24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Data Sudah Ditransfer,  Merdeka!

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 2, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

AGUSTUS kembali tiba, membawa semangat merah putih yang gejalanya mulai terlihat di pinggir-pinggir jalan. Mulai nampak orang berjualan bendera , umbul-umbul, tiang bambu, sampai aksesori yang ditempel di kaca mobil.  Sebentar lagi akan banyak  instansi pemerintah berlomba-lomba mengganti banner profil media sosialnya dengan nuansa kemerdekaan.

Nah, ironisnya saat di tengah semua geliat nuansa kemerdekaan itu, diam-diam, ada satu peristiwa penting yang  jadi  sorotan publik secara  luas. Dikabarkan pemerintah Indonesia telah menandatangani perjanjian dengan Amerika Serikat untuk transfer data pribadi warganya. Konon malah disebut sebagai salah satu prestasi di bidang ekonomi. Sebuah keputusan yang besar, dilakukan nyaris tanpa debat publik yang sehat.

Kontan saja, kita semua di sana-sini lantas berbicara bukan hanya soal informasi digital, tapi tentang sesuatu yang lebih dalam, soal kedaulatan data. Entah bagaimana saat saya memandang ke saudara-saudara kita yang berjualan bendera merah putih di pinggir jalan itu, pikiran saya jadi ngelantur ke soal  kebebasan berpikir itu sendiri. Maksud saya, Jika kita kehilangan kedaulatan data, apakah kita juga sedang menuju pada sistuasi kehilangan kedaulatan berpikir?

Dalam narasi klasik, kedaulatan sering dimaknai sebagai kontrol atas wilayah dan sumber daya alam. Bung Karno dahulu berteriak lantang tentang kemerdekaan yang harus penuh dan tidak setengah-setengah. Artinya bukan hanya bebas dari penjajah, tapi juga berdaulat atas tanah, udara, dan laut kita sendiri. Tapi hari ini, ada wilayah baru yang tak dinyana sebelumnya, yaitu ruang digital. Di era modern ini, di sinilah kehidupan sehari-hari kita berlangsung. 

Kita bercakap, berbelanja, menonton, bahkan menyatakan cinta dan berpolitik. Dan semua aktivitas itu meninggalkan jejak, potongan data yang jika dikumpulkan, akan membentuk potret utuh tentang siapa kita, apa yang kita pikirkan,  selera kita, dan bagaimana kita bisa dipengaruhi. Padahal, seperti diingatkan oleh Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society (1996), kekuasaan hari ini tak lagi bergantung pada senjata atau tanah, tapi pada akses terhadap informasi dan kemampuan membentuk kesadaran.

Jean Bodin dulu mendefinisikan kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi dalam suatu negara dan tanpa campur tangan dari pihak lain. Tapi dalam konteks digital sekarang, kekuasaan tertinggi itu seringkali tidak lagi berada pada negara, melainkan pada server yang tak terlihat, algoritma yang berpolitik, dan platform yang tak berkewarganegaraan.

Kedaulatan Bukan Lagi Soal Wilayah

Transfer data pribadi ke luar negeri, dalam hal ini ke Amerika Serikat, bukan sekadar soal dokumen teknis antarnegara. Ia adalah isyarat bahwa kendali atas identitas digital warga Indonesia kini sebagian berada di luar yurisdiksi nasional. Ketika data warga Indonesia dikirim ke AS, bukan cuma file yang berpindah tangan. Yang berpindah adalah peta perilaku, emosi, selera, kebiasaan, bahkan potensi politik setiap individu.

Data itu kemudian diproses oleh algoritma untuk memprediksi dan mengarahkan pilihan-pilihan kita. Data yang mencakup lokasi, preferensi, kebiasaan, bahkan suara dan wajah kita, bisa dianalisis, diprediksi, dan dimonetisasi oleh algoritma yang tidak kita pahami, apalagi kuasai. Di sinilah letak persoalan besar itu. Ketika negara tidak lagi sepenuhnya mengontrol data warganya, apakah ia masih bisa mengklaim dirinya berdaulat? Ya, bisa saja mengklaim seperti itu, tapi kan tetap saja mengggelikan.

Lebih jauh lagi, ini bukan hanya tentang siapa yang mengakses data, tapi tentang siapa yang membentuk cara kita berpikir. Yuval Noah Harari menyebut bahwa algoritma bisa mengenali manusia lebih baik daripada manusia mengenal dirinya sendiri. Dengan data yang cukup, mesin bisa memperkirakan apa yang akan kita pilih bahkan sebelum kita sendiri sadar kita akan memilihnya. Maka, pertanyaan selanjutnya dari siapa yang punya data kita, menjadi siapa yang punya kontrol atas pikiran kita.

Bisa kita bayangkan saja seperti ini, jika seseorang di Amerika, dia bekerja untuk perusahaan raksasa teknologi, kemudian bisa mengakses pola konsumsi para petani warga desa di Wonosobo, misalnya. Dia tahu kapan para petani itu online, apa saja yang mereka tonton, bahkan kapan mereka merasa sedih di masa-masa gagal panen, dan saat-saat tertentu di mana mereka paling mungkin membeli sesuatu. Dengan kekuatan itu, dia bukan hanya bisa menjual produk, dia bisa juga membentuk keinginan. Maka, dalam dunia seperti ini, kita tak lagi berpikir karena tahu, tapi tahu karena diprogram untuk berpikir seperti itu. Sepertinya inilah penjajahan versi baru. Tidak ada tank, tidak ada senapan, yang ada hanya layar sentuh dan rekomendasi yang terasa begitu personal.

Tugas Kita, Anak Bangsa yang Mau Tetap Waras

Perjanjian sudah terlanjur ditandatangani, sepertinya kita mungkin tidak bisa mundur lagi. Tapi bukan berarti kita harus menyerah. Dalam kondisi seperti ini, satu-satunya kedaulatan yang tersisa dan tak boleh diserahkan adalah kedaulatan berpikir. Seperti kata Paulo Freire, kesadaran kritis adalah jalan menuju pembebasan. Selama kita masih bisa bertanya, mempertanyakan, menguji informasi, dan tak serta-merta percaya pada narasi yang disodorkan algoritma, selama itu pula kita masih punya ruang untuk menjadi manusia merdeka. Inilah semangat yang harus kita bawa.

Menjaga kewarasan di era ini adalah bentuk perlawanan. Ketika informasi datang  bagaikan hujan deras tanpa henti, kemampuan menyaring dan kejernihan berpikir akan menjadi bentuk paling radikal dari kemerdekaan dalam konteks era digital sekarang ini. Jangan biarkan semangat Agustus hanya sebatas lomba balap karung dan pawai kendaraan hias. Mari kita tanya diri sendiri dengan sadar,  apakah kita masih punya kemerdekaan yang sesungguhnya, jika setiap klik, scroll, dan swipe kita dibaca oleh sistem yang bekerja diam-diam dengan sangat cerdas?

Indonesia sudah merdeka secara administratif sejak 1945. Tapi kemerdekaan pikiran seluruh anak bangsa adalah proyek yang harus diperjuangkan setiap hari. Apalagi di era ketika kolonialisme tak lagi memakai seragam militer, melainkan berbentuk dashboard analitik dan machine learning. Maka di tengah hari-hari menyongsong bulan jadi Hari Kemerdekaan ini, barangkali pertanyaan penting saat membuat banner agustusan bukanlah “tahun ini peringatan tahun ke berapa, sih?”, tapi “apakah pikiran kita masih benar-benar milik kita sendiri?”Karena jika kita tak sadar sedang dijajah, maka penjajahan itu sudah paripurna.

Dan jika kita kehilangan kedaulatan berpikir, maka bahkan kemerdekaan pun bisa menjadi sekadar mitos tahunan. Oya, saya mau tanya hal penting, tahun ini peringatan kemerdekaan yang ke berapa, yak? Eh, gak jadi ah. Sungkan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Koruptor Apakah ODGJ?
Jadi Pejabat, Strategi, dan Korupsi
Ketika Rumah Tak Lagi Bicara
Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI
Tags: Hari Kemerdekaan RIHUT Kemerdekaan RIkemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Next Post

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2025: Dialog dalam Nada di Panggung Lintas Benua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co