24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 24, 2025
in Esai
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Foto ilustrasi: tatkala.co

Pendahuluan: Sebuah Pertaruhan Intelektual

PADA tahun 1914, Bertrand Russell menulis esai berjudul Mysticism and Logic yang hingga

kini tetap menjadi rujukan utama dalam diskursus hubungan antara rasio dan intuisi. Dalam esai tersebut, Russell menempatkan mistisisme dan logika dalam posisi diametral: satu berlandaskan pengalaman batin yang tak terkatakan, lainnya berakar pada rasionalitas dan pembuktian ilmiah. Ia menilai mistisisme sebagai pengalaman yang menggugah, namun tak layak dijadikan dasar pengetahuan.

Namun benarkah demikian? Bukankah justru keterbatasan logika yang menjadikan mistisisme sebagai pelengkap penting dalam memahami hakikat realitas? Tokoh spiritual dan humanis Indonesia, Guruji Anand Krishna, menyebut mistisisme bukan sebagai lawan logika, tetapi sebagai kelanjutan dari logika — ketika akal telah mencapai batasnya dan menyerah pada keheningan jiwa terdalam. Dalam konteks ini, mistisisme bukan pelarian dari berpikir, melainkan puncaknya.

Mistisisme dalam Filsafat Timur: Pancamaya Kosha sebagai Kerangka Reflektif

Filsafat Timur, khususnya dalam tradisi Vedanta dan Yoga, memiliki konsep Pancamaya Kosha — lima lapisan eksistensi manusia:

1. Annamaya Kosha (tubuh fisik),

2. Pranamaya Kosha (energi vital),

3. Manomaya Kosha (pikiran dan perasaan),

4. Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan

5. Anandamaya Kosha (kebahagiaan ilahi).

Sains dan logika modern — sebagaimana dibela Russell — masih beroperasi pada lapisan Manomaya Kosha. Ia menjelaskan, mengurai, mengukur. Namun mistisisme melampaui batas itu menuju Anandamaya Kosha, ranah yang hanya bisa diakses melalui kontemplasi

mendalam, meditasi, dan pengalaman transenden. Guruji Anand Krishna dalam buku Kearifan Mistisisme (2015) menulis, bukan mistisisme yang irasional, tetapi logika kitalah yang belum cukup halus untuk menangkapnya.

Mistisisme bukan tentang takhayul, tetapi tentang menyadari dimensi terdalam keberadaan.

Mistisisme vs Klenik: Klarifikasi yang Mendesak

Di Indonesia, istilah mistisisme sering dicampuradukkan dengan klenik, santet, atau praktik supranatural tanpa dasar etis dan spiritual yang jelas. Padahal, dalam akar katanya (mystēs), mistisisme bermakna keheningan, kehenakan, dan rahasia batiniah — bukan sekadar ritual atau kekuatan magis.

Pemikiran Russell bisa saja relevan dalam konteks Eropa pasca-Enlightenment, ketika mistisisme dicurigai sebagai sisa-sisa dogma Gereja. Namun, transplantasi langsung pemikiran ini ke konteks Nusantara hanya akan memperdalam krisis spiritual bangsa. Kita membutuhkan rekontekstualisasi makna mistisisme, bukan pelabelan membabi buta.

Dalam Simposium Kebudayaan Nasional 2003, Budayawan Emha Ainun Nadjib menyampaikan, orang Jawa bisa sangat ilmiah tanpa gelar, dan sangat mistik tanpa terjebak klenik. Tapi karena pendidikan kita tidak mengenalkan perbedaan itu, kita kehilangan akar spiritual sekaligus logika sehat.

Kritik terhadap Bertrand Russell: Rasio Tidaklah Absolut

Bertrand Russell mewakili filsafat analitik yang menjunjung tinggi kejelasan proposisional. Namun ia luput menyadari bahwa:

  • Bahasa manusia tidak mampu menampung seluruh pengalaman manusia, apalagi yang transenden.
  • Kesadaran manusia tidak berhenti pada nalar, tetapi berkembang ke arah intuitif, simbolik, dan kontemplatif.

Bahkan fisikawan kuantum seperti Werner Heisenberg dan Niels Bohr mulai meragukan absolutisme logika dalam menjelaskan fenomena alam: “Semakin kita menyelidiki realitas, semakin kabur batas antara subjek dan objek, antara pengamat dan yang diamati.” (Bohr)

Mistisisme — dalam arti terdalamnya — justru membuka jalan menuju integrasi antara subjek dan objek. Ia tidak menolak logika, melainkan menyerapnya, melewatinya, dan menemukan ruang baru di baliknya.

Mendamaikan Logika dan Mistisisme: Pandangan Tokoh Dunia

Beberapa tokoh dunia dari berbagai disiplin telah mencoba menyatukan logika dan mistisisme, atau setidaknya mengakui keterbatasan rasionalitas:

– Carl Jung: Mistik adalah “pengalaman individu terhadap numinosum”, bukan patologi atau khayalan.

– Albert Einstein: “Pengalaman mistik adalah benih segala sains sejati.”

– Ken Wilber: Melalui pendekatan Integral Theory, Wilber menjelaskan bahwa pengalaman mistik bisa dibaca sebagai tingkat kesadaran lebih tinggi, bukan semata pengalaman emosional.

Di Indonesia, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dalam kuliah umumnya menyampaikan bahwa mistisisme bukan pelarian, tapi pendakian. Di puncaknya, manusia merasakan ketakterbatasan tanpa kehilangan rasionalitasnya.

Refleksi: Saatnya Mistisisme Didekonstruksi dan Dihargai Kembali

Pengalaman mistik tidak bisa diuji melalui laboratorium, tetapi bisa diverifikasi melalui transformasi batin: cinta tanpa syarat, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan rasa persatuan dengan semesta. Dalam hal ini, mistisisme bersifat praktis dan fungsional, bukan hanya teoretis.

Anand Krishna menyebutnya sebagai inner technology — teknologi batin yang mengembangkan kesadaran dan memurnikan hati. Jika sains membangun dunia luar, mistisisme membangun dunia dalam. Keduanya harus berjalan bersama.

Kesimpulan: Jalan Tengah antara Akal dan Cinta

Mistisisme bukan musuh logika, dan logika bukan penyangkal spiritualitas. Keduanya seperti sayap burung: satu tidak bisa terbang tanpa yang lain. Kritik Russell perlu dibaca secara kontekstual — sebagai upaya membongkar dogma Barat, tetapi tidak relevan jika dijadikan ukuran universal bagi segala bentuk spiritualitas.

Kita perlu melampaui kutub logika dan mistik dan menemukan titik integrasi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh tradisi mistik Timur selama ribuan tahun. Di sinilah tugas kita: merehabilitasi mistisisme, bukan dengan dogma baru, tetapi dengan pemahaman baru. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Tags: filsafatfilsafat timurmistis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co