. Ketakutan terhadap konflik juga terjadi sehingga ia lebih sering bersembunyi saat ada masalah menimpa anggota keluarganya. Singkatnya, ayah Mita menjadi tidak memiliki figur kepala keluarga yang dapat diandalkan.

Dengan mengetahui alasan tersebut, semua orang yang berada di posisi ayah kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama. Bahkan, bisa lebih buruk. Jika ayah memiliki sedikit saja kemudahan, seperti situasi politik yang aman dan informasi mengenai kesehatan mental yang mudah didapat seperti di masa sekarang, mungkin saja ayah bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Tetapi, kejadian itu terjadi di masa lalu dengan segala keterbatasannya. Kembali lagi, bahkan jika seandainya Mita yang berada di posisi ayah di masa itu, hal yang sama—atau bahkan lebih buruk—kemungkinan besar bisa terjadi.

Melihat dari sisi yang lebih luas dapat memperbaiki situasi. Ayah kemungkinan besar juga merasa sangat tersiksa akibat perbuatan di masa lalu. Bahkan, ayah bisa saja lebih sukar memaafkan dirinya sendiri dari pada orang lain. Apa lagi sampai tidak sempat meminta maaf pada keluarga yang pernah disakiti. Dengan pemahaman ini, bukankah akan muncul rasa kasih yang lebih besar dari pada dendam itu sendiri?

Kasih yang besar dapat mengobati luka. Walaupun demikian, pandangan keliru terhadap kasih kadang berujung pada tindakan menyalahkan diri sendiri. Hal itu terjadi karena adanya pandangan hitam-putih yang berujung pada keyakinan bahwa harus ada yang salah saat terjadi konflik: jika dia tidak salah akibat ketiadaan pilihan, artinya aku yang salah karena tidak bisa memaafkan orang yang seharusnya dikasihani. Konflik batin belum mencapai titik akhir.

Konflik terjadi karena pandangan hitam-putih yang tidak mempersilahkan rentang warna di antaranya. Padahal ada spektrum warna tak terbatas di antara dua warna hitam-putih. Dalam konteks siapa yang salah, ada kemungkinan di mana semuanya sama-sama salah jika dipandang dari sudut masing – masing. Kedua belah pihak juga sama-sama benar karena ketiadaan pilihan. Dengan kemungkinan tersebut, bagaimana jika mengambil kesimpulan bahwa tidak ada yang salah? Lebih tepatnya, tidak ada yang perlu disalahkan. Bukankah itu lebih melegakan?

Lagi pula, konflik tetap berada di masa lalu. Terlalu fokus memandang masa lalu akan menghabiskan energi dan membahayakan. Seperti terlalu fokus melihat kaca spion saat berkendara: kecelakaan sangat mungkin terjadi karena kewaspadaan akan posisi saat ini dan pandangan ke depan menjadi berantakan. Fungsi utama dari kaca spion hanyalah sebagai pengingat bahwa ada sesuatu yang sudah terlewati dan bisa dijadikan bahan belajar, bukan untuk hidup di masa lalu yang semu. [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Dendam pada Musuh yang Imaginer
Psikoterapi dengan Kecerdasan Buatan: Sejauh Apa Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Manusia?
Pikiran Salah terhadap Depresi
Tags: kesehatankesehatan mentalPsikologiPsikoterapi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sabtu, 1 Februari, Bulan Bahasa Bali VII Dibuka dengan Fragmentari “Sewaka Kurma Raja”

Next Post

I Nyoman Bangun Mahatma, Siswa SMKN 3 Singaraja, Juara I Lomba Lagas Jaya Menggambar Denah, Tampak dan Potongan III

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
I Nyoman Bangun Mahatma, Siswa SMKN 3 Singaraja, Juara I Lomba Lagas Jaya Menggambar Denah, Tampak dan Potongan III

I Nyoman Bangun Mahatma, Siswa SMKN 3 Singaraja, Juara I Lomba Lagas Jaya Menggambar Denah, Tampak dan Potongan III

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co