6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Alat Pendeteksi Gempa, Yang Ada Si “Buoy” Pendekteksi Tsunami

Edo Hary Purnawan by Edo Hary Purnawan
October 12, 2018
in Esai
Tak Ada Alat Pendeteksi Gempa, Yang Ada Si “Buoy” Pendekteksi Tsunami

Sumber foto: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Indonesia

GEMPA tak bisa diprediksi. Ini pengetahuan yang selalu saya pegang, sehingga harus paham betapa pentingnya melakukan mitigasi bencana, juga mengubah kebiasaan jelek manusia dalam meramalkan gempa lewat hal-hal yang tak berdasar.

Memang, manusia kadang hanya bisa  mengkritisi tapi tak mempunyai landasan berpikir yang jelas. Jika tak tahu, harusnya tanya, bukan saling menyalahkan.

Seperti  bencana gempa dan tsunami yang terjadi di sejumlah tempat di Indonesia beberapa bulan terakhir ini, yang memakan ribuan jiwa. Berbagai penjelasan tentang bencana itu adalah sumber-sumber pengetahuan untuk memahami gempa yang mengejutkan dan tak terduga.

Jika hanya mengandalkan alat, memang tidak  ada alat pendeteksi gempa. Yang ada hanya alat pendeteksi tsunami. Namanya  buoy.

Bagaimana cara kerja buoy?

Di dasar laut, terdapat alat pengukur tekanan gelombang laut yang dapat mendeteksi secara cepat dan langsung dilaporkan ke buoy yang berada di atas permukaan laut. Tinggi gelombang yang akan terhempas menuju pesisir secara akurat dapat dilaporkan buoy .

Data aktual itu diterima satelit, alarm peringatan dini sudah bisa diaktifkan. Dengan demikian, buoy dapat mengetahui langsung secara aktual data di lapangan.

Namun buoy kini punya cerita sendiri di tengah wacana tentang gempa dan tsunamai belakangan ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut Indonesia tidak lagi memiliki buoy untuk mendeteksi tsunami sejak 2012.

Mengapa buoy hilang?

Pada awalnya Indonesia memiliki 22 unit buoy, namun semua buoy sudah tidak ada yang beroperasi.

Tidak adanya biaya pemeliharaan dan operasi menyebabkan buoy tidak berfungsi sejak 2012. Tidak hanya rusak namun juga hilang.

BMKG mencatat, pada 2011 lalu, tujuh unit buoy di perairan Banyuwangi rusak oleh nelayan, Sementara di Papua, dari 18 alat sensor gempa dan tsunami termasuk buoy, hanya menyisakan 8 unit yang masih berfungsi.

Kerusakan buoy sudah tentu memengaruhi akurasi dan kecepatan peringatan dini tsunami.

Pada 2006, BPPT memasang delapan unit buoy tsunami di Samudra Hindia atau barat Simeulue di Aceh, kemudian lautan Mentawai, dan barat Bengkulu, di bagian selatan.

Buoy dipasang di perairan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Cilacap, Bali, Laut Flores, Laut Maluku, dan Laut Banda. Buoy yang dipasang terapung pada jarak 800 kilometer dari tepi pantai menjadi korban vandalisme atau pencurian.

Ini yang harus ditekankan. Masyarakat terutama di daerah pesisir, harus mengerti betul kegunanaan buoy.

Saat kami mengundang narasumber untuk talkshow di TV tempat saya bekerja, sempat diceritakan kalau buoy sempat diambil dan cover-nya dijadikan tungku kompor. Miris. Alat yang sangat penting untuk menyelamatkan nyawa ribuan manusia, dan harganya lebih dari  Rp. 200 juta dipakai untuk memasak.

Pendekatan kepada masyarakat dan sosialisasi kepada masyarakat telah dilakukan. Tapi menurut saya, adalah penting untuk kita sendiri, menyadari dan menghilangkan sifat suka mengambil dan  menghilangkan barang semaunya. Mentang-mentang tak dijaga, liat besinya bisa dijual (mungkin) maka diambil.

***

Pasca kejadian gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004 silam, pemerintah saat ini semakin mengembangkan sistem peringatan dini terkait tsunami. Hal tersebut agar masyarakat sudah bisa melakukan antisipasi ketika akan terjadinya tsunami.

Tsunami sendiri merupakan serangkaian gelombang yang diakibatkan oleh tanah longsor atau gempa bumi besar baik yang terjadi dilaut ataupun di darat. Gelombang tsunami dapat terjadi 5 menit hingga 1 jam setelah longsor atau gempa bumi. Masyarakat yang berada di area pantai harus bisa mengenali tanda tanda akan munculnya tsunami, sebab bencana ini biasanya banyak menelan korban jiwa.

Tanda Tanda Munculnya Tsunami

Diawali Gempa Bumi

Bagi masyarakat yang tinggal didekat pantai, ada baiknya tetap waspada ketika terjadi gempa bumi. Tsunami biasanya terjadi karena adanya gempa bumi yang terjadi dibawah atau didekat laut. Bukan hanya gempa di daerah tersebut., namun gempa di berbagai negara lainnya juga bisa memicu terjadinya tsunami di daerah anda.

Perhatikan Suara Gemuruh

Menurut keterangan para korban tsunami. Sebelumnya munculnya gelombang tinggi, biasanya akan diawali dengan suara gemuruh yang sangat keras yang mirip dengan suara kereta barang.

Perhatikan Penurunan Air Laut

Setelah terjadinya gempa, lalu melihat adanya penurunan air laut yang cepat dab bukan merupakan waktu air laut surut. Maka segeralah cari tempat yang lebih tinggi untuk berlindung. Sebelum terjadinya tsunami, air laut akan terlebih dahulu surut lalu akan kembali naik dengan kekuatan yang sangat besar.

Waspadai Gelombang Tsunami

Gelombang tsunami pertama tidak selalu yang paling berbahaya. Sehingga perlu tetap berada di tempat aman hingga situasi benar benar aman. Jangan berasumsi bahwa karena tsunami kecil di satu tempat maka akan kecil juga pada daerah yang lain. Sebab gelombang tsunami akan bervariasi.

Sedari dini sadari semua tanda alam. Janganlah jika terjadi bencana yang memakan korban ribuan orang, selalu menyalahkan pemerintah tapi tidak menyadari, sekaligus berupaya untuk saling menjaga alam. Seperti misalnya, masih suka buang sampah sembarangan, tapi mengkritisi kebijakan pemerintah yang tak bisa mengatasi banjir dan sampah di laut.

Pernah diceritakan oleh Cesar Milan dalam bukunya Cesar’s Way yang ditulis bersama Melissa Jo Peltier (Random House, 2006).

Berdasarkan keterangan para saksi mata yang dikutip Cesar dari sejumlah berita terpercaya, disebutkan bahwa satu jam sebelum tsunami menerjang Aceh dan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara dan Selatan pada 26 Desember 2004, terjadi peristiwa yang tidak biasa di sana.

Gajah-gajah jinak yang biasa ditunggangi untuk wisata, tiba-tiba mulai bersuara seperti meratap dan bahkan berusaha melepas rantai yang mengikat kakinya, diantaranya hingga terputus, dan kemudian lari.

Sebelum tsunami menyapu, di seluruh kawasan terdampak di Asia Tenggara dan Selatan itu dilaporkan bahwa aneka satwa di kebun binatang (zoo) lari ke tempat berlindungnya (shelter) dan tidak mau keluar.

Anjing-anjing di rumah mengonggong dan ratusan satwa liar di Taman Nasional Yala Srilanka –seperti leopard, harimau, gajah, rusa, celeng, kuda nil dan kera— berlarian ke tempat yang lebih tinggi untuk mencari aman.

Sekian. Semoga bermanfaat. 🙂

Tags: bencana alamgempatsunami
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Next Post

Orang-orang Baik pada Duka Bencana – Cerita Kerja Jurnalistik Gempa-Tsunami Palu

Edo Hary Purnawan

Edo Hary Purnawan

Lahir di Pontianak, sempat merantau ke Jakarta, Surabaya, Bali, dan kini terdampar kembali di Jakarta. Menjadi video jurnalis di sebuah stasiun TV nasional sembari giat belajar menulis

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Orang-orang Baik pada Duka Bencana –  Cerita Kerja Jurnalistik Gempa-Tsunami Palu

Orang-orang Baik pada Duka Bencana – Cerita Kerja Jurnalistik Gempa-Tsunami Palu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co