29 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi

Jaswanto by Jaswanto
July 30, 2025
in Ulas Pentas
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi

Pertunjukan Tribute to Umbu Landu Paranggi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Oka Rusmini

SETELAH lampu padam, seorang perempuan muncul dari sayap panggung. Suara tambur terdengar. Perempuan muda itu mulai melantunkan sebuah tembang—atau kidung—Bali yang magis. Gemerincing lonceng berbunyi di sela-sela jeda napasnya. Selesai menampilkan suaranya, perempuan itu duduk di bale bambu panjang yang di samping kanan-kirinya beberapa orang juga duduk di sana membelakangi penonton. Panggung kembali gelap.

Lalu, sesaat setelah perempuan pelantun tembang itu duduk, lampu sorot tertuju pada sosok lelaki 60 tahun yang kini bergerak ke tengah panggung. Lelaki itu kemudian mulai membaca puisi Ronggeng Sumba (1984) karya Umbu Landu Paranggi dengan penghayatan yang dalam, seperti nyaris—seperti lelucon yang ia lontarkan setelah membaca puisi tersebut—kesurupan. Pada sebuah layar di bagian belakang panggung, Ronggeng Sumba ditampilkan sehingga penonton dapat membacanya dengan jelas.

Putu Fajar Arcana menjadi pemandu dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Di atas adalah potongan dari pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi”, sebuah persembahan khusus untuk mengenang Maha Guru Umbu. Tribute to Umbu menampilkan pertunjukan gagasan dan pembacaan karya Umbu yang menggugah segala pertanyaan dan jawaban. Namun, selain itu, menurut pandangan awam saya, karya ini juga tentang hikayat puisi dan hidup Umbu Landu Paranggi—puisi dan Umbu adalah satu-kesatuan.

Dan lebih dari sekadar pertunjukan, Tribute to Umbu juga terlihat seperti jagongan sastra yang membedah dan mendedah riwayat Umbu Landu Paranggi melalui puisi-puisi (karya, pikiran) yang ia lahirkan alih-alih mitos atau dongeng yang melakat di balik laku hidupnya yang misterius.Lebih lanjut, pertunjukan ini tidak mengandalkan hafalan, tapi ekspresi dan interpretasi personal setiap aktor. Lihatlah, bebas saja aktor membaca naskah di depan penonton.

Made Adnyana Ole membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Tribute to Umbu disutradarai oleh Made Adnyana Ole, sastrawan, budayawan, cum wartawan senior. Dan diperankan oleh nama-nama besar yang tak asing dalam dunia sastra dan budaya seperti Putu Farjar Arcana, Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Adnyana Ole, Made Sujaya, Kadek Sonia Piscayanti, Putu Eka Guna Yasa, dan Yesi Candrika. Putu Fajar Arcana, selain sebagai pembaca puisi, juga berperan sebagai pemantik diskusi antara Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa. Keempat orang ini yang mengantar penonton menuju hikayat hidup dan alam pikiran Umbu Landu Paranggi.

Untuk pementasan, Tribute to Umbu Landu Paranggi pertama kali dipertunjukan di panggung Singaraja Literary Festival 2025 di Sasana Budaya, Singaraja, Bali, Sabtu (26/7/2025) malam.

Hikayat Puisi, Hikayat Maha Guru

Benar adanya jika karya Tribute to Umbu adalah semacam pembacaan kritis dan dalam atas perjalanan hidup (biografi puisi) Umbu Landu Paranggi dari Sumba ke Jogja, dari Joga ke Bali—meski pernah singgah sebentar di Bandung sebelum akhirnya menetap di Bali. Hal ini tampak jelas, bukan saja oleh Putu Fajar Arcana dan Kadek Sonia Piscayanti yang menyampaikan selikas tentang biografi Umbu pada awal pertunjukan, tapi juga puisi-puisi Umbu yang dipilih dalam pertunjukan ini.

Wicaksono Adi (kiri) dan Arif B Prasetyo (kanan) membicarakan puisi Umbu dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Sependek ingatan, ada enam puisi Umbu yang dibacakan dan dibedah dalam Tribute to Umbu. Pertama Ronggeng Sumba, lalu Percakapan Selat, Tiga Kuda, Tujuh Cemara, Upacara XXXVII, dan terakhir Ibunda Tercinta. Pemilihan keenam puisi ini saya kira bukan tanpa alasan, melainkan dalam enam puisi inilah kita dapat mengetahui fase hidup Umbu di tiga tempat berbeda: Sumba, Jogja, dan Bali. Dan itu yang disampaikan oleh Wicaksono Adi dan Arif B. Prasetyo selama hampir setengah durasi pertunjukan.

Puisi pertama, Ronggeng Sumba yang dibacakan oleh Fajar Arcana, menurut pembacaan Wicaksono Adi, dapat dilihat sebagai rahim kultural Umbu sebelum menginjakkan kaki di dunia ramai. Dalam Ronggeng Sumba, tampak Umbu sedang menulis kampung halamannya: Sumba, yang oleh Arif B. Prasetyo dinilai berbeda dengan puisi-puisi penyair lain saat menulis hal yang sama. Kata Arif, beberapa puisi penyair Indonesia yang bicara soal kampung halaman, misalkan puisi “Tanah Kelahiran” Ramadhan KH, “Madura” Abdul Hadi WM, dan “Cipasung” Acep Zamzam Noor, tanah kelahiran cenderung dilihat sebagai bentang alam, lebih sebagai lanskap fisik, meskipun juga mencerminkan lanskap batin. Sedangkan Umbu dalam “Ronggeng Sumba” memandang tanah kelahiran sebagai lanskap budaya.

Dari sinilah pertunjukan Tribute to Umbu perlahan mulai menampakkan wajah aslinya.

Yesi Candrika membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Sedari penonton memasuki arena pertunjukan, karya ini sudah menyita perhatian. Pasalnya dua instalasi—atau kerajinan-anyaman—bambu diletakkan di tengah-tengah panggung pertunjukan.`Itu membuat saya sebagai penonton bertanya-tanya akan jadi seperti apa pertunjukan ini? Ketika pertunjukan dimulai, instalasi itu ternyata difungsikan sebagai semacam bale atau cangkruk tempat nongkrong orang-orang desa sambil membincangkan banyak hal.

Ya, Putu Fajar Arcana, Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa, berusaha membincangkan puisi-puisi Umbu seolah-seolah mereka sedang duduk di bale bambu di sebuah warung kopi di suatu tempat. Namun sayang, tak ada rokok dan kopi atau hidangan macam pisang goreng atau kacang asin di sana. Hal itu mengakibatkan improvisasi para aktor menjadi terbatas. Dan pada titik tertentu membuat pertunjukan menjadi kaku, lambat, statis, seolah menjelma menjadi ruang seminar kritik sastra yang ilmiah, akademik, dan memusingkan.

Tribute to Umbu, sebagaimana telah disinggung di atas, berusaha mengungkap perjalanan hidup Umbu Landu Paranggi dari Sumba ke Jogja, dari Jogja ke Bali. “Ronggeng Sumba” katakanlah sebagai fase saat Umbu masih di Sumba. Sedangkan puisi “Percakapan Selat”, yang dibaca Made Adnyana Ole, sebagaimana dikatakan Fajar Arcana, menggambarkan bagaimana sang penyair memulai petualangan setelah meninggalkan rahim kulturalnya di Sumba. Lalu “Tiga Kuda” yang dibacakan Candrika, sebagai simbol pengembaraan Umbu menuju Jogja—yang menurut Arif digelayuti nada muram dari kesunyian, kesendirian, keterpencilan, dan kemurungan yang mengiringi pengembaraan.

Selanjutnya, Sonia Piscayanti membacakan puisi “Tujuh Cemara” sebagai penanda Umbu telah di Yogyakarta. Dalam puisi ini, menurut Wicaksono Adi, pandangan Umbu tentang Yogyakarta ternyata tidak semuram penyair-penyair lainnya. Umbu memandang Jogja dalam gambaran yang kompleks, semacam “ibukota kata sendi kata” yang berlapis-lapis, sejarah tua, revolusi, percintaan anak muda di antara deretan cemara di kampus biru, rahasia dan rindu dendam, ada pula sang Jenderal Sudirman, biji asam Malioboro, dan sebagainya. “Yogya juga semacam medan pergolakan untuk pematangan diri,” kata Adi.

Tibalah Umbu di Bali—setelah sempat singgah di Bandung, Jawa Barat—sampai akhir hayatnya. Pada babak ini, Made Sujaya membacakan puisi “Upacara XXXVII”. Dari Sujaya penonton tahu bahwa Umbu menghabiskan lebih dari separuh usianya di Bali, kurang lebih 43 tahun (1978-2021). Melalui halaman “Apresiasi” di Bali Post, kata Sujaya, Umbu tidak hanya merangsang gairah kreatif anak-anak muda Bali untuk nyastra, tetapi juga tampaknya menyerap pandangan dan falsafah hidup Bali. Pemahamannya terhadap Bali sebagian kecil dituangkan dalam beberapa buah sajaknya yang secara eksplisit berbicara tentang Bali, namun sebagian besar lainnya disampaikannya secara lisan dalam berbagai kesempatan diskusi apresiasi sastra.

Made Sujaya membaca puisi dalam Pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Pada babak ini pula Putu Eka Guna Yasa tampil meyakinkan. Filolog muda itu melengkapi paparan Sujaya dan memberitahu penonton bahwa Umbu, disadarinya atau tidak, sejatinya telah mempraktikkan konsep anurat asing gon (menulis di semua ruang) dan menempatkan tanah Bali sebagai altar kesempatan untuk mayasa lacur (menjadikan kemiskinan material sebagai tapa) untuk melahirkan berbagai karya sastra. Dua konsep kepengarangan tersebut, kata Guna, adalah istilah yang diambil dari karya Ida Pedanda Made Sidemen berjudul “Geguritan Salampah Laku”.

Dan puisi terakhir, Ibunda Tercinta yang juga dibaca Fajar Arcana, menjadi penutup fase hidup Umbu Landu Paranggi. Menurut Wicaksono Adi, jika di awal pada sajak “Ronggeng Sumba” kampung halaman mengandung gambaran “rahim” dalam perspektif rumah kultural, maka sang Kuda Sumba yang telah jauh meninggalkan “rahim” asalnya, pada akhirnya pulang ke haribaan “Ibu”—yakni “Ibu” sebagai sosok manusia maupun “Ibu” sebagai sosok simbolik, sebagai rumah puisi. “Ia [Umbu] telah kembali pada haribaan puisi itu sendiri,” ujar Adi.

Berbicara Karya, Bukan Mitos-Legenda

Umbu adalah penyair dengan nama besar, kata Arif B. Prasetyo. Karena itulah ia diselubungi karisma tertentu yang membuatnya tampak lebih besar daripada kenyataan, menjelma jadi semacam mitos. Saat Umbu hijrah ke Bali sebagai penyair karismatik—yang legendanya dibangun dan dilestarikan melalui beragam cerita oleh kalangan penulis muda di sekitarnya pada periode ketika ia tinggal di Jogya—mitos itu terus berlanjut. Akibatnya, orang lebih banyak mengenal nama Umbu dan mendengar legenda-mitosnya ketimbang membaca puisinya.

Wicaksono Adi, Putu Eka Guna Yasa, Fajar Arcana, Made Sujaya dan Arif B Prasetyo membincangkan puisi-puisi Umbu ketika sedang berada di Bali | Foto: Oka Rusmini

Mitos Umbu, kata Arif, seperti halnya mitos Chairil Anwar, menenggelamkan namanya dalam kelisanan yang membuat orang tidak terlalu memperhatikan puisinya. Namun, lanjut Arif, mitos Umbu sebagai penyair legendaris misterius ternyata bekerja efektif mendukung kiprah sosialnya di luar kerja individual menulis puisi, yaitu menghidupkan nyala api gairah bersastra di Bali.

Benar. Jamak diketahui bahwa Umbu merupakan sosok motivator pilih-tanding dan sangat pandai dalam mencari bakat yang selalu punya cara unik untuk mendekati seseorang dan memperkenalkan kehidupan puisi. Ia, ujar Arif, tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih bergerilya ke berbagai pelosok Bali untuk menggerakkan kehidupan kesusastraan lewat kegiatan apresiasi puisi. Mitos Umbu terbukti bukan sekadar dongeng, melainkan kekuatan yang mampu membentuk kenyataan.

Yesi Candrika menutup perbincangan dengan menyanyikan sejumlah pupuh | Foto: Oka Rusmini

Sampai di sini, sekali lagi, jika disadari, pertunjukan ini berujung pada pesan bahwa karya-karya Umbu tidak kalah menarik untuk dibicarakan alih-alih legenda atau mitos yang melekat pada nama besarnya.

Di situlah Tribute to Umbu menurut saya memberikan perhatian lebih atas apa yang menurutnya penting untuk digarisbawahi. Dengan dramaturgi yang simpel tetapi tepat guna, karya ini berhasil menyampaikan pesan tersebut secara eksplisit dan dapat diterima ketika menyaksikannya.

Penutupan pertunjukan “Tribute to Umbu Landu Paranggi” | Foto: Oka Rusmini

Kendati demikian, menurut hemat saya, interpretasi—Wicaksono Adi, Arif B. Prasetyo, Made Sujaya, dan Putu Eka Guna Yasa—atas puisi Umbu yang dipresentasikan terlalu “berat-berlarat” tanpa diselinggi, katakanlah, gegojekan (humor) sebagaimana obrolan di bale bambu di sebuah warung kopi pinggiran sehingga alur terasa lambat dan membosankan—meski beberapa kali Fajar Arcana sebagai pemantik berusaha mencairkan suasana.

Jika yang diinginkan adalah menstimulasi penonton—yang sudah mengetahui (atau setidaknya yang pernah mendengar nama) Umbu Landu Pranggi—untuk berpikir ulang maka hal tersebut berhasil, tetapi jika yang diinginkan adalah “membumikan” karya dan nama Umbu di kalangan anak muda pada umumnya maka gaya interpretasi semacam itu perlu dipertimbangkan.

Berfoto bersama Rambu Raina Paranggi (cucu tertua dari Umbu Landu Paranggi) usai pertunjukan | Foto: Oka Rusmini

Itulah yang dicapai Tribute to Umbu dalam menarasikan hikayat puisi dan Umbu Landu Paranggi dengan cara pembacaan kritis karya-karyanya yang dipresentasikan melalui seni pertunjukan. Karya ini seakan menjadi penerang atas sosok Umbu yang “misterius”—ia terkenal sulit ditemui, tempat tinggalnya tidak jelas, suka muncul di acara secara sembunyi-sembunyi, dsb, kata Arif.

Cukup dengan menyaksikan pertunjukan ini saya diajak menelusuri jalan hidup sang Maha Guru melalui puisi-puisinya yang selama ini jarang atau nyaris tak pernah dibicarakan meski sedang membahas tentang riwayatnya.[T]


Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: sastraSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Umbu Landu Paranggi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sudahkah Bahasa Kita Berdaulat?

Next Post

Trilogi Ekosistem Seni: Strategi Kreatif Kabupaten Badung Merawat Akar, Menumbuhkan Tunas

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails
Next Post
Trilogi Ekosistem Seni: Strategi Kreatif Kabupaten Badung Merawat Akar, Menumbuhkan Tunas

Trilogi Ekosistem Seni: Strategi Kreatif Kabupaten Badung Merawat Akar, Menumbuhkan Tunas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Liputan Khusus

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

by Jaswanto
June 29, 2026
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?
Esai

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

by Sugi Lanus
June 29, 2026
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky
Cerpen

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda
Puisi

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan
Liputan Khusus

Betapa Kompaknya Seniman Buleleng Membangun Karakter Buleleng Lewat Berbagai Karya Seni dan Kebudayaan

TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar....

by Jaswanto
June 28, 2026
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
Bulan Juni Milik Empat Presiden
Esai

Bulan Juni Milik Empat Presiden

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak...

by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co