23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Jaswanto by Jaswanto
October 10, 2018
in Esai
Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Ilustrasi diolah dari Google

JANGAN bosan-bosan untuk membaca catatan PPL saya. Memang beginilah salah satu cara saya untuk mengasah otak agar tetap berpikiran jernih, dengan cara sibuk membaca buku dan menuliskan hal-hal temuan maupun respon atas suatu kejadian.

Selama saya menjadi mahasiswa praktekan, banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan. Kalau dulu selama KKN saya mendapatkan pelajaran terkait dengan pola-pola pendekatan kepada masyarakat, cara menempatkan diri, sampai merasakan bahwa begitu kompleksnya masalah dalam kehidupan bermasyarakat. Saya juga semakin paham bahwa banyak sekali rupa-rupa manusia di dunia ini. Sedangkan selama PPL, saya lebih banyak mendapatkan ilmu juga pengalaman terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan pengajaran, administrasi sekolah, sampai belajar menjadi seorang calon guru yang bisa memanusiakan seorang peserta didik.

Para pembaca yang budiman…

Selama ini, kalau kita mau jujur, atau paling tidak saya sendiri, rasa-rasanya memang sudah sangat lama kita merindukan sebuah sekolah yang benar-benar bisa memanusiakan anak didiknya.

Kok begitu? Tentu saja, selama ini, menurut pandangan saya yang berdasarkan buku berjudul Learning Metamorphosis: Hebat Gurunya, Dahsyat Muridnya, karya H.D. Iryanto, sekolah hadir lebih banyak sebagai lembaga pembelajaran yang hanya mengedepankan aspek kognitif. Padahal, sebagaimana dikatakan Benyamin S. Bloom, setiap anak didik memiliki bukan hanya ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif dan psikomotorik. Penting untuk disadari bahwa dua ranah yang terakhir ini juga perlu dikembangkan. Bahkan sudah banyak buktinya bahwa dua ranah yang terakhir ini justru yang amat menentukan bagi kesuksesan seseorang di dunia kerja (Setidaknya Kurikulum K.13 sudah membahas tentang hal ini, hanya saja, implementasinya sudah apa belum, saya tidak tahu)

Bukti bahwa masih banyak sekolah yang hanya mementingkan aspek kognitif bisa kita lihat bersama. Apresiasi sekolah diberikan hanya kepada murid yang prestasi akademisnya bagus, relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan apresiasi yang diberikan kepada murid yang memiliki prestasi nonakademis. Lebih ironis lagi, masih banyak sekali pandangan dari sebagian pendidik bahwa jurusan tertentu dianggap lebih baik, lebih unggul, lebih favorit dari jurusan yang lain (yang lebih kentara tentu saja perbandingan antara jurusan IPA dan IPS, jurusan IPA dianggap lebih baik daripada jurusan IPS, saya pikir di mana-mana begitu). Akibatnya, perlakuan tidak adil sering dirasakan oleh jurusan yang dianggap favorit tadi.

Begitulah. Bagi saya, sekolah yang hanya mementingkan aspek kognitif saja, sesungguhnya telah mengingkari jati diri sebagai lembaga pengajaran itu sendiri. Seperti kata Ki Hajar Dewantara sendiri, bahwa makna pengajaran dan pendidikan itu berbeda. Pengajaran diartikan sebagai proses mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik. Sedangkan pendidikan dimaknai sebagai proses menuntun para murid agar mereka tumbuh menjadi manusia yang selamat dan bahagia, baik di dunia maupun akhirat.

Dalam dunia pendidikan, guru adalah komponen terpenting. Peran dan fungsi guru, untuk melaksanakan proses pembelajaran yang mampu menghasilkan pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik secara berimbang. Bobbi DePorter, penulis buku Quantum Learning, bersama Mike Hernacky, bahkan memberikan penggambaran tentang peran dan fungsi guru ini dengan sangat indahnya. Sedangkan dalam buku Learning Metamorphosis: Hebat Gurunya, Dahsyat Muridnya, karya H.D. Iryanto, posisi guru dalam kelas pembelajaran tidak ubahnya seperti seorang konduktor dalam sebuah orkestra. Harmoni dan irama yang indah akan lahir dari para pemain, jika sang konduktor piawai dalam memimpin orkestra.

Pendapat lain datang dari seorang mantan Rektor IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia), Prof. Dr. Moh. Fakry Gaffar, guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa—melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Sementara itu, dalam pandangan Dr. Titik Rohanah Hidayati, guru merupakan bagian integral dari sumber daya pendidikan yang sangat menentukan keberhasilan sebuah pendidikan.

Sebagai salah satu subkomponen dalam pendidikan, khususnya komponen pendidikan dan tenaga kependidikan, guru merupakan sebuah kunci dalam meningkatkan mutu pendidikan. Karena itu, posisi guru berada pada titik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan pada perubahan-perubahan kualitatif.

Mengingat betapa pentingnya peran dan fungsi guru, maka kompetensi guru harus terus dikembangkan dari masa ke masa. Tidak cukup hanya pelajaran-pelajaran di kampus, guru juga harus aktif di dunia keorganisasian, kepemimpinan, dan manajemen tentu saja. Lebih-lebih seorang guru mampu melakukan penelitian terkait dengan permasalahan-permasalahan di dunia pendidikan.

Kemampuan mendidik dan mengajar harus terus diasah, agar bisa menyesuaikan dengan zaman. Kreatif dengan model-model dan metode pembelajaran. Bersahabat dengan anak didik, tidak membeda-bedakan. Kepribadiannya harus terus dimatangkan, agar mampu menjadi figur teladan bagi anak didiknya. Kecakapan sosial dan profesionalitasnya juga harus ditingkatkan, baik di masyarakat maupun di lingkungan sekolah.

Para pembaca yang budiman…

Selama saya menjalankan PPL ini, saya melihat hanya ada beberapa guru saja yang mampu menjadi guru yang elegan. Masih banyak sekali guru yang proses pembelajarannya cenderung monoton dan membosankan. Maih banyak sekali guru yang tidak mampu menggali bakat dan potensi murid. Masih banyak sekali guru yang lebih sering marah ketimbang sabar saat menghadapi murid yang dianggap “nakal” dan “bodoh”. Dan masih banyak sekali guru yang model pembelajarannya hanya terfokus pada pengembangan kecakapan akademis semata dan melupakan kecakapan hidup lainnya.

Dengan kondisi semacam itu, maka tak heran jika banyak sekali siswa yang kurang antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Berbagai hambatan proses pembelajaran pun akan sulit untuk diatasi. Kalau pun ada usaha untuk mengatasi, maka yang dilakukan adalah memberikan hukuman, teguran, dll. Seperti tulisan Prof. Jalaludin Rakhmat dalam sebuah buku berjudul Belajar Cerdas: “Jika Anda punya pesawat televisi yang sudah cukup tua, yang gambarnya kadang muncul kadang tidak, apa yang sering Anda lakukan ketika gambarnya tidak muncul?” hampir semua orang akan menjawab: Digebrak! Sayangnya murid bukan mesin tua.

Celakanya, banyak sekali oknum guru yang main gebrak saja terhadap otak muridnya. Kalau murid mengalami kesulitan belajar atau gagal memahami materi yang diajarkan, para guru dengan serta merta mengebrak muridnya—entah dengan kata-kata, tatapan mata, rauh wajah, atau sikap dan perilaku yang bisa melukai hati murid dan bahkan meruntuhkan kepercayaan diri murid—tanpa melihat, jangan-jangan model pembelajaran yang diterapkannya membosankan? Alih-alih memotivasi, yang terjadi justru sebaliknya, kadang-kadang murid akan jatuh mental belajarnya. Tentu saja tidak semua guru bertindak seperti itu.

Menurut saya pribadi, untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, tentu saja dibutuhkan seorang guru yang elegan, profesional, dan tentu saja tidak gila hormat. Saya percaya, seorang guru yang hebat, akan berhasil menjadi insitusi pendidikan yang memberdayaka sekaligus membahagiakan anak ddiknya.

Seperti pendapat Munif Chatib dalam buku Sekolahnya Manusia, ia menuliskan: “ Membangun sekolah, hakikatnya, adalah membangun keunggulan sumberdaya manusia. Sayangnya, banyak sekolah yang sadar atau tidak malah membunuh banyak potensi siswa-siswa didiknya. Sebab setelah diteliti, banyak sekali sekolah di negeri ini yang berpredikat “Sekolah Robot”; mulai dari proses pembelajaran, target keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilainya. Kalau sudah seperti ini, sekolah bukannya mengembangkan potensi anak didik, melainkan justru mengerdilkannya.”

Bagaimana komentar Anda? Bisakah kita menjadi seorang guru yang bisa memanusiakan anak didik kita? Selamat bekerja, Bapak/Ibu Guru. Adillah sejak dalam pikiran. Sebab tugas manusia adalah menjadi manusia, dan tentu saja mampu memanusiakan manusia. (T)

Tags: gurukemanusiaansekolahsiswa
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Next Post

Tak Ada Alat Pendeteksi Gempa, Yang Ada Si “Buoy” Pendekteksi Tsunami

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Tak Ada Alat Pendeteksi Gempa, Yang Ada Si “Buoy” Pendekteksi Tsunami

Tak Ada Alat Pendeteksi Gempa, Yang Ada Si “Buoy” Pendekteksi Tsunami

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co