3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang-orang Baik pada Duka Bencana – Cerita Kerja Jurnalistik Gempa-Tsunami Palu

Heyder Affan by Heyder Affan
October 12, 2018
in Tualang
Orang-orang Baik pada Duka Bencana –  Cerita Kerja Jurnalistik Gempa-Tsunami Palu

Liputan di areal bencana gempa-tsunami Kota Palu, Sulteng. (Foto-foto: Heyder Affan)

KEMBALI ke Jakarta setelah lima hari (30 September- 5 Oktober 2018) melakukan kerja jurnalistik di kota Palu, Sulteng, saya merasa seperti mendapatkan semacam berkah.

Berkah (atau pencerahan?) itu memancar melalui orang-orang setempat, tim relawan, TNI-polisi, maskapai penerbangan, warga anonim, atau siapapun yang kehadirannya sangatlah penting, dan tidak tercatat rapi di balik sebuah karya jurnalisrik

Dihadapkan listrik padam, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), dan terbatasnya pasokan sembako di hari-hari awal liputan, kehadiran mereka mampu meringankan beban dari kenyataan pahit itu.

Walaupun berbeda tugas dan bersilangan, tetapi acap beririsan, kami digerakkan niat dan tujuan yang sama, yaitu agar Palu, Donggala dan wilayah lain yang terdampak segera pulih – secepatnya.

Seperti di luar planet yang penuh amarah dan barangkali kebencian, di wilayah bencana itu saya justru bersua orang-orang baik, setidaknya itulah yang saya alami sendiri, meski kesannya remeh-temeh jika dipandang dari saat situasi normal.

Di hari-hari awal, sebutlah, saya dan kameramen, “ditolong” oleh satu keluarga pengungsi saat perut kosong, sementara tidak ada warung atau toko kelontong buka.

Penulis di areal bencana di Palu

Di sela-sela makan nasi, telor dadar dan seiris daging, kami dijamu layaknya kami adalah tamu. Lalu percakapan mengalir, dan kami berjanji pada diri sendiri untuk mengabarkan apa yang saya saksikan dan dengarkan dari perspektif mereka sebagai korban. Kami intinya saling membantu.

Sebelumnya, saat tiba di kota Poso, kami mati-matian mencari genset (yang akan kami bawa ke Palu, karena listrik padam), dan ternyata tidak gampang – di hari Minggu (30/09) semua toko nyaris tutup. Kami mengetok pintu dua atau tiga toko, dan salah-seorang diantaranya membantu sekuat tenaga untuk mencarikannya ke teman-temannya dan akhirnya kami mendapatkan ‘nyawa’ bernama genset.

Orang-orang ini sama-sekali tidak kami kenal. Kami hanya mengenalkan sebagai jurnalis dan hendak melakukan liputan ke Palu. Dan mereka adalah warga Poso yang sebagian keluarganya di Palu ikut terdampak bencana itu. Tapi kami dapat bekerjasama -saling menolong.

Dalam perjalanan menuju ke Palu, yang memakan waktu hingga 10 jam, pemilik kendaraan/sopir yang kami sewa hanya ‘berani’ mengantar saya dan kameramen hingga di satu desa jelang masuk dataran tinggi Kebun Kopi. Kami memaklumi, tapi dia membantu kami untuk meyakinkan pemilik mobil lainnya – yang baru dikenalnya – untuk ‘mengantar’ kami ke Palu.

Pemilik kendaraan yang sama sekali tidak kami kenal kemudian mengiyakan, dan kami sangat terharu. Dua orang yang mobilnya kami tumpangi ini adalah karyawan Pertamina setempat yang berangkat ke Donggala untuk memperbaiki SPBU yang rusak akibat gempa. Rupanya, kami disatukan niat dan tujuan yang sama.

Kami pun berpisah dan berjanji saling kontak, tidak lama setelah mobil kami berhenti di dekat puing-puing Hotel Roa Roa. Dalam kegelapan kota Palu pada Senin dini hari, mobil mereka lantas menghilang ditelan malam, sementara kami mulai disibukkan wawancara dan pengambilan gambar.

Lalu kami istirahat di mana? Tidak jauh dari reruntuhan hotel itu, ada komplek gereja dan sekolah GKI. Kami memutuskan merebahkan badan di atas bangku, bersama pengungsi lainnya, setelah salah seorang pengurus gereja mengijinkan. “Silakan masuk…”

Malam itu kami tidur ayam dan sesekali dikejutkan gempa susulan yang disertai “dung” dari bawah tanah yang kami tiduri. Hiburan kami satu-satunya malam itu adalah langit nan terang kota Palu yang dihiasi gemerlap gugusan bintang – hal yang mustahil bisa saya dapatkan di langit Jakarta yang sesak dengan asap kendaraan.

“Ayo silakan sarapan dan minum kopi,” suara renyah ini mengambang dari salah-seorang pimpinan gereja, sekaligus sapaan untuk tamu yang baru tiba, keesokan harinya. “Tolong beritahu, jika ada yang bisa kami bantu…” Kami lagi-lagi terharu mendengarnya.

Di komplek gereja itu, saya juga bertemu sesama jurnalis yang juga mendirikan tenda di halaman sampingnya. Selama liputan hari itu, kami menitipkan dua tas berat yang kami bawa dari Jakarta.

Memandang dan meliput areal bencana di Palu

Sampai hari ketiga, Senin (01/10), listrik masih padam, BBM langkah, dan sembako sulit didapat. Saya juga sudah mendengar mulai ada penjarahan bahan makanan pokok. Beberapa warga Palu yang saya wawancarai mengaku “terpaksa” melakukannya karena “tidak ada beras untuk dimasak”, tapi tak sedikit yang menolaknya. Mereka inilah yang saya temui dalam antrian panjang di markas Korem Tadulako di siang hari yang terik.

Pamit dan berterima kasih dengan pengelola gereja, rombongan kami (semula 4 orang) memutuskan menginap di halaman sebuah hotel – yang masih berdiri kokoh. Tuan rumah mempersilakan kami “meminjam” arealnya untuk bekerja dan istirahat, tetapi melarang kami menyewa ruangan kamarnya. “Demi keamanan, sebab masih ada gempa susulan,” kata pemilik hotel. Setelah kami tiba, beberapa rombongan jurnalis asing juga bergabung di areal hotel itu – mirip pengungsi, pikirku.

Pada dua hari pertama, dalam kondisi darurat dan serba terbatas, pemilik hotel masih berusaha menyediakan makanan: nasi dan lauk pauk ala kadarnya – kenikmatam tiada tara pada saat pasokan sembako di kota itu masih lumpuh. Tuan rumah, di sisi lain, meminta bantuan kami jika ada informasi pembagian sembako.

Hidup harus berjalan terus, dan kami terus disibukkan liputan, dan bertemu banyak orang yang memilih terlibat untuk menolong warga Palu.

Ada sosok Talib, pria yang rela melakukan aktivitas beresiko dengan masuk ke dalam reruntuhan hotel Roa Roa, untuk memberi semangat korban yang masih hidup. “Saya hanya membawa obeng kecil,” katanya bersemangat. Kehadiran Talib dibutuhkan ketika alat-alat berat belum tiba di lokasi.

Hadir pula orang-orang yang melibatkan diri di jalan sunyi – jauh dari publikasi. Di Rumah Sakit Undata, yang ditinggalkan hampir separoh tim medisnya, sebutlah, saya mendapati puluhan orang relawan tim medis yang berjibaku dalam kondisi serba darurat.

“Siapa lagi yang bisa menolong mereka, kalau bukan kita,” kata Helmi, mahasiswa Kedokteran Universitas Tadulako, Palu, Helmi, yang berusia 22 tahun. Di dekat ruangan gawat darurat, saya bertemu pula seorang perawat rumah sakit yang memilih menolong orang lain ketimbang memilih menyelamatkan diri. “Sudah menjadi kewajiban saya,” Nada suaranya datar, dan dia kemudian meminta ijin untuk melanjutkan kewajibannya sebagai perawat.

Di dekat perumahan yang ambles ditelan bumi, pemandangan haru terlihat ketika relawan, TNI, tim SAR saling bekerjasama mencari korban meninggal di bawah reruntuhan, dicatat dan disalatkan. Saya berpikir: jati diri mereka tak akan tercatat dalam lembaran sejarah panjang petaka di Indonesia, tapi saya yakin keluhuran mereka membuat jiwa mereka makin kaya.

Memasuki hari keempat, saya beruntung menemukan warung makanan di sudut kota itu. Tetapi jangan harap menemukan makanan lezat seperti yang tertera di menu. “Yang ada mie dan nasi…” Saya tentu saja tidak menolaknya. Si pemilik warung mengaku tetap membuka warung dua hari setelah bencana karena “hidup harus berjalan terus”, meski sebagian keluarga besarnya menjadi korban tenggelamnya sebuah perumahan di pinggiran kota Palu.

Bicara soal kelangkaan makanan, saya dan dua rekan kerja seperti menemukan “surga dunia” usai meliput kampung tenggelam di dekat bandara. Salah-seorang keluarga korban yang kami interviu menyediakan lima atau enam buah mangga muda (pencit) dan bumbu rujak. Kami pun melahapnya dan larut dalam kebahagiaan berbalut keramahtamaan tuan rumah – yang juga pengungsi.

Salah-seorang keluarga korban yang kami interviu menyediakan lima atau enam buah mangga muda (pencit) dan bumbu rujak.

Dan, pada suatu malam yang gelap, usai mengirim berita di Kantor Telkom (yang wifinya kencang – berbeda di lokasi tempat kami tinggal), saya harus balik ke “hotel” yang jaraknya lumayan jauh. Saya tak tega menganggu sopir kendaraan yang kami sewa. Lalu kenapa tidak menumpang warga yang siapa tahu menuju arah yang sama?

Dua atau tiga motor lewat, namun ada satu motor mematikan mesinnya dan langsung bersedia saya tumpangi. “Pak Iwan” begitu dia memperkenalkan. Belakangan saya ketahui dia berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, dan merantau ke Palu sekitar 30 tahun silam. Di motornya, dia membawa jirigen untuk digunakan mengantri membeli BBM. “Malam hari, biasanya saya antri…”

Selama bencana, pria berumur 55 tahun ini terpaksa menganggur. Saya tidak pernah menanyakan profesinya, kecuali dia mengisahkan awal mula dia menekuni pekerjaannya di bidang optik.

Keesokan harinya saya memutuskan untuk “menyewanya” keliling Palu – menengok kawasan Pecinan yang senyap, mendatangi lokasi pengungsian di depan kantor wali kota, mewawancarai orang tua yang “kehilangan” anaknya yang berusia enam tahun, mendatangi lagi perumahan yang ambles, hingga kantor telkom serta… kembali ke “hotel”.

Sosok pak Iwan, Talib, pemilik warung, pimpinan gereja, mahasiswa calon dokter, perawat yang kurang tidur, imam yang memimpin salat jenazah, pengelola sebuah hotel, hingga anggota TNI dan polisi, serta sosok-sosok anonim yang tak tercatat sejarah, adalah berkah buat saya…

Agak klise memang, tapi haruslah saya katakan, saya ada justru lewat kehadiran orang lain. Melalui jendela jurnalistik, kehadiran itu muncul dan menyelinap ke pori-pori, memperkaya jiwa. Merekalah yang membentuk saya, semacam berkah, meski kadang luput, karena bukankah hasrat (tubuh) tak seratus persen selalu berada dalam ruang kesadaran yang utuh (?). (T)

Tags: gempajurnalismeKota PaluperjalananSulawesi Tengahtsunami
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Alat Pendeteksi Gempa, Yang Ada Si “Buoy” Pendekteksi Tsunami

Next Post

Kimchi: Foto, Keabadian dan Ketiadaan – Catatan dari Minikino Film Week 2018

Heyder Affan

Heyder Affan

Penyuka jalan-jalan, penikmat sastra, dan gila bola. Tulisannya bisa dilihat secara lengkap di heyderaffan.blogspot.com

Related Posts

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails
Next Post
Kimchi: Foto, Keabadian dan Ketiadaan – Catatan dari Minikino Film Week 2018

Kimchi: Foto, Keabadian dan Ketiadaan – Catatan dari Minikino Film Week 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co