2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memoar “Hantu Padang” Esha Tegar Putra di Kafe Halaman  Belakang, Singaraja — Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
July 15, 2025
in Panggung
Memoar “Hantu Padang” Esha Tegar Putra di Kafe Halaman  Belakang, Singaraja — Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima

Lia Marisa Tambunan saat baca puisi Hantu Padang karya Esha Tegar Putra | Foto: tatkala.co/Son

LIA Marisa Tambunan bersama temannya Naomy Dwi menyandarkan motornya di parkiran Kafe Halaman Belakang by Rumah Momo di kawasan LC VIII, Baktiseraga, Singaraja, Rabu malam, 9 Juli 2025.

Lia dan Naomy tampak bergegas masuk kafe. Mereka sepertinya tak sabar untuk membaca puisi pada acara Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima yang malam itu memang diselenggarakan di Kafe Halaman Belakang.

Mereka memang peserta yang selalu aktif membaca puisi pada setiap acara Rabu Puisi. Mereka datang dengan peserta lain secara bersama-sama. Di dalam kafe, Lia, Naomy dan teman-temannya duduk. Suasana di kafe malam itu tampak cukup ramai, namun tidak terasa gaduh. Suasananya tenang.

Halaman Belakang memang sebuah kafe yang dirancang sebagai tempat yang tenang untuk membaca dan berdiskusi. Di dalam, di sebuah ruangan yang tertutup, ada rak buku yang bisa dibaca oleh pengunjung. Makanya, Halaman Belakang biasa juga disebut sebagai book cafe.

Lia Marisa Tambunan, sebelum acara Rabu Puisi dimulai, melihat-lihat buku yang berjejer apik di rak buku itu, lalu duduk lesehan di tempat acara.

Isinya ada komik, ada buku novel, kumpulan motivasi, macam-macam ada buku di rak. Di satu dinding, ada tertulis puisi Hujan Bulan Juni karya Penyair Sapardi Djoko Damono menandakan kafe itu memiliki spirit kepada orang untuk membaca di waktu bersantai.

Rabu Puisi Komunitas Mahima di Kafe Halaman Belakang by Rumah Momo, Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Dan Lia Marisa Tambunan, atau biasa dipanggil Lia, adalah seorang mahasiswa dari Undiksha asal Medan. Ketika datang di kafe itu, ia langsung memilih beberapa buku. Dua buku yang menarik baginya adalah Sunshine Becomes You dan Spring in London karya Ilana Tan. Buku itu sudah diincar sejak lama, tapi sulit didapatkannya. Di Halaman Belakang itulah ia bertemu buku itu.

“Bagus banget sihh menurutku, Kak, tempatnya, apalagi ada buku-buku yang aku cari ada,” kata Lia.

Lia Marisa Tambunan merasa lega setelah membaca puisi | Foto: tatkala.co/Son

Acara Rabu Puisi siap dimulai. Lia duduk bersantai sambil minum teh dan makan roti bakar yang diberikan secara gratis untuk mensuport kegiatan baca puisi malam itu.

Suasana santai dan berkelas, menurut Lia, tempat itu bisa mengalihkan sebentar kesibukan duniawi yang sudah terlalu bergantung dengan gadget.

“Nah, di sini, dengan adanya buku-buku itu, kita bisa baca yanggmana itu bisa bangkitin imajinasi dan inspirasi kita,” kata Lia.

Hantu Padang di Rabu Puisi

Acara Rabu Puisi #12 Komunitas Mahima di Halaman Belakang para peserta membaca sekaligus membahas lebih dekat puisi-puisi yang ada dalam buku Hantu Padang karya Esha Tegar Putra.

Cindy Agatha Immanuella | Foto: tatkala.co/Son

Hantu Padang (2024, JBS) merupakan buku kumpulan puisi Esha Tegar Putra merupakan pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Lia Marisa Tambunan menjadi salah satu pembaca yang bagus pada malam itu. Dengan wajah agak melow, ia maju, mengambil bagian untuk baca puisi setelah disebut namanya oleh Rusdi yang jadi MC malam itu. Lia datang dengan puisi Hantu Padang karya Esha—nomor 25.

“Aku tenggelamkan
sepasang cincing belah rotan
ke muara hitam
ketika bulan mengambang
dari balik pucuk angsana tua
dan embus-siul tujuh mambang hitam
terdengar
jauh
sampai
ke langit-langit rumah lama
dengan bau getah medang keladi
masih lekat-terperam.
Dan kini, aku kenang kau kembali
ketika malam semakin naik dan punggungmu
menjauh
kemudian menghilang
ke balik gudang
di mana suara tape
memainkan gamad
Mati Dibunuh…”

“Aku tertarik pada bagian puisi; Dan kini, aku kenang kau kembali ketika malam semakin naik dan punggungmu menjauh. Dari kalimat itu aku merasa seolah itu menyatakan kerinduanku terhadap keluargaku, aku udah dua tahun tidak pulang sejak tahun 2023 di sini, di Bali,” kata Lia.

Ketika membaca puisi itu, kata Lia, ia merasakan sedang mengutarakan perasaan yang selama ini dialaminya, tapi dengan lebih bermakna, dalam, lepas—plong.

Puja Savitri | Foto: tatkala.co/Son

Sementara itu, Cindy Agatha Immanuella, mahasiswa Undiksha asal Jakarta, yang juga menjadi peserta Rabu Puisi malam itu, memilih puisi Hantu Padang kaya Esha Tegar Putra—no. 31 karena ia memahaminya dalam konteks literal.

“Saya pikir itu puisi terdengar seperti doa dari orangtua ke anak mereka yang masih kecil, dan itu buat saya teringat dengan masa kecil saya,” kata Cindy.

“Takut hantu, takut hantu, loteng
Dan dinding rengkah begitu,” katamu.
Ambil sehelai bajuku, Anak
Pakailah ke bantal
Hidu
Maka kau akan tahu
Mulai dari serat daging sampai denging tulang ini
Adalah kehendak tiada terperi…

Apa yang ia ingat dan bayangkan ketika membaca puisi itu? Cindy ternyata teringat dengan wajah ibu dan ayahnya. Sebab, sewaktu kecil, kata Cindy, ia selalu mengadukan hal-hal yang menakutkan dalam hidupnya itu ke ayah-ibunya.

Dan ketika ia merasa takut dan datang pada ayah-ibunya, mereka, kata Cindy, selalu melafalkan sesuatu semacam doa, ya, agar ia tak takut lagi. Agar ia merasa tegar lagi. Itu lafal mantra-doa penolak bala barangkali.

Perhat Alfaz | Foto: tatkala.co/Son

Esha dan tentang kota melalui puisi-puisinya pada Hantu Padang itu, yang mengeksplorasi memori, perantauan dan identitas sebuah kota, juga tak hanya dirasakan oleh Lia dan Cindy, tetapi Perhat Alfaz, salah satu peserta Rabu Puisi sama kuatnya merasakan itu.

Perhat Alfaz berdiri setelah disebut MC untuk segera maju ke depan. Dari tempatnya duduk dekat salah satu rak buku, ia lantas dengan tersenyum agak malu-malu berdiri-melangkah, dan merunduk memberi hormat kepada yang lain. Lantas Perhat Alfaz penuh mantap ketika menatap teks puisi pada layar hapenya.

Ketika itu, Perhat Alfaz membacakan puisi Esha Tegar Putra berjudul Hantu Padang (32), yang didapatnya dari (versi) laman Bacapetra.co.

Aku jalan kembali ke Terandam
depan bangunan runtuh bekas pembantaian sapi
semak belukar
beringinin besar
angin berputar-putar.
Aku jadi ingat kamu
pada sebuah malam di mana bulan bulat
seakan menggantung dari arah langit Belantung
dan kita cerita tentang hantu-hantu Padang…

“Aku suka cara Esha menggambarkan kenangan sebuah kota dalam diksi yang sederhana. Jadi saat membaca puisinya bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Esha tentang kenangan masa lampau kotanya. Kemudian ia kembali lagi ke sana dengan kondisi kotanya yang sudah berbeda,” kata Perhat Alfaz.

Ketika itu, Perhat dengan janggut tanggung di dagunya, membacakan puisi itu tak tanggung-tanggung, dengan wajah berkarakter seorang perindu—penuh ekspresif, puisi itu dibawakan Perhat, juga ia merasakan betul, bagaimana kenangan-kenangan pada kota itu diseret Esha sangat dahsyat.

Pembaca puisi yang meramaikan acara Rabu Puisi di Kafe Halaman Belakang Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Nyawa puisi itu masuk ke dalam jiwa Perhat seketika, sehingga, kata Perhat, ia ikut juga dalam membayangkan kembali tentang Kota Tasikmalaya, ya, tempat kampung halamannnya; sekarang bagaimana, seperti apa. Ia membayangkan tempat asalnya saat membaca puisi.

Sedang, Chatrine Florentina Ndrotndrot, mahasiswa Undiksha asal Papua yang telah menyabet tiga kali nominasi pembaca puisi terbaik di Rabu Puisi, mengatakan puisi karya Esha Tegar Putra menarik baginya ketika dibaca secara langsung.

Sama seperti Lia, Cindy dan Perhat, sesuai dengan apa yang juga Chatrine pahami, puisi yang ia bawakan—nomor 23 malam itu, bahwa puisi memiliki kekuatan secara emosional dan sosial.

Bagaimana dadamu setelah mendengar syara sirine
lalu timpa-bertimpa
hari berat, Ubay

Hari berat dengan jarum jam terus berderik lamban
kota mulai memendam gairah, jalan-jalan dipalang, rumah-
rumah mendingin
pagi dengan berita seribu kuburan digali sebelum seribu maut
menghampiri
dan malam adalah mimpi buruk, gerungan pada perut, taku pada
hari depan

Aku melihat diriku di antara mereka, Ubai
—orang-orang kehilangan gairah
berharap hari baik lekas tiba
selekas doa terbaik dilambungkan ke udara—
aku tersadai membayangkan hari depan
mungkin melulunasib yang tergadai.

Bahasa puitis tapi lugas, begitu menurut Chatrine. Puisi Esha menghadirkan imaji yang kuat, seperti suara sirine ambulan, seribu kuburan, dan rumah-rumah yang dingin. Semua itu mampu membangkitkan rasa dan bayangan nyata dalam benak si pembaca, sehingga, kata Chatrine, ia ikut terbawa ke suasana puisi itu.

Karena menurut Chatrine, puisi nomor 23 dalam Hantu Padang karya Esha Tegar Putra itu, lebih dari sekadar menggambarkan peristiwa luar, tapi juga menyelami ke dalam psikologi manusia layaknya batin yang terluka, keresahan akan masa depan, dan rasa kehilangan arah.

“Semua itu membuat pembaca seperti saya atau siapapun yang membacanya dengan sungguh-sungguh, akan mampu merasakan ketakutan dan keputusasaan yang disampaikan si penulis, Esha Tegar Putra ini,” kata Chatrine.

Kadek Sonia Piscayanti berrsama lima nomine pembaca terbaik pada Rabu Puisi di Kafe Halaman Belakang | Foto: tatkala.co/Son

Foto bersama usai acara | Foto: tatkala.co/Son

Sejujurnya, lanjut Chatrine, saat pertama kali membaca puisi itu, sempat merasa takut, bukan karena isinya menakutkan, tapi karena maknanya begitu dalam dan dekat dengan realita yang pernah atau sedang dialaminya di kampung halaman)

“Jadi, siapapun yang benar-benar memahami isi dari puisi ini pasti akan merasa terhubung, karena apa yang dituliskan oleh Esha Tegar Putra ini sangat mungkin pernah menjadi bagian dari hidup kita juga,” tegas Chatrine.

Memoar Sunyi—Hantu Padang

Ketika dihadapkan dengan pertanyaan; apa lagi yang Anda cari dari Padang? Esha Tegar seakan dengan perasaan berat untuk menjawab secara gamblang, sebagaimana Kota Padang adalah kota puitik baginya, maka, satu adagium ia lemparkan untuk menjawabnya; “biarlah puisi yang menyampaikan”.

Satu pertanyaan dan satu kutipan itu, saya sadur dari laman medium.com (semacam) blog pribadi Esha Tegar Putra—dalam judul “Hantu Padang: Puisi dan Gairah pada Sebuah Kota”.

Artikel itu merupakan catatannya sewaktu di Mataram pada Oktober 2017 silam dalam perbincangan OCTOfest.

Pada artikel atau catatan itulah Esha membeberkan bagaimana Kota Padang memiliki hubungan batin yang kuat dengan dirinya, terutama tentang masa kecilnya, pengalaman hidup, dan banyak hal lainnya. Seperti yang ia catatkan pada blog tersebut :

“Padang menjadi tempat ‘kelahiran baru’ bagi saya setelah perpindahan saya dari kampung di pinggiran danau Singkarak ke ibukota provinsi Sumatera Barat tersebut. Tidak ada yang saya bawa ke Padang saat mulai berkuliah di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, tahun 2005, selain kekosongan. Saya anak kampung gagap teknologi (bahkan untuk menggunakan komputer), minim pengetahuan sastra, kondisi ekonomi sedang morat-marit dan hidup menumpang hingga dua tahun saya di Padang, dan sederet persoalan-persoalan lain yang saya bawa. Satu hal yang membuat saya dekat dengan Padang saat itu adalah kenangan masa kecil saya ketika mengunjungi kota tersebut bersama keluarga. Kenangan-kenangan ini kemudian hari saya rawat terus-menerus dan menumbuhkan kecintaan saya pada kota Padang dan berlanjut pada keasyikan menulis segala sesuatu tentang kota itu.”

Esha Tegar Putra lahir pada 29 April 1985 di Saniangbaka, Solok, Sumatera Barat. Dan beberapa karyanya yang sudah terbit ialah; Pinangan Orang Ladang (2009), Dalam Lipatan Kain (2015), Sarinah (2016), Setelah Gelanggang Itu (2020), dan yang terakhir Hantu Padang (2024).

Selain sebagai penyair, Esha juga adalah seorang pengarsip. Sehingga kekuatan puisinya dalam menjelaskan lekuk tubuh Kota Padang dalam ingatannya itu pada karyanya yang terakhir, begitu kuat dilukiskan oleh Esha dengan pilihan kata yang kuat, yang hidup.

Di dalam buku kumpulan puisi Hantu Padang (2024, JBS), menurut Penyair Kadek Sonia Piscayanti, sekaligus juga berkawan baik dengan Esha Tegar Putra, ia membaca Hantu Padang yang memuat 42 Puisi (2015-2023) itu, merupakan cerminan kesunyian Esha Tegar dalam perjalanan pergi-jauh dalam merantau, dan kemudian membawa Padang pada dirinya, pada puisi-puisinya.

“Ke mana-mana itu dia pergi merantau. Jadi, kan, kalau orang Padang tuh katanya kalau keluar merantau, itu, kan, diharapkan pulang lagi dalam konteks kesuksesan yang dirayakan. Tapi dia ketika merantau itu selalu merindukan kembali ke Padang, meskipun dia sendiri belum selesai,” kata Kadek Sonia Piscayanti, penggagas acara Rabu Puisi sekaligus pendiri Singaraja Literary Festival.

Dua Crew Book Cafe Halaman Belakang sedang berpose di tempat kerja | Foto: tatkala.co/Son

Sonia juga menjelaskan pada masa proses pencarian seorang Esha Tegar Putra, baik soal pengetahuan, jati diri, atau mencari apa yang diinginkannya dalam hidup, Kota Padang—sebagai kota sosiologosnya dalam puisi itu, tampak sekali menjadi satu hantu bagi Esha, yang membuat puisi-puisinya bernas, dan sarat makna.

“Jadi hantu Padang itu adalah dirinya sendiri yang terus menghantui dirinya sendiri,” lanjut Sonia.

Menurut Kadek Sonia Piscayanti, puisi Esha Tegar Putra memang menyeret pembacanya pada ranah kontemplasi, refleksi, kemudian kesadaran tentang diri, juga harapan, juga kecemasan.

“Semua (pengalaman hidup si penyair) ada di situ, tapi memang dirangkum, dirangkum dalam bentuk yang sangat reflektif tadi,” kata Sonia Piscayanti.

Setelah membaca puisi dan sekilas mendiskusikannya, terdapat lima orang peserta yang mendapatkan nominasi pembaca puisi terbaik. Mereka adalah Perhat Alfaz, Putu Indah Apriliani, Chatrine Florentine Ndrotndrot, Komang Puja Savitri, dan Kadek Wisnu Oktaditya.

Kemudian, selepas acara Rabu Puisi itu, dan merasakan kenyamanan di Book Cafe Halaman Belakang dengan penuh buku suasana kalem sawah-pepohonan, Lia dan temannya tadi, merencanakan akan datang lagi ke sana untuk melanjutkan baca novel karya-karya Ilana Tan.

Selamat berencana untuk datang, semoga tidak sekadar wacana. Hehe. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Monolog Ayu Laksmi “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diriku Sendiri” di Rabu Puisi #10 Komunitas Mahima
Cinta dalam Puisi di Sudut Rumah Kopi Singaraja — Catatan Rabu Puisi #9 Komunitas Mahima
Autopsi Rindu di Kedai Umah Pradja Singaraja — Catatan Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima
Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk
Tags: Komunitas MahimaPuisiRabu PuisiSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI

Next Post

“Jayadrata Antaka” dari Dalang Remaja Bangli di Pesta Kesenian Bali 2025

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
“Jayadrata Antaka” dari Dalang Remaja Bangli di Pesta Kesenian Bali 2025

“Jayadrata Antaka” dari Dalang Remaja Bangli di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co