25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 11, 2025
in Esai
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SELAMA bertahun-tahun, anak muda Bali sering mendapat cap apatis. Sebuah label yang seolah melekat tanpa ampun, diwariskan dari generasi ke generasi oleh cara pandang lama. Kata “apatis” di sini bukan hanya berarti diam, tetapi dianggap tidak peduli, tak terlibat, atau malas berurusan dengan urusan sosial-politik.

Sumber stigma ini jelas, ukuran yang dipakai adalah ukuran lama; seperti apakah mereka hadir di forum formal, menulis artikel opini di media massa, atau ikut serta dalam diskusi-diskusi akademik.

Namun, pandangan ini tak lagi cocok membaca generasi hari ini. Mereka tidak hilang dari medan sosial, mereka hanya berpindah gelanggang. Dunia mereka kini berada di layar ponsel, di kolom komentar, di video satu menit yang bisa menembus ribuan mata dalam hitungan jam.

Perjuangan mereka tidak selalu berbentuk demonstrasi fisik atau tulisan panjang yang terbit di surat kabar, tetapi bisa berupa sindiran tajam yang viral, dan justru menjangkau audiens lebih luas dibandingkan media konvensional.

Kritik dari Layar Ponsel

Salah satu bukti paling segar datang dari akun Instagram @balinggih. Dalam sebuah video yang mencuri perhatian publik, Balinggih mengangkat fenomena yang mereka sebut sebagai “pejabat-influencer” di Bali. Sindirannya jelas, banyak pejabat yang lebih sibuk berbicara di media sosial ketimbang turun langsung membantu masyarakat.

Mereka menyebutkan bahwa dari DPD hingga DPRD, dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, selalu saja ada pejabat yang kerjanya lebih mirip pembuat konten ketimbang pelayan publik.

“Lima tahun sekali baru turun ke masyarakat, pas mau pemilu. Sisanya? Foto, video, pencitraan. Kan lucu ya,” begitu kira-kira intinya.

Balinggih tidak sekadar menertawakan, mereka memberikan peringatan serius, bahwa jika pola ini berlanjut, generasi muda Bali akan kehilangan minat untuk masuk ke ranah politik. Dan ketika tidak ada anak muda yang mau memimpin, siapa yang akan memimpin Bali? Masa orang luar?

Kritik ini diakhiri dengan saran konkret yakni pejabat harus memperbaiki gaya komunikasi publiknya, bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi, serta menampilkan kinerja nyata—bukan sekadar citra.

Generasi intelektual Bali pada masa lalu cenderung memilih medium yang “berwibawa” di mata publik kala itu, yakni, tulisan panjang di media massa, forum diskusi formal, atau seminar akademik. Pendekatan ini lahir dari zaman di mana akses publik terbatas, dan kredibilitas diukur dari panjangnya argumentasi tertulis.

Namun, generasi sekarang tumbuh di tengah banjir informasi. Mereka paham bahwa perhatian publik adalah sumber daya langka. Maka, mereka memilih menyampaikan pesan dengan cara yang cepat, ringkas, dan mudah diakses. Video singkat, meme, infografis, atau podcast santai menjadi senjata utama.

Pergeseran medium ini sering disalahartikan sebagai penurunan kualitas kritik. Padahal, jika diukur dari ketajaman isi, kritik dalam video Balinggih sama saja bobotnya dengan sebuah esai atau opini di media nasional, bedanya hanya pada format dan kanal distribusi. Kritik mereka tidak menunggu pembaca koran di pagi hari, melainkan tiba di ponsel para pejabat pada detik yang sama ketika video itu diunggah.

Mereka Bukan Satu-Satunya

Di Bali, suara perubahan tidak selalu datang dari ruang rapat resmi atau podium pemerintahan. Kadang, ia lahir dari unggahan di media sosial, dari musik yang lantang, atau dari aksi yang sederhana namun berani. JRX—nama yang selalu memancing pro-kontra—tetap setia memanfaatkan platformnya untuk menyuarakan isu-isu sosial dan politik.

Di sudut lain dunia maya, BaleBengong menjadi tempat berkumpulnya jurnalis warga. Di sini, orang Bali, termasuk generasi muda, bebas bercerita dan mengkritisi. Isu pariwisata, lingkungan, hingga kebijakan publik dibicarakan tanpa takut dibungkam.

Ada pula ForBali, gerakan yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka berjuang dengan cara yang kreatif yaitu menggabungkan visual memikat, musik yang menghentak, dan aksi langsung di lapangan.

BEM Universitas Udayana pun tak tinggal diam. Kritik mereka begitu nyaring di media sosial, sampai-sampai akun resminya pernah diretas, tanda bahwa suara mereka benar-benar mengusik pihak tertentu.

Sementara itu, Carma Citrawati memilih jalur budaya. Ia menghidupkan kembali lontar melalui digitalisasi, membuat warisan leluhur bisa diakses siapa saja, bahkan dari layar ponsel.

Dari isu lingkungan, Melati dan Isabel Wijsen mengangkat Bali ke panggung dunia. Dua bersaudara ini mengajak semua orang mengucapkan “Bye Bye” pada plastik sekali pakai, pesan sederhana yang menggema hingga ke banyak negara.

Semua ini adalah potret anak muda Bali yang tidak sekadar menonton perubahan, tetapi menciptakannya. Mereka bergerak di jalur yang mereka kuasai, dengan suara yang tak bisa diabaikan.

Tantangan bagi Pejabat

Kritik yang dilontarkan anak muda ini seharusnya menjadi alarm bagi para pejabat. DPD dituntut menyuarakan kepentingan Bali di pusat, bukan sekadar mengumbar foto kegiatan. DPRD diharapkan fokus membahas kebijakan dan peraturan, bukan mengatur sudut kamera. Para kepala daerah diingatkan untuk hadir di lapangan, bukan hanya di layar.

Jika anak muda bisa beradaptasi dengan cara baru menyampaikan kritik, pejabat pun harus beradaptasi dengan cara baru menunjukkan kerja. Mengabaikan suara-suara ini berarti mengabaikan denyut nadi publik yang hidup di ruang digital.

Menghapus stigma apatis berarti mengakui bahwa perjuangan kini punya wajah baru. Generasi terdahulu memegang pena, generasi kini memegang ponsel. Keduanya punya tujuan yang sama yakni menjaga agar politik tidak kehilangan arah, memastikan pemimpin tetap bekerja untuk rakyat.

Maka, daripada terus meremehkan anak muda yang beraksi di Instagram, TikTok, atau YouTube, lebih bijak jika kita melihat isi pesannya. Apakah kritik mereka valid? Apakah ide mereka bermanfaat? Kalau iya, maka itulah bentuk kepedulian yang sesungguhnya. Anak muda Bali tidak apatis. Mereka adaptif. Mereka paham medan yang mereka hadapi, dan tahu betul bahwa kecepatan informasi adalah kunci. Medium boleh berganti, tetapi semangatnya tetap, Bali harus dijaga oleh orang-orang yang mau bekerja, bukan hanya bergaya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
I Wayan Suardika dan Sastra: Rumah yang Menghidupi, Bukan Sekadar Puisi
Niti Sastra untuk Giri Prasta
Tags: anak mudabaligenerasi muda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kemerdekaan yang Mendidik: Menyongsong Indonesia Emas dengan Jiwa Taman Siswa

Next Post

Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails
Next Post
Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co