12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memoar “Hantu Padang” Esha Tegar Putra di Kafe Halaman  Belakang, Singaraja — Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
July 15, 2025
in Panggung
Memoar “Hantu Padang” Esha Tegar Putra di Kafe Halaman  Belakang, Singaraja — Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima

Lia Marisa Tambunan saat baca puisi Hantu Padang karya Esha Tegar Putra | Foto: tatkala.co/Son

LIA Marisa Tambunan bersama temannya Naomy Dwi menyandarkan motornya di parkiran Kafe Halaman Belakang by Rumah Momo di kawasan LC VIII, Baktiseraga, Singaraja, Rabu malam, 9 Juli 2025.

Lia dan Naomy tampak bergegas masuk kafe. Mereka sepertinya tak sabar untuk membaca puisi pada acara Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima yang malam itu memang diselenggarakan di Kafe Halaman Belakang.

Mereka memang peserta yang selalu aktif membaca puisi pada setiap acara Rabu Puisi. Mereka datang dengan peserta lain secara bersama-sama. Di dalam kafe, Lia, Naomy dan teman-temannya duduk. Suasana di kafe malam itu tampak cukup ramai, namun tidak terasa gaduh. Suasananya tenang.

Halaman Belakang memang sebuah kafe yang dirancang sebagai tempat yang tenang untuk membaca dan berdiskusi. Di dalam, di sebuah ruangan yang tertutup, ada rak buku yang bisa dibaca oleh pengunjung. Makanya, Halaman Belakang biasa juga disebut sebagai book cafe.

Lia Marisa Tambunan, sebelum acara Rabu Puisi dimulai, melihat-lihat buku yang berjejer apik di rak buku itu, lalu duduk lesehan di tempat acara.

Isinya ada komik, ada buku novel, kumpulan motivasi, macam-macam ada buku di rak. Di satu dinding, ada tertulis puisi Hujan Bulan Juni karya Penyair Sapardi Djoko Damono menandakan kafe itu memiliki spirit kepada orang untuk membaca di waktu bersantai.

Rabu Puisi Komunitas Mahima di Kafe Halaman Belakang by Rumah Momo, Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Dan Lia Marisa Tambunan, atau biasa dipanggil Lia, adalah seorang mahasiswa dari Undiksha asal Medan. Ketika datang di kafe itu, ia langsung memilih beberapa buku. Dua buku yang menarik baginya adalah Sunshine Becomes You dan Spring in London karya Ilana Tan. Buku itu sudah diincar sejak lama, tapi sulit didapatkannya. Di Halaman Belakang itulah ia bertemu buku itu.

“Bagus banget sihh menurutku, Kak, tempatnya, apalagi ada buku-buku yang aku cari ada,” kata Lia.

Lia Marisa Tambunan merasa lega setelah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Acara Rabu Puisi siap dimulai. Lia duduk bersantai sambil minum teh dan makan roti bakar yang diberikan secara gratis untuk mensuport kegiatan baca puisi malam itu.

Suasana santai dan berkelas, menurut Lia, tempat itu bisa mengalihkan sebentar kesibukan duniawi yang sudah terlalu bergantung dengan gadget.

“Nah, di sini, dengan adanya buku-buku itu, kita bisa baca yanggmana itu bisa bangkitin imajinasi dan inspirasi kita,” kata Lia.

Hantu Padang di Rabu Puisi

Acara Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima di Halaman Belakang para peserta membaca sekaligus membahas lebih dekat puisi-puisi yang ada dalam buku Hantu Padang karya Esha Tegar Putra.

Cindy Agatha Immanuella | Foto: tatkala.co/Son

Hantu Padang (2024, JBS) merupakan buku kumpulan puisi Esha Tegar Putra merupakan pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Lia Marisa Tambunan menjadi salah satu pembaca yang bagus pada malam itu. Dengan wajah agak melow, ia maju, mengambil bagian untuk baca puisi setelah disebut namanya oleh Rusdi yang jadi MC malam itu. Lia datang dengan puisi Hantu Padang karya Esha—nomor 25.

“Aku tenggelamkan
sepasang cincing belah rotan
ke muara hitam
ketika bulan mengambang
dari balik pucuk angsana tua
dan embus-siul tujuh mambang hitam
terdengar
jauh
sampai
ke langit-langit rumah lama
dengan bau getah medang keladi
masih lekat-terperam.
Dan kini, aku kenang kau kembali
ketika malam semakin naik dan punggungmu
menjauh
kemudian menghilang
ke balik gudang
di mana suara tape
memainkan gamad
Mati Dibunuh…”

“Aku tertarik pada bagian puisi; Dan kini, aku kenang kau kembali ketika malam semakin naik dan punggungmu menjauh. Dari kalimat itu aku merasa seolah itu menyatakan kerinduanku terhadap keluargaku, aku udah dua tahun tidak pulang sejak tahun 2023 di sini, di Bali,” kata Lia.

Ketika membaca puisi itu, kata Lia, ia merasakan sedang mengutarakan perasaan yang selama ini dialaminya, tapi dengan lebih bermakna, dalam, lepas—plong.

Puja Savitri | Foto: tatkala.co/Son

Sementara itu, Cindy Agatha Immanuella, mahasiswa Undiksha asal Jakarta, yang juga menjadi peserta Rabu Puisi malam itu, memilih puisi Hantu Padang kaya Esha Tegar Putra—no. 31 karena ia memahaminya dalam konteks literal.

“Saya pikir itu puisi terdengar seperti doa dari orangtua ke anak mereka yang masih kecil, dan itu buat saya teringat dengan masa kecil saya,” kata Cindy.

“Takut hantu, takut hantu, loteng
Dan dinding rengkah begitu,” katamu.
Ambil sehelai bajuku, Anak
Pakailah ke bantal
Hidu
Maka kau akan tahu
Mulai dari serat daging sampai denging tulang ini
Adalah kehendak tiada terperi…

Apa yang ia ingat dan bayangkan ketika membaca puisi itu? Cindy ternyata teringat dengan wajah ibu dan ayahnya. Sebab, sewaktu kecil, kata Cindy, ia selalu mengadukan hal-hal yang menakutkan dalam hidupnya itu ke ayah-ibunya.

Dan ketika ia merasa takut dan datang pada ayah-ibunya, mereka, kata Cindy, selalu melafalkan sesuatu semacam doa, ya, agar ia tak takut lagi. Agar ia merasa tegar lagi. Itu lafal mantra-doa penolak bala barangkali.

Perhat Alfaz | Foto: tatkala.co/Son

Esha dan tentang kota melalui puisi-puisinya pada Hantu Padang itu, yang mengeksplorasi memori, perantauan dan identitas sebuah kota, juga tak hanya dirasakan oleh Lia dan Cindy, tetapi Perhat Alfaz, salah satu peserta Rabu Puisi sama kuatnya merasakan itu.

Perhat Alfaz berdiri setelah disebut MC untuk segera maju ke depan. Dari tempatnya duduk dekat salah satu rak buku, ia lantas dengan tersenyum agak malu-malu berdiri-melangkah, dan merunduk memberi hormat kepada yang lain. Lantas Perhat Alfaz penuh mantap ketika menatap teks puisi pada layar hapenya.

Ketika itu, Perhat Alfaz membacakan puisi Esha Tegar Putra berjudul Hantu Padang (32), yang didapatnya dari (versi) laman Bacapetra.co.

Aku jalan kembali ke Terandam
depan bangunan runtuh bekas pembantaian sapi
semak belukar
beringinin besar
angin berputar-putar.
Aku jadi ingat kamu
pada sebuah malam di mana bulan bulat
seakan menggantung dari arah langit Belantung
dan kita cerita tentang hantu-hantu Padang…

“Aku suka cara Esha menggambarkan kenangan sebuah kota dalam diksi yang sederhana. Jadi saat membaca puisinya bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Esha tentang kenangan masa lampau kotanya. Kemudian ia kembali lagi ke sana dengan kondisi kotanya yang sudah berbeda,” kata Perhat Alfaz.

Ketika itu, Perhat dengan janggut tanggung di dagunya, membacakan puisi itu tak tanggung-tanggung, dengan wajah berkarakter seorang perindu—penuh ekspresif, puisi itu dibawakan Perhat, juga ia merasakan betul, bagaimana kenangan-kenangan pada kota itu diseret Esha sangat dahsyat.

Pembaca puisi yang meramaikan acara Rabu Puisi di Kafe Halaman Belakang Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Nyawa puisi itu masuk ke dalam jiwa Perhat seketika, sehingga, kata Perhat, ia ikut juga dalam membayangkan kembali tentang Kota Tasikmalaya, ya, tempat kampung halamannnya; sekarang bagaimana, seperti apa. Ia membayangkan tempat asalnya saat membaca puisi.

Sedang, Chatrine Florentina Ndrotndrot, mahasiswa Undiksha asal Papua yang telah menyabet tiga kali nominasi pembaca puisi terbaik di Rabu Puisi, mengatakan puisi karya Esha Tegar Putra menarik baginya ketika dibaca secara langsung.

Sama seperti Lia, Cindy dan Perhat, sesuai dengan apa yang juga Chatrine pahami, puisi yang ia bawakan—nomor 23 malam itu, bahwa puisi memiliki kekuatan secara emosional dan sosial.

Bagaimana dadamu setelah mendengar syara sirine
lalu timpa-bertimpa
hari berat, Ubay

Hari berat dengan jarum jam terus berderik lamban
kota mulai memendam gairah, jalan-jalan dipalang, rumah-
rumah mendingin
pagi dengan berita seribu kuburan digali sebelum seribu maut
menghampiri
dan malam adalah mimpi buruk, gerungan pada perut, taku pada
hari depan

Aku melihat diriku di antara mereka, Ubai
—orang-orang kehilangan gairah
berharap hari baik lekas tiba
selekas doa terbaik dilambungkan ke udara—
aku tersadai membayangkan hari depan
mungkin melulunasib yang tergadai.

Bahasa puitis tapi lugas, begitu menurut Chatrine. Puisi Esha menghadirkan imaji yang kuat, seperti suara sirine ambulan, seribu kuburan, dan rumah-rumah yang dingin. Semua itu mampu membangkitkan rasa dan bayangan nyata dalam benak si pembaca, sehingga, kata Chatrine, ia ikut terbawa ke suasana puisi itu.

Karena menurut Chatrine, puisi nomor 23 dalam Hantu Padang karya Esha Tegar Putra itu, lebih dari sekadar menggambarkan peristiwa luar, tapi juga menyelami ke dalam psikologi manusia layaknya batin yang terluka, keresahan akan masa depan, dan rasa kehilangan arah.

“Semua itu membuat pembaca seperti saya atau siapapun yang membacanya dengan sungguh-sungguh, akan mampu merasakan ketakutan dan keputusasaan yang disampaikan si penulis, Esha Tegar Putra ini,” kata Chatrine.

Kadek Sonia Piscayanti berrsama lima nomine pembaca terbaik pada Rabu Puisi di Kafe Halaman Belakang | Foto: tatkala.co/Son

Foto bersama usai acara | Foto: tatkala.co/Son

Sejujurnya, lanjut Chatrine, saat pertama kali membaca puisi itu, sempat merasa takut, bukan karena isinya menakutkan, tapi karena maknanya begitu dalam dan dekat dengan realita yang pernah atau sedang dialaminya di kampung halaman)

“Jadi, siapapun yang benar-benar memahami isi dari puisi ini pasti akan merasa terhubung, karena apa yang dituliskan oleh Esha Tegar Putra ini sangat mungkin pernah menjadi bagian dari hidup kita juga,” tegas Chatrine.

Memoar Sunyi—Hantu Padang

Ketika dihadapkan dengan pertanyaan; apa lagi yang Anda cari dari Padang? Esha Tegar seakan dengan perasaan berat untuk menjawab secara gamblang, sebagaimana Kota Padang adalah kota puitik baginya, maka, satu adagium ia lemparkan untuk menjawabnya; “biarlah puisi yang menyampaikan”.

Satu pertanyaan dan satu kutipan itu, saya sadur dari laman medium.com (semacam) blog pribadi Esha Tegar Putra—dalam judul “Hantu Padang: Puisi dan Gairah pada Sebuah Kota”.

Artikel itu merupakan catatannya sewaktu di Mataram pada Oktober 2017 silam dalam perbincangan OCTOfest.

Pada artikel atau catatan itulah Esha membeberkan bagaimana Kota Padang memiliki hubungan batin yang kuat dengan dirinya, terutama tentang masa kecilnya, pengalaman hidup, dan banyak hal lainnya. Seperti yang ia catatkan pada blog tersebut :

“Padang menjadi tempat ‘kelahiran baru’ bagi saya setelah perpindahan saya dari kampung di pinggiran danau Singkarak ke ibukota provinsi Sumatera Barat tersebut. Tidak ada yang saya bawa ke Padang saat mulai berkuliah di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, tahun 2005, selain kekosongan. Saya anak kampung gagap teknologi (bahkan untuk menggunakan komputer), minim pengetahuan sastra, kondisi ekonomi sedang morat-marit dan hidup menumpang hingga dua tahun saya di Padang, dan sederet persoalan-persoalan lain yang saya bawa. Satu hal yang membuat saya dekat dengan Padang saat itu adalah kenangan masa kecil saya ketika mengunjungi kota tersebut bersama keluarga. Kenangan-kenangan ini kemudian hari saya rawat terus-menerus dan menumbuhkan kecintaan saya pada kota Padang dan berlanjut pada keasyikan menulis segala sesuatu tentang kota itu.”

Esha Tegar Putra lahir pada 29 April 1985 di Saniangbaka, Solok, Sumatera Barat. Dan beberapa karyanya yang sudah terbit ialah; Pinangan Orang Ladang (2009), Dalam Lipatan Kain (2015), Sarinah (2016), Setelah Gelanggang Itu (2020), dan yang terakhir Hantu Padang (2024).

Selain sebagai penyair, Esha juga adalah seorang pengarsip. Sehingga kekuatan puisinya dalam menjelaskan lekuk tubuh Kota Padang dalam ingatannya itu pada karyanya yang terakhir, begitu kuat dilukiskan oleh Esha dengan pilihan kata yang kuat, yang hidup.

Di dalam buku kumpulan puisi Hantu Padang (2024, JBS), menurut Penyair Kadek Sonia Piscayanti, sekaligus juga berkawan baik dengan Esha Tegar Putra, ia membaca Hantu Padang yang memuat 42 Puisi (2015-2023) itu, merupakan cerminan kesunyian Esha Tegar dalam perjalanan pergi-jauh dalam merantau, dan kemudian membawa Padang pada dirinya, pada puisi-puisinya.

“Ke mana-mana itu dia pergi merantau. Jadi, kan, kalau orang Padang tuh katanya kalau keluar merantau, itu, kan, diharapkan pulang lagi dalam konteks kesuksesan yang dirayakan. Tapi dia ketika merantau itu selalu merindukan kembali ke Padang, meskipun dia sendiri belum selesai,” kata Kadek Sonia Piscayanti, penggagas acara Rabu Puisi sekaligus pendiri Singaraja Literary Festival.

Dua Crew Book Cafe Halaman Belakang sedang berpose di tempat kerja | Foto: tatkala.co/Son

Sonia juga menjelaskan pada masa proses pencarian seorang Esha Tegar Putra, baik soal pengetahuan, jati diri, atau mencari apa yang diinginkannya dalam hidup, Kota Padang—sebagai kota sosiologosnya dalam puisi itu, tampak sekali menjadi satu hantu bagi Esha, yang membuat puisi-puisinya bernas, dan sarat makna.

“Jadi hantu Padang itu adalah dirinya sendiri yang terus menghantui dirinya sendiri,” lanjut Sonia.

Menurut Kadek Sonia Piscayanti, puisi Esha Tegar Putra memang menyeret pembacanya pada ranah kontemplasi, refleksi, kemudian kesadaran tentang diri, juga harapan, juga kecemasan.

“Semua (pengalaman hidup si penyair) ada di situ, tapi memang dirangkum, dirangkum dalam bentuk yang sangat reflektif tadi,” kata Sonia Piscayanti.

Setelah membaca puisi dan sekilas mendiskusikannya, terdapat lima orang peserta yang mendapatkan nominasi pembaca puisi terbaik. Mereka adalah Perhat Alfaz, Putu Indah Apriliani, Chatrine Florentine Ndrotndrot, Komang Puja Savitri, dan Kadek Wisnu Oktaditya.

Kemudian, selepas acara Rabu Puisi itu, dan merasakan kenyamanan di Book Cafe Halaman Belakang dengan penuh buku suasana kalem sawah-pepohonan, Lia dan temannya tadi, merencanakan akan datang lagi ke sana untuk melanjutkan baca novel karya-karya Ilana Tan.

Selamat berencana untuk datang, semoga tidak sekadar wacana. Hehe. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Monolog Ayu Laksmi “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diriku Sendiri” di Rabu Puisi #10 Komunitas Mahima
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima
Autopsi Rindu di Kedai Umah Pradja Singaraja — Catatan Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima
Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk
Tags: Komunitas MahimaPuisiRabu PuisiSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI

Next Post

“Jayadrata Antaka” dari Dalang Remaja Bangli di Pesta Kesenian Bali 2025

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails
Next Post
“Jayadrata Antaka” dari Dalang Remaja Bangli di Pesta Kesenian Bali 2025

“Jayadrata Antaka” dari Dalang Remaja Bangli di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co