6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memoar “Hantu Padang” Esha Tegar Putra di Kafe Halaman  Belakang, Singaraja — Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
July 15, 2025
in Panggung
Memoar “Hantu Padang” Esha Tegar Putra di Kafe Halaman  Belakang, Singaraja — Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima

Lia Marisa Tambunan saat baca puisi Hantu Padang karya Esha Tegar Putra | Foto: tatkala.co/Son

LIA Marisa Tambunan bersama temannya Naomy Dwi menyandarkan motornya di parkiran Kafe Halaman Belakang by Rumah Momo di kawasan LC VIII, Baktiseraga, Singaraja, Rabu malam, 9 Juli 2025.

Lia dan Naomy tampak bergegas masuk kafe. Mereka sepertinya tak sabar untuk membaca puisi pada acara Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima yang malam itu memang diselenggarakan di Kafe Halaman Belakang.

Mereka memang peserta yang selalu aktif membaca puisi pada setiap acara Rabu Puisi. Mereka datang dengan peserta lain secara bersama-sama. Di dalam kafe, Lia, Naomy dan teman-temannya duduk. Suasana di kafe malam itu tampak cukup ramai, namun tidak terasa gaduh. Suasananya tenang.

Halaman Belakang memang sebuah kafe yang dirancang sebagai tempat yang tenang untuk membaca dan berdiskusi. Di dalam, di sebuah ruangan yang tertutup, ada rak buku yang bisa dibaca oleh pengunjung. Makanya, Halaman Belakang biasa juga disebut sebagai book cafe.

Lia Marisa Tambunan, sebelum acara Rabu Puisi dimulai, melihat-lihat buku yang berjejer apik di rak buku itu, lalu duduk lesehan di tempat acara.

Isinya ada komik, ada buku novel, kumpulan motivasi, macam-macam ada buku di rak. Di satu dinding, ada tertulis puisi Hujan Bulan Juni karya Penyair Sapardi Djoko Damono menandakan kafe itu memiliki spirit kepada orang untuk membaca di waktu bersantai.

Rabu Puisi Komunitas Mahima di Kafe Halaman Belakang by Rumah Momo, Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Dan Lia Marisa Tambunan, atau biasa dipanggil Lia, adalah seorang mahasiswa dari Undiksha asal Medan. Ketika datang di kafe itu, ia langsung memilih beberapa buku. Dua buku yang menarik baginya adalah Sunshine Becomes You dan Spring in London karya Ilana Tan. Buku itu sudah diincar sejak lama, tapi sulit didapatkannya. Di Halaman Belakang itulah ia bertemu buku itu.

“Bagus banget sihh menurutku, Kak, tempatnya, apalagi ada buku-buku yang aku cari ada,” kata Lia.

Lia Marisa Tambunan merasa lega setelah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Acara Rabu Puisi siap dimulai. Lia duduk bersantai sambil minum teh dan makan roti bakar yang diberikan secara gratis untuk mensuport kegiatan baca puisi malam itu.

Suasana santai dan berkelas, menurut Lia, tempat itu bisa mengalihkan sebentar kesibukan duniawi yang sudah terlalu bergantung dengan gadget.

“Nah, di sini, dengan adanya buku-buku itu, kita bisa baca yanggmana itu bisa bangkitin imajinasi dan inspirasi kita,” kata Lia.

Hantu Padang di Rabu Puisi

Acara Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima di Halaman Belakang para peserta membaca sekaligus membahas lebih dekat puisi-puisi yang ada dalam buku Hantu Padang karya Esha Tegar Putra.

Cindy Agatha Immanuella | Foto: tatkala.co/Son

Hantu Padang (2024, JBS) merupakan buku kumpulan puisi Esha Tegar Putra merupakan pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Lia Marisa Tambunan menjadi salah satu pembaca yang bagus pada malam itu. Dengan wajah agak melow, ia maju, mengambil bagian untuk baca puisi setelah disebut namanya oleh Rusdi yang jadi MC malam itu. Lia datang dengan puisi Hantu Padang karya Esha—nomor 25.

“Aku tenggelamkan
sepasang cincing belah rotan
ke muara hitam
ketika bulan mengambang
dari balik pucuk angsana tua
dan embus-siul tujuh mambang hitam
terdengar
jauh
sampai
ke langit-langit rumah lama
dengan bau getah medang keladi
masih lekat-terperam.
Dan kini, aku kenang kau kembali
ketika malam semakin naik dan punggungmu
menjauh
kemudian menghilang
ke balik gudang
di mana suara tape
memainkan gamad
Mati Dibunuh…”

“Aku tertarik pada bagian puisi; Dan kini, aku kenang kau kembali ketika malam semakin naik dan punggungmu menjauh. Dari kalimat itu aku merasa seolah itu menyatakan kerinduanku terhadap keluargaku, aku udah dua tahun tidak pulang sejak tahun 2023 di sini, di Bali,” kata Lia.

Ketika membaca puisi itu, kata Lia, ia merasakan sedang mengutarakan perasaan yang selama ini dialaminya, tapi dengan lebih bermakna, dalam, lepas—plong.

Puja Savitri | Foto: tatkala.co/Son

Sementara itu, Cindy Agatha Immanuella, mahasiswa Undiksha asal Jakarta, yang juga menjadi peserta Rabu Puisi malam itu, memilih puisi Hantu Padang kaya Esha Tegar Putra—no. 31 karena ia memahaminya dalam konteks literal.

“Saya pikir itu puisi terdengar seperti doa dari orangtua ke anak mereka yang masih kecil, dan itu buat saya teringat dengan masa kecil saya,” kata Cindy.

“Takut hantu, takut hantu, loteng
Dan dinding rengkah begitu,” katamu.
Ambil sehelai bajuku, Anak
Pakailah ke bantal
Hidu
Maka kau akan tahu
Mulai dari serat daging sampai denging tulang ini
Adalah kehendak tiada terperi…

Apa yang ia ingat dan bayangkan ketika membaca puisi itu? Cindy ternyata teringat dengan wajah ibu dan ayahnya. Sebab, sewaktu kecil, kata Cindy, ia selalu mengadukan hal-hal yang menakutkan dalam hidupnya itu ke ayah-ibunya.

Dan ketika ia merasa takut dan datang pada ayah-ibunya, mereka, kata Cindy, selalu melafalkan sesuatu semacam doa, ya, agar ia tak takut lagi. Agar ia merasa tegar lagi. Itu lafal mantra-doa penolak bala barangkali.

Perhat Alfaz | Foto: tatkala.co/Son

Esha dan tentang kota melalui puisi-puisinya pada Hantu Padang itu, yang mengeksplorasi memori, perantauan dan identitas sebuah kota, juga tak hanya dirasakan oleh Lia dan Cindy, tetapi Perhat Alfaz, salah satu peserta Rabu Puisi sama kuatnya merasakan itu.

Perhat Alfaz berdiri setelah disebut MC untuk segera maju ke depan. Dari tempatnya duduk dekat salah satu rak buku, ia lantas dengan tersenyum agak malu-malu berdiri-melangkah, dan merunduk memberi hormat kepada yang lain. Lantas Perhat Alfaz penuh mantap ketika menatap teks puisi pada layar hapenya.

Ketika itu, Perhat Alfaz membacakan puisi Esha Tegar Putra berjudul Hantu Padang (32), yang didapatnya dari (versi) laman Bacapetra.co.

Aku jalan kembali ke Terandam
depan bangunan runtuh bekas pembantaian sapi
semak belukar
beringinin besar
angin berputar-putar.
Aku jadi ingat kamu
pada sebuah malam di mana bulan bulat
seakan menggantung dari arah langit Belantung
dan kita cerita tentang hantu-hantu Padang…

“Aku suka cara Esha menggambarkan kenangan sebuah kota dalam diksi yang sederhana. Jadi saat membaca puisinya bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Esha tentang kenangan masa lampau kotanya. Kemudian ia kembali lagi ke sana dengan kondisi kotanya yang sudah berbeda,” kata Perhat Alfaz.

Ketika itu, Perhat dengan janggut tanggung di dagunya, membacakan puisi itu tak tanggung-tanggung, dengan wajah berkarakter seorang perindu—penuh ekspresif, puisi itu dibawakan Perhat, juga ia merasakan betul, bagaimana kenangan-kenangan pada kota itu diseret Esha sangat dahsyat.

Pembaca puisi yang meramaikan acara Rabu Puisi di Kafe Halaman Belakang Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Nyawa puisi itu masuk ke dalam jiwa Perhat seketika, sehingga, kata Perhat, ia ikut juga dalam membayangkan kembali tentang Kota Tasikmalaya, ya, tempat kampung halamannnya; sekarang bagaimana, seperti apa. Ia membayangkan tempat asalnya saat membaca puisi.

Sedang, Chatrine Florentina Ndrotndrot, mahasiswa Undiksha asal Papua yang telah menyabet tiga kali nominasi pembaca puisi terbaik di Rabu Puisi, mengatakan puisi karya Esha Tegar Putra menarik baginya ketika dibaca secara langsung.

Sama seperti Lia, Cindy dan Perhat, sesuai dengan apa yang juga Chatrine pahami, puisi yang ia bawakan—nomor 23 malam itu, bahwa puisi memiliki kekuatan secara emosional dan sosial.

Bagaimana dadamu setelah mendengar syara sirine
lalu timpa-bertimpa
hari berat, Ubay

Hari berat dengan jarum jam terus berderik lamban
kota mulai memendam gairah, jalan-jalan dipalang, rumah-
rumah mendingin
pagi dengan berita seribu kuburan digali sebelum seribu maut
menghampiri
dan malam adalah mimpi buruk, gerungan pada perut, taku pada
hari depan

Aku melihat diriku di antara mereka, Ubai
—orang-orang kehilangan gairah
berharap hari baik lekas tiba
selekas doa terbaik dilambungkan ke udara—
aku tersadai membayangkan hari depan
mungkin melulunasib yang tergadai.

Bahasa puitis tapi lugas, begitu menurut Chatrine. Puisi Esha menghadirkan imaji yang kuat, seperti suara sirine ambulan, seribu kuburan, dan rumah-rumah yang dingin. Semua itu mampu membangkitkan rasa dan bayangan nyata dalam benak si pembaca, sehingga, kata Chatrine, ia ikut terbawa ke suasana puisi itu.

Karena menurut Chatrine, puisi nomor 23 dalam Hantu Padang karya Esha Tegar Putra itu, lebih dari sekadar menggambarkan peristiwa luar, tapi juga menyelami ke dalam psikologi manusia layaknya batin yang terluka, keresahan akan masa depan, dan rasa kehilangan arah.

“Semua itu membuat pembaca seperti saya atau siapapun yang membacanya dengan sungguh-sungguh, akan mampu merasakan ketakutan dan keputusasaan yang disampaikan si penulis, Esha Tegar Putra ini,” kata Chatrine.

Kadek Sonia Piscayanti berrsama lima nomine pembaca terbaik pada Rabu Puisi di Kafe Halaman Belakang | Foto: tatkala.co/Son

Foto bersama usai acara | Foto: tatkala.co/Son

Sejujurnya, lanjut Chatrine, saat pertama kali membaca puisi itu, sempat merasa takut, bukan karena isinya menakutkan, tapi karena maknanya begitu dalam dan dekat dengan realita yang pernah atau sedang dialaminya di kampung halaman)

“Jadi, siapapun yang benar-benar memahami isi dari puisi ini pasti akan merasa terhubung, karena apa yang dituliskan oleh Esha Tegar Putra ini sangat mungkin pernah menjadi bagian dari hidup kita juga,” tegas Chatrine.

Memoar Sunyi—Hantu Padang

Ketika dihadapkan dengan pertanyaan; apa lagi yang Anda cari dari Padang? Esha Tegar seakan dengan perasaan berat untuk menjawab secara gamblang, sebagaimana Kota Padang adalah kota puitik baginya, maka, satu adagium ia lemparkan untuk menjawabnya; “biarlah puisi yang menyampaikan”.

Satu pertanyaan dan satu kutipan itu, saya sadur dari laman medium.com (semacam) blog pribadi Esha Tegar Putra—dalam judul “Hantu Padang: Puisi dan Gairah pada Sebuah Kota”.

Artikel itu merupakan catatannya sewaktu di Mataram pada Oktober 2017 silam dalam perbincangan OCTOfest.

Pada artikel atau catatan itulah Esha membeberkan bagaimana Kota Padang memiliki hubungan batin yang kuat dengan dirinya, terutama tentang masa kecilnya, pengalaman hidup, dan banyak hal lainnya. Seperti yang ia catatkan pada blog tersebut :

“Padang menjadi tempat ‘kelahiran baru’ bagi saya setelah perpindahan saya dari kampung di pinggiran danau Singkarak ke ibukota provinsi Sumatera Barat tersebut. Tidak ada yang saya bawa ke Padang saat mulai berkuliah di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, tahun 2005, selain kekosongan. Saya anak kampung gagap teknologi (bahkan untuk menggunakan komputer), minim pengetahuan sastra, kondisi ekonomi sedang morat-marit dan hidup menumpang hingga dua tahun saya di Padang, dan sederet persoalan-persoalan lain yang saya bawa. Satu hal yang membuat saya dekat dengan Padang saat itu adalah kenangan masa kecil saya ketika mengunjungi kota tersebut bersama keluarga. Kenangan-kenangan ini kemudian hari saya rawat terus-menerus dan menumbuhkan kecintaan saya pada kota Padang dan berlanjut pada keasyikan menulis segala sesuatu tentang kota itu.”

Esha Tegar Putra lahir pada 29 April 1985 di Saniangbaka, Solok, Sumatera Barat. Dan beberapa karyanya yang sudah terbit ialah; Pinangan Orang Ladang (2009), Dalam Lipatan Kain (2015), Sarinah (2016), Setelah Gelanggang Itu (2020), dan yang terakhir Hantu Padang (2024).

Selain sebagai penyair, Esha juga adalah seorang pengarsip. Sehingga kekuatan puisinya dalam menjelaskan lekuk tubuh Kota Padang dalam ingatannya itu pada karyanya yang terakhir, begitu kuat dilukiskan oleh Esha dengan pilihan kata yang kuat, yang hidup.

Di dalam buku kumpulan puisi Hantu Padang (2024, JBS), menurut Penyair Kadek Sonia Piscayanti, sekaligus juga berkawan baik dengan Esha Tegar Putra, ia membaca Hantu Padang yang memuat 42 Puisi (2015-2023) itu, merupakan cerminan kesunyian Esha Tegar dalam perjalanan pergi-jauh dalam merantau, dan kemudian membawa Padang pada dirinya, pada puisi-puisinya.

“Ke mana-mana itu dia pergi merantau. Jadi, kan, kalau orang Padang tuh katanya kalau keluar merantau, itu, kan, diharapkan pulang lagi dalam konteks kesuksesan yang dirayakan. Tapi dia ketika merantau itu selalu merindukan kembali ke Padang, meskipun dia sendiri belum selesai,” kata Kadek Sonia Piscayanti, penggagas acara Rabu Puisi sekaligus pendiri Singaraja Literary Festival.

Dua Crew Book Cafe Halaman Belakang sedang berpose di tempat kerja | Foto: tatkala.co/Son

Sonia juga menjelaskan pada masa proses pencarian seorang Esha Tegar Putra, baik soal pengetahuan, jati diri, atau mencari apa yang diinginkannya dalam hidup, Kota Padang—sebagai kota sosiologosnya dalam puisi itu, tampak sekali menjadi satu hantu bagi Esha, yang membuat puisi-puisinya bernas, dan sarat makna.

“Jadi hantu Padang itu adalah dirinya sendiri yang terus menghantui dirinya sendiri,” lanjut Sonia.

Menurut Kadek Sonia Piscayanti, puisi Esha Tegar Putra memang menyeret pembacanya pada ranah kontemplasi, refleksi, kemudian kesadaran tentang diri, juga harapan, juga kecemasan.

“Semua (pengalaman hidup si penyair) ada di situ, tapi memang dirangkum, dirangkum dalam bentuk yang sangat reflektif tadi,” kata Sonia Piscayanti.

Setelah membaca puisi dan sekilas mendiskusikannya, terdapat lima orang peserta yang mendapatkan nominasi pembaca puisi terbaik. Mereka adalah Perhat Alfaz, Putu Indah Apriliani, Chatrine Florentine Ndrotndrot, Komang Puja Savitri, dan Kadek Wisnu Oktaditya.

Kemudian, selepas acara Rabu Puisi itu, dan merasakan kenyamanan di Book Cafe Halaman Belakang dengan penuh buku suasana kalem sawah-pepohonan, Lia dan temannya tadi, merencanakan akan datang lagi ke sana untuk melanjutkan baca novel karya-karya Ilana Tan.

Selamat berencana untuk datang, semoga tidak sekadar wacana. Hehe. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Monolog Ayu Laksmi “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diriku Sendiri” di Rabu Puisi #10 Komunitas Mahima
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima
Autopsi Rindu di Kedai Umah Pradja Singaraja — Catatan Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima
Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk
Tags: Komunitas MahimaPuisiRabu PuisiSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI

Next Post

“Jayadrata Antaka” dari Dalang Remaja Bangli di Pesta Kesenian Bali 2025

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28...

Read moreDetails

Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

by Nyoman Budarsana
February 26, 2026
0
Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

LAMPU panggung menyala. Seorang penari perempuan masuk panggung. Ia membaca puisi bahasa Bali. Suaranya menggema dari panggung ke seluruh ruangan....

Read moreDetails

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

MESKI tetap menampilkan suasana magis ala Bali, Drama "Basur" yang dipentaskan Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta) sesungguhnya lebih...

Read moreDetails

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali...

Read moreDetails

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 21, 2026
0
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

SELASA pagi, 10 Februari 2026, ruang rapat Gedung A lantai 2 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) mendadak berubah fungsi....

Read moreDetails

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
0
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata...

Read moreDetails

Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 17, 2026
0
Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnbawa, Taman Budaya Bali,...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

by tatkala
February 16, 2026
0
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

by Radha Dwi Pradnyani
February 15, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

DI tengah arus modernisasi dan industri hiburan yang masif, upaya pelestarian kesenian terus dihidupkan melalui berbagai ruang kolaborasi. Salah satunya...

Read moreDetails

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

by Nyoman Budarsana
February 11, 2026
0
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok...

Read moreDetails
Next Post
“Jayadrata Antaka” dari Dalang Remaja Bangli di Pesta Kesenian Bali 2025

“Jayadrata Antaka” dari Dalang Remaja Bangli di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co