BERBUSANA merah bak si Manis Jembatan Ancol, di dalam garis lingkaran putih yang membatasinya, perempuan itu menari dengan lambat, kaku, patah-patah, tersendat-sendat (ngeglitch), tapi terpola. Ia hanya menggerakkan bagian tengah tubuh (torso) dan tangannya saja, seperti robot. Sementara ia terus mengulang gerakan itu sambil mengeksplor panggung, musik pengiring terdengar meriah. Ada suara gamelan yang samar, ada suara musik entah apa lagi, dan suara-suara lainnya dengan tempo yang cepat (nge-beat) dan semarak.
Pada pertengahan pertunjukan, tarian perempuan itu perlahan berubah menjadi cepat, seperti lepas kendali. Sesekali ia menunjukkan gerak tari tradisi yang halus dan penuh nilai-nilai kesopan-santunan, tapi tak jarang pula ia menari dengan liar, rambut terurai, erotis dan menggoda.
Menjelang akhir pertunjukan, perempuan itu merusak lingkaran putih yang ada di panggung. Serbuk berwarna putih tersebut ia sibak-sibakkan ke segala arah. Dengan tempo musik yang cepat, perempuan itu bergerak dengan energik sambil menghambur-hamburkan lingkaran tepung itu. Ia terus menari ke sana-kemari laiknya kerasukan atau trance. Lalu ia meratap dan berguling-guling di atas tepung yang berserak.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Di atas adalah gambaran singkat dari pertunjukan tari kontemporer bertajuk Torso yang dipertunjukkan dalam rangkaian Singaraja Literary Festival pada Jumat (25/7/2025) malam di panggung terbuka di depan Museum Buleleng. Repertoar yang berdurasi 40 menit ini merupakan karya baru dari koreografer Ayu Permata Sari yang sekaligus menarikannya. Repertoar ini turut menggandeng beberapa nama, seperti Soemantri Gelar (seniman visual), Edythia Rio (komposer), Nia Agustina (dramaturg), Nabilla Kurnia Adzan (produser), dan Sulhan Jamil (lighting).
Untuk mendukung pertunjukan Torso, sebenarnya ada video mapping yang ditampilkan. Namun sayang, karena tidak ada layar yang tersedia, karya visual itu ditembakkan ke arah pepohonan di sekitar panggung pertunjukan. Tetapi, menurut saya, itu justru tidak memecah fokus penonton. Penampil Ayu menjadi tidak tercerabut kehadirannya, perhatian penonton tidak terampas oleh tampilan video—meski mungkin video tersebut bisa menggenapi pertunjukan.
Pada babak akhir pertunjukan, Ayu sempat berhenti dan meminta sebotol air minum. Napasnya hampir habis. Kejadian itu menyisakan masa jeda yang sebenarnya cukup menggangu sebab penonton dibiarkan terdiam menunggu. Dalam kondisi ini sebenarnya alur pertunjukan telah dibuat tinggi, dengan beberapa saat panggung dibiarkan kosong membuat emosi penonton terasa menggantung.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Namun, di balik itu semua, sudah barang tentu repertoar ini telah melakukan proses latihan yang tidak sebentar, terlebih pada kekuatan tubuh dan olah pernapasan yang tidak terbilang mudah.
Batas dan Bebas, Bersuara Melalui Tubuh
Tari, sebagai salah satu wujud ekspresi seni yang tua, secara sengaja menggunakan tubuh sebagai wilayah eksplorasi penciptaan seni. Terlepas berpijak pada akar tradisi lokal atau berpijak pada akar tradisi luar, penari sengaja menggunakan tubuhnya untuk mewujudkan ekspresi seni—ada sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Di situlah tarian mengandung gerak maknawinya.
Menurut Imam Setyobudi dan Mukhlas Alkaf, melihat tari sebagai aspek komunikasi di dalamnya tentu mencakup adanya retorika yang meniscayakan kemungkinan yang bersifat manipulatif, rekayasa. Struktur dan makna tari, menurut Imam dan Mukhlas, bukan semata-mata estetika seni untuk seni, melainkan persoalan ideologis-politis yang telah merasuk ke dalam gerak-gerik (gesture) tarian itu sendiri.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Dalam sebuah sinopsis singkat, misalnya, Torso berusaha membedah bagaimana konstruksi budaya turut membentuk ekspresi tubuh. Melalui pintu masuk tari tradisi yang familiar, Torso hadir sebagai medium dialog reflektif untuk mempertanyakan kepemilikan dan kedaulatan tubuh perempuan, tidak semata sebagai hiburan atau sekadar gerak kosong tanpa tujuan.
Hal itu tampak jelas dengan adanya garis lingkaran yang “mengungkung” Ayu pada saat menari. Garis lingkaran itu sebagai simbol batas antara perempuan dengan hal-hal di luar dirinya, seperti adat (budaya), agama, maupun norma-norma yang disepakati di tengah masyarakat. Bagi Ayu, kadangkala batas-batas itu menjadi penghambat tumbuh-kembang perempuan.
Sekadar informasi, Ayu memulai karier kepenariannya menjadi penari Sigeh Penguten—sebuah tari kreasi yang berasal dari Lampung, tanah kelahiran Ayu. Tarian itulah, bersama dengan Tari Cangget, yang menjadi dasar Torso—yang saya kira bertujuan untuk merefleksikan bagaimana tubuh perempuan Lampung dibentuk, dibatasi, dan dijalankan oleh adat dan budaya.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Simaklah kisah ini. Selama belajar Sigeh Penguten, Ayu sering sembunyi-sembunyi dari pengawasan sang ayah. Ya, dalam sebuah wawancara Ayu mengaku sang ayah tidak merestuinya menjadi penari. Tapi karena ia merasa tari adalah jalan hidupnya, Ayu “melawan” ayahnya sendiri—dan mengubur mimpinya menjadi bidan. Ia tetap keras kepala belajar menari dan pada akhirnya memilih belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dari sanalah Ayu memulai pengalaman ketubuhannya. Ia mencoba semua hal yang ia inginkan. Ia tumbuh bersama karya-karya yang ia maupun orang lain ciptakan.
Ayu tumbuh dalam lingkaran adat Lampung Pepadun. Di Jogja ia merasa bebas, baik dalam berkarya maupun sekadar mengekspresikan diri. Namun, ketika kembali ke kampung halaman dan hidup dengan seperangkat aturan adat, agama, dan lingkungan yang ketat nilai kesopan-santunan, ia merasa kesusahan untuk menjalaninya.
Kebudayaan, menurut Foucault, selalu berkenaan dengan jalinan kuasa-pengetahuan. Kebudayaan tiada lain adalah ruang tempat kuasa-pengetahuan selalu berkelindan. Kekuasaan tidak hanya bersifat represif, tetapi juga produktif. Kekuasaan menciptakan pengetahuan, dan pengetahuan pada gilirannya digunakan untuk menjalankan kekuasaan.

Penampilan Ayu Permata Sari dalam pertunjukan “Torso” di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF
Dalam konteks masyarakat partiarki, laki-laki lah yang berhak memegang kendali atas kekuasaan—termasuk kendali atas tubuh perempuan. Bagi pandangan masyarakat patriarki, suara dan pikiran perempuan seolah anonim atau sengaja diabsenkan. Dan itulah yang barangkali hendak Ayu lawan dan suarakan—meski tentu tak semudah dibayangkan.
Torso jelas ingin menarasikan ihwal batang tubuh perempuan sebagai kekuatan terhadap dominasi laki-laki, adat-istiadat, tradisi, dan norma-norma lainnya yang mengungkung kebebasan perempuan.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole




























