23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Jaswanto by Jaswanto
October 10, 2018
in Esai
Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Ilustrasi diolah dari Google

JANGAN bosan-bosan untuk membaca catatan PPL saya. Memang beginilah salah satu cara saya untuk mengasah otak agar tetap berpikiran jernih, dengan cara sibuk membaca buku dan menuliskan hal-hal temuan maupun respon atas suatu kejadian.

Selama saya menjadi mahasiswa praktekan, banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan. Kalau dulu selama KKN saya mendapatkan pelajaran terkait dengan pola-pola pendekatan kepada masyarakat, cara menempatkan diri, sampai merasakan bahwa begitu kompleksnya masalah dalam kehidupan bermasyarakat. Saya juga semakin paham bahwa banyak sekali rupa-rupa manusia di dunia ini. Sedangkan selama PPL, saya lebih banyak mendapatkan ilmu juga pengalaman terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan pengajaran, administrasi sekolah, sampai belajar menjadi seorang calon guru yang bisa memanusiakan seorang peserta didik.

Para pembaca yang budiman…

Selama ini, kalau kita mau jujur, atau paling tidak saya sendiri, rasa-rasanya memang sudah sangat lama kita merindukan sebuah sekolah yang benar-benar bisa memanusiakan anak didiknya.

Kok begitu? Tentu saja, selama ini, menurut pandangan saya yang berdasarkan buku berjudul Learning Metamorphosis: Hebat Gurunya, Dahsyat Muridnya, karya H.D. Iryanto, sekolah hadir lebih banyak sebagai lembaga pembelajaran yang hanya mengedepankan aspek kognitif. Padahal, sebagaimana dikatakan Benyamin S. Bloom, setiap anak didik memiliki bukan hanya ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif dan psikomotorik. Penting untuk disadari bahwa dua ranah yang terakhir ini juga perlu dikembangkan. Bahkan sudah banyak buktinya bahwa dua ranah yang terakhir ini justru yang amat menentukan bagi kesuksesan seseorang di dunia kerja (Setidaknya Kurikulum K.13 sudah membahas tentang hal ini, hanya saja, implementasinya sudah apa belum, saya tidak tahu)

Bukti bahwa masih banyak sekolah yang hanya mementingkan aspek kognitif bisa kita lihat bersama. Apresiasi sekolah diberikan hanya kepada murid yang prestasi akademisnya bagus, relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan apresiasi yang diberikan kepada murid yang memiliki prestasi nonakademis. Lebih ironis lagi, masih banyak sekali pandangan dari sebagian pendidik bahwa jurusan tertentu dianggap lebih baik, lebih unggul, lebih favorit dari jurusan yang lain (yang lebih kentara tentu saja perbandingan antara jurusan IPA dan IPS, jurusan IPA dianggap lebih baik daripada jurusan IPS, saya pikir di mana-mana begitu). Akibatnya, perlakuan tidak adil sering dirasakan oleh jurusan yang dianggap favorit tadi.

Begitulah. Bagi saya, sekolah yang hanya mementingkan aspek kognitif saja, sesungguhnya telah mengingkari jati diri sebagai lembaga pengajaran itu sendiri. Seperti kata Ki Hajar Dewantara sendiri, bahwa makna pengajaran dan pendidikan itu berbeda. Pengajaran diartikan sebagai proses mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik. Sedangkan pendidikan dimaknai sebagai proses menuntun para murid agar mereka tumbuh menjadi manusia yang selamat dan bahagia, baik di dunia maupun akhirat.

Dalam dunia pendidikan, guru adalah komponen terpenting. Peran dan fungsi guru, untuk melaksanakan proses pembelajaran yang mampu menghasilkan pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik secara berimbang. Bobbi DePorter, penulis buku Quantum Learning, bersama Mike Hernacky, bahkan memberikan penggambaran tentang peran dan fungsi guru ini dengan sangat indahnya. Sedangkan dalam buku Learning Metamorphosis: Hebat Gurunya, Dahsyat Muridnya, karya H.D. Iryanto, posisi guru dalam kelas pembelajaran tidak ubahnya seperti seorang konduktor dalam sebuah orkestra. Harmoni dan irama yang indah akan lahir dari para pemain, jika sang konduktor piawai dalam memimpin orkestra.

Pendapat lain datang dari seorang mantan Rektor IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia), Prof. Dr. Moh. Fakry Gaffar, guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa—melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Sementara itu, dalam pandangan Dr. Titik Rohanah Hidayati, guru merupakan bagian integral dari sumber daya pendidikan yang sangat menentukan keberhasilan sebuah pendidikan.

Sebagai salah satu subkomponen dalam pendidikan, khususnya komponen pendidikan dan tenaga kependidikan, guru merupakan sebuah kunci dalam meningkatkan mutu pendidikan. Karena itu, posisi guru berada pada titik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan pada perubahan-perubahan kualitatif.

Mengingat betapa pentingnya peran dan fungsi guru, maka kompetensi guru harus terus dikembangkan dari masa ke masa. Tidak cukup hanya pelajaran-pelajaran di kampus, guru juga harus aktif di dunia keorganisasian, kepemimpinan, dan manajemen tentu saja. Lebih-lebih seorang guru mampu melakukan penelitian terkait dengan permasalahan-permasalahan di dunia pendidikan.

Kemampuan mendidik dan mengajar harus terus diasah, agar bisa menyesuaikan dengan zaman. Kreatif dengan model-model dan metode pembelajaran. Bersahabat dengan anak didik, tidak membeda-bedakan. Kepribadiannya harus terus dimatangkan, agar mampu menjadi figur teladan bagi anak didiknya. Kecakapan sosial dan profesionalitasnya juga harus ditingkatkan, baik di masyarakat maupun di lingkungan sekolah.

Para pembaca yang budiman…

Selama saya menjalankan PPL ini, saya melihat hanya ada beberapa guru saja yang mampu menjadi guru yang elegan. Masih banyak sekali guru yang proses pembelajarannya cenderung monoton dan membosankan. Maih banyak sekali guru yang tidak mampu menggali bakat dan potensi murid. Masih banyak sekali guru yang lebih sering marah ketimbang sabar saat menghadapi murid yang dianggap “nakal” dan “bodoh”. Dan masih banyak sekali guru yang model pembelajarannya hanya terfokus pada pengembangan kecakapan akademis semata dan melupakan kecakapan hidup lainnya.

Dengan kondisi semacam itu, maka tak heran jika banyak sekali siswa yang kurang antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Berbagai hambatan proses pembelajaran pun akan sulit untuk diatasi. Kalau pun ada usaha untuk mengatasi, maka yang dilakukan adalah memberikan hukuman, teguran, dll. Seperti tulisan Prof. Jalaludin Rakhmat dalam sebuah buku berjudul Belajar Cerdas: “Jika Anda punya pesawat televisi yang sudah cukup tua, yang gambarnya kadang muncul kadang tidak, apa yang sering Anda lakukan ketika gambarnya tidak muncul?” hampir semua orang akan menjawab: Digebrak! Sayangnya murid bukan mesin tua.

Celakanya, banyak sekali oknum guru yang main gebrak saja terhadap otak muridnya. Kalau murid mengalami kesulitan belajar atau gagal memahami materi yang diajarkan, para guru dengan serta merta mengebrak muridnya—entah dengan kata-kata, tatapan mata, rauh wajah, atau sikap dan perilaku yang bisa melukai hati murid dan bahkan meruntuhkan kepercayaan diri murid—tanpa melihat, jangan-jangan model pembelajaran yang diterapkannya membosankan? Alih-alih memotivasi, yang terjadi justru sebaliknya, kadang-kadang murid akan jatuh mental belajarnya. Tentu saja tidak semua guru bertindak seperti itu.

Menurut saya pribadi, untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, tentu saja dibutuhkan seorang guru yang elegan, profesional, dan tentu saja tidak gila hormat. Saya percaya, seorang guru yang hebat, akan berhasil menjadi insitusi pendidikan yang memberdayaka sekaligus membahagiakan anak ddiknya.

Seperti pendapat Munif Chatib dalam buku Sekolahnya Manusia, ia menuliskan: “ Membangun sekolah, hakikatnya, adalah membangun keunggulan sumberdaya manusia. Sayangnya, banyak sekolah yang sadar atau tidak malah membunuh banyak potensi siswa-siswa didiknya. Sebab setelah diteliti, banyak sekali sekolah di negeri ini yang berpredikat “Sekolah Robot”; mulai dari proses pembelajaran, target keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilainya. Kalau sudah seperti ini, sekolah bukannya mengembangkan potensi anak didik, melainkan justru mengerdilkannya.”

Bagaimana komentar Anda? Bisakah kita menjadi seorang guru yang bisa memanusiakan anak didik kita? Selamat bekerja, Bapak/Ibu Guru. Adillah sejak dalam pikiran. Sebab tugas manusia adalah menjadi manusia, dan tentu saja mampu memanusiakan manusia. (T)

Tags: gurukemanusiaansekolahsiswa
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Next Post

Tak Ada Alat Pendeteksi Gempa, Yang Ada Si “Buoy” Pendekteksi Tsunami

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Tak Ada Alat Pendeteksi Gempa, Yang Ada Si “Buoy” Pendekteksi Tsunami

Tak Ada Alat Pendeteksi Gempa, Yang Ada Si “Buoy” Pendekteksi Tsunami

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co