24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menuai Badai di Surabaya—Dari Diskusi Novel “Menuai Badai” Karya Putu Juli Sastrawan

Jaswanto by Jaswanto
July 10, 2025
in Khas
Menuai Badai di Surabaya—Dari Diskusi Novel “Menuai Badai” Karya Putu Juli Sastrawan

Putu Juli Sastrawan saat menjelaskan proses kreatifnya dalam bendah novel "Menuai Badai" di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

BARANGKALI Surabaya bisa jadi salah satu kota yang cocok membahas tragedi 65—atau yang sering orang sebut G30S. Di kota ini, Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah, katakanlah, menjadi “penguasa” Surabaya pada Pemilu 1955. Bahkan, dua kader PKI—dr. Satrio Sastrodiredjo dan Moerachman—pernah menjabat sebagai wali kota Surabaya selama dua periode berturut-turut. PKI cukup bernyawa di kota ini. Namun, setelah peristiwa 30 September—atau 1 Oktober—1965 itu pecah, sebagaimana Surakarta, Bali, atau kota-kota lain di Indonesia, orang-orang PKI di Surabaya juga tak luput dari peluru dan parang yang berkilat.

Paragraf di atas bergelayut di kepala saya saat perjalanan dari Pakal menuju Tegalsari pada siang yang gerah dan macet. Saya diantar sopir ojek online yang ramah ke C2O Library & Collabtive di Tegalsari, tempat novel Menuai Badai (2025) karya Putu Juli Sastrawan dibedah dan dibicarakan, Rabu (9/7/2025). Novel tipis itu bercerita tentang trauma 65.

Di ruang belakang Perpustakan C2O, Juli duduk di depan beberapa orang yang siap mendengar apa dan bagaimana novel terbarunya itu lahir. Ini buku ketiga Juli, sependek ingatan saya. Buku pertamanya kumpulan cerpen Lelaki Kantong Sperma (2018) lalu yang kedua novel berjudul Kulit Kera Piduka. “Aku tertarik dengan isu ’65 karena sering mendengar cerita dari orang-orang tua di rumah dan beberapa teman di tongkrongan,” ujar Juli saat menjawab pertanyaan Fioriza—pemantik diskusi pada siang itu.

Putu Juli Sastrawan saat menjelaskan proses kreatifnya dalam bendah novel “Menuai Badai” di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Proses Menuai Badai tidak sebentar. Juli perlu riset mendalam untuk itu. Dari mulai baca buku-buku tentang peristiwa 65 sampai mencari surat kabar yang memberitakan serba-serbi tragedi tersebut. Kisaran 2022 Juli sudah mulai bertungkus lumus dengan bacaan-bacaan macam Tahun yang Tak Pernah Berakhir (2004), Dalih Pembunuhan Massal (2006), dan Riwayat Terkubur (2024) dari John Roosa; lalu The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966 (2004) Robert Cribb—karya pertama tentang diskursus genosida 1965 yang ia baca; dan bacaan lain seperti Metode Jakarta (2020) Vincent Bevins, Tiada Jalan Bertabur Bunga-nya Gregorius Goenito, dst. Semua bacaan itu menguatkan Juli untuk menulis dan menyelesaikan novel Menuai Badai.

Menuai Badai tentu saja bukan novel pertama yang mengangkat genosida 1965. Jauh sebelum novel tipis ini terbit sudah ada misalnya Ronggeng Dukuh Paruk (1982) dan Kubah (1980) karya Ahmad Tohari; atau Jalan Bandungan (1989) N.H. Dini, lalu Durga Umayi (1991) Y.B. Mangunwijaya, belakangan Pulang (2013) Leila S. Chudori—yang populer itu; dll. Tetapi Menuai Badai tetap mewarkan sesuatu yang baru. “Aku mengambil sudut pandang dari pelaku jagal. Selama ini sudah banyak karya [buku atau film] yang menjadikan korban sebagai tokoh utama,” terang Juli.

Benar. Novel ini menceritakan riwayat Kandar, salah satu jagal pada genosida 1965, yang merasa dihantui banyak orang. Kandar dianggap gila oleh banyak orang—karena kelakuannya yang tak biasa. Ia selalu mengenakan baret kusam dan di balik setiap celana yang dikenakannya ia masih memakai celana panjang loreng-loreng yang diikat tali rafia di ujung. Jika tidak, konon, hantu-hantu itu akan mendatangi dan mengusiknya.

Menuai Badai adalah—seperti dijelaskan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), penerbit novel ini—kisah seorang yang diseret masa lalu, tentang tubuh sebagai arsip, seragam sebagai simbol kuasa, serta sejarah yang bengkok dan tak pernah benar-benar berhasil diluruskan.

‘65 yang Masih Menarik Dibicarakan

Dalam forum kecil di Perpustakaan C2O itu, genosida 65 rupanya masih menarik untuk dibicarakan. Pemuda-pemudi yang hadir menunjukan antusiasme tersebut. Hampir semua peserta diskusi merasa sejarah Indonesia seputar 1965 masih remang bahkan berkabut. Banyak dari mereka mengaku tak mendapat pengetahuan secara komprehensif dari guru sejarah di sekolah maupun universitas. Mereka harus belajar keluar kelas untuk mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya peristiwa 65 itu terjadi.

“Sebelum novelku terbit, aku sempat nyebar semacam kuesioner tentang genosida 65 kepada gen-Z dan hasilnya mengejutkan. 1000 orang lebih yang mersponnya,” Juli menegaskan bahwa kronik 65 masih menyisakan sesuatu yang belum selesai.

Selama bertahun-tahun, Pemerintah Indonesia, khususnya Orde Baru, dengan berbagai cara seperti ingin sekali mengubur sejarah kelam itu—atau paling tidak membelokkannya dengan narasi bahwa Partai Komunis Indonesia adalah dalang di balik gugurnya para jendral dan dengan begitu orang-orang PKI halal darahnya untuk dibunuh. Pemerintah seolah merasa tidak bersalah atas pertiwa yang menjadi akhir dari hikayat PKI di Indonesia dan, tentu saja, Presiden Soekarno.

Dan hegemoni pemerintah nyatanya cukup kuat-melekat di benak mayoritas masyarakat Indonesia dari Orde Baru sampai sekarang. Melalui buku-buku, film, dan mitos-mitos rekaan Orde Baru berhasil menjadikan PKI sebagai monster jahat yang menakutkan dan tidak pantas ada di muka bumi ini—meski belakangan banyak generasi muda yang mulai skeptis terhadap, katakanlah, narasi tunggal pemerintah itu. Jadilah banyak pemuda yang mulai mencoba membongkar atau menyusun pecahan-pecahan sejarah Indonesia seputar 1965.

Cover novel “Menuai Badai” karya Putu Juli Sastrawan | Foto: Gramedia

“Aku tertarik dengan sejarah seputar 1965 karena selama ini aku merasa dibohongi,” ujar salah satu peserta diskusi Menuai Badai. “Dan sangat mengejutkan setelah membaca buku-buku sejarah di luar sekolah,” kata pesarta yang lain.

Banyak pemuda mulai mencari-cari bacaan tentang 1965 karena merasa tidak puas atas informasi yang didapat selama di sekolah atau di kampus. Mereka berburu novel sampai buku-buku babon yang berat—walaupun tak sedikit yang cukup mengoreknya di YouTube atau media sosial lainnya atau artikel-artikel yang tercecer di internet. Dan saya pikir, antusiasme semacam ini harus terus dipantik.

Peristiwa 1965 memang masih banyak menyimpan teka-teki. Pro-kontra antara siapa pelaku dan korban masih belum tuntas sampai saat ini. Siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa 65 dan bagaimana mereka bisa lolos dari jerat hukum juga masih menjadi misteri.  Dan itu pula yang menjadi alasan kenapa tragedi kemanusiaan yang besar ini masih menjadi magnet diskusi.

Artinya, peristiwa 65 masih menarik untuk dibahas karena dampaknya yang luas dan mendalam terhadap sejarah Indonesia, serta masih menjadi topik yang kontroversial dan penuh perdebatan hingga saat ini. Peristiwa ini  perlu diajarkan secara lebih komprehensif di sekolah, agar generasi muda dapat memahami sejarah bangsa secara lebih utuh. Dengan membahas peristiwa 65 secara terbuka dan kritis, diharapkan Indonesia dapat mencapai rekonsiliasi, pemulihan, dan keadilan bagi para korban, serta membangun masa depan yang lebih baik.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali
Yang Menegang Ketika Mengoleskan Ramuan Perangsang Kulit Kera Piduka || Semacam Respon Teks yang Hadir Kemudian
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha
Tags: G30SMenua BadainovelPKIPutu Juli Sastrawansastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, di Antara Pesona dan Luka

Next Post

Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails
Next Post
Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co