SINGARAJA dengan kekayaan yang ada di dalamnya, dan di sekitarnya, dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk dinikmati dan digali oleh novelis Dee Lestari. Kekayaan literasi Singaraja, misalnya, begitu memesona penulis buku “Supernova”, “Perahu Kertas”, “Aroma Karsa”, dan lain-lain tersebut.
Maka Dee Lestari pun inten terlibat dan menyemarakkan kegiatan literasi yang digelar di kota tua di Bali utara ini. Ya Singaraja Literary Festival (SLF). Dee Lestari hadir di SLF II tahun 2024, dan SLF III tahun 2025.
Ia membeberkan proses kreatifnya di Singaraja Literary Festival kepada publik. Proses kreatif bagaimana ia melahirkan karya-karyanya. Ia juga menyerap inspirasi dari kekayaan alam yang ada di dalam, dan di sekitar, Singaraja.
Kekayaan alam semacam pantai atau laut Lovina, dan lumba-lumbanya, misalnya. Maka lahirlah karya cerita pendek tentang lumba-lumba di Pantai Lovina. Karyanya ini dibacakan Dee Lestari pada malam pembukaan Singaraja Literary Festival 2025 di Sasana Budaya Singaraja, Jumat, 25 Juli 2025, malam.
Yukkk, simak cerita mengejar lumba-lumba yang dibacakan dengan penuh penghayatan oleh Dee Lestari;
***

Dee Lestari di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025
Pagi puta itu, kukejar kawanan lumba-lumba. Berangkat dalam keremangan, bahkan bulan masih bertengger di atas sana. Baru, ketika di tengah laut, kulihat matahari menjelang di timur bagai batu rubi yang terangkat dari balik bukit dengan tempo anggun.
Kutentang lautan di atas perahu mesin, berpacu dengan puluhan perahu lain. Mataku yang tak terlatih harus tertatih-tatih. Sementara yang lain bersorak dan bersorai, aku masih sibuk memilah mana ombak, mana pantulan cahaya, dan mana punggung lumba-lumba.
Aku dan mataku yang tampaknya selalu terlambat atau memang tak berbakat melihat. Matahari meninggi, semua sudah melihat lumba-lumba setidaknya tiga kali, kecuali aku.
“Perutnya merah jambu,” ada yang bilang.
“Mulutnya tersenyum,” yang lain berkata.
Aku tak habis pikir, adakah perangkat tersembunyi di perahu ini yang mereka gunakan diam-diam hingga penglihatan mereka begitu tajam. Perangkat yang dikecualikan dari aku.
Tepat ketika perahu berputar, kepalaku menengok ke belakang beberapa detik lebih lama daripada seharusnya. Muncullah dia, satu ekor saja. Aku tak bersuara, hanya menganga.
Ia melompat tiga kali, kulihat perut merah jambunya, senyumnya. Kemudian ia lenyap di bawah permukaan, tak muncul-muncul lagi.
Aku laporkan kejadian itu kepada Juru Kemudi. Ia bilang, jarang lumba-lumba muncul sendiri. “Mungkin temannya yang lain sedang menyelam, sementara lumba-lumba yang satu itu habis nafas sendiri,” komentarnya.
“Karena itukah mereka meloncat? Karena ingin menarik udara?” Aku bertanya.
Juru Kemudi hanya mengangguk sebagai jawaban. Dua jam kubelah lautan, pulang dan pergi hanya untuk melihat pemunculan lumba-lumba tiga detik. Tak sanggup aku menyelam dan mengejarnya ke dalam air, meski ingin melihatnya lebih lama.
Tak juga sanggup lumba-lumba itu ikut denganku ke darat, meskipun mungkin ia penasaran akan makhluk aneh di buritan perahu yang mengejarnya sedari tadi. Ada garis tegas yang memisahkan alamku dan alamnya.
Tahun demi tahun, aku mengarungi lautan hidup, mengetahui keberadaanmu tanpa pernah menjumpaimu.
Berbeda dengan lumba-lumba pagi ini, kau tak pernah keburu. Tepat ketika aku sudah berdamai dengan ketidaktahuan, hidup mengangkatmu ke permukaan. Menunjukkan warnamu, menunjukkan senyummu.
Dalam pemunculan yang terbilang sekelebat itu, kau tarik udaraku menjadi napasmu, meninggalkanku ternganga dan kehilangan senyum detak jantung. Terlintas secercah harapan atau kesoktahuan, bahwa kamu merasakan hal yang sama. Ada gravitasi yang tersembunyi rapih di balik kelakar hangat dan obrolan karib kita.
Antara kau yang menarik udara dan aku yang melepas napas. Dengan sekelebat lompatanmu ke permukaan, kita tengah saling membutuhkan. Akan tetapi, garis yang memisahkan kita sama tegasnya dengan yang membentang antara aku dan lumba-lumba.
Alam kita terlanjur berbeda saat kita berjumpa. Jadi, ambillah udara itu, simpan untuk bekal menyelammu ke duniamu lagi, di hidupmu yang tak bisa kumasuki. Hirup dalam-dalam, sumbangsih sekejapku, habiskan dengan bijaksana.
Akan kuhirup udara baru di atas sini, mengarungi kehidupanku meski rasanya sudah berbeda. Karena kini telah kulihat warnamu, senyummu. [T]
Penulis: Yahya Umar
Editor: Jaswanto



























