23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Esha Tegar Putra by Esha Tegar Putra
October 8, 2018
in Tualang
Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Dua jam menaiki pesawat dari Ataturk Airport (Istanbul, Turki) ke Sarajevo International Airport membuat mata saya kelimpanan. Pukul 19.20 waktu Istambul, kota itu masih terang ketika pesawat lepas landas dan Sarajevo juga masih belum gelap betul ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat, pukul 20.20 waktu Sarajevo.

Waktu Sarajevo mundur satu jam dari Istanbul dan lima jam dari waktu di Padang (WIB). Jauh hari sebelum melaksanakan program residensi penulis Indonesia dari Komite Buku Indonesia (KBN) yang bekerjasama dengan Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, saya sudah memasang aplikasi perbedaan waktu dunia, termasuk prediksi cuaca, dan saya mengetahui matahari baru akan tenggelam penuh pukul 21.00 waktu Sarajevo.

Mata saya terus serasa kelimpanan dan pikiran melayang ketika melangkah keluar dari pintu pesawat, menuju pemeriksaan paspor dan mulai oyong ketika menyeret koper seberat 20 kg. Lelah perjalanan 11 jam dari Kuala Lumpur International Airport dan transit 16 jam di Istambul mulai terasa.

Ketika transit di Istanbul lelah itu tidak terasa. Barangkali karena terlalu menikmati tur gratis keliling Istambul yang disediakan oleh maskapai penerbangan yang saya tumpangi. Kondisi tersebut mungkin efek jet lag, kata mereka yang sering terbang dan melancong ke negeri-negeri jauh. Maklum, perjalanan paling jauh yang saya tempuh baru dari zona Waktu Indonesia barat (WIB) menuju Waktu Indonesia Tengah (WITA).

Saya ditunggu di pintu kedatangan oleh salah seorang petugas Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sarajevo. Di atas mobil berpelat CD (Corps Diplomatique) milik KBRI Sarajevo, saya terus menggosok-gosok mata, berusaha untuk tidak tertidur.

Di sepanjang jalan dari bandara ke tempat penginapan saya di daerah pekuburan Alivakovac membayang film Welcome to Sarajevo (1997) sutradara Michael Winterbotton. Juga instrumen musik GoranBregovic bertajuk Three Letter FromSarajevo yang dibagi dalam pembabakan “Surat Seorang Muslim”, “Surat Seorang Yahudi”, dan “Surat Seorang Kristiani”.

Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Entah kenapa suasana perang merundung setiap mendengar “Sarajevo”. Barangkali karena waktu kecil dari program-program berita televisi saya kerap melihat gambaran perang di Sarajevo. Juga mungkin karena pertanyaan orang-orang ketika saya mengatakan akanresidensi di Sarajevo: “Bukankah di sana terjadi perang?”

Sarajevo dalam Bingkai Pariwisata

Sampai di rumah tempat saya menginap saya disambut tuan rumah yang baik bernama Nadini. Jauh hari sebelumnya kami sudah berkomunikasi, ia sangat sopan dalam menyambut calon tamunya. Ia mengatakan bahwa saya tamu Indonesia-nya yang pertama. Ia menjelaskan sudut kamar hingga cara pemakaian barang-barang di ruangan yang akan saya huni. Nadini pamit pada saya, ia mengatakan tinggal di apartemen lain, karena ia baru punya bayi. Ia berpesan bahwa kalau saya butuh apa-apa bertanya saja pada ibunya.

“Ibuku hanya berbicara dalam bahasa Bosnia, ia tidak bisa bahasa Inggris, tapi percayalah kalian akan bisa berkomunikasi dengan baik. Ia ramah dan sangat baik,” kata Nadini.

Saya percaya itu. Sebelum tertidur, saya mengetuk kaca jendela Fadila karena mendengar suara azan, saat itu pukul 22.30 malam. Saya bertanya azan tersebut untuk salat apa? Fadila menjawab, meski dalam bahasa Bosnia, tapi saya mengerti jawabannya adalah salat Isya. Saya kembali ke kamar dan terdengar ketukaan dari luar pintu kamar. Rupanya Fadila mengantar sajadah untuk saya.

Bosnia-Herzegovina memang menjadi salah satu pilihan destinasi bagi mereka yang ingin berlibur musim panas. Juga tujuan bagi para peziarah muslim dan kristiani. Masjid, katedral, serta sinagog tua berdampingan dalam satu area kota tua (Bascarsija) Sarajevo. Di beberapa kota lain tata ruangnya juga hampir sama.

Di Mostar misalnya, kota yang berjarak kurang-lebih 130 kilometer dari Sarajevo itu saya melihat salib gigantik tertancap di atas sebuah bukit (Bukit Hum). Beberapa tempat di Bosnia dan Herzegovina memang pernah mengalami tahun-tahun buruk. Keragaman etnis dan keyakinan di negeri tersebut pernah bersabung intoleransi.

Begitu juga dengan Kota Mostar saya kira. Kota yang berdekatan dengan wilayah Kroasia tersebut tak luput dari perang saudara. Percik-percik intoleransi pernah saya baca dari sebuah catatan mengenai simbol keagamaan. Salib gigantik sebagai lambang umat Kristiani yang dibangun pada tahun 2000 dan Stari Most yang dibangun pada masa kekuasaan Ottoman 1557 sebagai perlambang Islam pernah memancing perdebatan.

Tapi dalam perjalanan saya, baik itu Sarajevo dan Mostar, sangat ramah bagi pengunjung. Dentang lonceng gereja bersabung suara azan dari masjid sama-sama terdengar bergema. Tidak ada tipuan bagi pelancong pada saat membeli barang–meski pengemis cukup banyak mangkal di beberapa tempat wisata.

Negara ini memang menjadi tujuan utama saya dalam residensi penulis yang diselenggarakan KBN. Sarajevo menjadi pilihan utama untuk tinggal selama sebulan. Perang periode 1992-1995 adalah ingatan yang mengendap dari masa kecil saya. Siaran berita televisi menyiarkan kehancuran Sarajevo dan daerah-daerah lain di Bosnia-Herzegovina. Bahkan hingga hari ini orang-orang masih memandang negara tersebut dalam masa perang. Terbukti ketika saya mengurus perpanjangan paspor dan pandangan kawan-kawan terhadap negara pilihan saya untuk residensi.

Kopi Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Negara tersebut sudah berbenah meskipun jejak-jejak bekas perang masih terlihat.Sektor pariwisata barangkali menjadi andalan utama mereka. Bangunan hancur terbiarkan dan tembok-tembok bekas hunjaman peluru masih terlihat di sana-sini–mungkin ini merupakan simbol untuk mengatak bahwa perang sangatlah buruk.

Bahkan di daerah sekitar Sarajevo masih ada himbauan untuk tidak melakukan perjalanan sendiri. Semisal daerah pegunungan Trebevic, Bjelasnica, Jahorina yang pernah menjadi lokasi Olimpiade Musim Dingin 1984, ketika daerah ini masih dalam kesatuan Yugoslavia. Ada imbauan untuk melakukan perjalanan bersama profesional karena ditenggarai masih banyak tertanam ranjau darat sisa perang.

Dua puluh tiga tahun pasca Perjanjian Dayton (1-2 November 1995) yang mempertemukan Alija Izetbegovic (presiden Bosnia), Slobodon Milosevic (presiden Serbia), FranjoTudman (presiden Kroasia), dengan negosiator Richard Holbrooke dan Jenderal Wesley Clark (Amerika Serikat) telah membuat Sarajevo berbeda dalam gambaran masa perang.

Jalur-jalur tram dibangun kembali, gedung-gedung diperbaiki, serta situs-situs tua peninggalan Ottoman dan Austro-Hungaria direkonstruksi dari sumbangan berbagai negara lain. Turki, selain negara lain, saya kira banyak membantu perbaikan berbagai situs Ottoman yang hancur akibat perang. Terlihat dari bendera Turki terpatri di panel-panel, di spanduk, dan berkibar di depan beberapa bangunan sekitar Bascarsija.

Wisata sejarah digarap sedemikian rupa di Sarajevo. Tidak hanya mengenai perang 1992-1995 tapi juga mengenai Perang Dunia I. Di salah satu museum dekat Jembatan Latin, lokasi tertembaknya pangeran Austria Franz Ferdinand yang menjadi pemicu Perang Dunia I, foto-foto dipampangkan di bagian dinding. Setiap situs-situs bersejarah panel-panel dengan narasi kesejarahan dituliskan dengan baik. Bahkan beberapa ceruk sisa bahan eksplosif mortar saat Pengepuangan Sarajevo diabadikan dan diberi garis batas.

Konon untuk mengenang mereka yang menjadi korban di masa perang saudara. Wisata sejarah barangkali memang menjadi andalan utama Sarajevo selain wisata alam di daerah lain sekitar Bosnia dan Herzegovina. Semua petunjuk lokasi wisata digarap dengan baik, map-map bagi pengunjung, tur keliling kota gratis, bahkan petunjuk dalam aplikasi ponsel. Tinggal memindai kode QR di panel-panel lokasi makan semua informasi akan terpampang di layar ponsel.

Tak salah kota tersebut dimasukkan oleh Lonely Planet dalam 10 kota yang layak dan harus dikunjungi. Sarajevo memang menyajikan lapisan sejarah unik di mana berbagai simpul kebudayaan dan agam terikat dengan baik hingga kota tersebut disimbolkan sebagai “Jerusalem of The Balkan”.

Sarajevo dan Mostar dan beberapa lokasi sejarah lain di sekitar kota tersebut memang menjadi tujuan saya untuk melihat bagaimana Bosnia dan Herzegovina tumbuh dalam keragaman. Masih banyak lokasi lain pasca perang 1992-1995 yang hendak menjadi tujuan saya menulis. Sebrenica adalah salah satu di antaranya. Tempat di mana pembantaian terhadap 8.000 warga muslim daerah sanah pernah dibantai milisi Serbia di bawah pimpinan Jendral Ratko Mladic. (T)

Tags: PariwisataperjalananSarajevosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekspresionisme

Next Post

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Esha Tegar Putra

Esha Tegar Putra

Sastrawan Indonesia dari Minangkabau, pengajar dan penggagas acara-acara sastra

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co