PERKEMBANGAN bahasa Bali saat ini sangat dinamis. Hal itu diakibatkan adanya kontak dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kontak bahasa dengan bahasa lain akan membawa perubahan pada tataran fonologi, morfologi, dan sikntaksis. Di antara ketiga tataran tersebut, tataran morfologis yang paling mudah berubah. Kosakata merupakan aspek bahasa yang paling mudah berubah karena perkembangan kosakata suatu bahasa dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, sosial, dan budaya, serta interaksi antar bahasa. Aitchison (1981) menyatakan bahwa perubahan dalam kosakata biasanya lebih cepat daripada perubahan dalam tata bahasa.
Perubahan juga terjadi pada bentuk sapaan tradisional seperti mbok. Dalam tataran norma lama, sapaan mbok digunakan untuk menyapa atau merujuk kepada saudara perempuan yang lebih tua, baik secara biologis maupun sosial. Namun, saat ini makna sapaan tersebut mengalami perluasan sekaligus pergeseran. Kata mbok kini sering digunakan oleh generasi muda untuk menyapa perempuan yang belum tentu memiliki hubungan kekerabatan, bahkan sering kali digunakan kepada perempuan muda yang tidak dikenal secara personal.
Dalam konteks ini, usia penyapa bisa lebih tua atau lebih muda dari yang disapa, dan hubungan antara keduanya bersifat nonformal. Penggunaan ini mencerminkan adanya fleksibilitas baru dalam praktik kebahasaan yang lebih cair, yang tidak terlalu terikat pada norma-norma tradisional bentuk sapaan bahasa Bali.
Perubahan makna ini menunjukkan adanya dinamika bahasa yang dipengaruhi oleh perubahan sosial, nilai budaya, dan gaya hidup generasi muda. Hal ini menjadi indikasi bahwa bentuk-bentuk sapaan tidak lagi bersifat tetap dan kaku, tetapi terus mengalami adaptasi sesuai dengan kebutuhan komunikasi antarpenutur. Penambahan dan pergeseran makna dalam bentuk sapaan ini menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut, karena tidak hanya mencerminkan perubahan bahasa, tetapi juga perubahan cara pandang dan relasi sosial dalam masyarakat.
Bentuk sapaan mbok dan bli memang awal mulanya digunakan dalam kekerabatan. Saat ini bentuk sapaan tersebut dilabeli sebagai penanda orang Bali. Masyarakat di luar Bali, menggunakan bentuk sapaan mbok dan bli untuk membangun relasi sosial dengan orang Bali yang baru dikenal. Jika orangnya tampak masih muda, untuk membangun relasi orang luar Bali menyapa dengan bentuk sapaan mbok untuk perempuan dan bli untuk laki-laki. Penggunaan bentuk sapaan tersebut membuat penyapa dan pesapa merasa nyaman dan tidak canggung dalam berkomunikasi. Penggunaan bentuk sapaan mbok dan bli juga digunakan antara orang Bali yang tidak saling kenal. Cermati pada dialog pendek yang terjadi di mini market.
Data 1
Pembeli : Mbok ada green sand?
(Kak, ada green sand?)
Pramuniaga : O, wenten . Di leret kedua, Bli.
(O, ada. di leret kedua, Kak.)
Pembeli : Ok, Suksma, Mbok
(Ok, terima kasih, Kak.)
Pada percakapan pada di atas, antara penyapa (pembeli) dan pesapa (pramuniaga) mempunyai umur yang berbeda. Umur penyapa lebih tua daripada pesapa. Pramuniaga memilih menggunakan bentuk sapaan bli dan pembeli (penyapa) memakai bentuk sapaan mbok. Hal ini menguatkan bahwa bentuk sapaan mbok penggunaannya sudah mengalami perluasan makna. Kata mbok tidak saja digunakan untuk merujuk pada pesapa yang mempunyai umur yang lebih tua tetapi juga digunakan untuk pesapa yang umurnya lebih muda. Penggunaan bentuk sapaan mbok digunakan oleh pesapa untuk mengurangi jarak dan menciptakan keakraban antara intelrokutor
Data 2
Pembeli : Bli, menune ada, Bli?
(Kak, menunya ada, Kak?)
Pramu saji : Ada Bli. Antos jebos Bli nggih.
(Ada Bli. Tunggu sebentar, Kak.)
Pada data 2, antara penyapa (pembeli) dengan yang disapa (pramu saji) memiliki umur yang berbeda. Selisih umur nya antara empat sampai lima tahun. Pembeli umurnya lebih tua daripada pembeli. Uniknya antara pembeli dan pramusaji sama-sama menggunakan bentuk sapaan bli. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran makna pada bentuk sapaan bli.Bentuk sapaan bli tidak saja digunakan oleh penyapa untuk menyapa pesapa yang lebih tua tetapi juga digunakan untuk penyapa yang lebih muda.
Makna bentuk sapaan bli telah mengalami perluasan makna. Penggunaan bentuk sapaan bli pada data 2, untuk menciptakan suasana keakraban antara penyapa dan pesapa. Akinlende (2008) menyatakan bahwa bentuk sapaan berfungsi sebagai indikator status sosial lawan bicara serta jarak sosial mereka, menunjukkan emosi kepada pihak lain, dan sebagai sarana untuk menjaga muka. Dalam hal ini, antara penyapa dan pesapa mengurangi jarak sosial untuk membangun keakraban. [T]
Penulis: Ketut Suar Adnyana
Editor: Jaswanto



























