25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 11, 2025
in Esai
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SELAMA bertahun-tahun, anak muda Bali sering mendapat cap apatis. Sebuah label yang seolah melekat tanpa ampun, diwariskan dari generasi ke generasi oleh cara pandang lama. Kata “apatis” di sini bukan hanya berarti diam, tetapi dianggap tidak peduli, tak terlibat, atau malas berurusan dengan urusan sosial-politik.

Sumber stigma ini jelas, ukuran yang dipakai adalah ukuran lama; seperti apakah mereka hadir di forum formal, menulis artikel opini di media massa, atau ikut serta dalam diskusi-diskusi akademik.

Namun, pandangan ini tak lagi cocok membaca generasi hari ini. Mereka tidak hilang dari medan sosial, mereka hanya berpindah gelanggang. Dunia mereka kini berada di layar ponsel, di kolom komentar, di video satu menit yang bisa menembus ribuan mata dalam hitungan jam.

Perjuangan mereka tidak selalu berbentuk demonstrasi fisik atau tulisan panjang yang terbit di surat kabar, tetapi bisa berupa sindiran tajam yang viral, dan justru menjangkau audiens lebih luas dibandingkan media konvensional.

Kritik dari Layar Ponsel

Salah satu bukti paling segar datang dari akun Instagram @balinggih. Dalam sebuah video yang mencuri perhatian publik, Balinggih mengangkat fenomena yang mereka sebut sebagai “pejabat-influencer” di Bali. Sindirannya jelas, banyak pejabat yang lebih sibuk berbicara di media sosial ketimbang turun langsung membantu masyarakat.

Mereka menyebutkan bahwa dari DPD hingga DPRD, dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, selalu saja ada pejabat yang kerjanya lebih mirip pembuat konten ketimbang pelayan publik.

“Lima tahun sekali baru turun ke masyarakat, pas mau pemilu. Sisanya? Foto, video, pencitraan. Kan lucu ya,” begitu kira-kira intinya.

Balinggih tidak sekadar menertawakan, mereka memberikan peringatan serius, bahwa jika pola ini berlanjut, generasi muda Bali akan kehilangan minat untuk masuk ke ranah politik. Dan ketika tidak ada anak muda yang mau memimpin, siapa yang akan memimpin Bali? Masa orang luar?

Kritik ini diakhiri dengan saran konkret yakni pejabat harus memperbaiki gaya komunikasi publiknya, bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi, serta menampilkan kinerja nyata—bukan sekadar citra.

Generasi intelektual Bali pada masa lalu cenderung memilih medium yang “berwibawa” di mata publik kala itu, yakni, tulisan panjang di media massa, forum diskusi formal, atau seminar akademik. Pendekatan ini lahir dari zaman di mana akses publik terbatas, dan kredibilitas diukur dari panjangnya argumentasi tertulis.

Namun, generasi sekarang tumbuh di tengah banjir informasi. Mereka paham bahwa perhatian publik adalah sumber daya langka. Maka, mereka memilih menyampaikan pesan dengan cara yang cepat, ringkas, dan mudah diakses. Video singkat, meme, infografis, atau podcast santai menjadi senjata utama.

Pergeseran medium ini sering disalahartikan sebagai penurunan kualitas kritik. Padahal, jika diukur dari ketajaman isi, kritik dalam video Balinggih sama saja bobotnya dengan sebuah esai atau opini di media nasional, bedanya hanya pada format dan kanal distribusi. Kritik mereka tidak menunggu pembaca koran di pagi hari, melainkan tiba di ponsel para pejabat pada detik yang sama ketika video itu diunggah.

Mereka Bukan Satu-Satunya

Di Bali, suara perubahan tidak selalu datang dari ruang rapat resmi atau podium pemerintahan. Kadang, ia lahir dari unggahan di media sosial, dari musik yang lantang, atau dari aksi yang sederhana namun berani. JRX—nama yang selalu memancing pro-kontra—tetap setia memanfaatkan platformnya untuk menyuarakan isu-isu sosial dan politik.

Di sudut lain dunia maya, BaleBengong menjadi tempat berkumpulnya jurnalis warga. Di sini, orang Bali, termasuk generasi muda, bebas bercerita dan mengkritisi. Isu pariwisata, lingkungan, hingga kebijakan publik dibicarakan tanpa takut dibungkam.

Ada pula ForBali, gerakan yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka berjuang dengan cara yang kreatif yaitu menggabungkan visual memikat, musik yang menghentak, dan aksi langsung di lapangan.

BEM Universitas Udayana pun tak tinggal diam. Kritik mereka begitu nyaring di media sosial, sampai-sampai akun resminya pernah diretas, tanda bahwa suara mereka benar-benar mengusik pihak tertentu.

Sementara itu, Carma Citrawati memilih jalur budaya. Ia menghidupkan kembali lontar melalui digitalisasi, membuat warisan leluhur bisa diakses siapa saja, bahkan dari layar ponsel.

Dari isu lingkungan, Melati dan Isabel Wijsen mengangkat Bali ke panggung dunia. Dua bersaudara ini mengajak semua orang mengucapkan “Bye Bye” pada plastik sekali pakai, pesan sederhana yang menggema hingga ke banyak negara.

Semua ini adalah potret anak muda Bali yang tidak sekadar menonton perubahan, tetapi menciptakannya. Mereka bergerak di jalur yang mereka kuasai, dengan suara yang tak bisa diabaikan.

Tantangan bagi Pejabat

Kritik yang dilontarkan anak muda ini seharusnya menjadi alarm bagi para pejabat. DPD dituntut menyuarakan kepentingan Bali di pusat, bukan sekadar mengumbar foto kegiatan. DPRD diharapkan fokus membahas kebijakan dan peraturan, bukan mengatur sudut kamera. Para kepala daerah diingatkan untuk hadir di lapangan, bukan hanya di layar.

Jika anak muda bisa beradaptasi dengan cara baru menyampaikan kritik, pejabat pun harus beradaptasi dengan cara baru menunjukkan kerja. Mengabaikan suara-suara ini berarti mengabaikan denyut nadi publik yang hidup di ruang digital.

Menghapus stigma apatis berarti mengakui bahwa perjuangan kini punya wajah baru. Generasi terdahulu memegang pena, generasi kini memegang ponsel. Keduanya punya tujuan yang sama yakni menjaga agar politik tidak kehilangan arah, memastikan pemimpin tetap bekerja untuk rakyat.

Maka, daripada terus meremehkan anak muda yang beraksi di Instagram, TikTok, atau YouTube, lebih bijak jika kita melihat isi pesannya. Apakah kritik mereka valid? Apakah ide mereka bermanfaat? Kalau iya, maka itulah bentuk kepedulian yang sesungguhnya. Anak muda Bali tidak apatis. Mereka adaptif. Mereka paham medan yang mereka hadapi, dan tahu betul bahwa kecepatan informasi adalah kunci. Medium boleh berganti, tetapi semangatnya tetap, Bali harus dijaga oleh orang-orang yang mau bekerja, bukan hanya bergaya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
I Wayan Suardika dan Sastra: Rumah yang Menghidupi, Bukan Sekadar Puisi
Niti Sastra untuk Giri Prasta
Tags: anak mudabaligenerasi muda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kemerdekaan yang Mendidik: Menyongsong Indonesia Emas dengan Jiwa Taman Siswa

Next Post

Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co