4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karnaval dan Kemacetan Sosial

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
in Esai
Karnaval dan Kemacetan Sosial

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang, anak-anak berlatih pawai, dan pengeras suara mulai terdengar dari berbagai penjuru kampung. Semua itu seharusnya menjadi tanda kegembiraan menyambut hari kemerdekaan.

Namun, bagi saya, suasana itu tidak selalu menghadirkan kegembiraan. Tahun ini, saya justru merasa kehilangan kemerdekaan atas jalan yang setiap hari saya gunakan. Jalan kampung yang biasanya menjadi akses warga berubah menjadi lokasi persiapan acara: peralatan dipasang, kendaraan parkir, orang berlalu-lalang, dan check sound sound horeg dilakukan berulang-ulang. Jalan yang semestinya menjadi ruang bersama mendadak terasa seperti milik panitia.

Bukan hanya sehari. Persiapannya berlangsung sampai dua hari. Suara musik yang menggelegar menjadi semacam pertunjukan tersendiri, bahkan ketika karnaval belum dimulai. Bagi mereka yang terlibat dalam acara, mungkin itu bagian dari kemeriahan Agustusan. Tetapi bagi warga yang harus bekerja, beristirahat, mengantar anak, menerima tamu, atau sekadar keluar-masuk rumah, situasinya bisa sangat berbeda.

Banyak orang merasa dirugikan. Bukan karena anti-karnaval, apalagi tidak menghargai kemerdekaan. Justru penghormatan terhadap kemerdekaan semestinya mengajarkan satu hal: jangan merayakan kebebasan dengan menghilangkan kebebasan orang lain menggunakan jalan dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Di sinilah persoalannya bergeser dari sekadar kemacetan lalu lintas menjadi “kemacetan sosial” ketika kepentingan bersama tersisih oleh kesenangan sebagian orang.

Kemacetan sosial terjadi ketika kepentingan kelompok begitu dominan hingga kepentingan warga lain dianggap tidak penting. Jalan ditutup demi acara. Akses terganggu oleh panggung. Suara diperbesar demi kemeriahan. Semua dilakukan atas nama kebersamaan. Padahal, kebersamaan semestinya memberi ruang seluas-luasnya kepada orang lain, bukan mengambil ruang publik secara sepihak.

Ada yang berubah dari cara kita merayakan Agustusan. Dulu, kemeriahan lahir dari gotong royong, permainan sederhana, dan kebersamaan warga. Kini, ukuran kemeriahan kadang bergeser: semakin besar panggung, semakin keras suara, semakin panjang karnaval, dianggap semakin meriah. Nilai kebersamaan pun berisiko berubah menjadi perlombaan kemeriahan.

Pergeseran ini bukan sekadar soal bentuk perayaan, tetapi cara kita memaknai ruang bersama. Agustusan semestinya merawat persaudaraan dan menghidupkan gotong royong, bukan mengambil ruang, mengganggu kenyamanan, atau membuat warga lain menanggung ketidaknyamanan. Jika dulu kemerdekaan dirayakan dengan berbagi kegembiraan, jangan sampai kini dirayakan dengan mengurangi kebebasan orang lain.

Menariknya, penggunaan jalan untuk kegiatan masyarakat tetap diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 127–128 membolehkan penggunaan jalan untuk kegiatan tertentu, tetapi jika sampai ditutup, wajib tersedia jalan alternatif, rambu sementara, dan izin dari kepolisian. Artinya, jalan umum tidak boleh ditutup begitu saja atas nama kegiatan masyarakat.

Aturan yang lebih spesifik terdapat dalam Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2012, yang menempatkan perayaan hari nasional, termasuk HUT Kemerdekaan RI, sebagai kegiatan yang perlu mendapat pengaturan lalu lintas. Semangat merayakan kemerdekaan tentu patut dijaga, bersamaan dengan upaya memastikan jalan tetap dapat digunakan masyarakat untuk melintas dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Peraturan tersebut juga mengatur perlunya jalan alternatif dan rambu sementara apabila penggunaan jalan berdampak pada penutupan atau pengalihan arus. Dalam pelaksanaannya, petugas ditempatkan untuk menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Penyelenggara kegiatan pun memiliki peran penting untuk memastikan penggunaan jalan tetap tertib dan tidak mengganggu fungsi utamanya sebagai ruang bersama.

Ini penting untuk ditegaskan karena kemerdekaan bukan hanya milik panitia karnaval. Kemerdekaan juga milik pedagang yang harus mengantar barang, pekerja yang harus berangkat pagi, orang sakit yang membutuhkan akses kendaraan, orang tua yang mengantar anak, dan warga yang sekadar ingin menjalankan aktivitas normal.

Polisi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Hal ini sejalan dengan UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 14, yang menempatkan kelancaran lalu lintas sebagai bagian dari tugas kepolisian. Dalam konteks ini, persoalannya barangkali bukan pada boleh atau tidaknya karnaval diselenggarakan. Karnaval merupakan bagian dari kegembiraan merayakan kemerdekaan. Yang tak kalah penting ialah bagaimana kegembiraan itu dapat berlangsung tanpa mengurangi ruang masyarakat lain untuk melintas dan menjalankan aktivitasnya.

Agustusan bisa dirayakan dengan cara yang lebih tertib dan peka terhadap lingkungan sekitar. Panggung tidak harus mengambil seluruh badan jalan, check sound dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan warga, jalur alternatif disiapkan, penutupan jalan diumumkan sebelumnya, dan petugas hadir untuk membantu memastikan akses warga tetap terbuka.

Kita tidak perlu memilih antara kemeriahan dan ketertiban. Keduanya bisa berjalan bersama. Sebab, ironis rasanya jika setiap bulan Agustus kita memasang spanduk bertuliskan “Dirgahayu Republik Indonesia”, tetapi pada saat yang sama warga harus bertanya-tanya, “Hari ini saya masih bisa lewat jalan rumah saya atau tidak?”

Kemerdekaan semestinya membuat ruang publik semakin ramah, bukan semakin sempit oleh kepentingan sebagian orang. Karnaval boleh meriah, musik boleh menggema, Merah Putih wajib berkibar. Namun, jalan tetap milik bersama. Jangan sampai atas nama merayakan kemerdekaan, kita justru membuat orang lain kehilangan kemerdekaannya untuk melintas, bekerja, dan menjalani kehidupan. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Jaswanto

Tags: HUT Kemerdekaan RIKarnaval
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

Next Post

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

Melalui "Samarasā", UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co