“Aku hantu laut! Aku hantu laut!” teriak bocah itu memulai permainan.
BOCAH itu bernama Yoga. Ia datang dengan dua temannya Oming dan Dafa ke Pantai Penimbangan, Singaraja, Jumat, 18 Juli 2025.
Oming, Dafa dan Yoga masih sekolah SD. Mereka datang bersamaan ke pantai itu untuk bermain, untuk merayakan hari libur semester.
Rumah mereka satu sama lain sangat berjarak, alias tidak terlalu dekat. Oming tinggal di Baktiseraga, Dafa di Banjar Tegal, sedang Yoga tinggal di daerah Panji. Mereka datang dijemput-diantar kakaknya Dafa jam 9 pagi menggunakan motor.
Dari ketiga anak itu, Yoga agaknya paling tengil, dan juga paling kecil ketimbang dua temannya.
Oming dan Dafa tampak sekali kalem, tidak pecicilan. Ketika Yoga berteriak sekali lagi, “Aku hantu laut!”.
Seperti sebuah tualang main perang-perangan, mereka, Dafa dan Oming, segera menyerang hantu laut, yang diperankan Yoga, dengan mendorong sepenuh tenaga agar terjatuh, agar segera berenang.
Tapi Yoga berhasil mengelak dari serangan Dafa, tangan Dafa terlepas dan ia terjatuh kehilangan keseimbangan tubuhnya. Badannya basah kuyup. Sementara tangan Oming masih kuat di bahu Yoga dengan gerakan mendorong. Namun ia berhasil melepasnya dan kemudian berlari ke samping jukung atau perahu.
Selepas bangkit, Dafa mengejar dan meraih tangan Yoga, kemudian melakukan gerakan seperti smackdown. Brug! Hantu laut itu roboh dan ombak datang menggulungnya pelan.


Balap lari Yoga Vs Dafa | Foto Son
Ombak datang begitu kalem mendera mereka bertiga. Jukung yang jaraknya mungkin 10 kaki dari mereka bertempur, seperti sebuah properti yang mendukung perang-perangan itu tampak seperti sebuah teater lepas, tanpa setting tempat, dan sutradara juga penulis naskah.
Selepas bermain perang-perangan yang tak sepadan secara jumlah, Yoga menghentikan perang itu. Ampun, katanya. Ia pun berhenti berteriak “aku adalah laut”, berhenti memerankan hantu laut.
Mereka memilih berenang bersama.
Tapi Yoga masih belum habis tengilnya. Kali ini ia membuat bola-bola pasir seperti bola-bola salju. Ia bawa lari bola pasir itu selepas berenang, lalu dilemparkannya ke laut sambil berkata Sharingan atau dalam ucapannya “Saringgarrr!”.
“Ayo balap lari!” tantang Dafa kepada Yoga, seolah agar Yoga berhenti menyerang laut menggunakan jurus Sasuke dalam serial anime Naruto.
Jukung-jukung masih tergoyang dihantam ombak. Udara pantai menguarkan bau pagi menjelang siang. Yoga mengiyakan tawaran Dafa.
“Ayo!” timpal Yoga sangat siap.
“Hitungin, Bang.” kata Yoga meminta bantuan ke saya saat hendak memotretnya dengan ponsel.
1…2…3…
Segera mereka berlari sambil tertawa-tawa mengejar garis finish yang belum sempat ditentukan entah dimananya, mereka berlari seperti mengejar angin.
Dafa berlari sedikit lebih kencang dari Yoga. Terlihat hidung Dafa kembang kempis-dada pengap-wajah cape setelah berlari itu. Lalu ia mengacungkan kedua tangannya, menandakan ia sudah menang.
“Aku yang menang, Bang,” kata si Dafa sambil menarik nafas panjang dan mengeluarkannya sekaligus. Hushh! Lalu ia tersenyum dengan pasir masih menempel di pipinya.
Sementara Yoga duduk sebentar mengatur nafas juga sambil tersenyum. Tidak ada menang kalah tampak di wajah mereka berdua. Hanya tampak keseruan yang mencair dari senyum-senyum yang terlempar ketika mereka lanjut bermain yang lain.
Mencari Kerang-kerang
Pagi itu, di Pantai Indah, panas matahari tidak terlalu menyengat walaupun sudah di waktu menjelang siang, sekitar 40 menit lagi siang akan tiba. Angin pantai yang datang pun masih terasa hangat, masih enak rasanya di kulit, tidak terlalu membakar. Ini hari yang bagus barangkali untuk mereka pergi berlibur; tualang sebentar—refresh otak di sela libur.

Mengumpulkan kerang | Foto: Son
Sementara Dafa, terlihat masih sibuk di sela Yoga dan Oming berenang.
Dafa mencari kerang-kerangan lalu memindahkannya ke wadah terbuat dari daun pisang.
“Untuk dibawa ke rumah,” kata Dafa sambil memboyongnya ke daratan dekat pohon rindang, ya, dekat warung Ibu Susi, namanya.
Menutup Permainan dengan Tipat
Melihat mereka asik-bermain di pantai sangatlah asik. Di pantai mereka bisa berenang. Bisa bersenda gurau bersama teman. Main lari-larian di sepanjang-panjang pantai berpasir. Mencari kerang.
Terakhir yang dilakukan tiga sekawan itu, makan tipat di warung Ibu Susi ditraktir kakaknya Dafa, dan memakannya di bibir pantai nyambil memandang laut biru.
Angin sepoi pantai menerpa mereka, suasananya menjadi syahdu ketika tipat itu disantapnya.
Apalagi angin di laut sedang bagus-bagusnya membuat gulungan ombak tidak terlalu besar. Pas. Juga, laut tidak mengantarkan sampah-sampah ke daratan menambah kemolekan bibir pantai jadi bersih, jadi exotic, sebagai tempat duduk.
Biasanya ada saja sampah-sampah dikirim laut ke darat, entah, laut juga mendapatkannya dari mana.

Yoga menunjukkan setengah jadi bola pasir untuk menyerang laut | Foto Son

Dari kejauhan, tiga anak itu menatap jukung-jukung dan laut biru setelah perang-perangan hantu laut dan mencari kerang-karangan | Foto Son

Dafa di sela mencari kerang-karangan di Pantai Indah | Foto Son

Yoga berlari setelah menyerang laut dengan bola-bola pasir | Foto Son
Tapi pagi itu sampah-sampah terlihat lebih sedikit dari biasanya, atau, memang seperti inilah laut seharusnya, tidak memuntahkan sampah atau menelannya. Atau sama sekali sebaiknya tidak ada sampah-sampah di laut juga di darat.
Di hadapan laut biru. Di hadapan ombak yang menderu tidak terlalu besar. Tiga sekawan itu menikmati kudapan tipat yang dibuat Ibu Susi.
“Ini enak sekali.” kata Omang.
Harga tipat itu seporsi kisaran tujuh ribu. Isinya ada toge, tipat dan tahu dengan lumeran bumbu kacang—dan rempah bali.
Sambil menikmati tipat itu untuk istirahat sebentar sebelum pulang, Yoga, Oming dan Dafa, walaupun tidak bermata biru, tapi dari cara mereka mengeksplor permainan, keceriaan, dan menutup permainan, tampak terasa hari mereka sebiru cerita laut pagi itu: tak ada sampah, juga mereka tak ada beban-tugas sekolah.
Oming sekolah di SD Negeri 2 Tista masih kelas 4, Dafa kelas 6 di SD 1 Banjar Tegal, dan Yoga kelas 3 di SD Negeri Sepang Kelod. Tanggal 21 bulan ini mereka akan masuk sekolah hari Senin, 21 April2025.
Selamat bersekolah jika sudah masuk, dan selamat merayakan hari libur untuk sekarang. Mangats!!! [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























