22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyaksikan Jazz Steps di UVJF 2025: Nada dari Vietnam dan Misi ‘Jazz untuk Semua’

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 2, 2025
in Panggung
Menyaksikan Jazz Steps di UVJF 2025: Nada dari Vietnam dan Misi ‘Jazz untuk Semua’

Penampilan Jazz Steps di Subak Stage, UVJF 2025 │Foto: tatkala.co/Dede

MENJELANG pukul 19.15, Jumat, 1 Agustus 2025, suasana di kawasan Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) mulai berubah. Seusai pertunjukan di Giri Stage, penonton perlahan berdatangan, mencari tempat duduk terbaik untuk menikmati penampilan selanjutnya. Di antara gemericik air sungai dan redup cahaya lampu taman, atmosfer terasa teduh dan intim, layaknya sebuah ruang dengar terbuka yang mengajak siapa pun untuk larut dalam ketenangan.

Di atas panggung kecil yang sederhana, dua sosok bersiap dengan tenang. Mereka tak membawa banyak peralatan, hanya saksofon dan kontrabas. Tapi dari kedua instrumen itu, mengalir alunan nada yang merasuk pelan, sekaligus memukau. Duo itu adalah Jazz Steps, kelompok jazz asal Vietnam yang dikenal karena eksplorasi mereka pada improvisasi dengan sentuhan musik rakyat Vietnam.

Tanpa banyak basa-basi, mereka memulai pertunjukan. Musik mereka seolah berbicara lebih dari cukup. Setiap nada yang dimainkan Quyen Thien Dac pada saksofonnya, selaras menyatu dengan petikan kontrabas dari Dao Minh Pha. Penonton terdiam, larut dalam pertunjukan yang tak mengandalkan gimmick panggung, melainkan kejujuran musikalitas.

Penampilan Jazz Steps di UVJF 2025 bersama Yuri Mahatma (gitar) dan Gustu Brahmanta (drum) │Foto: tatkala.co/Dede

Jazz Steps adalah proyek musik yang dibangun atas semangat ‘jazz untuk semua’. Mereka ingin membawa jazz keluar dari ruang-ruang konser formal ataupun kelas elit, membawanya ke komunitas-komunitas lokal, hingga ke masyarakat pelosok yang tak bisa menikmati musik jazz. Tanpa panggung tinggi, tanpa sekat antara pemain dan penonton. Musik, bagi mereka, harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, dari desa hingga sekolah, dari taman kota hingga festival lintas budaya, seperti Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF).

Mengutip dari situs Daidoanket, Quyen Thien Dac adalah putra dari pemain saksofon legendaris Vietnam, Quyen Van Minh. Ia mulai belajar klarinet sejak usia 11 tahun di Konservatori Musik Hanoi, lalu beralih ke saksofon di bawah bimbingan langsung ayahnya. Pada tahun 1995, ia menjadi musisi termuda yang pernah tampil bersama Orkes Simfoni Nasional Vietnam.

Namun, tak hanya memainkan jazz bergaya Barat, Quyen Thien Dac juga mengeksplorasi dan menyerap unsur musik tradisional Vietnam ke dalam karyanya. Ia meneliti berbagai instrumen dan gaya lokal seperti musik tuồng, chèo, dan kèn khas daerah pegunungan untuk menciptakan identitas jazz yang ‘berbahasa Vietnam’. Baginya, jazz adalah ‘kunci pembuka ruang-ruang kreatif baru’. Ia ingin membawa jazz lebih dekat ke masyarakat, bukan hanya di konser resmi, tetapi juga di ruang publik, sekolah, hingga permukiman, agar semua orang bisa merasakan semangat jazz.

Penampilan Jazz Steps di Subak Stage, UVJF 2025 │Foto: tatkala.co/Dede

Sementara itu, Dao Minh Pha adalah pemain kontrabas dan pendidik yang punya semangat sosial kuat. Dikutip dari Tienphong, ia pernah mengajar anak-anak tunanetra di panti sosial di Ho Chi Minh City. Pada tahun 2018, Dao Minh Pha bahkan sempat berencana melakukan tur keliling desa-desa menggunakan mobil jeep bersama Jazz Steps, membawakan musik secara langsung ke komunitas-komunitas terpencil. Selain itu, ia juga dikenal lewat proyek uniknya, yaitu pembuatan piringan hitam solo jazz untuk kontrabas.

Sejak awal, Quyen Thien Dac dan Dao Minh Pha membangun Jazz Steps bukan hanya sebagai proyek musik, tapi juga sebagai gerakan budaya kecil: membawa jazz ke ruang-ruang yang lebih hidup, tak terduga, dan tak terjamah musik jazz.

Jazz Steps hadir untuk siswa di Tuong Duong, Nghe An │ Sumber foto: situs Tienphong

Penampilan mereka malam itu di UVJF 2025 membuktikan bahwa musik bisa melampaui batas bangsa dan budaya. Setiap kali satu lagu selesai dimainkan, riuh tepuk tangan dan sorak sorai penonton memenuhi Subak Stage. Beberapa tampak berseru saat mendengar nada-nada minor yang terselip dalam rangkaian nada yang dimainkan. Jazz Steps tampil efisien dan fokus, tanpa banyak basa-basi, mereka membiarkan musik yang berbicara.

“Tampil di sini (UVJF) adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya. Semoga ke depannya kami bisa berpartisipasi kembali di tahun-tahun berikutnya,” ujar Dao Minh Pha, saat ditemui seusai pertunjukan.

Quyen Thien Dac menambahkan, eksistensi jazz di Vietnam tak jauh berbeda dengan di Indonesia. “Di sana belum terlalu banyak peminatnya, tapi ada klub-klub dan komunitas yang membuat jazz tetap bertahan dan hidup.”

Menurut Yuri Mahatma ─ gitaris jazz sekaligus co-founder UVJF, kehadiran perdana Jazz Steps ini adalah salah satu hal yang spesial dari perhelatan UVJF 2025. “Selain mainnya unik dan asyik, mereka di Vietnam juga aktivis jazz. Jadi mereka memperjuangkan jazz di sana. Sama lah perjuangannya, ada chemistry yang berkaitan dengan semangat festival ini.”

Dari kiri ke kanan: Yuri Mahatma, Dao Minh Pha, Quyen Thien Dac, Gustu Brahmanta│Foto: tatkala.co/Dede

Ia menambahkan, ekosistem jazz di Vietnam serupa dengan di Indonesia: hidup dari cafe ke cafe, hotel ke hotel, tapi tetap disokong komunitas. Menariknya, baik Quyen Thien Dac maupun Dao Minh Pha juga aktif sebagai dosen atau pengajar musik di suatu institusi pendidikan di Vietnam. Jadi, bisa dikatakan, musik sudah menjadi bagian penting dalam hidup mereka.

Yuri Mahatma juga sempat berkolaborasi di atas panggung bersama Jazz Steps, ditemani Gustu Brahmanta (drummer sekaligus perkusionis asal Bali). Meski tanpa latihan sebelumnya, kolaborasi itu tetap mengalir mulus. “Tadi luar biasa, mereka asyik. Dan, nggak ada latihan sama sekali,” ujarnya sembari tertawa ringan.

Malam itu, di UVJF 2025, Jazz Steps bukan hanya menampilkan musik, mereka juga membawa misi, semangat, dan harapan. Bahwa jazz, dengan segala improvisasinya masih bisa menyentuh hati dan menyatukan banyak suara. Dari Vietnam sampai Ubud, untuk dunia. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Salah Satu Perayaan Budaya Paling Dinamis di Indonesia
Berimajinasi Bersama Repertoar “Canson” Karya Noé Clerc Trio dari Prancis
Lampion-lampion Harapan dari Nara Devintha dan Nadin di UVJF 2024
Es Krim Sore Hari dan Kegembiraan Collective Harmony dalam Jazz Klasik “When the Saints Go Marching In”
Tags: festival musik jazzjazzmusikmusik jazzUbudUbud Village Jazz Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menelusuri “Jejak Sunyi-Petualangan Puitis” Umbu Landu Paranggi dari Karya-karyanya

Next Post

Yang (Mungkin) Luput dari Film Dokumenter “Sanghyang Dedari” Karya Olin Monteiro

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails
Next Post
Yang (Mungkin) Luput dari Film Dokumenter “Sanghyang Dedari” Karya Olin Monteiro

Yang (Mungkin) Luput dari Film Dokumenter “Sanghyang Dedari” Karya Olin Monteiro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co