25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karnaval dan Kemacetan Sosial

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
in Esai
Karnaval dan Kemacetan Sosial

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang, anak-anak berlatih pawai, dan pengeras suara mulai terdengar dari berbagai penjuru kampung. Semua itu seharusnya menjadi tanda kegembiraan menyambut hari kemerdekaan.

Namun, bagi saya, suasana itu tidak selalu menghadirkan kegembiraan. Tahun ini, saya justru merasa kehilangan kemerdekaan atas jalan yang setiap hari saya gunakan. Jalan kampung yang biasanya menjadi akses warga berubah menjadi lokasi persiapan acara: peralatan dipasang, kendaraan parkir, orang berlalu-lalang, dan check sound sound horeg dilakukan berulang-ulang. Jalan yang semestinya menjadi ruang bersama mendadak terasa seperti milik panitia.

Bukan hanya sehari. Persiapannya berlangsung sampai dua hari. Suara musik yang menggelegar menjadi semacam pertunjukan tersendiri, bahkan ketika karnaval belum dimulai. Bagi mereka yang terlibat dalam acara, mungkin itu bagian dari kemeriahan Agustusan. Tetapi bagi warga yang harus bekerja, beristirahat, mengantar anak, menerima tamu, atau sekadar keluar-masuk rumah, situasinya bisa sangat berbeda.

Banyak orang merasa dirugikan. Bukan karena anti-karnaval, apalagi tidak menghargai kemerdekaan. Justru penghormatan terhadap kemerdekaan semestinya mengajarkan satu hal: jangan merayakan kebebasan dengan menghilangkan kebebasan orang lain menggunakan jalan dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Di sinilah persoalannya bergeser dari sekadar kemacetan lalu lintas menjadi “kemacetan sosial” ketika kepentingan bersama tersisih oleh kesenangan sebagian orang.

Kemacetan sosial terjadi ketika kepentingan kelompok begitu dominan hingga kepentingan warga lain dianggap tidak penting. Jalan ditutup demi acara. Akses terganggu oleh panggung. Suara diperbesar demi kemeriahan. Semua dilakukan atas nama kebersamaan. Padahal, kebersamaan semestinya memberi ruang seluas-luasnya kepada orang lain, bukan mengambil ruang publik secara sepihak.

Ada yang berubah dari cara kita merayakan Agustusan. Dulu, kemeriahan lahir dari gotong royong, permainan sederhana, dan kebersamaan warga. Kini, ukuran kemeriahan kadang bergeser: semakin besar panggung, semakin keras suara, semakin panjang karnaval, dianggap semakin meriah. Nilai kebersamaan pun berisiko berubah menjadi perlombaan kemeriahan.

Pergeseran ini bukan sekadar soal bentuk perayaan, tetapi cara kita memaknai ruang bersama. Agustusan semestinya merawat persaudaraan dan menghidupkan gotong royong, bukan mengambil ruang, mengganggu kenyamanan, atau membuat warga lain menanggung ketidaknyamanan. Jika dulu kemerdekaan dirayakan dengan berbagi kegembiraan, jangan sampai kini dirayakan dengan mengurangi kebebasan orang lain.

Menariknya, penggunaan jalan untuk kegiatan masyarakat tetap diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 127–128 membolehkan penggunaan jalan untuk kegiatan tertentu, tetapi jika sampai ditutup, wajib tersedia jalan alternatif, rambu sementara, dan izin dari kepolisian. Artinya, jalan umum tidak boleh ditutup begitu saja atas nama kegiatan masyarakat.

Aturan yang lebih spesifik terdapat dalam Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2012, yang menempatkan perayaan hari nasional, termasuk HUT Kemerdekaan RI, sebagai kegiatan yang perlu mendapat pengaturan lalu lintas. Semangat merayakan kemerdekaan tentu patut dijaga, bersamaan dengan upaya memastikan jalan tetap dapat digunakan masyarakat untuk melintas dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Peraturan tersebut juga mengatur perlunya jalan alternatif dan rambu sementara apabila penggunaan jalan berdampak pada penutupan atau pengalihan arus. Dalam pelaksanaannya, petugas ditempatkan untuk menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Penyelenggara kegiatan pun memiliki peran penting untuk memastikan penggunaan jalan tetap tertib dan tidak mengganggu fungsi utamanya sebagai ruang bersama.

Ini penting untuk ditegaskan karena kemerdekaan bukan hanya milik panitia karnaval. Kemerdekaan juga milik pedagang yang harus mengantar barang, pekerja yang harus berangkat pagi, orang sakit yang membutuhkan akses kendaraan, orang tua yang mengantar anak, dan warga yang sekadar ingin menjalankan aktivitas normal.

Polisi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Hal ini sejalan dengan UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 14, yang menempatkan kelancaran lalu lintas sebagai bagian dari tugas kepolisian. Dalam konteks ini, persoalannya barangkali bukan pada boleh atau tidaknya karnaval diselenggarakan. Karnaval merupakan bagian dari kegembiraan merayakan kemerdekaan. Yang tak kalah penting ialah bagaimana kegembiraan itu dapat berlangsung tanpa mengurangi ruang masyarakat lain untuk melintas dan menjalankan aktivitasnya.

Agustusan bisa dirayakan dengan cara yang lebih tertib dan peka terhadap lingkungan sekitar. Panggung tidak harus mengambil seluruh badan jalan, check sound dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan warga, jalur alternatif disiapkan, penutupan jalan diumumkan sebelumnya, dan petugas hadir untuk membantu memastikan akses warga tetap terbuka.

Kita tidak perlu memilih antara kemeriahan dan ketertiban. Keduanya bisa berjalan bersama. Sebab, ironis rasanya jika setiap bulan Agustus kita memasang spanduk bertuliskan “Dirgahayu Republik Indonesia”, tetapi pada saat yang sama warga harus bertanya-tanya, “Hari ini saya masih bisa lewat jalan rumah saya atau tidak?”

Kemerdekaan semestinya membuat ruang publik semakin ramah, bukan semakin sempit oleh kepentingan sebagian orang. Karnaval boleh meriah, musik boleh menggema, Merah Putih wajib berkibar. Namun, jalan tetap milik bersama. Jangan sampai atas nama merayakan kemerdekaan, kita justru membuat orang lain kehilangan kemerdekaannya untuk melintas, bekerja, dan menjalani kehidupan. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Jaswanto

Tags: HUT Kemerdekaan RIKarnaval
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

Next Post

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

Melalui "Samarasā", UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co