BARANGKALI, selama dua hari perhelatan Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2025, inilah pertunjukan paling ramai dan semarak. Bukan karena bintang jazz luar negeri yang tampil, tetapi karena hadirnya seorang musisi Bali yang telah melanglang buana di panggung internasional. Ia adalah I Wayan Balawan, musisi jazz asal Batuan, Sukawati, Gianyar, yang dikenal piawai memadukan jazz dengan gamelan Bali—jazz fusion.
Kala itu, Sabtu, 2 Agustus 2025, saat waktu menunjukkan pukul 18.30 Wita, para penonton sudah ramai memadati Subak Stage, sebagian dari mereka menanti pertunjukan yang sejak awal sudah mereka tandai dalam agenda UVJF 2025, yaitu penampilan dari Balawan.
Balawan lahir pada 9 September 1973 di tengah keluarga seniman tradisional Bali. Dari kecil, gamelan sudah menjadi bagian hidupnya. Namun pada usia delapan tahun, arah hidupnya mulai bergeser ketika belajar gitar. Ketertarikan pada musik modern, terutama rock, membawanya membentuk band bernama Maxel saat berusia 12 tahun. Di era 1980-an, Maxel cukup dikenal di Bali dan tampil sejajar dengan band-band rock besar kala itu, seperti Harley Angels—pemenang Festival Rock Indonesia I yang diselenggarakan oleh Log Zhelebour pada tahun 1984 di Surabaya.

Balawan di Sthala Ubud Village Jazz Festival│Foto: tatkala.co/Dede
Singkat cerita, setelah lulus dari SMAN 1 Denpasar, Balawan melanjutkan pendidikannya di Australian Institute of Music pada 1993 lewat program beasiswa. Di sana ia mendalami musik jazz dan berbagai teknik permainan gitar, termasuk teknik tapping—cara bermain gitar menggunakan kedua tangan di atas fretboard layaknya bermain piano.
Ia kemudian mengembangkan teknik ini menjadi eight-finger tapping, memungkinkan dirinya memainkan melodi dan harmoni secara bersamaan dengan delapan jari, bahkan di atas gitar double-neck. Karena itu pula, ia menjadi gitaris Asia pertama yang mampu memainkan tapping delapan jari pada gitar jenis double-neck secara bersamaan.
Sekembalinya ke Bali, Balawan membentuk Batuan Ethnic Fusion, proyek yang menggabungkan gitar, bass, piano, drum dengan gamelan Bali. Tentu saja, menggabungkan jazz dengan gamelan Bali bukan perkara mudah.
Jazz umumnya berbasis diatonik dan bisa dimainkan dalam berbagai tempo, sedangkan gamelan Bali berbasis pentatonik dan cenderung cepat. Tantangan terbesar adalah menyamakan tempo dan menyatukan sistem tangga nada yang berbeda. Namun, Balawan berhasil menemukan jalan tengah, yaitu dengan memasukkan unsur jazz ke dalam gamelan, dan sebaliknya, tanpa kehilangan karakter keduanya.

Balawan memainkan harmonika di hadapan penonton│Foto: tatkala.co/Dede
Kembali lagi ke UVJF 2025, penampilan Balawan malam itu membuktikan semuanya. Kecepatan jari-jari, ketepatan nada, dan keharmonisan dengan gamelan membuat penonton terkesima.
Tak heran jika penampilan Balawan menjadi yang paling padat penonton di Subak Stage sepanjang dua hari perhelatan festival. Sorak sorai dan standing applause mengiringi tiap akhir lagu, menandakan apa yang mereka saksikan bukan sekadar konser, melainkan pengalaman musikal yang langka.
“Balawan, it’s a great performance, I like your show,” ujar seorang penonton asing sambil menyalami sang gitaris selepas tampil.
Seperti aliran Sungai Wos yang mengalir tanpa sekat di bawah Subak Stage, begitu pula permainan Balawan malam itu—mengalir, luwes, dan hidup. Nada-nada gitar selaras menyatu dengan gending gamelan, menciptakan dialog musik yang tak banyak bisa ditiru oleh musisi lain.

Para penonton yang menyaksikan Balawan di UVJF 2025│Foto: tatkala.co/Dede

Kolaborasi Balawan bersama Jiyestha di UVJF 2025 │Foto: tatkala.co/Dede
Tak hanya asyik tampil bersama timnya, Balawan juga turut mengajak anaknya, Jiyestha, naik ke panggung dan menyumbangkan suara dalam beberapa lagu. Ibarat pepatah lama, ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’, kolaborasi ayah dan anak itu menambah kehangatan malam yang telah penuh semangat. Salah satu lagu enerjik yang dibawakan Jiyestha adalah “I Feel Good” dari James Brown, membuat semua penonton turut berjoget dari masing-masing tempat duduk. Barangkali dalam hati mereka ada perasaan ingin berjingkrak-jingkrak, namun mereka tetap menjaga batasan, mengingat ini adalah festival jazz.
Meski terdengar sempurna, Balawan mengaku tak banyak melakukan persiapan. Sehari sebelumnya, ia baru saja tampil di Bandung bersama Trisum, trio gitaris jazz Indonesia bersama Dewa Budjana dan Tohpati. Tapi karena lagu-lagu yang ia bawakan sudah sering ditampilkan di berbagai panggung, Balawan mengaku tidak ada hambatan untuk tampil di UVJF.
Di tengah pertunjukan, ia juga melibatkan penonton lewat candaan dan sesi interaktif. Setelah menyetel auto-tune, ia mengajak penonton bernyanyi, menjawab pertanyaan seputar asal-usul, makanan kesukaan, hingga hal-hal sederhana lainnya. Cara ini menunjukkan bahwa jazz bukan hanya musik yang serius tetapi bisa cair, inklusif, dan menyenangkan.

Balawan ketika melibatkan penonton dalam repertoarnya│Foto: tatkala.co/Dede
“Sekarang kita harus pintar, apalagi pasar jazz tidak terlalu banyak. Jadi kita harus pintar menunjukkan ke orang bahwa jazz tidak hanya ribet, tapi juga punya sisi entertain atau menghibur. Kita harus terus belajar, bahkan saya pun masih belajar,” ujar Balawan dengan rendah hati.
Menurutnya, apresiasi penonton yang sebagian besar adalah wisatawan asing terasa tinggi dan tulus. “Senang ya, karena di sini orang banyak yang ingin menonton jazz. Audience-nya juga 90 persen orang luar. Jadi saya rasa apresiasinya lebih tinggi, istilahnya, mereka menanti apa yang akan ditampilkan di hadapan mereka.”

Balawan ketika melibatkan penonton dalam repertoarnya│Foto: tatkala.co/Dede
Balawan juga turut menyampaikan pesan dan harapan bagi masa depan festival jazz di Indonesia, khususnya UVJF: “Yang jelas harus seimbang. Selain menghibur, juga harus mengedukasi. Membuat masyarakat yang belum tahu menjadi tahu. Makanya di Bali itu ada Dewi Saraswati (Dewi ilmu pengetahuan), membawa gitar. Jadi di musik itu, ‘the more you learn, the more you know anything’. Musik itu terus berkembang, dan kita harus mengikutinya,” tandasnya.
Penampilan Balawan malam itu menegaskan bahwa jazz bukan hanya milik satu bangsa, satu warna kulit, ataupun satu aliran. Jazz pada dasarnya adalah perlawanan dan kebebasan, ia bisa berdialog dengan siapa dan apapun, termasuk gamelan Bali. Dan malam itu, di UVJF 2025, sebagian orang telah melihat bentuk jazz yang paling jujur dari Balawan: eksploratif, inklusif, dan berakar.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto



























