22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Esha Tegar Putra by Esha Tegar Putra
October 8, 2018
in Tualang
Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Dua jam menaiki pesawat dari Ataturk Airport (Istanbul, Turki) ke Sarajevo International Airport membuat mata saya kelimpanan. Pukul 19.20 waktu Istambul, kota itu masih terang ketika pesawat lepas landas dan Sarajevo juga masih belum gelap betul ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat, pukul 20.20 waktu Sarajevo.

Waktu Sarajevo mundur satu jam dari Istanbul dan lima jam dari waktu di Padang (WIB). Jauh hari sebelum melaksanakan program residensi penulis Indonesia dari Komite Buku Indonesia (KBN) yang bekerjasama dengan Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, saya sudah memasang aplikasi perbedaan waktu dunia, termasuk prediksi cuaca, dan saya mengetahui matahari baru akan tenggelam penuh pukul 21.00 waktu Sarajevo.

Mata saya terus serasa kelimpanan dan pikiran melayang ketika melangkah keluar dari pintu pesawat, menuju pemeriksaan paspor dan mulai oyong ketika menyeret koper seberat 20 kg. Lelah perjalanan 11 jam dari Kuala Lumpur International Airport dan transit 16 jam di Istambul mulai terasa.

Ketika transit di Istanbul lelah itu tidak terasa. Barangkali karena terlalu menikmati tur gratis keliling Istambul yang disediakan oleh maskapai penerbangan yang saya tumpangi. Kondisi tersebut mungkin efek jet lag, kata mereka yang sering terbang dan melancong ke negeri-negeri jauh. Maklum, perjalanan paling jauh yang saya tempuh baru dari zona Waktu Indonesia barat (WIB) menuju Waktu Indonesia Tengah (WITA).

Saya ditunggu di pintu kedatangan oleh salah seorang petugas Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sarajevo. Di atas mobil berpelat CD (Corps Diplomatique) milik KBRI Sarajevo, saya terus menggosok-gosok mata, berusaha untuk tidak tertidur.

Di sepanjang jalan dari bandara ke tempat penginapan saya di daerah pekuburan Alivakovac membayang film Welcome to Sarajevo (1997) sutradara Michael Winterbotton. Juga instrumen musik GoranBregovic bertajuk Three Letter FromSarajevo yang dibagi dalam pembabakan “Surat Seorang Muslim”, “Surat Seorang Yahudi”, dan “Surat Seorang Kristiani”.

Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Entah kenapa suasana perang merundung setiap mendengar “Sarajevo”. Barangkali karena waktu kecil dari program-program berita televisi saya kerap melihat gambaran perang di Sarajevo. Juga mungkin karena pertanyaan orang-orang ketika saya mengatakan akanresidensi di Sarajevo: “Bukankah di sana terjadi perang?”

Sarajevo dalam Bingkai Pariwisata

Sampai di rumah tempat saya menginap saya disambut tuan rumah yang baik bernama Nadini. Jauh hari sebelumnya kami sudah berkomunikasi, ia sangat sopan dalam menyambut calon tamunya. Ia mengatakan bahwa saya tamu Indonesia-nya yang pertama. Ia menjelaskan sudut kamar hingga cara pemakaian barang-barang di ruangan yang akan saya huni. Nadini pamit pada saya, ia mengatakan tinggal di apartemen lain, karena ia baru punya bayi. Ia berpesan bahwa kalau saya butuh apa-apa bertanya saja pada ibunya.

“Ibuku hanya berbicara dalam bahasa Bosnia, ia tidak bisa bahasa Inggris, tapi percayalah kalian akan bisa berkomunikasi dengan baik. Ia ramah dan sangat baik,” kata Nadini.

Saya percaya itu. Sebelum tertidur, saya mengetuk kaca jendela Fadila karena mendengar suara azan, saat itu pukul 22.30 malam. Saya bertanya azan tersebut untuk salat apa? Fadila menjawab, meski dalam bahasa Bosnia, tapi saya mengerti jawabannya adalah salat Isya. Saya kembali ke kamar dan terdengar ketukaan dari luar pintu kamar. Rupanya Fadila mengantar sajadah untuk saya.

Bosnia-Herzegovina memang menjadi salah satu pilihan destinasi bagi mereka yang ingin berlibur musim panas. Juga tujuan bagi para peziarah muslim dan kristiani. Masjid, katedral, serta sinagog tua berdampingan dalam satu area kota tua (Bascarsija) Sarajevo. Di beberapa kota lain tata ruangnya juga hampir sama.

Di Mostar misalnya, kota yang berjarak kurang-lebih 130 kilometer dari Sarajevo itu saya melihat salib gigantik tertancap di atas sebuah bukit (Bukit Hum). Beberapa tempat di Bosnia dan Herzegovina memang pernah mengalami tahun-tahun buruk. Keragaman etnis dan keyakinan di negeri tersebut pernah bersabung intoleransi.

Begitu juga dengan Kota Mostar saya kira. Kota yang berdekatan dengan wilayah Kroasia tersebut tak luput dari perang saudara. Percik-percik intoleransi pernah saya baca dari sebuah catatan mengenai simbol keagamaan. Salib gigantik sebagai lambang umat Kristiani yang dibangun pada tahun 2000 dan Stari Most yang dibangun pada masa kekuasaan Ottoman 1557 sebagai perlambang Islam pernah memancing perdebatan.

Tapi dalam perjalanan saya, baik itu Sarajevo dan Mostar, sangat ramah bagi pengunjung. Dentang lonceng gereja bersabung suara azan dari masjid sama-sama terdengar bergema. Tidak ada tipuan bagi pelancong pada saat membeli barang–meski pengemis cukup banyak mangkal di beberapa tempat wisata.

Negara ini memang menjadi tujuan utama saya dalam residensi penulis yang diselenggarakan KBN. Sarajevo menjadi pilihan utama untuk tinggal selama sebulan. Perang periode 1992-1995 adalah ingatan yang mengendap dari masa kecil saya. Siaran berita televisi menyiarkan kehancuran Sarajevo dan daerah-daerah lain di Bosnia-Herzegovina. Bahkan hingga hari ini orang-orang masih memandang negara tersebut dalam masa perang. Terbukti ketika saya mengurus perpanjangan paspor dan pandangan kawan-kawan terhadap negara pilihan saya untuk residensi.

Kopi Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Negara tersebut sudah berbenah meskipun jejak-jejak bekas perang masih terlihat.Sektor pariwisata barangkali menjadi andalan utama mereka. Bangunan hancur terbiarkan dan tembok-tembok bekas hunjaman peluru masih terlihat di sana-sini–mungkin ini merupakan simbol untuk mengatak bahwa perang sangatlah buruk.

Bahkan di daerah sekitar Sarajevo masih ada himbauan untuk tidak melakukan perjalanan sendiri. Semisal daerah pegunungan Trebevic, Bjelasnica, Jahorina yang pernah menjadi lokasi Olimpiade Musim Dingin 1984, ketika daerah ini masih dalam kesatuan Yugoslavia. Ada imbauan untuk melakukan perjalanan bersama profesional karena ditenggarai masih banyak tertanam ranjau darat sisa perang.

Dua puluh tiga tahun pasca Perjanjian Dayton (1-2 November 1995) yang mempertemukan Alija Izetbegovic (presiden Bosnia), Slobodon Milosevic (presiden Serbia), FranjoTudman (presiden Kroasia), dengan negosiator Richard Holbrooke dan Jenderal Wesley Clark (Amerika Serikat) telah membuat Sarajevo berbeda dalam gambaran masa perang.

Jalur-jalur tram dibangun kembali, gedung-gedung diperbaiki, serta situs-situs tua peninggalan Ottoman dan Austro-Hungaria direkonstruksi dari sumbangan berbagai negara lain. Turki, selain negara lain, saya kira banyak membantu perbaikan berbagai situs Ottoman yang hancur akibat perang. Terlihat dari bendera Turki terpatri di panel-panel, di spanduk, dan berkibar di depan beberapa bangunan sekitar Bascarsija.

Wisata sejarah digarap sedemikian rupa di Sarajevo. Tidak hanya mengenai perang 1992-1995 tapi juga mengenai Perang Dunia I. Di salah satu museum dekat Jembatan Latin, lokasi tertembaknya pangeran Austria Franz Ferdinand yang menjadi pemicu Perang Dunia I, foto-foto dipampangkan di bagian dinding. Setiap situs-situs bersejarah panel-panel dengan narasi kesejarahan dituliskan dengan baik. Bahkan beberapa ceruk sisa bahan eksplosif mortar saat Pengepuangan Sarajevo diabadikan dan diberi garis batas.

Konon untuk mengenang mereka yang menjadi korban di masa perang saudara. Wisata sejarah barangkali memang menjadi andalan utama Sarajevo selain wisata alam di daerah lain sekitar Bosnia dan Herzegovina. Semua petunjuk lokasi wisata digarap dengan baik, map-map bagi pengunjung, tur keliling kota gratis, bahkan petunjuk dalam aplikasi ponsel. Tinggal memindai kode QR di panel-panel lokasi makan semua informasi akan terpampang di layar ponsel.

Tak salah kota tersebut dimasukkan oleh Lonely Planet dalam 10 kota yang layak dan harus dikunjungi. Sarajevo memang menyajikan lapisan sejarah unik di mana berbagai simpul kebudayaan dan agam terikat dengan baik hingga kota tersebut disimbolkan sebagai “Jerusalem of The Balkan”.

Sarajevo dan Mostar dan beberapa lokasi sejarah lain di sekitar kota tersebut memang menjadi tujuan saya untuk melihat bagaimana Bosnia dan Herzegovina tumbuh dalam keragaman. Masih banyak lokasi lain pasca perang 1992-1995 yang hendak menjadi tujuan saya menulis. Sebrenica adalah salah satu di antaranya. Tempat di mana pembantaian terhadap 8.000 warga muslim daerah sanah pernah dibantai milisi Serbia di bawah pimpinan Jendral Ratko Mladic. (T)

Tags: PariwisataperjalananSarajevosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekspresionisme

Next Post

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Esha Tegar Putra

Esha Tegar Putra

Sastrawan Indonesia dari Minangkabau, pengajar dan penggagas acara-acara sastra

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co