19 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Jaswanto by Jaswanto
August 2, 2025
in Ulas Pentas
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan "Torso" di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

BERBUSANA merah bak si Manis Jembatan Ancol, di dalam garis lingkaran putih yang membatasinya, perempuan itu menari dengan lambat, kaku, patah-patah, tersendat-sendat (ngeglitch), tapi terpola. Ia hanya menggerakkan bagian tengah tubuh (torso) dan tangannya saja, seperti robot. Sementara ia terus mengulang gerakan itu sambil mengeksplor panggung, musik pengiring terdengar meriah. Ada suara gamelan yang samar, ada suara musik entah apa lagi, dan suara-suara lainnya dengan tempo yang cepat (nge-beat) dan semarak.

Pada pertengahan pertunjukan, tarian perempuan itu perlahan berubah menjadi cepat, seperti lepas kendali. Sesekali ia menunjukkan gerak tari tradisi yang halus dan penuh nilai-nilai kesopan-santunan, tapi tak jarang pula ia menari dengan liar, rambut terurai, erotis dan menggoda.

Menjelang akhir pertunjukan, perempuan itu merusak lingkaran putih yang ada di panggung. Serbuk berwarna putih tersebut ia sibak-sibakkan ke segala arah. Dengan tempo musik yang cepat, perempuan itu bergerak dengan energik sambil menghambur-hamburkan lingkaran tepung itu. Ia terus menari ke sana-kemari laiknya kerasukan atau trance. Lalu ia meratap dan berguling-guling di atas tepung yang berserak.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Di atas adalah gambaran singkat dari pertunjukan tari kontemporer bertajuk Torso yang dipertunjukkan dalam rangkaian Singaraja Literary Festival pada Jumat (25/7/2025) malam di panggung terbuka di depan Museum Buleleng. Repertoar yang berdurasi 40 menit ini merupakan karya baru dari koreografer Ayu Permata Sari yang sekaligus menarikannya. Repertoar ini turut menggandeng beberapa nama, seperti Soemantri Gelar (seniman visual), Edythia Rio (komposer), Nia Agustina (dramaturg), Nabilla Kurnia Adzan (produser), dan Sulhan Jamil (lighting).

Untuk mendukung pertunjukan Torso, sebenarnya ada video mapping yang ditampilkan. Namun sayang, karena tidak ada layar yang tersedia, karya visual itu ditembakkan ke arah pepohonan di sekitar panggung pertunjukan. Tetapi, menurut saya, itu justru tidak memecah fokus penonton. Penampil Ayu menjadi tidak tercerabut kehadirannya, perhatian penonton tidak terampas oleh tampilan video—meski mungkin video tersebut bisa menggenapi pertunjukan.

Pada babak akhir pertunjukan, Ayu sempat berhenti dan meminta sebotol air minum. Napasnya hampir habis. Kejadian itu menyisakan masa jeda yang sebenarnya cukup menggangu sebab penonton dibiarkan terdiam menunggu. Dalam kondisi ini sebenarnya alur pertunjukan telah dibuat tinggi, dengan beberapa saat panggung dibiarkan kosong membuat emosi penonton terasa menggantung.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Namun, di balik itu semua, sudah barang tentu repertoar ini telah melakukan proses latihan yang tidak sebentar, terlebih pada kekuatan tubuh dan olah pernapasan yang tidak terbilang mudah.

Batas dan Bebas, Bersuara Melalui Tubuh

Tari, sebagai salah satu wujud ekspresi seni yang tua, secara sengaja menggunakan tubuh sebagai wilayah eksplorasi penciptaan seni. Terlepas berpijak pada akar tradisi lokal atau berpijak pada akar tradisi luar, penari sengaja menggunakan tubuhnya untuk mewujudkan ekspresi seni—ada sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Di situlah tarian mengandung gerak maknawinya.

Menurut Imam Setyobudi dan Mukhlas Alkaf, melihat tari sebagai aspek komunikasi di dalamnya tentu mencakup adanya retorika yang meniscayakan kemungkinan yang bersifat manipulatif, rekayasa. Struktur dan makna tari, menurut Imam dan Mukhlas, bukan semata-mata estetika seni untuk seni, melainkan persoalan ideologis-politis yang telah merasuk ke dalam gerak-gerik (gesture) tarian itu sendiri.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Dalam sebuah sinopsis singkat, misalnya, Torso berusaha membedah bagaimana konstruksi budaya turut membentuk ekspresi tubuh. Melalui pintu masuk tari tradisi yang familiar, Torso hadir sebagai medium dialog reflektif untuk mempertanyakan kepemilikan dan kedaulatan tubuh perempuan, tidak semata sebagai hiburan atau sekadar gerak kosong tanpa tujuan.

Hal itu tampak jelas dengan adanya garis lingkaran yang “mengungkung” Ayu pada saat menari. Garis lingkaran itu sebagai simbol batas antara perempuan dengan hal-hal di luar dirinya, seperti adat (budaya), agama, maupun norma-norma yang disepakati di tengah masyarakat. Bagi Ayu, kadangkala batas-batas itu menjadi penghambat tumbuh-kembang perempuan.

Sekadar informasi, Ayu memulai karier kepenariannya menjadi penari Sigeh Penguten—sebuah tari kreasi yang berasal dari Lampung, tanah kelahiran Ayu. Tarian itulah, bersama dengan Tari Cangget, yang menjadi dasar Torso—yang saya kira bertujuan untuk merefleksikan bagaimana tubuh perempuan Lampung dibentuk, dibatasi, dan dijalankan oleh adat dan budaya.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Simaklah kisah ini. Selama belajar Sigeh Penguten, Ayu sering sembunyi-sembunyi dari pengawasan sang ayah. Ya, dalam sebuah wawancara Ayu mengaku sang ayah tidak merestuinya menjadi penari. Tapi karena ia merasa tari adalah jalan hidupnya, Ayu “melawan” ayahnya sendiri—dan mengubur mimpinya menjadi bidan. Ia tetap keras kepala belajar menari dan pada akhirnya memilih belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dari sanalah Ayu memulai pengalaman ketubuhannya. Ia mencoba semua hal yang ia inginkan. Ia tumbuh bersama karya-karya yang ia maupun orang lain ciptakan.

Ayu tumbuh dalam lingkaran adat Lampung Pepadun. Di Jogja ia merasa bebas, baik dalam berkarya maupun sekadar mengekspresikan diri. Namun, ketika kembali ke kampung halaman dan hidup dengan seperangkat aturan adat, agama, dan lingkungan yang ketat nilai kesopan-santunan, ia merasa kesusahan untuk menjalaninya.

Kebudayaan, menurut Foucault, selalu berkenaan dengan jalinan kuasa-pengetahuan. Kebudayaan tiada lain adalah ruang tempat kuasa-pengetahuan selalu berkelindan. Kekuasaan tidak hanya bersifat represif, tetapi juga produktif. Kekuasaan menciptakan pengetahuan, dan pengetahuan pada gilirannya digunakan untuk menjalankan kekuasaan.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Dalam konteks masyarakat partiarki, laki-laki lah yang berhak memegang kendali atas kekuasaan—termasuk kendali atas tubuh perempuan. Bagi pandangan masyarakat patriarki, suara dan pikiran perempuan seolah anonim atau sengaja diabsenkan. Dan itulah yang barangkali hendak Ayu lawan dan suarakan—meski tentu tak semudah dibayangkan.

Torso jelas ingin menarasikan ihwal batang tubuh perempuan sebagai kekuatan terhadap dominasi laki-laki, adat-istiadat, tradisi, dan norma-norma lainnya yang mengungkung kebebasan perempuan.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: Ayu Permata SariSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025tari kontemporerTorso
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mula Keto: Membaca Ulang Kearifan Lokal Bali dalam Cahaya Kesadaran

Next Post

Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño
Esai

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae
Pop

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
Ramai Penulis Menjadi Pelukis
Esai

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

by Angga Wijaya
September 19, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

by Isran Kamal
September 18, 2026
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha
Khas

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co