24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 24, 2025
in Esai
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Foto ilustrasi: tatkala.co

Pendahuluan: Sebuah Pertaruhan Intelektual

PADA tahun 1914, Bertrand Russell menulis esai berjudul Mysticism and Logic yang hingga

kini tetap menjadi rujukan utama dalam diskursus hubungan antara rasio dan intuisi. Dalam esai tersebut, Russell menempatkan mistisisme dan logika dalam posisi diametral: satu berlandaskan pengalaman batin yang tak terkatakan, lainnya berakar pada rasionalitas dan pembuktian ilmiah. Ia menilai mistisisme sebagai pengalaman yang menggugah, namun tak layak dijadikan dasar pengetahuan.

Namun benarkah demikian? Bukankah justru keterbatasan logika yang menjadikan mistisisme sebagai pelengkap penting dalam memahami hakikat realitas? Tokoh spiritual dan humanis Indonesia, Guruji Anand Krishna, menyebut mistisisme bukan sebagai lawan logika, tetapi sebagai kelanjutan dari logika — ketika akal telah mencapai batasnya dan menyerah pada keheningan jiwa terdalam. Dalam konteks ini, mistisisme bukan pelarian dari berpikir, melainkan puncaknya.

Mistisisme dalam Filsafat Timur: Pancamaya Kosha sebagai Kerangka Reflektif

Filsafat Timur, khususnya dalam tradisi Vedanta dan Yoga, memiliki konsep Pancamaya Kosha — lima lapisan eksistensi manusia:

1. Annamaya Kosha (tubuh fisik),

2. Pranamaya Kosha (energi vital),

3. Manomaya Kosha (pikiran dan perasaan),

4. Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan

5. Anandamaya Kosha (kebahagiaan ilahi).

Sains dan logika modern — sebagaimana dibela Russell — masih beroperasi pada lapisan Manomaya Kosha. Ia menjelaskan, mengurai, mengukur. Namun mistisisme melampaui batas itu menuju Anandamaya Kosha, ranah yang hanya bisa diakses melalui kontemplasi

mendalam, meditasi, dan pengalaman transenden. Guruji Anand Krishna dalam buku Kearifan Mistisisme (2015) menulis, bukan mistisisme yang irasional, tetapi logika kitalah yang belum cukup halus untuk menangkapnya.

Mistisisme bukan tentang takhayul, tetapi tentang menyadari dimensi terdalam keberadaan.

Mistisisme vs Klenik: Klarifikasi yang Mendesak

Di Indonesia, istilah mistisisme sering dicampuradukkan dengan klenik, santet, atau praktik supranatural tanpa dasar etis dan spiritual yang jelas. Padahal, dalam akar katanya (mystēs), mistisisme bermakna keheningan, kehenakan, dan rahasia batiniah — bukan sekadar ritual atau kekuatan magis.

Pemikiran Russell bisa saja relevan dalam konteks Eropa pasca-Enlightenment, ketika mistisisme dicurigai sebagai sisa-sisa dogma Gereja. Namun, transplantasi langsung pemikiran ini ke konteks Nusantara hanya akan memperdalam krisis spiritual bangsa. Kita membutuhkan rekontekstualisasi makna mistisisme, bukan pelabelan membabi buta.

Dalam Simposium Kebudayaan Nasional 2003, Budayawan Emha Ainun Nadjib menyampaikan, orang Jawa bisa sangat ilmiah tanpa gelar, dan sangat mistik tanpa terjebak klenik. Tapi karena pendidikan kita tidak mengenalkan perbedaan itu, kita kehilangan akar spiritual sekaligus logika sehat.

Kritik terhadap Bertrand Russell: Rasio Tidaklah Absolut

Bertrand Russell mewakili filsafat analitik yang menjunjung tinggi kejelasan proposisional. Namun ia luput menyadari bahwa:

  • Bahasa manusia tidak mampu menampung seluruh pengalaman manusia, apalagi yang transenden.
  • Kesadaran manusia tidak berhenti pada nalar, tetapi berkembang ke arah intuitif, simbolik, dan kontemplatif.

Bahkan fisikawan kuantum seperti Werner Heisenberg dan Niels Bohr mulai meragukan absolutisme logika dalam menjelaskan fenomena alam: “Semakin kita menyelidiki realitas, semakin kabur batas antara subjek dan objek, antara pengamat dan yang diamati.” (Bohr)

Mistisisme — dalam arti terdalamnya — justru membuka jalan menuju integrasi antara subjek dan objek. Ia tidak menolak logika, melainkan menyerapnya, melewatinya, dan menemukan ruang baru di baliknya.

Mendamaikan Logika dan Mistisisme: Pandangan Tokoh Dunia

Beberapa tokoh dunia dari berbagai disiplin telah mencoba menyatukan logika dan mistisisme, atau setidaknya mengakui keterbatasan rasionalitas:

– Carl Jung: Mistik adalah “pengalaman individu terhadap numinosum”, bukan patologi atau khayalan.

– Albert Einstein: “Pengalaman mistik adalah benih segala sains sejati.”

– Ken Wilber: Melalui pendekatan Integral Theory, Wilber menjelaskan bahwa pengalaman mistik bisa dibaca sebagai tingkat kesadaran lebih tinggi, bukan semata pengalaman emosional.

Di Indonesia, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dalam kuliah umumnya menyampaikan bahwa mistisisme bukan pelarian, tapi pendakian. Di puncaknya, manusia merasakan ketakterbatasan tanpa kehilangan rasionalitasnya.

Refleksi: Saatnya Mistisisme Didekonstruksi dan Dihargai Kembali

Pengalaman mistik tidak bisa diuji melalui laboratorium, tetapi bisa diverifikasi melalui transformasi batin: cinta tanpa syarat, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan rasa persatuan dengan semesta. Dalam hal ini, mistisisme bersifat praktis dan fungsional, bukan hanya teoretis.

Anand Krishna menyebutnya sebagai inner technology — teknologi batin yang mengembangkan kesadaran dan memurnikan hati. Jika sains membangun dunia luar, mistisisme membangun dunia dalam. Keduanya harus berjalan bersama.

Kesimpulan: Jalan Tengah antara Akal dan Cinta

Mistisisme bukan musuh logika, dan logika bukan penyangkal spiritualitas. Keduanya seperti sayap burung: satu tidak bisa terbang tanpa yang lain. Kritik Russell perlu dibaca secara kontekstual — sebagai upaya membongkar dogma Barat, tetapi tidak relevan jika dijadikan ukuran universal bagi segala bentuk spiritualitas.

Kita perlu melampaui kutub logika dan mistik dan menemukan titik integrasi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh tradisi mistik Timur selama ribuan tahun. Di sinilah tugas kita: merehabilitasi mistisisme, bukan dengan dogma baru, tetapi dengan pemahaman baru. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Tags: filsafatfilsafat timurmistis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co